Menu
Menu

Meterai diberikan. Sebuah prosesi penghormatan.


Oleh: Jemmy Piran |

Lahir di Sabah-Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI, pada Universitas Nusa Cendana, Kupang. Cerpen-cerpennya tersiar di beberapa koran seperti Tempo, Jawa Pos, Riau Pos, Haluan, Sinar Harapan, Suara Karya, Radar Surabaya, Rakyat Sultra, Solopos, Pos Kupang, Tabloid Nova, Basabasi. Buku kumpulan cerpen eksiperimental yang sudah terbit berjudul Obituari Sebutir Telur, Seekor Ayam, dan Babi (Basabasi, 2018) dan dua novelnya akan terbit berjudul Dalam Pelukan Rahim Tanah dan Wanita Bermata Gurita.  Kini, ia menetap di Waimana 1, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.


 Tabir Langit

Aku Badok.

Aku adalah yang terakhir dari semua kehidupan.

Aku melihat tirai langit dan bumi terbuka. Orang-orang yang berada di langit hanya memandang ke arah bumi. Sementara itu, di tanah bumi yang terbelah, aku melihat orang-orang yang telah mati bangkit. Roh-roh mereka berhamburan memenuhi angkasa sehingga menutup hampir seluruh permukaan bumi.

Lalu, dari suara mereka yang menggelegar itu bumi terguncang. Aku mendengar suara mereka penuh dengan hujatan dan cacian terlaknat. Hujatan itu diarahkan kepadaku.

Saat mendengar perkataan mereka, tubuhku bergetar. Ada kengerian yang baru pertama kali kurasakan seumur hidupku.

Lalu, orang-orang yang banyaknya tak terkira itu mengambil gada, sabit dari dalam tungku api, tombak yang bermata runcing. Mereka berarak menuju satu tempat, pada sebuah tanah yang lapang, yang luasnya berkali-kali lipat dari luas bumi. Di sana, seorang lelaki tua yang mirip seperti aku atau barangkali aku, berada di tengah-tengah mereka sebagai terdakwa.

“Ia telah menyesatkan seluruh bangsa dengan ajaran-ajarannya,” seorang yang mengenakan jubah keemasan berseru dari tengah kerumunan.

“Ia telah membawa sebagian besar kepadaku dan upah baginya adalah kemuliaan,” seorang perempuan yang mengenakan jubah ungu berseru, membalas. “Ia telah memeterai namaku, sebagai yang terdahulu, mengangkat kembali namaku. Ia mengingat aku sebagai Ibu yang terlahir lebih awal dari segalanya. Ia tidak pantas dihukum.”

Orang-orang yang berada di belakang perempuan itu, yang banyaknya bagai pasir di laut dan bintang di langit, mendesis.

Seorang perempuan lain, yang berselubungkan cahaya kebesaran, melayang-layang di atas kepala kerumunan orang-orang itu, dan setiap meniupkan sesuatu, orang-orang yang berada di bawahnya menjerit-jerit kesakitan.

“Ampunilah kami, Ibu,” mereka berseru dengan suara nyaring.

Saat orang-orang tunduk menyembahnya, ia menembakkan pandangan marah. Dari matanya, aku melihat api siap membakar kerumunan itu. Dari bibirnya yang ranum, api-api kekudusan siap menghanguskan apa saja.

“Ia yang kalian sembah telah memilih menyimpang dari ketetapan-ketetapan yang ditulis dalam nas-nas suci kalian. Maka, hukuman yang layak baginya adalah ketidaklayakan,” kata perempuan yang berselubungkan cahaya kebesaran.

Perempuan yang mengenakan jubah ungu menimpali, “Ia adalah anak yang kukasihi. Kepadanyalah bagianku akan diberikan.”

Atas jawaban itu, perempuan yang berselubungkan cahaya kebesaran menjadi murka. Dengan kuasa yang dimilikinya, ia melemparkan bola-bola api ke arah kumpulan perempuan yang mengenakan jubah ungu. Namun, serangan itu dihalau dengan hardikan keras perempuan berjubah ungu. Ia meniupkan sesuatu sehingga bola api berguguran begitu saja, membeku.

“Kini, saatnya aku tak lagi tunduk pada kehendak semesta. Aku adalah nama yang tak ditulis, dibuang dari Eden, laknat dari segala yang dilaknati. Dunia kini menjadi milikku sebab segala perbuatan mereka adalah gambaran dari kemurahanku.”

“Wahai perempuan lacur, engkau tak layak berada di tempat yang penuh berkah ini.”

“Belumkah langit dan segala isinya mengakui bahwa bumi sejak semula dijadikan berjalan menuju lembah kekelaman. Hidup orang-orang yang diperanakkan oleh daging dan roh kini sudah dipenuhi dengan aib dan cacat cela. Ia, yang diakui sebagai Juru Selamat, yang membebaskan umat manusia dari belenggu dosa, anak kesayangan, buah dari rahimmu, tidak lagi mengancungkan mata tombak. Nabi-nabi yang datang sebelum buah rahimmu atau sesudah itu, tidak berwibawa. Hanya anakkulah, Badok yang semula dimuliakan oleh kaum keturunanmu, telah menunjukkan aibnya dengan sempurna.”

Mendengar perkataan itu, perempuan yang berselubungkan cahaya dan para pengikutnya terbungkam. Orang-orang di bawah kuasa perempuan berjubah ungu mendesis-desis.

Aku menyaksikan itu dengan dada bergetar. Lalu, aku melihat beberapa orang mulai meniupkan sangkakala dan menabuhkan rebana. Peperangan pun dimulai. Denting dan dentang pedang yang beradu membuat permukaan bumi bergetar. Tumit kakiku ikut bergerak setiap kulihat salah satu pengikut perempuan berjubah ungu berhasil membunuh pengikut perempuan yang berselubungkan cahaya.

Aku merasa bahagia. Sungguh. Karena pada akhir masa hidupku, aku kembali melihat kemuliaan. Di mana peperangan besar diserukan, dan kaum keturunan yang tak ditulis namanya dalam nas-nas kitab suci, memenangkan peperangan besar itu. Mereka yang dibangkitkan dari kubur-kubur yang menganga bersorak penuh kemenangan. Di tempat yang penuh damai itu, aku melihat darah orang-orang yang dimuliakan bergelimangan.

Kemudian perempuan yang berselubungkan cahaya itu menarik pasukannya yang tersisa. Aku mendengar mereka mengatakan sesuatu, seperti berseru, tapi aku tidak memahami perkataan mereka.

Setelah rombongan perempuan berselubungkan cahaya itu lenyap, aku mendengar langit dipenuhi dengan hujat dan cacian. Orang-orang yang banyaknya bagai pasir di laut dan bintang di langit itu kemudian mengidungkan puja dan pujian kepada perempuan berjubah ungu.

Perempuan itu kemudian membuka jubah kebesarannya, memberikan payudara yang ranum itu disesap oleh semua orang yang ada di situ. Ia membiarkan mereka leluasa menelusuri lekuk tubuhnya dengah lidah mereka yang penuh lendir getah.

Meterai Diberikan

Begitu semua orang yang ada itu mendapat giliran menyentuh tubuh perempuan, aku Badok, melihat seorang yang berupa wujud sama sepertiku, diarak dengan tarian dan nyanyian. Sebuah prosesi penghormatan.

Rebana ditabuh dengan irama riang dan kecapi dipetik dengan irama gembira. Kemudian mereka membawa orang yang mirip denganku itu ke sebuah takhta yang berada di sebelah timur. Di sana, telah duduk perempuan berjubah ungu dengan wajah semringah. Ia menyambut seorang yang diarak itu dengan merentangkan kedua tangannya. Ia kemudian diberikan kesempatan untuk menyesap puting susu si perempuan berjubah ungu itu. Ketika memandang payudara yang ranum menjulang bagai gunung agung, ada yang tiba-tiba seperti melonjak girang. Darah masa mudaku kembali berdesir. Celanaku membengkak.

Perempuan yang berjubah ungu itu kemudian melempar pandang ke arahku dengan tatapan yang menyiratkan berahi.

Lalu, aku mendengar gema suara memenuhi langit, “Engkau layak mendapat tempat di sisi Ibu Langit, Ibu yang tidak ditulis namanya dalam nas-nas Kitab Suci mana pun. Engkau berhak mendapat bagian yang mesti diberikan sebab semasa hidupmu engkau mengangkat namanya di antara orang-orang yang berpaling dari Ibu sendiri.”

Setelah perkataan itu, langit bergemuruh. Orang-orang yang banyaknya bagai pasir di laut dan bintang di langit langsung merebahkan tubuh secara penuh.

Dua orang wanita, yang mengenakan gaun berwarna gelap melayang-layang di atas orang-orang yang sedang tengkurap itu. Dua orang itu memegang sebuah mahkota duri, yang disepuh dari emas sebab aku melihat kilauan cahayanya.

“Terpujilah putra yang telah mengangkat nama Ibu Lilith, ia pantas mendapat segala kelimpahan ini.”

Semua orang yang ada di langit itu menoleh ke arahku. Mereka kemudian merangsek ke depan, yaitu kepada perempuan yang duduk di atas takhta kebesaran. Perempuan yang mengenakan baju ungu itu berdiri dan kerumunan orang-orang itu menyibak. Ia berseru dengan suara nyaring, “Yang memenangkan peperangan di bumi, itu artinya kita telah berjalan menuju kebinasaan.”

Perempuan itu lalu mengambil mahkota yang dibawa dua perempuan tadi. Ia melumuri mahkota itu dengan air liurnya sehingga tampak lebih berkilau. Lalu, tampaklah olehku di sekelingi mahkota tersebut diselebungi semacam cahaya yang kudus.

“Kemarilah, Badok,” seru perempuan berjubah ungu ke arahku. Semua orang yang ada di langit itu tunduk, seolah memberikan penghormatan kepadaku.

Pada saat yang sama aku mendengar, baik di langit maupun di bumi, ada kertak gigi dan tangis isak yang nelangsa. Aku merasa sesuatu yang asing, bagai begitu cepat melesap, raib dariku.

Semuanya. Semua. Pelan-pelan. Amat sangat pelan. Katup mataku memberat. Duniaku hanya menjadi satu titik. Hitam. Gelap. Semuanya abadi dalam mata yang tertutup rapat. Ya, abadi. Tiada apa-apa kecuali kehampaan yang terasa begitu amat sempurna. Sempurna. Aku merasa dadaku dipenuhi kemerdekaan dari segala kebaikan. Tubuhku melayang-layang dalam bara api.

Pada Mulanya

Orang-orang kota yang banyaknya tak terbilang itu, bungkam.

Setelah mengakhiri kisahnya, ia kembali menengadah ke langit, merapal sesuatu. Setelah itu, tabir langit terbuka, tampaklah dari langit lidah-lidah api menyentuh tubuhnya.

Orang-orang kota, yang merasa telah hidup dalam ibadah dan sembahyang yang baik, yang menganggap kebenaran hanya milik mereka, yang berpikir agama mereka adalah wahyu kebenaran yang mutlak dan di luar agama mereka adalah sekumpulan iblis, merasa cerita itu hanyalah dongeng dari seorang pembual.

Seseorang tak bernama itu, terangkat begitu saja bersama lidah-lidah api yang mengerut ke langit. Sebelum semua kembali seperti biasa, terdengar guruh yang dasyat, “Tuhan tidak pernah bertanya apa agamamu.”

Orang-orang kota menyaksikan semua itu, lalu pulang dengan perasaan biasa-biasa saja sebab hari libur mesti diisi dengan kegiatan-kegiatan menghibur, mendengar dongeng, misalnya.

Orang-orang kota sadar betul, bahwa agama bukan menjadi tolak ukur seseorang masuk surga atau neraka. Mereka paham bahwa agama yang baik adalah perbuatan itu sendiri. (*)

***

*Cerita ini merupakan salah satu bab dalam novel yang sedang digarap.


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga: CERPEN TERJEMAHAN

Bagikan artikel ini ke: