Menu
Menu

Berhentilah menatap lubang itu! Dari awal aku merasa ada masalah dengan konstruksi bangunan di perumahan ini.


Oleh: Sabrina Lasama |

Berdomisili di Manado. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media antara lain Tabloid Teen, Majalah Chic, Annida Online, Manado Post, Majalah Femina, janang.com, kurungbuka.com dan Detik.com. Sabrina bisa dihubungi melalui surel: sabrina.lasama@yahoo.com , fb: sabrina anggraeni lasama; ig: sabrinalasama.


Sebuah lubang muncul secara misterius di teras rumah kami. Awalnya lubang itu hanya berupa retakan di lantai sehingga membuat Jason lebih memilih menyelipkan abu rokoknya di sana dibanding harus mengambil asbak di ruang tamu yang jaraknya tak lebih dari selemparan batu.

“Nanti akan kubersihkan,” katanya setiap kali aku protes pada abu rokok yang dia jentikkan di sepanjang retakan itu.

Ketika lubang di ujung retakan mulai tampak sebesar koin uang lima ratus, Jason mulai memasukkan benda-benda yang lebih besar di sana. Bungkus permen, kulit kacang, puntung rokok. “Demi Tuhan, kita punya tempat sampah di dalam rumah,” ujarku kesal ketika sepulang kerja suatu malam kudapati laki-laki yang kunikahi lima tahun lalu itu mencoba menjejalkan bungkus rokoknya ke dalam lubang.

“Aku hanya penasaran. Aku sudah memasukkan banyak benda ke dalam sana, tapi sepertinya semua benda itu lenyap tak bersisa.” Jason berjongkok tepat di atas lubang itu sambil kepalanya menunduk mencoba menaksir kedalamannya. “Dea, kemari dan lihatlah sendiri!”

Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Jason dan memilih untuk masuk ke dalam rumah. “Lakukanlah sesuatu! Mungkin itu penyebab perumahan ini tidak laku.” Aku tahu Jason akan kesal mendengar kalimatku tapi aku sudah sangat ingin mengatakan itu sejak lama.

Di ulang tahun pernikahan kami yang ketiga, Jason memberikanku sebuah rumah yang berdiri di atas tanah seluas sepuluh hektar. “Sebentar lagi impian kita akan terwujud, Medea.” Aku ingin sekali meralat bahwa itu adalah impiannya seorang tapi aku justru memilih untuk pura-pura bahagia.

Saat pertama kali bertemu Jason, dia memperkenalkan diri sebagai seorang pengusaha di bidang properti. Dia datang ke kantor akuntan publik tempatku bekerja untuk memastikan beberapa hal yang dikatakannya sebagai kelengkapan administrasi pinjaman di bank. Beberapa hal itu kemudian diminta oleh pimpinanku untuk kukerjakan.

“Pos-pos keuangan di neraca perusahaan bapak sangat rancu dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” kesimpulanku ketika itu.

“Kalau begitu tolong dibereskan.”

“Maksud bapak?”

“Aku pikir itu pekerjaanmu untuk membuat hal itu menjadi tidak rancu lagi,” balas Jason.

“Kalau begitu bapak salah datang!” Aku ingat bagaimana menghempaskan dokumen laporan keuangan perusahaannya dengan kesal sehingga berhamburan di lantai. Sejak saat itu, pimpinan perusahaanku mengalihkan hal-hal yang awalnya harus aku kerjakan itu ke orang lain. Namun, pertemuanku dengan Jason tidak berhenti di sana.

Karismatik, memiliki mimpi, dan berkeinginan kuat adalah formula yang aku duga tertanam di alam bawah sadarku sebagai kriteria yang harus dimiliki oleh pasanganku kelak. Jason adalah tipe laki-laki yang akan menatap matamu dengan antusias ketika kau berbicara, yang akan merelakan telinganya mendengarkan semua mimpi-mimpi teranehmu dan membuatmu merasa mendapatkan dukungan sepenuhnya. Itulah bagaimana aku bisa menikahinya dan bagaimana penyesalan karena tidak menambahkan formula ‘pintar’ pada kriteria laki-laki yang harusnya aku nikahi itu akhirnya muncul di kemudian hari.

Aku berangkat ke kantor di pagi hari dengan pemandangan yang berulang sejak beberapa minggu yang lalu. Jason, rokok, dan lubang di teras yang dia amati dengan saksama.

“Kamu sedang apa?” tanyaku.

“Sepertinya lubang ini bertambah besar,” katanya.

“Berhentilah menatap lubang itu! Dari awal aku merasa ada masalah dengan konstruksi bangunan di perumahan ini. Kamu pikir apa penyebab rumah-rumah di sini tidak laku? Aku tidak yakin dengan perusahaanmu. Laporan keuangan perusahaanmu rancu!”

Biasanya Jason akan menatapku penuh amarah dan mulai mengataiku tidak tahu apa-apa soal bisnis properti yang sedang dia rintis, konstruksi bangunan rumah, marketing plan, dan seterusnya.

“Aku bahkan bisa memasukkan helm ke dalam lubang ini. Lihatlah!” Jason mengabaikanku.

Aku menghela napas dan memutuskan untuk segera berangkat ke kantor sebelum terlambat. “Adikmu mengirimkan undangan pernikahan. Apakah kamu sudah lihat? Acaranya Sabtu ini.” Jason tidak menghiraukanku.

Aku segera masuk ke dalam mobil dan melesatkan kendaraan itu keluar dari pekarangan rumah kami. Di sepanjang jalan yang kulintasi hanya ada deretan bangunan rumah tak berpenghuni yang tampak suram. Aku mulai berpikir di perumahan ini satu-satunya rumah yang berpenghuni hanya rumah kami. Aku pernah bertanya kepada Jason, berapa tepatnya keluarga yang menghuni perumahan ini? Berapa tepatnya rumah yang sudah laku terjual? Namun, aku tidak pernah mendapatkan jawaban apa pun darinya.

Di ulang tahun pernikahan kami yang ketiga, Jason memberikanku sebuah rumah yang berdiri di atas tanah seluas sepuluh hektar. “Sebentar lagi impian kita akan terwujud, Medea.” Aku ingin sekali meralat bahwa itu adalah impiannya seorang tapi aku justru memilih untuk pura-pura bahagia.

Rumah yang Jason hadiahkan padaku adalah sebuah rumah contoh dan juga adalah rumah yang kami tinggali saat ini. Di tahun pertama perumahan yang dikerjakan Jason di-launching, rumah kami sering kedatangan calon pembeli yang tertarik untuk memiliki aset di pinggiran ibu kota dengan lingkungan nyaman dan harga miring. Jason tampak optimis dan yakin bahwa keputusannya untuk resign dari perusahaan pengembang tempatnya bekerja dahulu dan membuat perusahaan sendiri adalah keputusan yang tepat.

Di suatu pagi yang lain aku menghampiri lubang yang belakangan ini lebih sering dikunjungi Jason daripada kantornya. Aku rasa Jason benar tentang diameter lubang yang bertambah besar. Aku mencoba melihat ke dalam lubang itu demi mencari dasarnya namun tidak kutemukan. Lubang itu hitam pekat. Gelap gulita.

“Kamu akhirnya penasaran dengan lubang itu.” Jason menghampiriku sambil menjinjing kantung sampah yang sudah berulang kali aku minta dia membuangnya.

“Tidak, aku hanya…. Astaga Jason! Apa yang kamu lakukan?” Aku terkejut mendapati Jason membuang kantung sampah itu ke dalam lubang. Refleks aku berjongkok di sisi lubang dan memasukkan tanganku hingga sebatas bahu untuk meraih kantung sampah itu. Namun, tidak ada apa-apa di sana selain kehampaan.

“Lubang itu lebih dalam daripada yang kamu kira, Medea,” ujar Jason tenang.

“Kamu gila!” umpatku kesal. Aku meraih sapu dan merogoh lubang itu dengan batang sapu berharap bisa mengeluarkan kantung sampah dari sana. Namun sia-sia.

“Sudah kubilang lubang ini lebih dalam dari yang kamu kira.”

“Jangan ulangi itu lagi Jason. Demi Tuhan.” Aku menyerah dengan kantung sampah itu dan memutuskan untuk tidak tertarik dengan lubang yang diamati Jason setiap hari. “Apa kamu sudah membaca undangan yang kuletakkan di meja makan? Acara pernikahannya besok.”

Jason bergegas ke dalam rumah dan kembali ke teras dengan undangan pernikahan di tangannya. “Kita tidak akan datang.”

“Hah? Kenapa?”

“Aku tidak ingin pertanyaan-pertanyaan keluargaku membuat kita pusing.”

“Maksudmu? Kita? Tolong jangan berbicara mewakiliku. Seolah-olah kamu tahu apa yang aku inginkan.”

“Bagaimana bisnis perumahanmu? Bagaimana program bayi tabung kalian? Bukankan pertanyaan-pertanyaan itu akan membuatmu pusing juga?”

Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan semakin merasa asing dengan laki-laki yang saat ini sedang berdiri di hadapanku. Belum habis rasa heranku, Jason membuang undangan pernikahan itu ke dalam lubang.

“Berhentilah membuang sesuatu ke dalam sana!” Seruku dengan nada suara yang aku rasa bisa terdengar hingga di ujung perumahan ini.

Ponsel Jason berdering. Dia mengangkatnya, menyahuti lawan bicara, tapi matanya lekat menatapku. Saat ponsel itu ditutup dia berkata, “Pernikahannya batal. Calon suaminya baru saja meninggal karena kecelakaan.”

“Astaga!” Seruku sangat terkejut. Kedua tanganku refleks menutup mulut dan detik berikutnya memijit pelipisku. “Meninggal di mana? Kita ke sana sekarang.”

“Dea, tunggu. Apakah kamu tidak merasa ada yang aneh? Tunggu di sini!” Wajah Jason menampakkan raut kebingungan. Dia masuk ke dalam rumah dan kembali dengan beberapa lembar kertas yang aku lihat sekilas adalah surat peringatan atas tunggakan pembayaran kewajiban perusahaannya pada salah satu multi finance.

Aku belum sempat menanyakan apa yang akan dia lakukan pada kertas-kertas itu karena Jason telah lebih dulu membuangnya ke dalam lubang yang menganga di teras rumah kami. “Jason! Apa yang….” Kekesalanku sudah di ubun-ubun ketika ponsel Jason kembali berdering.

Jason terlibat dalam pembiacaraan yang tampaknya cukup serius dengan lawan bicaranya di ponsel, tapi raut wajahnya kali ini menampakkan kebahagiaan. “Multi finance itu sedang mengalami kebangkrutan. Pinjaman perusahaan kita kemungkinan besar akan mendapatkan keringanan.”

Aku bingung harus menampakkan ekspresi apa mendengar kabar ini? Aku tahu tagihan kredit yang dipinjam Jason untuk membangun perumahan ini makin lama makin membengkak oleh bunga dan denda yang sudah lama tidak pernah bisa dia bayarkan. Mau bayar pakai apa jika tidak ada rumah yang laku terjual?

Namun aku sama sekali tidak menduga apa yang akan dikatakan Jason kemudian, “Aku sudah merasa ada yang aneh dengan lubang ini. Kamu lihat sendiri kan? Aku melemparkan undangan pernikahan adikku ke dalam sana dan pernikahan itu batal. Aku melempar tagihan-tagihan kredit ke sana dan perusahaan finance itu bangkrut.”

Mataku membelalak dengan lebar sehingga rasa-rasanya kedua bola itu akan melompat dari tengkorak kepalaku. Inilah mengapa aku sangat menyesal tidak menambahkan formula ‘pintar’ pada kriteria laki-laki yang harus kunikahi. Jason berusaha keras mengembangkan bisnisnya, dia yakin bisa mengembangkan perumahannya, tapi tampaknya dia lupa mengembangkan otaknya.

Di ulang tahun tahun pernikahan kami yang ketiga, Jason memberiku hadiah sebuah rumah yang berdiri di atas tanah seluas sepuluh hektar. “Sebentar lagi impian kita akan terwujud, Medea.” Aku ingin meralat bahwa itu adalah impiannya seorang tapi aku memilih untuk pura-pura bahagia.

Impianku sendiri sederhana. Keliling dunia dengan menggunakan seluruh tabungan yang aku punya. Aku akan meminta cuti dua bulan. Durasi yang aku pikir cukup untuk keliling dunia. Tapi perusahaan tempatku bekerja tidak bisa memberikan cuti lebih dari sebulan. Kecuali kalau aku hamil. Aku bahkan bisa dapat tiga bulan cuti. Aku pikir keliling dunia selama tiga bulan bersama suami dan calon bayi kami adalah ide yang lebih bagus lagi. Namun kini impian itu tidak akan pernah terwujud karena aku tak kunjung hamil dan seluruh tabunganku habis untuk membeli tanah rawa di pinggiran kota seluas sepuluh hektar.

“Sebagian masalahku sudah lenyap. Mungkin kalau aku memasukkan kepalaku ke dalam lubang ini seluruh masalahku bisa hilang.” Jason terus meracau sementara aku hanya bisa terpaku.

Laki-laki itu tampaknya tak menunggu pendapatku karena dia telah berlutut di sisi lubang dan mulai memasukkan kepalanya ke sana. Aku melihat lubang itu menelan kepalanya perlahan, lalu bahunya, lalu punggungnya. Dan saat hanya tinggal sepasang kakinya yang tampak di permukaan Jason berteriak, “Dea, sepertinya masalah di kepalaku sudah lenyap. Kepalaku terasa ringan. Tolong tarik kakiku. Dea! Medea!”

Aku bisa mendengar jeritan Jason yang lambat laun menjauh ketika lubang itu telah menelannya bulat-bulat. “Jason!” seruku mencoba memanggilnya tapi tidak kudapati balasan apa pun hingga belasan menit kemudian.

Lubang itu sendiri tampak seperti semula. Gelap gulita. Hitam pekat. Tidak ada tanda-tanda seseorang baru saja masuk ke dalamnya. Aku tidak tahu apa yang tengah terjadi tapi perlahan-lahan kepalaku terasa ringan. Aku rasa semua masalahku telah hilang.(*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
– Cerpen Siti Hajar: Percakapan Penghuni Mauntef
– Cerpen Fitriana Hadi: Meg dan Pria-Pria Brengsek

Bagikan artikel ini ke: