Menu
Menu

Membaca Musashi, saya sedikit menyayangkan pengembangan tokoh sampingannya yang terlalu banyak dan panjang.


Oleh: Jericho Saban |

Lahir di Ende, 21 Mei 2006. Saat ini menjadi salah satu siswa kelas III di SMPK Santa Theresia, Kupang. Sangat suka membaca, menggambar dan bermain game. membaca musashi adalah tulisan pertamanya di bacapetra.co


Identitas Buku (membaca musashi)

Judul: Musashi
Pengarang: Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Tim KOMPAS
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Keenam: Juli 2007
Tebal: 1.248 halaman

***

Musashi adalah novel karangan Eiji Yoshikawa, penulis berkebangsaan Jepang. Di Jepang, kisah ini pertama kali diterbitkan dalam bentuk serial dalam surat kabar Jepang, Asahi Shimbun pada tahun 1935-1939 dan dibukukan pada 1980-an.

Di Indonesia, kisah ini pertama kali diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar Kompas pada tahun 1983-1984, dilanjutkan dengan bentuk tujuh jilid buku saku pada sekitar tahun 1990-an. Terjemahannya bukan berasal dari kisah asli Bahasa Jepang (sekitar dua puluh enam ribu halaman) melainkan dari terjemahan Bahasa Inggris yang lebih ringkas.

Pada tahun 2002, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan kembali buku ini dalam bentuk satu buku lengkap setebal 1.247 halaman. Secara kebetulan, teman bapak, saat berkunjung ke rumah melihat buku karangan Eiji Yoshikawa lainnya, Taiko, yang baru selesai saya baca di atas meja tamu. Teman bapak ini, pernah menghibahkan komik-komik bergenre serupa miliknya kepada saya. Waktu itu karena beliau tahu bahwa saya juga suka menggambar anime. Teman bapak yang baik ini rupanya juga memiliki buku Musashi yang selama ini menjadi incaran ibu saya. Seminggu kemudian, sepulang dari kantor, bapak muncul sambil membawa buku Musashi dari temannya itu.

Kisah novel ini berawal dari Takezo (yang kemudian mengubah namanya menjadi Musashi) dan sahabatnya Matahachi yang dengan beruntung selamat dari perang Sekigahara, perang yang menentukan kemenangan Tokugawa. Takezo dan Matahachi yang sekarat ditolong oleh seorang janda dan anak perempuannya yang menjual moxa (sejenis obat obatan).

Setelah tinggal cukup lama, bandit-bandit gunung di wilayah setempat mendatangi rumah janda tempat mereka tinggal. Takezo dan Matahachi tidak tinggal diam melihat bandit-bandit gunung mengancam sang janda dan anaknya. Terjadilah pertarungan sengit. Takezo bersama Matahachi berhadapan dengan para bandit gunung, yang berakhir dengan pemimpin para bandit mati di tangan Takezo. Setelah kejadian itu, Takezo dan Matahachi mabuk-mabukan hingga rebah di tempat tidur.

Keesokan harinya, ketika Takezo bangun, sang janda dan anaknya serta Matahachi telah menghilang. Takezo dengan marahnya memaki Matahachi karena tergoda oleh si janda padahal Matahachi sudah memiliki Otsu, tunangannya di desa. Takezo memutuskan untuk pulang ke desanya. Di sana dia bertemu dengan ibu Matahachi lalu ibu matahachi menuduh Takezo karena telah menyeret Matahachi menuju medan perang. Ia menyalahkan Takezo dan memberitahu warga bahwa Matahachi tidak kembali akibat tindakan Takezo. Warga desa yang mendengar hal ini pun mempercayai perkataan ibu Matahachi dan fakta bahwa Takezo adalah perusuh sebelum pergi berperang. Sehingga seluruh warga desa menetapkkan Takezo sebagai buron untuk diadili dan dijatuhi hukuman mati. Tetapi, tidak ada satu dari mereka pun yang mampu menangkap Takezo.

Di bagian ini, Eiji yoshikawa menghadirkan tokoh Takuan seorang pendeta Zen yang dengan upayanya berhasil menyelamatkan Takezo dari hukuman mati; menggantinya dengan mengucilkan Takezo di sebuah ruangan selama tiga tahun untuk meditasi dan belajar. Pada masa itulah Takezo mempelajari seni perang Sun Tzu, hingga akhirnya menemukan pencerahan.

Setelah bebas, Takezo memutuskan untuk menjadi Shugyosha, Samurai Pengembara. Ia mengganti namanya menjadi Miyamoto Musashi. Miyamoto adalah nama tempat ia berasal, sementara Musashi adalah Takezo yang ditulis dalam huruf China. Takezo mengganti namanya sebagai tanda bahwa dia yang sekarang adalah orang yang baru lahir, dan Takezo yang lama telah hilang.

Kyoto merupakan kota pertama yang dikunjungi Musashi. Di kota ini, Musashi, telah bertarung melawan orang-orang dari kuil Hozoin dan perguruan Yoshioka, yang meninggalkan dendam dan kebencian dari orang-orang Yoshioka terhadap Musashi hingga menyebabkan konflik panjang. Setelah itu ia pergi dari satu tempat ke tempat lainnya untuk memperdalam teknik memainkan pedang.

Di setiap tempat yang dikunjungi Musashi, orang-orang sering sekali menggangapnya sebagai orang aneh karena sering melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Misalnya, Musashi menanam padi padahal ia tahu akan ada angin topan.

Dalam perjalanannya itu, Musashi memiliki murid yang bernama Jotaro, seorang anak yang dia temui pada saat ia singgah di sebuah warung teh. Karena Jotaro merengek ingin mengikuti Musashi dan menjadi muridnya, maka Musashi pun menerima dia sebagai muridnya. Selain Jotaro, Musashi juga mempunyai seorang murid dari pedesaan yang bernama Iori.

Novel Musashi memiliki jumlah halaman yang lumayan banyak. Jika ditanya apa yang membuat saya ingin terus membacanya, salah satu jawabannya adalah bahasanya yang mudah dimengerti. Disajikan dengan bahasa yang dapat memberikan gambaran dengan jelas, terlebih lagi saat Musashi bertarung, Eiji Yoshiwaka, melakukannya dengan sangat baik. Ayunan pedang, setiap tindakan yang dilakukan, intuisi serta setiap refleks gerakan tokoh, ditulis dengan detil yang sangat halus, yang membuat imajinasi kita serasa sedang menonton film.

Musashi juga dikenal sebagai tokoh yang sangat kuat. Saat pertama kali ia mengembara, seorang biksu dari kuil Ozoin sudah memperingatkannya untuk mengontrol kekuatannya, mengingat kemampuan tidak biasa yang ia miliki. Musashi juga digambarkan sebagai orang yang mencintai seni. Dalam cerita, kerap kali Musashi dikisahkan sedang membuat lukisan dan patung Kanon (sosok dewi dalam kepercayaan agama Buddha). Tidak hanya itu, saat-saat persiapan sebelum ia akan memulai duel hidup dan matinya, Musashi diceritakan akan mencari dan menikmati suasana tenang.

Saya sangat terinspirasi dengan sikap Musashi yang sangat tabah, pekerja keras, dan bijaksana. Meskipun ia sering difitnah tetapi ia tidak pernah memedulikan ucapan-ucapan orang banyak yang menyebarkan rumor buruk tentangnya. Musashi juga merupakan orang yang sangat rendah hati. Meski memiliki kekuatan ia tidak pernah menyombongkan diri dan tidak pernah merendahkan lawannya.

Dalam buku ini, kita dapat melihat seberapa besar harga diri seorang Samurai dan arti pedang bagi mereka; Musashi bahkan tertidur dalam keadaan memeluk pedangnya. Ketika ada seseorang yang mencoba menyentuh pedang tersebut maka nasib orang itu sudah pasti akan berada di ujung tanduk. Hal ini memperlihatkan bahwa pedang sudah menjadi bagian dari tubuh seorang samurai.

Pengalaman mengasyikkan lainnya dari menikmati novel ini adalah ketika membaca beberapa puisi-puisi kuno China maupun Jepang, serta seni perang Sun Tzu. Rasanya seperti sedang membaca pepatah dan petuah walau terkadang sedikit membingungkan.

Hanya saja, saya sedikit menyayangkan pengembangan tokoh sampingannya yang terlalu banyak dan panjang sehingga pada beberapa bab kisah hanya difokuskan pada karakter pendukung tersebut; kisah Musashi tidak ditampilkan sama sekali. Jika ingin mengetahui seluruh situasi yang sedang berlangsung dan kondisi Musashi, maka pembaca harus menelusuri seluruh bab hingga selesai. Meskipun demikian, kisah tokoh sampingan juga cukup seru untuk dibaca.

Saya merekomendasikan novel ini karena sangat bagus untuk dibaca di kala memiliki waktu luang. Dan menurut saya, buku ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang menyukai buku-buku bergenre perang dan pertarungan berlatar Jepang kuno.

Novel ini membuat kita mengenal cara hidup seorang Samurai. Selain Musashi, saya menyarankan beberapa karya lain yang juga ditulis oleh Eiji Yoshikawa, yaitu Taiko. Novel ini mengisahkan tentang tiga tokoh besar pada zaman feodal Jepang, yaitu Oda Nobunaga, Tokugawa Ieyasu, serta Toyotomi Hideyoshi.(*)


Baca juga:
– Apa yang Hendak Disampaikan Semua Ikan di Langit?
– Cerpen Joss Wibisono – Menghentikan kelandjutan

Bagikan artikel ini ke: