Menu
Menu

Buku Bisikan Tanah Penari (JSM Press, Oktober 2021) merupakan buku puisi tunggal keenam karya Rissa Churria.


Oleh: Sofyan RH. Zaid |

Lahir di Sumenep 08 Januari 1986. Alumnus Filsafat dan Agama, Universitas Paramadina, Jakarta. Buku puisi tunggalnya Pagar Kenabian masuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia tahun 2015. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Arab, dan Italia yang dimuat dalam buku Oikos Poeti Per Il Futuro (Mimesis Classici Contro, Milano, Italia, 2020).


Identitas Buku
Judul novel: Bisikan Tanah Penari
Pengarang: Rissa Churria
Penerbit: JSM Press
Tahun terbit (edisi bahasa Indonesia): 2021

***

“Kesusastraan adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: Ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses yang minta pengerahan batin.” – Goenawan Mohamad

Sebelum Mendengarkan: Perihal Puisi Lokalitas

Menulis puisi lokalitas tidaklah mudah. Ada dua tantangan yang harus dihadapi oleh seorang penyair. Tantangan pertama, ia harus melakukan riset yang panjang dan mendalam. Tantangan kedua, ia wajib mengalihkan hasil riset tersebut ke dalam bentuk puisi.

Tantangan pertama, semua orang bisa berhasil melakukan selama ia punya waktu, metodologi, kehendak, dan kapital. Namun, untuk tantangan kedua, tidak semua orang bisa berhasil melakukannya. Data sebagai hasil riset dengan puisi sebagai karya kreatif merupakan dua hal yang berbeda. Keduanya juga membutuhkan disiplin ilmu yang berbeda.

Penyair yang menulis puisi dari hasil riset dituntut sanggup mengolah data yang diperoleh menjadi puisi yang berhasil. Keberhasilan tersebut, paling tidak –kalau meminjam teori Sutardji Calzoum Bachri- bila yang kita makan telur yang keluar jangan lagi telur.

Menulis puisi dari hasil riset, serupa orang makan, butuh dikunyah secara halus kemudian ditelan. Proses lain terjadi di dalam usus, dan jadilah energi, dan keluarlah kotoran. Apa yang dihasilkan dan apa yang dikeluarkan bukan lagi makanan.

Jadi, jika ada orang yang bilang: “sastra itu butuh riset”, iya, itu benar. Namun, apakah hasil risetnya itu sanggup diolah jadi karya sastra? Itulah pertanyaan besarnya dan yang paling penting! Lantas, bagaimana dengan puisi-puisi Rissa dalam buku ini?

Buku Bisikan Tanah Penari (JSM Press, Oktober 2021) merupakan buku puisi tunggal keenam karya Rissa Churria setelah Harum Haramain (2016), Perempuan Wetan (2017), Blakasuta Liku Luka Perang Saudara (2019), dan Matahari Senja di Bumi Osing (2020). Buku ini diberi prolog oleh Riri Satria, epilog oleh Sunu Wasono, dan endorsemen dari banyak nama keren, seperti Samsudin Adlawi, Kurnia Effendi, Nia Samsihono, Gambuh R Basedo, Harris Priadie Bah, Nanang R. Supriyatin, Budhi Setyawan, Dyah Kencono Puspito Dewi, dan lainnya. Rissa bisa dibilang, salah seorang penyair perempuan Indonesia yang namanya cukup familiar di kalangan sastra Asia Tenggara. Mungkin karena pergaulannya yang luas dan banyak diundang mengikuti acara di luar negeri.

Puisi-puisi Rissa dalam buku ini, sebagaimana diungkapkan oleh Riri Satria dan Sunu Wasono, banyak memuat kearifan lokal Banyuwangi, kota eksotik di ujung Timur pulau Jawa. Mulai dari tempat bersejarah, budaya, mitos, wisata, sampai sastra lisan. Dengan kata lain, inilah salah satu buku puisi di Indonesia yang sepenuhnya memuat puisi-puisi lokalitas.

Mulai Mendengarkan: Meminjam Telinga Kuntowijoyo

Bagaimana cara mengolah data hasil riset menjadi puisi sebagai karya sastra? Kuntowijoyo menulis dalam Budaya dan Masyarakat (1987), bahwa ada tiga cara seorang penyair dalam menuliskan suatu objek atau sebutlah hasil riset menjadi puisi:

Pertama, menulis puisi dengan cara meniru atau melukiskan apa yang dilihat melalui teks. Dia melakukan pemindahan objek dari alam nyata ke alam kata-kata (mimesif). Kedua, menulis puisi dengan cara melakukan dialog imajiner dengan apa yang dilihat melalui teks. Dia mencoba melakukan refleksi atau interaksi-kritis terhadap objek tersebut (interaktif). Ketiga, menulis puisi dengan cara ‘menciptakan ulang’ objek yang ada melalui teks. Dia mencoba meletakkan objek lain di atas objek yang nyata atau bahkan menggantinya (dekontruksi kreatif).

Nah, puisi-puisi Rissa dalam buku ini cenderung bergerak pada tataran yang pertama. Rissa seperti hanya memindai apa yang dilihat, didengar, dan dirasa perihal Banyuwangi ke dalam puisi. Namun ada beberapa puisi yang juga sampai pada level kedua, misal pada puisi “Meraba Wajah Ijen”, “Angin Sidrah Kawah Merapi”, Sahadat Bumi”, dan lainnya. Sementara itu, puisi yang sampai pada level ketiga, belum ditemukan.

Berarti, buku Bisikan Tanah Penari karya Rissa Churria ini adalah buku puisi yang gagal? Mari kita pindah ke telinga Subagio.

Terakhir Mendengarkan: Meminjam Telinga Subagio Sastrowardoyo

Subagio Sastrowardoyo dalam “Mengapa Saya Menulis Sajak” di buku Keroncong Motinggo (1992) mencoba membandingkan antara melukis dengan menulis. Dia akhirnya memilih menulis sajak daripada melukis. Sajak baginya lebih mampu mewakili sari pikiran dan perasaannya serta mampu bersuara pada pembaca. Sementara lukisan baginya tidak sanggup, ia sebut sebagai ‘seni bisu’.

Bertolak dari Subagio di atas, saya kira apa yang dilakukan Rissa sudah tepat. Dia memilih mengabadikan Banyuwangi melaui puisi dengan buku ini daripada melalui lukisan, foto, atau video. Kenapa tepat?

Tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Tidak menutup kemungkinan, bahwa apa yang ada sekarang, pada akhirnya akan hilang perlahan seiring zaman, misalnya kesenian Janger di Banyuwangi. Tidak ada lagi yang tertarik melestarikan kesenian tersebut, orang akan lebih perhatian pada hal-hal baru. Beruntungnya, Rissa telah mengabadikannya ke dalam bentuk puisi di buku ini.

Kemudian apa yang membedakan antara puisi tentang lokalitas, misal Janger dengan lukisan, foto, atau video dengan objek yang sama? Bedanya adalah lukisan, foto, atau video tetap saja ‘sesuatu yang bisu’. Ia tidak bisa menyatakan pada kita deksripsi, filosofi, dan relevansinya dibanding apa yang bisa dilakukan oleh puisi.

Setelah Mendengarkan: Mengatakan yang Banyak dengan Cara yang Sedikit

Setelah mendengarkan dengan saksama Bisikan Tanah Penari ini, saya juga ingin berbisik tanpa basa-basi pada Rissa, bahwa puisi –dalam hemat M. Faizi- adalah mengatakan yang banyak dengan cara yang sedikit. Saya banyak menemukan hal sebaliknya dalam buku ini, yakni puisi-puisi Rissa kadang ‘mengatakan yang sedikit dengan cara yang banyak alias redundant!

Mari kita ambil contoh, misalnya pada puisi “Mepe Kasur” di salah satu baitnya tertulis:

ritual jemur kasur
mitos yang terpelihara
serupa lelehan cerita tak habis
dari generasi ke generasi yang terus
berjalan hingga kini

Larik: serupa lelehan cerita tak habis/ dari generasi ke generasi yang terus/ berjalan hingga kini ini merupakan larik yang boros, Rissa memakai “tak habis”, “terus berjalan hingga kini” hanya untuk menyatakan bahwa tradisi mepe kasur itu masih bertahan sampai sekarang.

Contoh lain pada puisi “Gemuruh di Langit Ijen” di salah satu baitnya juga tertulis:

edelweis lambang cinta
tumbuh bermesra di ladang damai
alam mengajarkan tulus
tanpa pamrih dan balasan

Larik: alam mengajarkan tulus/ tanpa pamrih dan balasan juga merupakan larik yang boros. Dia sudah menggunakan kata “tulus”, kemudian “tanpa pamrih atau balasan”. Dua hal yang sama, atau menjelaskan kata tulus secara tersurat, yang seolah-olah pembaca tidak akan paham perihal definisi tulus.

Hal-hal semacam itu, semoga bisa dihindari Rissa di puisi-puisi selanjutnya, sebab kesia-siaan tidak akan memberikan apa-apa.

Terakhir, selamat atas terbitnya buku ini. Benar apa yang pernah disampaikan Maman S. Mahayana dalam sebuah diskusi tentang lokalitas dalam sastra bahwa “ketika kita kurang mengenal persoalan etnis, sastra sebetulnya dapat menjadi pintu masuk”. Dengan demikian, terlepas dari ulasan ini, melalui Bisikan Tanah Penari Rissa berhasil membuat pintu masuk untuk tanah kelahirannya, Banyuwangi, bagi siapa saja yang ingin masuk dan mengenalnya lebih dalam.(*)

Tentang Sofyan RH. Zaid (sambungan)

Puisi dan esainya juga terbit di sejumlah media, seperti  Media Indonesia, Jawa Pos, Bali Post, Indopos, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Riau Pos, Seputar Indonesia, Solopos, Merapi, Suara NTB, Banjarmasin Post, Metro Jambi, Minggu Pagi, Horison, Annida, Sahabat Pena, Kuntum, dan lainnya.

Sofyan RH. Zaid kini tinggal di Bekasi sebagai editor dan founder Taretan Sedaya International. Bukunya yang akan segera terbit: Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan (TareBooks, 2022)


Baca juga:
Lima Fungsi Imaji Biblikal dalam Komuni Karya Saddam HP
Cold War: Romansa yang Terjebak dalam Politik Ideologi Negara
Green Book: Drama Perjalanan untuk Saling Memahami


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

20 thoughts on “Mendengarkan Bisikan Tanah Penari Karya Rissa Churria Lebih Saksama”

  1. ineke berkata:

    Blackbox IDEToggle Sidebar

    Share

    Judul novel: Bisikan Tanah Penari
    Pengarang: Rissa Churria
    Penerbit: JSM Press
    Tahun terbit (edisi bahasa Indonesia): 2021

    “Kesusastraan adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: Ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses yang minta pengerahan batin.”– Goenawan Mohamad
    buat lah ulasan tentang cerita ini

    Read more
    Copy message
    Edit message

    Thought for a moment
    Pendahuluan
    Novel “Bisikan Tanah Penari” karya Rissa Churria, diterbitkan oleh JSM Press pada tahun 2021, menawarkan eksplorasi mendalam tentang budaya, identitas, dan perjuangan batin dalam konteks Indonesia. Dengan judul yang menggugah imajinasi—mengacu pada “bisikan” sebagai suara halus dari tanah yang menjadi panggung penari—karya ini tampaknya menggabungkan elemen sastra dengan refleksi filosofis. Kutipan dari Goenawan Mohamad di awal novel menegaskan bahwa menulis bukan sekadar teknik, melainkan pengerahan batin, yang sejalan dengan tema utama buku ini. Berikut adalah ulasan singkat berdasarkan analisis umum novel ini, yang saya susun dari deskripsi dan konteksnya.

  2. Radhika Nurul Aulia berkata:

    Selamat Sore,
    Perkenalkan nama saya Radhika, bisa orang memanggil saya Dhika. Hobi saya membaca maka dari itu izinkan saya untuk memberikan sedikit ulasan mengenai buku Bisikan Tanah Penari karya dari Rissa Churria
    Bisikan Tanah Penari menurut saya merupakan karya sastra yang memadukan keindahan bahasa, spiritualitas, dan kritik sosial secara elegan dan menyeluruh. Buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca bagi kalian yang menyukai hubungan antara manusia dengan tanah, dan budaya. mengangkat budaya Nusantara, khususnya tradisi dan spiritualitas masyarakat Banyuwangi serta menyoroti hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan tradisi.
    menggunakan bahasa yang puitis seperti pada contoh kutipan berikut :
    “Penari meniatkan segala gerak hanya pada keagungan dan dengan penuh gairah, tetapi tanpa merusak ketenangan pikirannya.”
    “Penyair menitipkan pesan-pesan pada angin, hujan, dan cuaca sebagai bentuk penghambaan dan penghargaan terhadap alam.”

    Mungkin untuk kelemahan buku ada pada penggunaan bahasa yang sangat puitis dan metaforis sehingga untuk pembaca pemula sangat menyulitkan untuk memahami.

    Terima Kasih

  3. Alvi Z berkata:

    Tulisan ini mengapresiasi puisi-puisi Rissa yang menggambarkan budaya Banyuwangi, seperti Janger dan Tumpeng Sewu. Penggambaran ini tidak hanya memperkenalkan budaya lokal, tetapi juga menunjukkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah kelahirannya. Hal ini sejalan dengan pandangan Sunu Wasono yang menyebutkan bahwa sajak-sajak dalam buku ini memberikan gambaran yang relatif lengkap tentang Banyuwangi.

    Tulisan ini dengan tajam mengidentifikasi adanya redundansi dalam beberapa bait puisi Rissa, seperti pada puisi “Mepe Kasur” dan “Gemuruh di Langit Ijen”. Kritik ini penting untuk meningkatkan kualitas karya sastra, dengan mendorong penyair untuk menyampaikan makna secara lebih efisien dan mendalam.

    Secara keseluruhan, tulisan ini memberikan ulasan yang seimbang antara apresiasi dan kritik konstruktif terhadap Bisikan Tanah Penari. Rekomendasi untuk menghindari redundansi dalam puisi-puisi selanjutnya sangat relevan untuk meningkatkan kualitas karya sastra. Diharapkan, Rissa dapat terus mengembangkan kemampuannya dalam mengolah data menjadi puisi yang tidak hanya indah, tetapi juga efisien dalam menyampaikan makna.

  4. supersong685db99d6b berkata:

    sangatlah keren,puisi di dalamnya sangat mewakili setiap tema nya
    karya ini sangat ekspresif dan mampu memberikan suasana hidup yg nyata kepada para pembaca

    1. anjel berkata:

      Secara keseluruhan, Bisikan Tanah Penari adalah sebuah karya puisi yang unik dan berharga. Ia adalah sebuah persembahan seni yang kaya akan imajinasi, emosi, dan pesan spiritual yang mendalam. Buku ini direkomendasikan bagi pembaca yang menghargai puisi kontemporer yang berani bereksperimen dan memiliki kepekaan terhadap keindahan bahasa dan budaya.

  5. Luhfi berkata:

    Karya ini sangat indah menggunakan kata dan kalimat yang begitu cukup mudah dipahami oleh pembaca. Untuk para pembaca awal akan langsung disugukan dengan kalimat yang puitis dan imajjinatif membawa pembaca ke dalam bawah sadar menuju indahnya alam dan budaya indonesia.

  6. efa berkata:

    sangat indah mampu memberikan suasana hidup yang nyata

  7. advica berkata:

    sangat indah dalam pemilihan katanya, untuk saya yang baru lulus sekolah ini amazing.

  8. nayaaa berkata:

    karya indah, edelwis, alam, juga bait yang ditata se mengesankan mngkin, ditata raapih dalam buku dan mudah di resapi tiap patah baitnya.

  9. Aldira nandes saputra berkata:

    Cerita yang sangat menarik dan bagus

  10. jeyi berkata:

    Puisi ini sangat keren membawa latar alamm gudd

  11. zoeyyla berkata:

    dengan gaya penulisan puitis & imajinatif,serta mengangkat tema alam dan spiritualitas,buku ini cocok bagi pecinta sastra bernuansa spiritual dan budaya

  12. Kayla berkata:

    Cerita ini sangatlah bagus bisa membuat kita jadi lebih tahu.

  13. nayla Opellia Brahasana berkata:

    menurut saya dalam menulis puisi itu pasti tidak lah mudah tetapi dengan cerita ini kita bisa tau bagaimana cara cara menulis puisi dengan indah.

    bahwa ada tiga cara seorang penyair dalam menuliskan suatu objek atau sebutlah hasil riset menjadi puisi:

    Pertama, menulis puisi dengan cara meniru atau melukiskan apa yang dilihat melalui teks. Dia melakukan pemindahan objek dari alam nyata ke alam kata-kata (mimesif). Kedua, menulis puisi dengan cara melakukan dialog imajiner dengan apa yang dilihat melalui teks. Dia mencoba melakukan refleksi atau interaksi-kritis terhadap objek tersebut (interaktif). Ketiga, menulis puisi dengan cara ‘menciptakan ulang’ objek yang ada melalui teks. Dia mencoba meletakkan objek lain di atas objek yang nyata atau bahkan menggantinya (dekontruksi kreatif).

    Nah, puisi-puisi Rissa dalam buku ini cenderung bergerak pada tataran yang pertama. Rissa seperti hanya memindai apa yang dilihat, didengar, dan dirasa perihal Banyuwangi ke dalam puisi. Namun ada beberapa puisi yang juga sampai pada level kedua, misal pada puisi “Meraba Wajah Ijen”, “Angin Sidrah Kawah Merapi”, Sahadat Bumi”, dan lainnya. Sementara itu, puisi yang sampai pada level ketiga, belum ditemukan.

  14. nay berkata:

    karya yang sangat indah dan wajib pemuda pemudi untuk membacanya karena ini tentang tema indonesia mengembangkan budaya buaya indonesia

  15. Nila berkata:

    Bisikan tanah penari karya rissa churria, bagikan simpfoni puitis yang menuntun pembaca menjelajahi pesona budaya Banyuwangi. Dibalik alunan kata yang indah, tersembunyi cerita rakyat, tradisi, dan kearifan lokal yang memesona.
    Kekuatan puisi rissa churria terletak pada kemampuannya membangkitkan imajinasi dan menumbuhkan rasa cinta pada budaya Banyuwangi. Diksi yang kaya dan sarat makna, melukis kan gambaran yang jelas dan memikat. Perpaduan gaya bahasa modern dan tradisional menghasilkan estetika yang unik dan memikat.
    Puisi-puisi dalam buku ini seperti “menari di atas api ” dan Suara laut selatan “, membawa pembaca menyelami tradisi suku using dan legenda nyai Roro kidul dengan penuh makna dan nuansa magis.
    Bisikan tanah penari bukan hanya kumpulan puisi biasa. Buku ini adalah undangan untuk menyelami kekayaan budaya Banyuwangi dan merasakan keindahannya melalui kata-kata. Rissa churria telah menghadirkan sebuah karya yang penuh makna dan membawa pembaca pada perjalanan budaya yang tak terlupakan.

  16. zee berkata:

    karya ini sangat indah
    puisi di dalamnya sangat mewakili setiap tema nya
    karya ini sangat ekspresif dan mampu memberikan suasana hidup yg nyata kepada para pembaca

  17. Intan Norma berkata:

    Bagi saya Indonesia punya banyak budaya serta tradisi.
    setiap daerah punya ciri khas serta tradisi tiap daerah masing” ada yg masih berjalan sesuai tradisi ada jga yg tidak semuanya tergantung kepercayaan orang masing” termasuk dengan hal-hal mistis baik yg nampak maupun yang tidak nampak.
    Buku itu memang bagus tapi ada beberapa kata yg masih memakai bahasa Jawa jika memang si pembaca ngerti Jawa gak jadi masalah tapi jika memang tak mengerti bahasa Jawa justru si pembaca bingung mengartikan nya, bila mana penulis kebanyakan kalimat menggunakan bahasa Indonesia seharusnya smuanya ya bahasa Indonesia.
    Kota Banyuwangi memang terkenal dengan mistis dan hampir smua tradisinya dilakukan sesuai leluhur mereka terdahulu sesuai desa masing” ada salah satu desa di Banyuwangi yg tidak ngadakan tradisi kebo”an maka konon katanya Dewi penunggu desanya marah jadi kayak pertanian tanahnya jadi gk subur,perairan gk ada air dll itu bener” terjadi nyata.
    buku “Bisikan Tanah Penari” karya Rissa Churria merupakan kumpulan puisi yang kaya akan imajinasi, bahasa yang indah, serta eksplorasi tema-tema penting seperti alam, spiritualitas, identitas, dan pengalaman hidup. Karya-karya dalam buku ini mampu membawa pembaca masuk ke dalam dunia yang diciptakan oleh penyair.

  18. people berkata:

    saya akan menjelaskan lebih detail mengenai isi buku “Bisikan Tanah Penari” karya Rissa Churria:

    1. Tema-tema Utama:
    – Alam dan Lingkungan: Banyak puisi yang mengangkat keindahan alam, hubungan manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga lingkungan.
    – Spiritualitas dan Mistisisme: Terdapat puisi-puisi yang merefleksikan dimensi spiritual, keyakinan, dan pengalaman mistis.
    – Identitas dan Pengalaman Hidup: Puisi-puisi juga mengeksplorasi pertanyaan tentang identitas diri, pengalaman, dan perjalanan hidup.
    – Budaya dan Tradisi: Beberapa puisi mengangkat unsur-unsur budaya dan tradisi lokal yang memengaruhi kehidupan penyair.

    2. Gaya Penulisan dan Bahasa:
    – Rissa Churria menggunakan bahasa yang sangat puitis, imajinatif, dan kaya akan metafora.
    – Struktur puisi bervariasi, ada yang berbentuk lirik, naratif, maupun prosa puitis.
    – Penggunaan bahasa yang indah dan musikal, sehingga menciptakan suasana yang kuat dan menghanyutkan.
    – Terdapat banyak penggunaan simbol-simbol alam, benda, dan fenomena alam untuk menyampaikan makna yang lebih dalam.

    3. Penggambaran Alam dan Lingkungan:
    – Alam menjadi latar dan inspirasi utama dalam banyak puisi, mulai dari hutan, gunung, sungai, hingga tanah.
    – Rissa Churria menggambarkan alam dengan sangat indah dan hidup, seolah-olah pembaca dapat merasakan kehadiran dan suasana alam tersebut.
    – Puisi-puisi tersebut juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga dan menghargai alam.

    4. Refleksi Spiritual dan Mistis:
    – Beberapa puisi mengeksplorasi dimensi spiritual, keyakinan, dan pengalaman mistis penyair.
    – Terdapat penggunaan simbol-simbol dan bahasa yang kental dengan nuansa spiritual dan mistis.
    – Puisi-puisi tersebut mengajak pembaca untuk merenungkan makna kehidupan yang lebih dalam.

    Secara keseluruhan, buku “Bisikan Tanah Penari” karya Rissa Churria merupakan kumpulan puisi yang kaya akan imajinasi, bahasa yang indah, serta eksplorasi tema-tema penting seperti alam, spiritualitas, identitas, dan pengalaman hidup. Karya-karya dalam buku ini mampu membawa pembaca masuk ke dalam dunia yang diciptakan oleh penyair.

    1. Keila berkata:

      – *Kedalaman Spiritual dan Emosi*: Puisi-puisi dalam buku ini memiliki kedalaman emosi dan spiritualitas yang kuat, seperti yang terlihat dalam karya-karya Rissa Churria lainnya. Tema-tema yang diusung dalam buku ini mencakup perjalanan batin yang mendalam dan refleksi tentang kehidupan.
      – *Penggunaan Diksi Lokal*: Rissa Churria menggunakan diksi-diksi lokal dalam puisinya, yang dapat mengungkap kekhasan daerah yang tidak terwakili oleh kosakata bahasa Indonesia. Namun, penggunaan diksi lokal juga berpotensi menyebabkan pembatasan dalam pemaknaan oleh pembaca.
      – *Gabungan Tradisi dan Modernitas*: Buku puisi Bisikan Tanah Penari merupakan contoh sempurna bagaimana Rissa Churria menggabungkan unsur-unsur tradisi dengan sentuhan modernitas, menciptakan puisi yang tidak hanya indah tetapi juga relevan dengan zaman sekarang.
      – *Proses Kreatif*: Rissa Churria mengungkapkan bahwa menulis bukan hanya sebuah kegiatan berkarya, tetapi juga merupakan terapi kesehatan. Ia merasakan proses penyembuhan dari berbagai luka lahir batin dan menemukan kedamaian dalam jiwa melalui proses kreatifnya.
      – *Penerimaan dan Penghargaan*: Buku puisi Bisikan Tanah Penari diterbitkan pada tahun 2021 dan mendapat perhatian dari komunitas sastra. Buku ini juga dinominasikan sebagai Buku Sastra 2024 dan mendapat pengantar dari Riri Satria, sastrawan dan motivator sastra.

      Dengan demikian, buku puisi Bisikan Tanah Penari karya Rissa Churria dapat menjadi bacaan yang inspiratif dan memperkaya bagi para pecinta sastra dan puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *