Menu
Menu

Melalui Cold War, kita menyaksikan liku-liku hubungan yang dipenuhi kerinduan dan antagonisme. Hal itu berhasil menyempurnakan keseluruhan jalan cerita yang berada dalam kondisi ambivalen dari menit ke menit.


Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage |

Lahir di pedalaman Flores, Nusa Tenggara Timur. Menulis opini, esai, dan cerpen. Saat ini mengelola website horizondipantara.com, mengajar dan riset. Juga berternak babi.


Identitas Film

Judul: Cold War
Tahun: 2018
Sutradara: Pawel Pawlikowski
Rumah Produksi: Opus Film, Apocalypso Pictures, MK2 Productions

*

Pada awal tahun 2019 yang lalu, Cold War masuk dalam nominasi Academy Awards ke-91 untuk tiga kategori: Best Foreign Language Film, Best Director, dan Best Cinematography. Sebelum itu, film ini telah merajai Festival Cannes 2018. Dalam kategori bergengsi Palme d’Or, Pawlikowski, sang sutradara berhasil memenangi penghargaan Best Director.

Dibungkus dalam format noir oleh Lukasz Zal sebagai Director of Photography, Cold War menggambarkan area abu-abu kehidupan manusia dengan bumbu estetika yang begitu menawan. Ditampilkan dalam rasio 4:3 yang nyaris berbentuk bujur sangkar, Cold War seperti mengajak kita untuk menikmati foto usang dalam perpaduan warna perak dan gelatin dari suatu peristiwa yang sudah lama berlalu di dunia ini tetapi jejaknya belum benar-benar hilang.

Berkat tangan dingin Pawlikowski, Cold War dibentuk dengan sama kuatnya seperti Ida, film terdahulunya yang memenangkan Oscar pada tahun 2015 untuk katagori Best Foreign Language Film. Selain itu, Pawlikowski berhasil menyuguhkan sebuah pesta sinematik yang memanjakan indra melalui sebuah lanskap epik nan padat sepanjang 88 menit.

Detail hubungan antara budaya dan negara, kebebasan dan kompromi individu, hingga jatuh cinta dan patah hati yang rumit adalah tawaran narasi menggiurkan dari Pawlikowski yang sulit kita abaikan dalam Cold War

Berurat Akar pada Kondisi Polandia

Polandia di akhir tahun 1940-an adalah sebuah negeri yang berantakan, perang antara blok barat dan timur telah menghancurkan negeri itu. Pemerintahan komunis yang memenangkan perang di bawah kendali Soviet baru saja dibentuk, mereka berusaha membangun kepercayaan publik dan terhubung dengan warganya untuk mulai menanam ideologi dan menancapkan kuku kekuasaannya.

Soviet pada saat itu secara jelas menargetkan Polandia sebagai negara satelit komunis yang kuat di daratan Eropa. Lagu-lagu leluhur mereka akan menjadi alat kampanye yang efektif untuk membentuk organisasi masa rakyat dari lingkungan pedesaan.

Rencana ambisius pemerintah itu dimulai dengan mengirim sekelompok intelektual dan musisi ke seluruh penjuru negeri untuk merekam musik rakyat dan merekrut para pemainnya demi mengembangkan tarian dan lagu tradisional dalam bentuk pentas opera Mazurek ensemble. Salah satu musisi sekaligus pemandu bakat yang diutus ke pedesaan adalah Wiktor (Tomasz Kot), seorang perokok kelas berat sekaligus pianis dan konduktor berbakat.

Singkatnya, setelah beberapa audisi, Kot bertemu dengan Zula (Joanna Kulig) seorang penyanyi remaja yang turut mengikuti audisi. Ia adalah seorang gadis desa yang semangat—sebuah stereotipe impian pemerintahan komunis saat itu.

Pertemuan antara Wiktor dan Zula, alih-alih sebagai bagian dari audisi, justru berujung pada kondisi saling jatuh cinta. Sejak hari pertama, meski tidak memiliki jangkauan vokal terbaik dari peserta audisi yang ada, Zula dengan lekukan bibir, rambut pirang, dan gerakannya yang tenang berhasil menyihir Wiktor.

Ketika diperingatkan oleh rekannya bahwa Zula sedang dalam masa pencobaan hukuman karena hampir membunuh ayahnya, Wiktor tidak peduli. Ia ingin Zula masuk ke dalam tim opera bentukannya, sebab dengan begitu ia bisa terus berada di dekat Zula, perempuan enigma itu.

Tak butuh waktu lama untuk mereka bisa terikat dalam hubungan cinta yang rumit. Meski Wiktor bersikeras bahwa ia menginginkan Zula karena bakatnya, tetapi Zula tahu bagaimana cara pria bekerja ketika mereka sudah terperosok dalam jurang cinta. Sebab, itu bukan pertama kali ia didekati oleh seorang pria yang lebih tua.

Dalam satu sesi les privat, Zula bertanya pada Wiktor “Apakah kamu menyukai bakatku atau ada sesuatu yang lain?” Wiktor kebingungan menjawab. Tepat di situ mereka memutuskan untuk saling mencintai.

Cinta yang Diringkus Kepentingan Politik

Kekuatan film ini nyaris bertumpu pada hubungan percintaan antara Zula dan Wiktor. Kisah cinta yang destruktif, pasangan yang gampang insecure, dan musik yang syahdu menjadi komposisi penting dari setiap pergerakan alur film.

Pertentangan antara Zula dan Wiktor digambarkan bersumber dari diri mereka sendiri. Keduanya ingin bersama, perlu untuk bersama-sama, tetapi tidak bisa menemukan jalan yang tepat untuk bisa bersama.

Meski begitu, tidak seperti  La La Land—film romansa lain tentang hubungan yang terpisah—Cold War menawarkan kepada penonton tentang seberapa besar arti menjadi protagonis terhadap orang yang kita cintai.

Polandia pascaperang bukanlah tempat untuk cinta dan seni. Kelompok penyanyi rakyat yang populer berdasarkan hasil audisi yang dilakukan oleh Wiktor dengan cepat dikooptasi oleh pemerintah. Peran musik untuk mengembangkan budaya ditukar sebagai alat kampanye politik.

Semuanya dilakukan atas nama propaganda—musik digunakan untuk mendewakan Stalin dalam serangkaian adegan pertunjukan tyrannophile kitsch aneh, khas komunisme pada saat itu.

Sejak musik menjadi alat propaganda, lagu-lagu cinta dilarang, tidak mendapat ruang, bahkan dihancurkan. Syair cinta berbunga-bunga nan wangi ditukar dengan bau tidak enak berupa pujian “Stalin yang luar biasa” yang ditampilkan di panggung pertunjukan rakyat, tepat di depan spanduk wajah berkumis pemimpin besar komunis Soviet itu.

Drama di Paris

Rezim komunis yang baru, telah mengambil alih kegiatan kesenian rakyat untuk mendongkrak semangat nasionalisme dan cinta performatif terhadap negara—sesuatu yang jelas tidak mungkin bisa dijalankan oleh seorang seniman pembangkang seperti Wiktor. Ia merasa harus pergi dari Polandia. Ia ingin membuat musik yang lebih modern dan canggih, yaitu jazz—musik “Amerika” yang tidak akan hidup di bawah rezim komunis Soviet.

Kesempatan untuk pergi akhirnya datang. Wiktor yang mulai muak, pada suatu tur di Jerman Timur, berbicara dengan Zula untuk membelot bersama ke Paris. Zula mengiakan pembelotan itu, tetapi ketika Wiktor menunggu untuk berangkat, Zula justru memilih untuk tetap tinggal.

Film ini melompati beberapa tahun, sejak perpisahan di Berlin, hingga pertengahan 1950-an di mana Wiktor bermain piano di sebuah bar di Paris dan tiba-tiba Zula ada di situ. Percikan cinta penuh “gairah” akhirnya menyala kembali meski salah satu dari mereka telah mengambil langkah sebagai pengkhianat di Berlin. Beberapa adegan ranjang menjelaskan dengan sangat detail soal maksud “gairah” itu.

Sialnya, pertemuan di Paris yang penuh gairah ternyata bukan rangkaian reuni dan bentuk happy ending dari perjalanan cinta yang nahas, karena, tepat di situ, perpisahan lain yang menyebalkan terjadi. Dari Paris, Wiktor  melakukan perjalanan untuk melihat pentas kebangsaan Polandia di Yugoslavia, sementara Zula berada di Paris untuk menikah dengan seorang pria Italia.

Paris sebagai tempat pelarian yang diidamkan Wiktor dan Zula tampaknya sama palsu dan dangkalnya dengan Polandia di bawah kendali Stalin. Di bawah komunisme para musisi mengambil peran di bawah tekanan negara, sementara di kalangan musisi Prancis peran musisi itu bergeser bersama angin perubahan tanpa arah yang melanda negeri itu. Mereka bermusik nyaris tanpa idealisme.

Kondisi di Paris lambat laun membuat keduanya sama-sama muak. Wiktor menolak bergabung dengan musisi Prancis dalam sebuah rekaman dan penampilan. Sementara Zula menganggap musik Prancis tidak memiliki ikatan budaya. Ia memberi sinyal penolakannya terhadap semua sentimen artifisial Prancis dalam sebuah penampilan Rock Around the Clock di sebuah bar

Kondisi di Prancis pada akhirnya mendesak Zula untuk kembali ke Polandia. Itu menjadi pukulan telak untuk Wiktor. Karena rindu, ia membiarkan dirinya ditangkap dan dipulangkan oleh sekelompok ajudan partai komunis ke Polandia karena dianggap telah berkhianat. Ia melakukan itu semata-mata agar bisa kembali bertemu Zula.

Dan benar saja, Wiktor akhirnya bertemu Zula di tahanan. Lagi-lagi melalui adegan ini, cinta yang suram sedang digambarkan dengan brilian oleh Pawlikowski. Ia menempatkan situasi yang amat paradoksal di antara Zula dan Wiktor. Mereka akhirnya bisa bebas memiliki satu sama lain ketika salah satunya justru dalam keadaan terbelenggu borgol penjara.


cold war romansa yang terjebak dalam politik ideologi negara infografis

Politik Ideologi Negara

Percintaan Zula dan Wiktor mengarah pada pertengkaran menyakitkan sekaligus ada banyak pertemuan  penuh gairah dan menggembirakan. Mereka saling mengejar sepanjang satu dekade, melenyapkan rintangan waktu, jarak, politik, perbatasan, perselingkuhan, bahkan pernikahan untuk bisa bersatu kembali.

Melalui Cold War, kita menyaksikan liku-liku hubungan yang dipenuhi kerinduan dan antagonisme. Tomasz Kot (Wiktor) yang tinggi, gelap, dan ramping, serta Joanna Kulig (Zula) yang berambut pirang, montok, dan sensual, sangat cocok dipasangkan sebagai lawan main. Mereka menawarkan perbedaan sejak dari bentuk fisiknya. Hal itu berhasil menyempurnakan keseluruhan jalan cerita yang berada dalam kondisi ambivalen dari menit ke menit.

Berkonsentrasi pada hanya dua orang, Cold War memaparkan dampak pascaperang di Eropa Timur. Ideologi negara telah mengajarkan Wiktor dan Zula bagaimana menjadi tabah dalam percintaan—tetapi bukan untuk menghilangkan rasa sakit yang mereka rasakan. Meski mereka terlihat tampak mudah untuk terbakar dan berpisah dari waktu ke waktu, diam-diam justru mereka semakin dalam mencintai satu kepada yang lain. Sungguh manis.

Pawilkowski begitu cermat menempatkan sebuah bentuk keintiman cinta sepasang manusia yang bersinggungan langsung dengan gerakan besar sejarah sebuah bangsa. Dengan cara yang brilian ia menjelaskan bagaimana ideologi dalam suatu negara yang selalu dimaksudkan memanusiakan bangsanya justru yang paling pertama menjadi pencetus yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks Indonesia kita tentu mengenal slogan “NKRI Harga Mati” atau “Pancasila Sudah Final” yang disemburkan dari mulut politisi, penguasa, dan aparat sebagai ideologi politik dengan maksud untuk melindungi setiap anak bangsa. Namun, yang sering terjadi justru atas nama ideologi, ada banyak warga negara, yang dalam sejarah panjang negeri ini, terpaksa harus mati sia-sia dan terusir dari atas tanah nenek moyangnya.

Pada akhirnya, ada pelajaran penting dari Cold War yang ditinggalkan untuk kita mengenai peran ideologi dalam negara. Bahwa meski ideologi adalah alat yang ampuh untuk mengemas agenda politik yang luas, memengaruhi opini publik, dan mengasilkan tujuan alternatif, tetapi tetap saja, fiksasi berbasis kepercayaan yang kaku sebagai nilai dasar ideologi hampir selalu mengarah pada rumusan kebijakan yang buruk, terutama, di tengah perubahan ekonomi yang cepat dan ketidakpastian geopolitik.

Di Indonesia, sialnya, kita berkali-kali masih terus berkutat pada hal yang sama. Kita masih memahami ideologi dengan buruk. Berkali-kali penegakan ideologi selalu hadir berkelindan dengan kekerasan dan nyaris tanpa diskusi dan debat isi pikir. Sungguh menyedihkan. (*)


Infografis: Daeng Irman

Ulasan menariknya lainnya dapat disimak di rubrik ULASAN FILM dan ULASAN BUKU.

Bagikan artikel ini ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *