Menu
Menu

Istriku, waktu selalu sewarna rumah merah muda
Melumuri degupku dalam degupmu


Oleh: Toni Lesmana |

Menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia serta bahasa Sunda. Buku puisinya Tamasya Cikaracak masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2016-2017. Buku kumpulan cerpen terakhirnya Tamasya Kota Pernia (2018). Tinggal di Ciamis.


Rumah Merah Muda

1

Di rumah yang selalu merah muda
Kuseduh diri menjelma kopi sebab kau gula
Kuhamparkan tubuh menjelma perjalanan sebab kau peta
Kupasrahkan hidup menjelma puisi sebab kau makna

Di rumah yang selalu merah muda
Cinta selalu hangat tersaji di cangkir pagi siang senja dan malam
Kota-kota baru terlahir di ranjang pagi siang senja dan malam
Kata-kata tercipta di kertas pagi siang senja dan malam

Istriku, waktu selalu sewarna rumah merah muda
Melumuri degupku dalam degupmu
Mengguyur tubuhmu dalam tubuhku
Berulang kali meluap menghadiahkan tubuh baru

Tubuh kasih sayang kita

2

Di sudut kanan pekarangan
Hanjuang setia berjaga
Memikul batas ada dan tiada
Jika usia merah muda, kesegaran cinta
Habis diisap birahi matahari, tak ada lagi
Tangan penari sudi memetik, lantas ungu
Melumuri seluruh tubuh daun seperti
Kemurungan yang diguyurkan waktu
Bagi penunggu jembatan hidup dan mati
Hingga menipis dimakan coklat dan kering
Namun ia tetap erat mengenggam batang
Seakan enggan menyebrang
Batas yang ia jaga

3

Di sudut kiri selalu ada pekik melati
Setiap pagi, ia mekar dan karam
Di taring kucing yang mungkin
Menyangka mereka serpih daging
Pahamu, sebab putih sebab wangi

4

Pisau di tanganmu bukan kecemasan
Tapi rindu yang dinantikan rumpun tubuh
Hijau pandan. Mereka ingin segera menggeliat
Di jari-jarimu yang gemar melipat-remas mereka
Gairah aroma dalam tubuh hijau pandan
Ingin segera bebas lepas di panci masakanmu
Agar lekas mencicip ranum bibirmu
Lekas menyatu ke tubuhmu

5

Ia telah kekar, kulit usia mengelupas
Di sekujur batang. Seseorang mewariskan
Benih pohon jambu pada kita, seakan memberi petuah
Tentang cinta, yang tak perlu kita tahu dari mana
Dan karena apa. Kita hanya perlu merawat amanat
Dengan keikhlasan, hingga rimbun, berbunga dan ia
Kemudian menyodorkan ranum buah tanpa mengenal
Musim, memberikan keteduhan tanpa mengeluh, dan
Merelakan dahan-dahannya dipanjat, dibebani ayunan
Rindu yang terus terayun mendekap tubuh-tubuh kita
Yang baru, riang, dan binar

6

Pintu depan tak pernah kita kunci
Pintu samping kita bongkar
Siapa saja bisa masuk dan tinggal
Di antara dinding merah muda
Di hadapan teralis dan kaca-kaca lebar
Di atas lantai putih
Di antara buku-buku

Siapa saja, seperti kata-kata, kita terima
Sebagai pernyataan cinta

7

Rak buku di ruang tengah
Adalah dunia mungil yang ramah
Dan nakal, sering mengajak kita
Bermain ke sebrang yang ajaib
Ke sebrang yang kekal. Tak seperti
Jam dinding yang penyendiri
Yang kerap mati dan malas
Kita hidupkan lagi

8

Tak ada kursi atau meja
Namun ada banyak sajadah
Yang kita punya, juga buku-buku
Inilah cinta kita seadanya. Itu cukup
Untuk siapa saja yang datang
Siapa saja yang datang
Singgah atau menginap
Atau kelak yang datang mengajak kita pulang

9

Kain gorden itu tetap hijau
Seperti daun jambu, sesekali
Bergeser untuk kehadiran matahari

Di malam hari, ia menjelma selimut
Bagi seluruh tubuh, seluruh buku
Yang tak pernah tidur di ruang tamu

10

Di kamar depan
Kita menanam Ronggeng Gunung
Di samping tangis anak sulung

Di kamar tengah
Kita menanam Tarawangsa
Di dekat ubun-ubun anak kedua

Di kamar belakang
Kita menanam Puisi
Di bawah kuping anak bungsu

Sepanjang malam kita siramkan
Ayat demi ayat yang tertulis di hati
Surat demi surat yang tercatat di jiwa

11

Tokek itu selalu muncul
Dan menyelinap di antara
Wajah Cobain, Che, dan Chairil
Yang sengaja kita pasang menutup
Dinding lembab ruang makan. Suaranya
Seakan suara mereka dari dunia sebrang

Tokek itu selalu muncul
Dan selalu membuat kita berpelukan
Di dapur. Lebih erat, lebih erat lagi

12

Di dapur yang kerap bisu dan tandus
Kita menuliskan semua yang tak ada
Lantas memasak kata-kata dengan hati
Yang hati-hati, agar kembang dan matang

Titik, koma, dan tanda-tanda lainnya
Kita tabur sebagai bumbu, seperti
Kecupan-kecupan halus yang tembus
Melumuri kalbu yang haus dan lapar

13

Kamar mandi sering iri sebab selalu luput
Dari jangkau kata-kata. Padahal ia begitu
Mengenal kita melebihi cermin dan ranjang

Keramik biru, lampu kuning, dan gayung merah
Adalah mata yang membasuh tubuh sebelum air
Menelusuri liku-lekuk. Air matakah dalam bak itu?

Di sini kita mandi, saling memandikan, hingga
Kelak dimandikan

(2019)


Ilustrasi: Photo by Moose Photos from Pexels

Bagikan artikel ini ke:

3 thoughts on “Puisi Toni Lesmana – Rumah Merah Muda”

  1. Puisi-puisi yang menguatkan jiwa. Akan terasa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.

  2. Membaca puisi ini serasa sedang berkunjung ke empunya rumah, bagaimana tidak, walaupun dituturkan dalam bait bait puisi pembaca serasa di guide untuk memasuki rumah yang selalu welcome untuk siapa saja. Suatu saat ingin bertemu untuk menikmati seduhan kopi di pagi siang atau senja bahkan malam. Wilujeng tepang Mang Toni.

  3. Sahadewa says:

    Kuat dan menyentuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *