Menu
Menu

Dia, sesuai namanya, adalah pelindung dewa dan negeri,/ Yang bertarung habis-habisan menyelamatkan/ kediaman kita di kala genting. Enuma Elish.


Oleh: Mario F. Lawi |

Penyair, penerjemah, dan esais. Buku-buku puisi dwibahasanya adalah Bui Ihi: The Cooling of the Harvest and Other Poems (dwibahasa Indonesia-Inggris, terjemahan Inggris dikerjakan oleh John McGlynn, 2019), dan In Porta Siderum (dwibahasa Latin-Indonesia, 2023). Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, dan mengampu rubrik Terjemahan di Bacapetra.co.


Marduk
Nama yang diberikan Anu, ayahnya, sejak lahir,
Yang menyediakan padang rumput dan mata air,
menyuburkan kandang-kandang.
Yang membatasi si sombong dengan senjatanya,
banjir badai,
Dan menyelamatkan para dewa,
para ayahnya, dari bahaya.
Dialah sang putra,
dewa matahari milik para dewa,
cahayanya penuh pesona,
Semoga mereka senantiasa berjalan
dalam cemerlang cahayanya.
Kepada manusia yang ia ciptakan,
para makhluk hidup,
Ia bebankan tugas melayani para dewa,
dan mereka beristirahat.
Penciptaan dan pembinasaan,
pengampunan dan penghukuman
Terjadi atas perintahnya,
biarlah mereka memusatkan pandangan kepadanya.

Marukka:
Dialah dewa yang menciptakan mereka,
Yang menempatkan Anunnaki dalam ketenteraman,
dan Igigi dalam istirahat.

Marutukku:
Dialah penjamin negeri, kota, dan rakyatnya,
Mulai sekarang,
semoga orang-orang senantiasa memperhatikannya.

Mersakusu:
Galak sekaligus tenang,
gusar sekaligus penuh iba,
Pikirannya luas,
hatinya tenteram terkendali.

Lugaldimmerankia
Itulah nama yang kita gunakan untuk menyapanya,
Yang perintahnya telah kita agungkan
di atas perintah para dewa, para ayahnya.
Dialah tuan dari para dewa di surga dan di dunia bawah,
Raja yang kepadanya hukum-hukum para dewa
di wilayah-wilayah yang lebih tinggi
dan lebih rendah tunduk gemetar.

Narilugaldimmerankia
Itulah nama yang kita berikan kepadanya,
penasihat setiap dewa,
Yang mendirikan kediaman kita di surga
dan di dunia bawah di waktu sukar,
Yang membagi kediaman surgawi
di antara Igigi dan Anunnaki,
Biarlah para dewa menggigil
mendengarkan namanya,
dan gemetar di singgasana mereka.

Asalluhi
Itulah nama panggilan yang diberikan Anu, ayahnya,
Dialah cahaya para dewa, pahlawan perkasa,
Dia, sesuai namanya, adalah pelindung dewa dan negeri,
Yang bertarung habis-habisan menyelamatkan
kediaman kita di kala genting.

Asalluhi-Namtila,
Nama panggilan keduanya, dewa pemberi hidup,
Yang, sesuai bentuk namanya,
memperbaiki kembali para dewa yang rusak,
Tuan, yang menghidupkan para dewa yang mati
dengan mantra murninya,
Marilah kita memujinya
sebagai penghancur para musuh yang licik.

Asalluhi-Namru, nama panggilan ketiganya,
Dewa yang murni, yang memurnikan watak kita.

Ansar, Lahmu dan Lahamu masing-masing
memanggilnya dengan tiga julukannya,
Lalu mereka berbicara kepada para dewa, putra-putra mereka,
“Masing-masing kami telah menyebutnya
dengan ketiga julukannya,
Sekarang kalian agungkanlah namanya, seperti kami.”
Para dewa bergembira
karena mendengarkan permintaan tersebut,
Di Upsuukkinaki mereka adakan pertemuan,
“Bagi sang putra-pahlawan, penuntut balas kita,
Penyedia ketetapan, mari kita puji namanya.”
Mereka duduk berkumpul, memanggil takdir,
Dan dengan ritus-ritus yang pantas
mereka mengagungkan nama-namanya:

Asarre,
pemberi tanah subur
yang menyediakan tanah yang telah dibajak,
Pencipta gandum dan rami,
yang memberikan pertumbuhan bagi tanaman.

Asaralim,
yang dipuja di dalam ruangan pertimbangan,
pemilik nasihat tertinggi,
Para dewa berjaga-jaga dan takut kepadanya.

Asaralimnunna, yang mulia, cahaya ayah, orang tuanya,
Yang mengatur ketetapan-ketetapan Anu, Enlil dan Ea, ialah Ninsiku.
Dialah penyedia ketetapan, yang menentukan penghasilan mereka,
Yang serbannya melipatgandakan keberlimpahan bagi negeri.

Dialah Tutu, yang menyelesaikan perbaikan mereka,
Biarlah dia menyucikan kuil-kuli mereka
agar mereka dapat beristirahat.
Biarlah dia membuat mantra
agar para dewa dapat mengaso,
Sekalipun mereka bangkit dalam kemarahan,
biarlah mereka mundur.
Dia sungguh ditinggikan
dalam pertemuan para dewa, para ayahnya,
Tak seorang pun di antara para dewa yang bisa menandinginya.

Tutu-Ziukkinna, kehidupan tuan rumahnya,
Yang mendirikan surga suci bagi para dewa,
Yang memimpin tujuan-tujuan mereka,
yang menunjuk perhentian-perhentian mereka,
Semoga dia tidak dilupakan di antara manusia,
dan biarlah mereka mengingat perbuatannya.

Tutu-Ziku gelar ketiganya bagi mereka, pencipta penyucian,
Dewa angin semilir, tuan kesuksesan dan kepatuhan,
Yang menghasilkan karunia dan kekayaan,
yang menciptakan kelimpahan,
Yang menjadikan segala sesuatu yang sedikit
yang kita miliki menjadi berlimpah,
Pemilik semilir menyenangkan
yang kita hirup di saat kesulitan besar,
Biarlah manusia memerintahkan
agar pujiannya terus-menerus diucapkan,
biarlah mereka menyembahnya.

Sebagai Tutu-Agaku, gelar keempat,
biarlah manusia meninggikannya,
Penguasa mantra murni,
yang menghidupkan kembali orang mati,
Yang menunjukkan belas kasihan pada Para Dewa Terikat,
Yang melemparkan kuk yang dikenakan pada para dewa, musuh-musuhnya,
Dan untuk meluangkan mereka, diciptakanlah manusia.
Sang Penyayang, yang mempunyai kuasa
untuk mengembalikan kehidupan,
Biarlah kata-katanya pasti dan tidak dilupakan
Dari mulut-mulut para kepala-hitam, ciptaannya.

Sebagai Tutu-Tuku, sapaan kelima,
biarlah mulut mereka mengungkapkan mantra murninya,
Yang memusnahkan semua orang jahat dengan mantra murninya.

Sazu, yang mengetahui hati para dewa, yang melihat kendali,
Yang tidak membiarkan pelaku kejahatan lolos darinya,
Yang menetapkan perkumpulan para dewa,
yang menggembirakan hati mereka,
Yang menundukkan para durhaka,
dialah perlindungan kokoh para dewa.
Dia membuat kebenaran menjadi makmur,
dia mencabut fitnah keji,
Dia memisahkan kebohongan dari kebenaran.

Sebagai Sazu-Zisi, gelar keduanya,
biarlah mereka terus-menerus memujinya, penakluk para penyerang,
Yang mengusir kelumpuhan dari tubuh para dewa, para ayahnya.

Sazu-Suhrim, gelar ketiga,
yang memusnahkan setiap musuh dengan senjatanya,
Yang mengacaukan rencana mereka
dan mengubahnya menjadi angin.
Dia memusnahkan semua orang jahat yang datang melawannya,
Biarlah para dewa bersorak serentak di pertemuan yang sama.

Sazu-Suhgurim, gelar keempat,
yang membangun kesuksesan bagi para dewa, para ayahnya,
Yang memusnahkan para seteru
dan membinasakan keturunan mereka,
Yang mencerai-beraikan capaian-capaian mereka,
tidak menyisakan sedikit pun,
Biarlah namanya dibicarakan dan diserukan di negeri ini.

Sebagai Sazu-Zahrim, kelima,
biarkan generasi mendatang membicarakannya,
Penghancur setiap pemberontak, semua yang tidak patuh,
Yang membawa para dewa terusir ke kuil-kuil,
Biarlah namanya ditegakkan.

Sebagai Sazu-Zahgurim, keenam,
biarlah orang-orang di mana pun memujanya,
Yang sendiri menghancurkan semua musuh dalam pertempuran.

Dialah Enbilulu,
tuan yang menyediakan makanan berlimpah bagi mereka,
Pilihan agung mereka,
yang memberikan persembahan sereal,
Yang memelihara padang rumput dan air tetap baik
dan menyediakannya untuk tanah,
Yang membuka aliran air
dan membagi-bagikan air yang berlimpah.

Enbilulu-Epadun,
penguasa tanah bersama dan saluran irigasi,
biarkan mereka memanggilnya yang kedua,
Pengawas kanal surga dan dunia bawah,
yang membuat alur,
Yang membangun lahan subur yang bersih
di wilayah terbuka,
Yang mengarahkan saluran irigasi dan kanal,
serta menandai alurnya.

Sebagai Enbilulu-Gugal,
pengawas saluran aliran air para dewa,
biarlah mereka memujinya sebagai yang ketiga,
Tuan keberlimpahan, kelebihan,
dan simpanan serealia yang berlimpah,
Yang menyediakan hadiah,
yang memperkaya tempat tinggal manusia,
Yang memberi gandum, dan menciptakan serealia.

Sebagai Enbilulu-Hegal,
yang mengumpulkan kelimpahan bagi orang-orang,
biarlah mereka berbicara tentang dia dengan gelar keempat,
Yang menghujankan kekayaan ke bumi yang luas,
dan menyediakan tumbuh-tumbuhan yang melimpah.

Sirsir, yang menimbun gunung di atas Tiamat,
Yang merampas mayat Tiamat dengan senjatanya,
Penjaga tanah, gembala mereka yang dapat dipercaya,
Yang rambutnya adalah panenan yang bertumbuh,
yang serbannya adalah galur air,
Yang terus menyeberangi Lautan luas dalam kemarahannya,
Dan terus melintasi tempat pertarungannya
seolah-olah tempat itu adalah jembatan.

Sirsir-Malah, mereka memberi nama keduanya
—jadilah demikian—
Tiamat adalah perahunya,
dialah sang pelaut.

Gil, yang pernah menimbun tumpukan jelai,
gundukan besar,
Pencipta gandum dan ternak,
yang memberikan benih untuk tanah.

Gilima, yang menguatkan ikatan para dewa,
pencipta kestabilan,
Jerat yang membuat mereka kewalahan,
tetapi tetap memberikan bantuan.

Agilima, yang mulia,
yang merampas mahkota,
yang menguasai salju,
Yang menciptakan bumi di atas air
dan meneguhkan ketinggian langit.

Zulum yang memberikan padang rumput kepada para dewa
dan membagi-bagi apa yang diciptakannya,
Yang memberi penghasilan dan persembahan makanan,
yang mengelola kuil-kuil.

Mummu, pencipta surga dan dunia bawah,
yang melindungi pengungsi,
Dewa yang memurnikan surga dan dunia bawah,
Zulummu kedua,
Dalam hal kekuatan
tidak ada dewa lain yang dapat menandinginya.

Gisnumunab, pencipta segala bangsa,
yang menjadikan dunia wilayah-wilayah,
Yang menghancurkan dewa-dewa Tiamat,
dan menciptakan manusia dari bagian-bagian mereka.

Lugalabdubur, raja yang menghancurkan karya Tiamat,
yang mencabut senjatanya,
Yang dasarnya kokoh di “Depan dan Belakang”.

Pagalguenna, yang paling utama di antara semua tuan,
yang kekuatannya diagungkan,
Yang terbesar di antara para dewa, saudara-saudaranya,
yang paling mulia di antara mereka semua.

Lugaldurmah, raja ikatan para dewa,
penguasa Durmahu,
Yang terhebat di istana kerajaan,
jauh lebih mulia dari dewa-dewa lainnya.

Aranunna, penasihat Ea,
pencipta para dewa, para ayahnya,
Yang tidak dapat ditandingi oleh dewa mana pun
dalam hal langkah dewatanya.

Dumuduku, yang memperbaharui bagi dirinya sendiri
kediaman sucinya di Duku,
Dumuduku, yang tanpanya
Lugalduku tidak akan mengambil keputusan.

Lugalsuanna, raja yang kekuatannya diagungkan
di antara para dewa,
Tuan, kekuatan Anu,
dia yang tertinggi, dipilih dari Ansar.

Irugga, yang menjarah mereka semua di Laut,
Yang menguasai segala hikmah,
yang maha luas pemahamannya.

Irqingu, yang menjarah Qingu dalam pertempuran,
Yang mengarahkan segala ketetapan
dan menetapkan kepemilikan.

Kinma, pemimpin semua dewa,
yang memberikan nasihat,
Atas namanya para dewa membungkuk hormat
seperti sebelum badai.

Dingir-Esiskur
—biarlah dia menduduki kursi mulia di Rumah Berkat,
Biarlah para dewa membawa hadiah mereka ke hadapannya
Sampai dia menerima persembahan mereka.
Tidak satu pun kecuali dia yang dapat mencapai hal-hal cerdas
Empat wilayah kepala-hitam adalah ciptaan-Nya,
Tiada dewa selain dia yang mengetahui ukuran hari-hari mereka.

Girru, yang membuat senjata menjadi keras,
Yang melakukan hal-hal cerdas
dalam pertempuran dengan Tiamat,
Saksama dalam kebijaksanaan,
terampil dalam pemahaman,
Pikiran mendalam,
yang tak dapat dipahami oleh semua dewa sekaligus.

Biarlah Addu menjadi namanya,
biarlah dia menutupi seluruh bentangan surga,
Biarlah dia bergemuruh di atas bumi
dengan suaranya yang merdu,
Semoga gemuruh awan berkurang
Agar dia dapat memberikan rezeki
kepada kaum di bawah.

Asaru, yang, seperti namanya, menghimpun Takdir Ilahi
Dia memang benar-benar pengawas semua orang.

Sebagaimana Neberu membiarkannya menguasai
tempat persimpangan surga dan dunia bawah,
Mereka tidak boleh menyeberang ke atas atau ke bawah,
tetapi harus menunggunya.
Neberu adalah bintangnya,
yang dia buat bersinar di langit,
Biarlah dia berdiri di tangga surgawi
agar mereka dapat memandangnya.
Dia yang terus-menerus menyeberangi Lautan
tanpa beristirahat,
Biarlah namanya menjadi Neberu,
yang memegang bagian tengah Lautan,
Biarlah dia memperbaiki setapak bintang-bintang surgawi,
Biarlah dia menggembalakan semua dewa seperti domba,
Biarlah dia mengikat Tiamat
dan membahayakan nyawa sang dewi,
Bagi generasi-generasi yang belum lahir,
bagi hari-hari depan yang jauh,
Semoga dia senantiasa tidak terkendali,
semoga dia berkanjang selamanya.

Karena dia menciptakan langit
dan menghiasi bumi,
Enlil, sang ayah,
memanggilnya dengan namanya sendiri,
“Penguasa Daratan”.

*

Enuma Elish adalah puisi mitologi penciptaan Babilonia yang ditatah di atas lempeng tanah liat. Bagian “50 Nama Marduk” di atas diterjemahkan Mario F. Lawi dari versi Inggris dalam Babylonian Creation Myths karya W. G. Lambert (2013: 117-131).


Ilustrasi: Mighty was he to look upon (courtesy of Evely Paul), diambil dari sini.

Baca juga:
Esai Alberto Manguel – Suara Kassandra
Puisi dan Fragmen-Fragmen Puisi Sappho
Pulang sebagai Takdir – Esai Giuseppe Pontiggia


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

2 thoughts on “Enuma Elish – 50 Nama Marduk”

  1. Zahra berkata:

    Luar biasa Keren dan menarikk bangett puisi inii

  2. Khaeril berkata:

    Wow keren banget, bagus banget puisi nya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *