Puisi-Puisi Aldiansyah Azura – Apa Lagi yang Lebih Indah nan Endulita Dibanding Kita Bercinta
20 Juli 2024| | 3 CommentsAku gak bisa bayangin apa lagi yang lebih indah nan endulita dibanding kita bercinta di dalam berkas audio jedag jedug sentimentil ala Janet Jackson.
Oleh: Aldiansyah Azura |
Penulis dan aktor yang akrab dengan dunia seni peran. Dalam dunia peran, Aldi sudah meraih beberapa prestasi seperti aktor terbaik di Festival Teater Jakarta Timur (2023) dan nominasi aktor terbaik Festival Teater Jakarta (2023). Sebagai penulis, ia memulai debutnya dengan kumpulan puisi bertajuk Akika Ya Eyke! yang diterbitkan oleh Penerbit Anagram.
Statement
Saya rasa
Saya perlu berhenti menulis puisi
Karena nyatanya
Puisi tidak pernah memeluk saya
Puisi hanya anekdot miskin yang mencolek pantat saya di tengah tengah kerumunan
Tentu saja tidak pernah ada New York hari ini
_ Kemarin
Atau esok
Karena puisi tidak pernah mampu menjejalkan meriah Broadway
ke dalam Grand Theater Senen yang berpura-pura awet muda
Puisi tidak pernah jadi tombak
Tidak pernah jadi peluru
Wiji hilang dan puisi tak pernah menyelamatkannya
Sesungguh-sungguhnya peluru adalah dirinya sendiri dan mereka yang tersesat di kerumunan
Puisi hanyalah placebo
Viagra oplos toko toko simpang jalan
Aku tidak pernah melihat
Seorang ibu tiba tiba kembali memeluk anaknya
Hanya karena membaca puisi yang telah membungkus sarapan paginya
Penuh minyak dan tragedi
Puisi bahkan tidak pernah memvalidasi dirinya sendiri
Lalu
Bagaimana bisa seseorang mendapatkan validasi hanya karena kata kata yang dipoles sedemikian rupa hanya untuk menjadi sia sia berkali kali lipat?
Saya masih merasa
Saya perlu berhenti menulis puisi
Karena kata kata kini penjara
Semakin saya menulis
Semakin rapat penjara mengurung saya
Dingin dan gelap
Tapi nyatanya
Saya tidak bisa berhenti menulis puisi
_ Dan menjadi munafik
Puisi memang tidak pernah memeluk saya
Puisi membuat saya semakin berjarak
_Bahkan pada diri sendiri
Ruh keluar dari tubuh
Saya melihat diri sendiri
Dan tahu luka mana yang mesti disembuhkan
Saya melihat diri sendiri
Dan sadar
Betapa pantasnya saya untuk dipeluk
Bahkan oleh diri sendiri
.
Mudik di Bulan Juni
Di akhir Mei, menjelang Juni
Setan setan seharusnya dikerangkeng
Karena telah kita lihat bola disko bling bling sebagai hilal
Dan Diana Ross menjelma Tompi menyanyikan lagu rohani
Diiringi mereka yang telah rindu mendekap diri sendiri yang disembunyikan di dalam lemari bau kamper murahan
“I’m coming out!”
Namun tentu perayaan adalah kelok ampek puluh ampek
“Hidup penuh liku-liku ada suka ada duka,” dendang Camelia Malik dari dalam radio bus
Ya, dan kita adalah supir bus lintas sumatera
itu, sayang
Tenang, tidak perlu maskulin untuk jadi supir bus
Kamu tetap bisa menggantung sailor moon di langit langit
Atau menempelkan wajah Britney Spears di dashboard
Juga tidak mesti melulu Camelia Malik yang menemani perjalananmu menuju puncak perayaan
Kamu bisa saja menyiapkan Gaga dalam antrian
Untuk nantinya berteriak
“I’m on the edge of glory!”
Di tengah perjalanan, mungkin kamu bayangkan;
Sanak saudara menyambutmu dengan gaun heboh dan wig lima lapis
Reveal!
Burung merpati dan bunga-bunga berbagai musim keluar dari balik wig mereka
Tapi sayangnya tidak, sayang
Kamu harus bersiap
Tidak disambut oleh siapa pun
Dan harus merayakannya seorang diri
Tapi tenang
Ada jutaan orang yang merayakannya sendirian
Sama sepertimu
.
Di Dalam Berkas Audio Itu, Kita Abadi
Aku gak bisa bayangin apa lagi yang lebih indah nan endulita dibanding kita bercinta di dalam berkas audio jedag jedug sentimentil ala Janet Jackson.
Di dalamnya, kita pergi ke pantai. Kita keruk pasir dalam-dalam dan kita temukan sumur arak bekas mandi dewa-dewa. Kau basuh wajahmu serta wajahku. Seketika mata kita jadi satu. Terbang ke langit lalu melebur jadi lautan paling mabuk di dunia.
Ikan-ikan mungkin tidak bisa hidup di dalam kita. Tapi ada mereka yang tidak pernah lelah mencongkel daging sendiri demi temukan mereka yang paling mereka.
Kita masih bercinta. Berkas audio ini gelap tapi kita selalu tahu, di bagian mana ada celah tempat cahaya perlahan-lahan masuk dan merampok segala takut. Sering kita merobeknya. Membaginya ke dalam beberapa bagian sehingga seluruh takut berhasil dirampok bersih.
Kita selalu senang berada di sini. Tidak ada negara atau bayangan mamah yang menyelimutimu serupa selimut kasar. Pura-pura jadi hangat sedang di saat yang sama, bangkaimu sudah direncanakan tungau-tungau.
.
Like Cranes in The Sky
Zzzzzzzzzzzz
I tried to drink it away
Malam ini panjang sayang
Coba lihat tanganmu
Apakah garis-garisnya pecah dan jadi galaksi baru?
15 menit lalu kabut padat nan dingin masuk ke tubuh kita
I tried to dance it away
Bawa santai aja sayang
Mungkin sekarang meja-meja udah nempel di langit-langit
And it’s like, cranes in the sky
Dari dapur, kita lihat seribu soprano merangkak sambil ambil nada tinggi
Kamu menyahutnya dengan tawa bernada dasar G#m
Agak dingin dan sedih memang
Tapi kepalamu mendadak awan
Terbang ke atas
It’s like, cranes in the sky
Aku tap dancing di atas meja yang terbalik
Mataku juling mencari arahnya sendiri-sendiri
Kita melihat lantai-lantai ambruk dan menemukan bentuknya
sendiri-sendiri
It’s like, cranes in the sky, sayang
Cold
Heavy
But it’s light
Oh my darl
It’s light!
Feel the wind through your skin menusuk-nusuk pori-porimu yang melulu malu
It’s like, craneeeee…
Zzzzzzzzzzzz
Roti dan selai
Romeo dan Juliet
Aduh ketabrak trotoar
Di mana nih?
Njir lah
Blank shaaayyyyy
Zzzzzzzzzzzzzzzz
Maaf sayang, Spotify-ku gak premium
Yuk nikmatin lagi
Like cranes in the sky
.
Tidak Pernah Ada Lampu Hijau
Ada yang tertinggal setelah mabuk usai pukul setengah dua pagi
Mioku dengan impulsif meluncur ke McDonald Raden Inten
Memungut remah-remah Big Mac yang pernah singgah di bibirmu
Di depan kita selalu ada lampu merah
Mengejek kita dengan tidak pernah menjadi hijau
Hingga cola dalam cup kehilangan sodanya
Kini hanya aku
Merasa terus diejek
I wish I could get my things and just let go
That green light
I want it
But they don’t
You don’t
Tidak ada lampu hijau untukku
Perempatan hanya jadi Colosseum
Tempatku habis jadi daging yang tak pernah mengenal dirinya sendiri
Sedang di dalam matamu
Diam diam, lampu hijau membangun sangkarnya
Kau membawanya ke mana pun
Tanpa pernah melihat ke arahku
Oh honey I’ll come get my things but I can’t let go
That green light
I want it…
Ilustrasi: Poetry Reading (Milton Avery), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Tiga Hari Terakhir
– Masa-Masa Emas
– Saat Badai

Bagaimana bisa terpikir membuat kalimat seperti itu? Saya bertanya dengan serius
Analisis Puisi: “Mudik di Bulan Juni”
Tema dan Makna:
Puisi ini memadukan unsur budaya populer dengan momen spiritual dan sosial, menampilkan mudik sebagai metafora perjalanan pribadi menuju penerimaan diri. Tema utama puisi ini adalah identitas, kesendirian, dan perayaan diri, dengan latar belakang mudik yang biasanya terkait dengan ritual sosial di Indonesia. Di sini, mudik tidak hanya merujuk pada perjalanan fisik menuju kampung halaman, tetapi juga perjalanan emosional dan spiritual dalam proses menemukan dan menerima diri sendiri.
Puisi ini sangat kaya akan simbol dan referensi budaya pop, mulai dari **Diana Ross** hingga **Britney Spears**, yang menggambarkan dinamika antara ekspektasi masyarakat dan ekspresi diri yang bebas. Frasa *”I’m coming out!”* yang diambil dari lagu Diana Ross menyiratkan perayaan keterbukaan identitas, yang mungkin menyentuh tema LGBTQ+ dan proses “keluar dari lemari” yang dihadapi banyak orang. Ada ironi dalam merayakan “keluar” atau eksistensi diri di tengah suasana yang biasanya konservatif seperti mudik. Namun, penyair menekankan bahwa merayakan diri tidak harus bergantung pada penerimaan dari orang lain; hal ini bisa dilakukan secara mandiri.
Bagian *”reveal!”* dengan gambaran gaun heboh dan wig lima lapis menciptakan visual yang jelas tentang harapan untuk sambutan yang megah dan flamboyan, tetapi puisi ini kemudian mengingatkan pembaca bahwa kenyataan mungkin tidak sesuai ekspektasi: *”Kamu harus bersiap / Tidak disambut oleh siapa pun.”* Kesendirian di sini dihadirkan sebagai kenyataan pahit, tetapi tetap ditekankan bahwa ada kekuatan dalam merayakan diri sendiri, bahkan ketika sendirian.
Gaya Bahasa dan Citraan:
Puisi ini penuh dengan gaya bahasa yang enerjik, kontras, dan penuh humor sarkastik. Penyair memanfaatkan referensi budaya pop seperti **Camelia Malik**, **Diana Ross**, **Sailor Moon**, **Britney Spears**, dan **Lady Gaga** untuk memperkuat tema identitas dan kebebasan berekspresi. Penggunaan bahasa yang lugas namun metaforis, seperti *”Setan setan seharusnya dikerangkeng”* dan *”bola disko bling bling sebagai hilal”*, memberi kesan bahwa puisi ini tidak terikat pada norma sosial atau religius yang kaku, melainkan merayakan fleksibilitas identitas dan ekspresi diri.
Citraan visual dari *”sailor moon di langit-langit”* atau *”wajah Britney Spears di dashboard”* menunjukkan kebebasan dalam memilih cara merayakan diri, tanpa harus mengikuti norma maskulinitas atau femininitas tradisional. Ini adalah pernyataan tegas tentang keaslian dan penolakan terhadap ekspektasi masyarakat tentang gender dan identitas.
**Nada humoris dan ironis** juga muncul dalam beberapa bagian, seperti ketika penyair menggambarkan perjalanan lintas Sumatera yang penuh liku-liku, namun mengundang pembaca untuk tetap tenang dan tidak terikat pada stereotip peran gender: *”Tenang, tidak perlu maskulin untuk jadi supir bus.”* Ini menegaskan bahwa ekspresi diri tidak terbatas oleh batasan gender konvensional.
Struktur dan Bentuk:
Secara struktural, puisi ini tidak memiliki pola rima yang ketat atau metrum formal, tetapi aliran bebasnya mencerminkan kebebasan tematik yang diusung. Puisi ini memiliki bentuk naratif dengan jeda-jeda yang diciptakan oleh pengulangan frasa seperti *”sayang”* yang memberi kesan percakapan intim. Struktur bebas ini memungkinkan puisi untuk bergerak dari satu ide ke ide lain dengan keluwesan, dari mudik spiritual hingga perayaan individualisme.
Pemanfaatan dialog langsung seperti *”I’m coming out!”* dan *”I’m on the edge of glory!”* memberikan nuansa yang teatrikal dan menghidupkan suasana perayaan diri. Frasa-frasa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kutipan dari lagu-lagu populer, tetapi juga sebagai deklarasi pribadi tentang penerimaan diri dan kebebasan.
Kritik:
1. Transisi yang Sedikit Tergesa-gesa: Meskipun puisi ini penuh dengan energi dan ide-ide yang menarik, ada beberapa transisi yang terasa sedikit abrupt. Misalnya, perpindahan dari mudik spiritual ke referensi budaya pop seperti Lady Gaga mungkin bisa dibuat lebih mulus agar tidak terasa terlalu kontras. Keterkaitan antara mudik tradisional dengan perayaan individual bisa lebih dieksplorasi untuk menambah kedalaman tema.
2. Kedalaman Emosi: Meski puisi ini penuh dengan simbolisme dan referensi budaya pop, beberapa bagian terasa kurang menggali emosi yang lebih mendalam. Sebagai contoh, bagian tentang kesendirian dalam merayakan diri bisa diperluas lebih jauh untuk menciptakan resonansi emosional yang lebih kuat dengan pembaca.
Saran:
1. Peleburan Budaya Pop dengan Tradisi: Lebih memperhalus transisi antara budaya pop dan tradisi mudik bisa memberikan kontinuitas tematik yang lebih baik. Ini akan membuat puisi terasa lebih kohesif, mengingat tema perayaan diri dan mudik memiliki potensi yang besar untuk saling melengkapi.
2. Pengembangan Refleksi Emosional: Bagian tentang kesendirian dalam perayaan bisa diperluas untuk memberikan lebih banyak ruang refleksi, sehingga pembaca bisa lebih terhubung dengan pengalaman emosional pembicara.
Penilaian Akhir:
“Mudik di Bulan Juni” adalah puisi yang berani, energik, dan penuh gaya dengan penggunaan referensi budaya pop yang cerdas untuk membahas tema identitas, kesendirian, dan perayaan diri. Humor, ironi, dan kebebasan naratif membuat puisi ini menonjol, meskipun ada ruang untuk memperdalam refleksi emosional dan memperhalus transisi antaride.
Nilai: A-
Puisinya segar sekaliiii, like ittt🤍🌹