Menu
Menu

Badai reda. Kau keluar rumah dan melihat semangat. Orang-orang mengumpulkan seng-seng yang terlepas…


Oleh: Armin Bell |

Pemimpin Redaksi Bacapetra.co. Tinggal di Ruteng. Juga mengelola ranalino.id.


Siapa yang kau ingat saat badai? Banyak. Orang-orang terkasih di tempat yang jauh, tentu saja. Orang-orang yang ada di pusaran badai, itu pasti. Semoga mereka baik-baik saja. Kau katakan itu dalam hati, berulang-ulang, dengan ragu-ragu, saya kira. Sebab tidak ada yang baik-baik saja saat badai. Ada luka. Di badan, di tangan, di kaki, di hati.

Dari kejauhan kau lihat seorang lelaki tua naik ke atap rumahnya, memaku-maku atap di tengah hujan agar orang-orang terkasih di dalam rumah tidak kehujanan. Badai melonggarkan paku-paku pada atap, sebagian seng terlepas; apa kabar rumah tanpa Ayah?

Kau ingat puisi “Cinta”: Ketika hujan datang/ dan ia sedang di rumah/ ia naik, dan memasuki kamar ini/ untuk memastikan tak ada/ rembesan pada langit-langit. Kau bayangkan lelaki tua itu datang dari puisi Norman Erikson Pasaribu itu dan segera saja pandanganmu kabur. Air mata turun dan hujan semakin deras, lelaki tua itu, yang sudah kuyup tubuhnya, turun. Adakah handuk kering telah disiapkan untuknya? Bukan. Bukan itu pertanyaannya, tetapi: Apakah ada waktunya mengeringkan badan? Badai datang lagi dan dia harus terus berkeliling memeriksa bagian atap yang lain. Kau ingat rumah-rumah tanpa Ayah.

Mertuamu yang lelaki baru saja meninggal dunia. Kau ingat handuk kering di tangan ibu mertuamu; segera basah, pasti begitu, setelah mengelap wajahnya sendiri. Kau ingat mereka di pusat badai yang terlalu banyak kehilangan. Kau ingat bahwa tak seorang pun di antara kita, di tengah badai, yang ‘berhak’ merasa lebih menderita. Semua orang memikul kesunyiannya masing-masing, kesunyian yang perih. Yang diharapkan darimu adalah suara-suara yang menceriakan.

Badai reda. Kau keluar rumah dan melihat semangat. Orang-orang mengumpulkan seng-seng yang terlepas, memakunya lagi atau membuangnya ke tempat sampah. Toko-toko bangunan ramai sekali. Paku, seng, tripleks, laris manis. Uang kembaliannya segera ada di kardus-kardus di setiap perempatan jalan; anak-anak muda mengumpulkan sumbangan bagi mereka yang ada di pusat badai. Astaga! Orang-orang yang kau kira menderita itu, menyumbang juga? Dan kau segera mengutuk Ebiet G. Ade yang membuatmu merenungkan hal yang buruk; …. memang bila kita kaji lebih jauh/ dalam kekalutan, masih banyak tangan/ yang tega berbuat nista… //

Ho-ho-ho-du-du-du-du-du… Kau pernah membaca berita tentang kasus korupsi dana bantuan sosial. Rumah-rumah orang-orang yang disangkakan itu pastilah megah. Terbuat dari apa hati mereka?

“Bapa e. Dulu kan Bapa ada peluang juga to? Kenapa tidak ambil supaya ini rumah bisa langsung finishing?” Kau tanyakan itu pada Ayah mertuamu suatu ketika. Rumah mereka masih setengah jadi ketika kau menumpang di sana pada awal pernikahanmu. Dia tertawa. Lama sekali. Sebelum mengatakan bahwa dia takut suatu saat tembok-tembok rumah itu akan mengingatkannya. What?

Lalu kau berdoa. Agar dia bahagia di surga. Juga berdoa agar dana bantuan, yang dikumpulkan dari siapa saja, tiba dengan selamat di pusat badai.

Seseorang mengingatkanmu tentang Earth Day. Hari Bumi Sedunia. Itu hari ini, bukan? 22 April. Dan seorang pejabat yang di tengah badai masih sempat bilang bahwa Siklon Tropis Seroja adalah balasan atas kejahatan manusia pada bumi berhasil membuatmu terheran-heran; terbuat dari apa hati orang itu? Maksudmu, saat badai sedang meluluhlantakkan rumah, jembatan, kolam-kolam ikan, dan harapan, bukankah membesarkan setiap hati yang mengecil-menciut adalah pilihan yang lebih baik?

Kau bilang ke temanmu, yang sedang bersemangat sekali mengurus hal-hal baik bersama teman-temannya yang lain: “Tidak semua orang setulus kau punya hati, teman.” Dia menangis. Kau tahu, setiap orang punya badainya masing-masing. Dan, kau tentu saja menderita sebab sadar bahwa kau tak berhak merasa lebih sengsara dari yang lain. Kau segera ingat seorang janda yang memberi dari kekurangannya, bahkan memberi seluruh nafkahnya. Badai mengamuk di kepalamu. Ah…

Di saat badai, kau bertarung dengan banyak sekali badai. Apakah yang dapat menghiburmu? Kau ingat mertuamu yang telah berpulang itu. “Saya senang kalau Nana dorang bisa jadi berarti bagi orang lain,” katanya suatu ketika. Kau mengangguk-angguk. Dengan ragu, tentu saja. Sebab ingat diri masih menjadi nama tengahmu. Apakah kau tidak akan menjadi Billy Tyne, kapten kapal Andrea Gail, yang karena ambisinya membuat seluruh awak kapal ditelan badai? Kau menonton film The Perfect Storm belasan tahun lalu dan segera sadar bahwa siapa menabur angin pasti menuai badai.

Siapa yang kau ingat saat badai? Banyak. Orang-orang terkasih di tempat yang jauh, tentu saja. Orang-orang yang ada di pusaran badai, itu pasti. Semoga mereka baik-baik saja. Kau katakan itu dalam hati, berulang-ulang, dengan ragu-ragu, saya kira. Sebab tidak ada yang baik-baik saja saat badai. Ada luka. Di badan, di tangan, di kaki, di hati.

Apa yang kau ingat saat badai? Banyak. Yang terutama adalah kerapuhan. Kau buka smartphone-mu. Mengulang-ulang di Spotify: On and on the rain will fall/ Like tears from a star like tears from a star/ On and on the rain will say/ How fragile we are/ How fragile we are// Seberapa rapuh? Seperti seorang lelaki yang mengenang mertuanya yang laki-laki yang telah meninggal dunia, barangkali. (*)


Ilustrasi: Photo by Tatiana Syrikova from Pexels

Baca juga:
Menulis Orang-Orang Oetimu, Menulis Luka | Felix K. Nesi
Apa yang Membentuk Kelopak Bunga Pohon Sakura? | Armin Bell
Sejarah, Ingatan, dan Fiksi | Jafar Suryomenggolo

Bagikan artikel ini ke: