Menu
Menu

Dua puluh tiga matahari bergerak/ di sisi perempuan buta


Oleh: Grace Celine |

Lahir di Sumba Timur, 15 Desember 1996. Menyelesaikan pendidikan S1 Teologi dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Saat ini menjalani aktivitas sebagai Vikaris di Gereja Kristen Sumba. Senang mendengarkan musik dan cerita.


Mazmur 119:144

Hidup seperti bahasa asing
yang baru dipelajari
Semua orang salah
______melafalkannya
Beberapa orang berani
memperbaiki kesalahannya
Beberapa lagi menertawai
______kesalahannya
Sebagian berhenti
pada menertawai
dan tak memperbaiki

Hidup memang seperti itu
Setidaknya bagi orang-orang
yang memperlakukannya
sebagai sesuatu
______yang jauh dan asing;
Betapa ia sulit dipahami

2021

.

Perempuan Buta dan Matahari

I
Dua puluh tiga matahari bergerak
di sisi perempuan buta
Ia menyangkal
semua yang terjadi nyaris membuatnya gila
bak anjing terpanggang ekor
dukacitanya kian sempurna

Hari ini perempuan itu menenggelamkan
sepuluh matahari dalam-dalam
jauh ke dasar samudera
Tiga belas masih berada di sisinya
Ia masih menyangkal
akan semua yang terjadi,
membuatnya hilang arah
Esok ia akan menenggelamkan diri

Tiga belas matahari yang tersisa
ia lepaskan satu per satu
Ia berikan sayap sehingga mereka terbang
Walau tahu itu tak ada guna
sebab sayap-sayap itu pun akan habis terbakar
Ia memeluk matahari terakhir
Menciumnya lama-lama
berharap ia akan ikut habis terbakar

Esok tiba, perempuan buta di ambang mati
Sebentar lagi, sebentar lagi, sebentar lagi
Lamat-lamat terdengar, “Matilah kau, Matilah!”
Ia mengira itu suara malaikat
maut yang berangin-angin ke telinganya
Tersenyum ia seolah mengerti
Inilah saat paling menegangkan
sekaligus menyenangkan
Semua perlahan meredup,
ia tak bisa lagi merasakan apa pun

II
Kini ia bisa berkenalan
dengan sesuatu bernama terang
Ada cahaya dari depan
Saat ia berbalik, didapatinya sebuah cermin
Memantulkan cahaya gemilang
Ia berpikir, “barangkali aku berada dalam Firdaus.”

Perempuan berjalan ke arah cahaya
Yang bisa ditangkap sepasang matanya
Namun di ujung cahaya itu,
ia hanya menemukan cermin yang lain
Selebihnya, hanya ruang yang berisi cermin-cermin
Perempuan dapat melihat jelas siapa dirinya kini

Sembilan detik berlalu,
semua yang terjadi padanya lenyap
Ia mesti terus mengayuh
Mengarungi perjalanan pada sisa hari
dan dirinya yang meremang
Ia melihat pantulan wajahnya pada muka air laut
Ia tersenyum, suka akan apa yang ditangkap matanya

III
Matahari sore sedang cantik sebab bersayap
Ini pun tak asing sebab ia seperti teman lama
Satu-satunya yang akrab dengannya
Sering menemaninya
tanpa banyak mengajukan pertanyaan

Perempuan tak lagi tersenyum
Ia tak juga menyesali apa pun
Apa pun; termasuk banyak hal yang teramat ingin ia sesali
Beberapa denyut usai
Ia menyadari, ia bukan lagi perempuan buta

2021

.

Kaset Pita

Cinta adalah pengulangan-pengulangan

Kau adalah kaset pita;
Minta dibalik setelah enam atau sepuluh lagu

Aku seperti batang pensil
Kau butuh saat pitamu mulai kusut

Mereka tak begitu paham kita ini apa
Kecuali kau dan aku
Yang tersenyum malu-malu
Di hadapan masa lalu

2021

.

Satu Malam

Nanti tiba waktunya
Kita berbisik, “selesai sudah.”
Kau dan aku akan menjadi ingatan usang
Tak lagi bisa diceritakan ulang

Tersisa dekap hangat pada punggungmu
Ciuman-ciuman kecil di kening, juga dagu
Ketika kau terlelap pulas
Begitu tenang tanpa waswas

Saat hari berganti
Segalanya benar-benar usai
Seperti usia angin lalu
Burung-burung pun tak tahu

2021


Ilustrasi: Photo by João Jesus from Pexels

Baca juga:
Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS – Tak Ada Puisi Pagi Ini?
Puisi-Puisi Budi Afandi – Pesta Pelepasan Bulan
Puisi-Puisi Wisława Szymborska – Autotomi

Bagikan artikel ini ke: