Menu
Menu

tak ada puisi pagi ini?// begitu, tanyamu ketika/ langit masih sendu


Oleh: Isbedy Stiawan ZS |

Lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai, juga karya jurnalistik. Dipublikasikan di pelbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah. Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 Besar Buku Puisi Pilihan Tempo (2020).


Seseorang Memilih Meja Lain

diamlah di kursi itu
meja menatap sendu
sejenak lagi jamuan
tiba. “selamat malam,
kekasih.”

aku lupa mengucap
salam, ketika kau datang
lalu menggeser kursi
dan mengosongkan
meja. “jamuan malam
baru usai, kini teguklah
anggur. segelas untukmu,
biarkan sisanya bagianku.”

malam rebah. meja gelisah,
tapi kau tersenyum. “alhamdulilah,
seseorang memilih meja lain. sesaji
makanan lagi,” kata seorang
karyawan di balik meja
kasir

malam terbentang
serupa tangan memanjang
menabur senyuman

“jamuan malam batu
dimulai…”

Taman Untung, 2020

.

Tak Ada Puisi Pagi Ini?

I
tak ada puisi pagi ini?

begitu, tanyamu ketika
langit masih sendu
—semalam hujan?—
mungkin puisi kalah
oleh beritaberita
yang menumpuk
di halaman tubuhku

ini hari apa,
tanggal berapa?

begitu, pertanyaan
lagi untukku. mungkin
ini hari kaulihat murung
maka kau ingin mengajakku
bersenda-riang; lupakan
luka, hapus kecewa
tapi kau tahu, tak bisa
begitu saja kuhapus tanda
itu, jika pohon di taman
tak kutebang. dari sana
buahbuah luka ini
—————-bersemi

tubuh segala panen

lalu, kau ingin sebuah puisi
di saat musim rontok ini?

aku merindukan puisi
seperti pohon yang selalu
berbuah pada cuaca apa pun;

seperti kelahiran
juga kematian
seperti kebangkitan
maupun kejatuhan

ini hari jumat
tanggal boleh kau sebut
kota akan dikerubungi semut

II
———–kalau selalu kembali
jalan ini kutemui, usir aku
pulang ke mula kata

aku akan baca segala
yang kau sembunyikan,
——rahasia penciptaan
: rahasia…

———–kalau tak kau beri lagi
kata, pembuka apa untuk
ucapku? usir saja aku dari
taman anggur susu
rahasia percintaan
: rahasia…

III
jatuhkan saja aku
dari puncak ini
bukit menenggelamkan

———–kalau hanya
pulang ke katakata dulu
atau kucuri dari teman
yang sedang kasmaran

: aku pulang
kepada kata awal,
baca lalu jadilah!

————aku mengembara
ke bukitbukit jauh
laut dalam, pelabuhan
sunyi. percintaan
amat purba

18-19 Desember 2020

.

Katakan

katakan: usir aku dari tanah kekuasaanmu karena
tak ingin aku di sini. atau habisi aku pada malam
gulita. angin kencang, hujan pukang. di laut gelombang
bergulung tinggi. sebelum semua orang melihat
(mengintip) dari sela dinding rumahnya. aku akan
merantau ke negeri lain berpuluh tahun lamanya; kubur
aku tanpa kafan dan mandikan sekiranya sudah
kau habisi saat malam gulita itu

tapi, wahai paduka, apakah bisa kau temui lagi
seseorang sepertiku. berdiri di depanmu tegap
berkata di hadapanmu tanpa sungkan, bahwa
aku hamba dan engkau adalah padukaku?

berabadabad, barangkali, tak lagi kau lahirkan
seseorang sepertiku. mungkin juga aku pun
tak menemui paduka serupamu yang penuh
ranjau dan dinding. tak pernah sampai ke telingamu
setiap katakataku. cabai dan garam bahasaku,
gelombang tubuhku saat berdepan denganmu

berabadabad kau menunggu
————berabadabad kau memburu
————————-berabadabad kau rindu

sila pilih: menggebahku pergi ke tanah lain
atau membunuhku saat malam gulita,
angin amat kencang, hujan halilintar, gelombang
tinggi menggulung, orangorang belum mengintip
dari sela dinding rumahnya

sunyi. kau bebas dan mudah
membiarkan aku pergi selamanya
: pindah atau mati

kau ingin mengurungku?
cukup sehari—24 jam—satu buku
kukirim ke luar penjara dan dibaca;
gelombang orang di depan gerbang
bagai bah meluluhkan bentengmu

KA, 15 Desember 2020

.

Kalung

kalung yang melingkar di lehermu dan menjuntai
ujungnya hingga ke dada, di antara satu kancing
bajumu terbuka menjelma api di mataku. seperti
pendaki amat lelah kunaiki gunung tinggi. kusisir
belantara dan tanah licin. aku berdoa, jangan
gelincirkan aku di jurang itu Tuhan. atau arahkan
jalan aku kembali ke rumah, bukan tersesat
hilang matahari

liontin yang menyembul di antara satu kancing
tak terkunci itu, aku pun membayangkan lelaki
yang terluka di bukit tandus. matanya pejam,
keringat hitam mengalir di tubuh yang kelam
pula. “itulah tubuhku yang menyeret kayu
perjamuan, di tahun yang rusuh dan bertimbun
fitnah,” kataku di depanmu,

seperti aktor di depan kamera
seperti pemain teater di panggung
yang kelak ditinggal penonton
usai pertunjukan: kembali sepi

hanya seseorang yang merapikan
juga menyusun cerita baru
—mungkin ialah sutradara
atau anakanak yang dilahirkan
oleh zaman lain—dan ia paling mengerti
mana muslihat dan siapa penyebar
—————————–risalah yang benar

anakanak itu tak mau menoleh ke silam
pada kita yang telah menjadi pemeran

2021

.

Di Kursi Itu

lelaki itu hanya punya kata
dan sebatang pena, juga
waktu amat panjang duduk
di kursi telah tua,

———–diukurnya tiap waktu
dia urai setiap derap kata
lalu pena itu menarinari
———-mencari rumah tuannya
di rimba mana, di laut dalam
di antara pepohonan, kelimunan
kerang. ataukah pada tajam
karang, duri, dan bunga yang
ia selalu kecup aromanya?

lelaki itu tak pernah tahu
pena akan habis
———-laut tak hilang garam
biar pun tahun rontok
dari lembar almanak

lelaki itu
di kursi itu


Ilustrasi: Photo by Valiphotos from Pexels | tak ada puisi pagi ini

Baca juga:
Puisi-Puisi Wawan Kurniawan – Di Museum Kehilangan
Puisi-Puisi Tjahjono Widarmanto – Tarian Mati

Bagikan artikel ini ke: