Menu
Menu

Niat Usmar Ismail mendirikan kelab malam tak lepas dari lesunya produksi film Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), pascatragedi berdarah 30 September 1965.


Oleh: Fandy Hutari |

Jurnalis, penulis buku, dan peneliti sejarah. Penulis buku Tan Tjeng Bok: Seniman Tiga Zaman (2019), Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (2018), dan Para Penghibur: Riwayat 17 Artis Masa Hindia Belanda (2017). Beberapa tulisannya diarsipkan di proyekmesinwaktu.wordpress.com. Tinggal di Jakarta.


“Apa benar niat Pak Usmar?”

Suatu hari, dalam sebuah pertemuan, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin memastikan kembali ketertarikan Usmar Ismali, sutradara kondang—yang kelak dijuluki Bapak Film Nasional—mendirikan kelab malam.

“Benar,” jawab Usmar.[1]

Tak heran Ali bertanya begitu. Ia tahu, Usmar merupakan orang terpandang di perfilman Indonesia. Selain itu, ia berstatus haji, anggota Nahdlatul Ulama (NU) dan Ketua Umum Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi).

Ali khawatir, dengan segala status yang melekat pada dirinya, di kemudian hari Usmar mendapat protes dari orang-orang yang menganggap salah satu jenis bisnis hiburan malam itu sumber maksiat dan lokasi seks gaya baru. Kekhawatiran itu memang kelak terbukti. Namun, Ali tak bisa menghalangi niat karibnya itu. Lagi pula, pemerintah DKI sedang membutuhkan uang dari pajak dan retribusi untuk modal membangun Jakarta.

Niat Usmar itu tak lepas dari lesunya produksi film Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) miliknya, pascatragedi berdarah 30 September 1965. Dari 1965 hingga 1969, Perfini hanya bisa menghasilkan lima film.[2] Padahal sebelumnya, sejak berdiri pada 1950, perusahaan film raksasa berlambang banteng ini mampu memproduksi sinema rata-rata dua hingga lima judul per tahun.[3]

Usmar kemudian membentuk PT Ria Sari Restaurant and Show Management, yang menjadi perusahaan induk kelab malamnya. Selain kelab malam, perusahaan ini menaungi bisnis restoran dan hiburan.

Peristiwa seputar keputusan Usmar Ismail mendirikan kelab malam itu tidak berdiri sendiri dari pelbagai konteks sosial, politik, dan ekonomi pada masa itu.

Pelopor Kelab Malam

Munculnya kelab malam dan jenis hiburan baru lainnya, seperti diskotek, kasino, pacuan kuda, pacuan anjing, dan steambath (mandi uap) tak lepas dari visi Ali yang ingin menjadikan Jakarta sebagai kota metropolitan. Ia ingin Jakarta setara dengan ibu kota di negara lain. Misinya, mengubah Jakarta sebagai perkampungan besar alias big village menjadi kota internasional.[4]

Ambisi Ali itu mendapat dukungan dari pemerintah Orde Baru, yang di awal kekuasaannya pada 1968, tengah membangun ekonomi yang hancur.[5]

Tak seperti Soekarno yang anti-Barat, Soeharto justru menjilat relasi dengan blok Barat, terutama Amerika Serikat. Selain menerima bantuan ekonomi dari negara-negara Barat dan lembaga keuangan dunia, Soeharto juga menerapkan kebijakan ekonomi pintu terbuka. Perusahaan asing diundang untuk berinvestasi di Indonesia.

Sejak 1973 Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara pengekspor minyak dunia di tengah lonjakan harga minyak. Pemasukan dari minyak bumi inilah penyumbang terbesar kas negara, selain utang luar negeri dan investasi asing.[6]

Meskipun ekspor mineral berasal dari Sumatera, Kalimantan, dan Irian, tetapi Jakarta menerima manfaat tak langsung dari peningkatan besar-besaran pendapatan pemerintah pusat, yang diperoleh dari pajak perusahaan dan pembangunan kantor para investor asing di Jakarta.[7]

Ali pun sibuk memperbaiki dan menambah prasarana fisik Ibu Kota, seperti menyediakan lokasi industri dan perdagangan, serta melengkapi Jakarta dengan fasilitas pariwisata dan hiburan. Ali kemudian memikirkan tempat hiburan bagi para pengusaha dan orang berduit. Ia sempat melakukan studi banding ke Los Angeles, San Diego, dan Las Vegas di Amerika Serikat untuk mengadopsi tempat wisata baru di Jakarta.

Sejak 1967, sarana hiburan dan rekreasi tumbuh signifikan. Jumlah bioskop di Jakarta pada 1967 hanya 37 unit. Lalu, pada 1977 jumlahnya menjadi 130 unit. Sarana rekreasi terbuka yang pada 1975 baru 50, pada akhir 1976 menjadi 75. Arus wisatawan asing pun meningkat. Pada 1969, jumlah mereka yang pelesir ke Jakarta sekitar 55.000 orang. Pada 1970 menjadi 77.000 orang dan pada 1976 menjadi 335.000 orang.[8]

Masuknya orang asing ke Jakarta, baik pengusaha maupun turis, pada awal 1970-an didorong pula oleh peraturan keimigrasian untuk mendukung program bantuan dan penanaman modal asing.

Kedatangan orang-orang kulit putih membawa berbagai kebutuhan dan kebiasaan hidup dari negara asalnya. Seiring waktu, muncul permukiman, restoran, tempat belanja, dan tempat hiburan yang disediakan khusus untuk memenuhi selera mereka.[9]

Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, steambath (mandi uap), restoran skala internasional, bar, diskotek, dan kelab malam diizinkan dibuka. Ali mengizinkan berdirinya tempat hiburan dan rekreasi dalam segala bentuk, jenis, dan tingkatan karena menganggap warga Jakarta sebagai masyarakat kota internasional yang sangat heterogen.

Kelab malam menjadi tempat yang dibutuhkan orang-orang asing di Jakarta untuk melepas penat. Tempat hiburan malam itu, menurut Firman, banyak dibuka di daerah-daerah ramai dan bisnis komersial, seperti di Kota, Jalan Gadjah Mada, Jalan Hayam Wuruk, Pasar Baru, Jalan Sabang, Jalan Blora, Blok M, dan kawasan Ancol.

Masuknya investor asing dan turis mancanegara menjadi peluang bisnis kelab malam. Peluang inilah yang ditangkap Usmar. Ia membangun Miraca Sky Club di puncak Gedung Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat pada 1967. Kelab malam ini merupakan yang pertama di Indonesia.

Ali mendukung bisnis baru Usmar Ismail dengan menerbitkan kebijakan. Dukungan itu tentu terkait dengan pemasukan ke kas DKI dari pajak bisnis hiburan. Pada 3 April 1968 Ali menerbitkan Surat Keputusan Gubernur Kepala DCI Djakarta Nomor 1b/3/1/41/68. Di dalam surat tersebut diputuskan Nirwana Supper Club, Ramayana Restaurant, dan Miraca Sky Club sebagai tempat hiburan bagi turis dan orang asing yang ada di Jakarta.

Di dalam surat keputusan itu dijelaskan pula bahwa wewenang, penilaian, perizinan, pelarangan, atau tindakan yang berhubungan dengan pertunjukan di tempat-tempat tersebut dilakukan Gubernur DKI Jakarta, selaku penguasa tunggal di wilayah Jakarta.[10]

Miraca Sky Club pada awal berdiri memang ditujukan untuk orang-orang asing yang ada di Jakarta. Namun seiring waktu, kelab malam itu pun menggaet pengunjung orang Indonesia yang berkantong tebal. Sekali masuk ke Miraca, pengunjung harus menyediakan uang sebesar Rp. 5.000 – Rp. 8.000. Nominal yang terbilang besar di masa itu.

Yang dikhawatirkan Ali pun akhirnya tiba. Keputusan Usmar mendirikan kelab malam pun memancing reaksi dari masyarakat dan organisasinya sendiri, Nahdlatul Ulama. Namun, Usmar kukuh pada pendiriannya. Ia bahkan menyebut, rela keluar dari Partai NU jika kelab malamnya harus ditutup. Ia pun berkilah, bisnis kelab malam bisa untuk membiayai produksi film-filmnya.[11]

Miraca juga mendapat pijakan legal dari Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta tentang Pokok-pokok Pembinaan Kepariwisataan pada 1969 dan keputusan tentang pendirian kelab malam. Alasan yang disampaikan Pemda DKI adalah untuk keperluan kepariwisataan: dengan terbukanya Indonesia untuk modal asing diperkirakan pariwisata menjadi industri yang akan berkembang dan menjanjikan peningkatan pendapatan yang besar.

Jenis usaha semacam ini bukan saja berkembang di Jakarta, tetapi juga di kota-kota besar, seperti Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, dan Makassar. Menurut data Humas DKI Jakarta, jumlah kelab malam di Jakarta pada 1970 sebanyak 23. Lalu meningkat menjadi 31 pada 1971, dan menjadi 36 pada 1972.[12]

Polemik Tari Telanjang

Seperti kelab malam yang ada di Eropa dan Amerika, Miraca menyajikan berbagai hiburan, mulai dari pertunjukan musik yang membuat pengunjungnya santai berdansa, minuman keras, sulap, akrobat, hostes, dan tari telanjang alias striptis. Miraca juga dijadikan tempat acara kontes kecantikan, seperti pemilihan Miss Mini 1970 dan Ratu Pariwisata DCI Djakarta 1970.

Akan tetapi, show manager Miraca yang juga aktor film Galeb Husein mengatakan, di awal berdiri, Miraca tak memakai jasa hostes alias pramuria. Hostes baru ada beberapa tahun kemudian dan jumlahnya tak lebih dari 12 orang saja.[13] Pernyataan ini rasanya tidak mungkin karena hostes adalah salah satu daya tarik dan kekhasan sebuah kelab malam.

Acara andalan Miraca pada awal 1970 adalah pertunjukan Europe by Night dan Lady Birds. Pertunjukan ini menampilkan perempuan asal Swedia, Prancis, dan Jerman menari bertelanjang dada.[14] Barangkali ini adalah cikal-bakal striptis yang menjadi pertunjukan paling dinanti pengunjung kelab malam.

Pertunjukan ini sempat menimbulkan polemik. Jaksa Agung Sugih Arto melayangkan surat keputusan pada 18 Februari 1970, melarang semua pertunjukan telanjang di Miraca karena dianggap porno dan tak sesuai kepribadian bangsa.

Namun, larangan itu mendapat respons keras dari Pemerintah DKI Jakarta. Direktorat III bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) DKI menganggap tari-tarian dari luar negeri tak harus disensor selama penontonnya selektif. Sedangkan pihak PT Ria Sari yang menaungi Miraca berlindung di balik kebijakan Ali Sadikin yang tercantum dalam surat keputusan No. 1b/3/1/41/68 tanggal 3 April 1968. Pihak PT Ria Sari memandang yang berhak melarang hanya Gubernur DKI.

“PT Ria Sari beranggapan, dengan surat keputusan Jaksa Agung yang sangat sumir dan tak terperinci, dikhawatirkan akan timbul reaksi negatif yang mempersulit usaha meningkatkan kepariwisataan di Jakarta,” tulis Kompas, 21 Februari 1970.

Namun, pihak Kejaksaan Agung buru-buru cuci tangan. Mereka membantah mencabut izin pertunjukan Europe by Night. Kejaksaan Agung tetap mengizinkan hiburan tari-tarian dari perempuan Eropa itu, hanya adegan telanjang dada harus disensor.

“Bagian-bagian dari acara itu tetap bisa dipertunjukkan dengan syarat harus diubah sedemikian rupa hingga dada dapat diberi selubung apa saja, pokoknya asal tidak topless,” tulis Kompas, 25 Februari 1970.

Acara di Miraca itu tetap jalan hingga akhir Februari 1970. Di Miraca sendiri, acara Lady Bird tetap diadakan telanjang dada, meski selama tiga hari para penarinya tampil dengan dada tertutup kain transparan. Acara itu pun dimeriahkan penari striptis asal Korea.

Polemik terus berkembang di bulan-bulan selanjutnya. Galeb Husein mengaku, sejak ada pernyataan pelarangan oleh Jaksa Agung, pengunjung turun 40%-50%. Galeb meminta pemerintah segera memberi ketegasan mengenai batas-batas pertunjukan apa saja yang diizinkan untuk mencegah timbulnya kesulitan dalam usaha meningkatkan kepariwisataan.

“Keadaan sekarang serba sulit,” kata Galeb kepada Kompas, 7 April 1970.

“Kita selalu diliputi perasaan ragu-ragu kalau mau mendatangkan misi kesenian dari luar negeri, takut kalau-kalau nanti sudah mengeluarkan ongkos banyak, kemudian ternyata tidak boleh dipertontonkan, misalnya karena dianggap porno.”

Assistant manager public relations PT Ria Sari, Mh Jusuf mengatakan, acara-acara di Miraca sudah terlebih dahulu melalui sensor. Terlebih, pengunjung Miraca pun mayoritas orang China.

“Hanya 20% orang asing lainnya dan wisatawan,” kata Jusuf, dikutip dari Kompas, 21 September 1970.

Seiring waktu, pelarangan Jaksa Agung itu seperti menguap. Acara striptis di kelab-kelab malam menjadi sebuah hiburan yang lumrah di tahun-tahun berikutnya.

Sebenarnya, tim sensor untuk pertunjukan semacam ini sudah dibentuk pada awal 1970-an. Anggota sensor terdiri dari delapan instansi, yakni Direktorat III dan II DKI, Komdak, Kejaksaan Tinggi, Direktorat Kesenian, Kepala Dinas Kebudayaan, Bapparda, dan Jawatan imigrasi.

Penari yang akan menghibur pengunjung kelab malam dilarang untuk mencopot pakaiannya. Mereka harus menunjukkan kebolehannya menari terlebih dahulu di depan anggota sensor, sebelum beratraksi di kelab malam. Namun, seperti main kucing-kucingan, saat menari di kelab malam tak jarang penari striptis menanggalkan pakaiannya, bahkan loncat ke pangkuan penonton.[15]

Wafat dalam Kekecewaan

Pada 1970, Usmar bekerja sama dengan perusahaan film asal Italia, International Film Company (IFC) untuk membuat film Bali. Namun, dalam prosesnya kerja sama itu menjadi masalah.

Nama Usmar Ismail, berdasarkan perjanjian akan dicantumkan sebagai sutradara dalam versi film yang diedarkan di Eropa. Namun, dalam kunjungannya ke Roma untuk melihat proses penyelesaian film itu, namanya sama sekali tak ada. Pada akhir 1970, Usmar mengurus kopi film itu, yang ternyata tak dikirim untuk peredaran di Indonesia.[16]

Keterangan berbeda datang dari penulis Mardanas Safwan. Menurutnya, Usmar merasa tertipu dengan perusahaan film Italia itu, terutama dalam hal jalan cerita. “Ia seolah-olah berjalan sendiri, tanpa bantuan orang lain,” tulis Mardanas.[17]

Kekecewaan itu bertambah kala ada masalah di kelab malam Miraca. Menurut Ali, di penghujung tahun 1970, Usmar berpisah dengan para karyawan PT Ria Sari, yang ia tutup sendiri.

“Usmar rupanya mengakui, ia bukan pengusaha tulen, tapi seniman yang rikuh jika bicara soal uang,” kata Ali.[18]

Sedangkan Rosihan menyebut, ia terpaksa merumahkan 160 karyawan PT Ria Sari karena bisnis kelab malam yang dibangunnya itu dilikuidasi toko serba ada Sarinah.

Sementara Mardanas menulis, PT Ria Sari dengan Miraca ditutup yang berwajib dengan alasan yang tak begitu jelas. “Usmar sebagai Direktur Utama PT Ria Sari dan Miraca merasa terpukul sekali dengan keputusan itu,” tulis Mardanas.

Sebelum PT Ria Sari dibubarkan pada 31 Desember 1970, Usmar sempat mengadakan pertemuan dengan seluruh karyawannya. Ia menguraikan panjang lebar sejarah PT Ria Sari.

“Kita telah susah payah membangun Miraca, tetapi orang lain yang menikmati keuntungannya,” kata Usmar Ismail di akhir pidato di hadapan karyawannya.[19]

Usmar pun merasa mendapat tekanan dari beberapa pihak, yang menyebabkan produksi filmnya selalu dipersulit pemasarannya. Usmar masih sempat membuat film Ananda (1970), yang merupakan film debut Lenny Marlina.[20]

Dalam kecewa dan depresi, pada 2 Januari 1971, Usmar meninggal dunia akibat pendarahan otak di rumahnya di Jakarta.

Usai ditinggal Usmar Ismail, Miraca berpindah manajemen ke orang-orang Kosgoro pimpinan Mayjen Isman. Namanya bersalin menjadi New Miraca Night Club. Pada akhir Agustus 1975, kelab malam ini pun gulung tikar.[21][*]


Daftar Pustaka

Buku

Blackburn, Susan. 2011. Jakarta: Sejarah 400 Tahun. Depok: Masup Jakarta.
Firman Lubis, Firman. 2018. Jakarta 1950-1970. Depok: Masup Jakarta.
KH, Ramadhan. 1993. Bang Ali: Demi Jakarta (1966-1977). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Naina, Akhmadsyah, dkk. 2008. Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia: 75 Tahun M. Alwi Dahlan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Priyatno, Arrohman, dkk. 2004. Ali Sadikin: Visi dan Perjuangan sebagai Guru Bangsa. Jakarta: Pusat Kajian Kadeham dan Universitas Trisakti.
Safwan, Mardanas. 1983. H. Usmar Ismail: Hasil Karya dan Pengabdiannya. Jakarta: Depdikbud Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Investarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Sinematek Indonesia. 1979. Apa Siapa Orang Film Indonesia, 1926-1978. Jakarta: Penelitian dan Pengembangan Penerangan dan Departemen Penerangan RI.

Majalah

Ekspres, 16 Agustus 1971.
Prisma
Nomor 5, Juni 1976.
Prisma Nomor 4, April 1978.
Tempo, 20 Maret 1971.
Tempo, 14 Februari 1976.

Surat Kabar

Kompas, 11 April 1968.
Kompas, 21 Februari 1970.
Kompas, 25 Februari 1970.
Kompas, 7 April 1970.
Kompas, 21 September 1970.

[1] KH, Ramadhan. 1993. Bang Ali: Demi Jakarta (1966-1977). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

[2]Liburan Seniman (1965), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966), Menjusuri Djedjak Berdarah (1967), Ja Mualim (1968), dan Big Village (1969).

[3] Lihat situs web filmindonesia.or.id. Diakses pada 27 Februari 2021.

[4] Arrohman Priyatno, dkk. 2004. Ali Sadikin: Visi dan Perjuangan sebagai Guru Bangsa. Jakarta: Pusat Kajian Kadeham dan Universitas Trisakti.

[5] Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) dalam “History of Monetary Period 1959-1966”, selama peride 1960-1965 pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sangat rendah. Inflasi amat tinggi hingga mencapai 635 persen pada 1966. Investasi pun merosot.

[6] Sasono, Adi. 1978. “Minyak dan Berlanjutnya Ketergantungan pada Luar Negeri” dalam Prisma Nomor 4, April 1978.

[7] Blackburn, Susan. 2011. Jakarta: Sejarah 400 Tahun. Depok: Masup Jakarta.

[8] KH, Ramadhan. 1993. Bang Ali: Demi Jakarta (1966-1977). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

[9] Lubis, Firman. 2018. Jakarta 1950-1970. Depok: Masup Jakarta.

[10]Kompas, 11 April 1968.

[11]Ekspres, 16 Agustus 1971.

[12] Dhakidae, Daniel. 1976. “Industri Sex: Sebuah Tinjauan Sosio-Ekonomi” dalam Prisma Nomor 5, Juni 1976.

[13]Tempo, 14 Februari 1976

[14]Kompas, 21 Februari 1970.

[15]Tempo, 20 Maret 1971.

[16] Rosihan Anwar dalam Naina, Akhmadsyah, dkk. 2008. Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia: 75 Tahun M. Alwi Dahlan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

[17] Safwan, Mardanas. 1983. H. Usmar Ismail: Hasil Karya dan Pengabdiannya. Jakarta: Depdikbud Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Investarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

[18]Bang Ali: Demi Jakarta (1966-1977),

[19] Mardanas Safwan dalam H. Usmar Ismail: Hasil Karya dan Pengabdiannya (1983)

[20]Apa Siapa Orang Film Indonesia, 1926-1978 (1979)

[21]Tempo edisi 14 Februari 1976.


Baca juga:
Sejarah, Ingatan, dan Fiksi
Afrizal Malna: Apa yang Bergerak di Dekat Kita?

Bagikan artikel ini ke: