Menu
Menu

… di atas kubah Hillsborough. Mungkin anak sepuluh tahun itu masih ada di sana. hillsborough


Oleh: Triskaidekaman | hillsborough

Penulis paruh waktu yang menetap di Jakarta. Novel terbarunya adalah Cadl: Sebuah Novel Tanpa Huruf E (Gramedia Pustaka Utama, 2020). Sesekali menulis puisi dan cerita pendek. Penggemar balapan Formula 1 dan Sebastian Vettel. Bisa ditemui di akun Instagram @triskaidekaman.


25 Maret

Dia bangkit demi menebus dosa-dosa kita.

Kupulaskan kuas biru hingga merata. Setelah itu kuas putih, dan selesailah sudah. Ketika telur paskah lain diwarna-warni mentereng dan konyol, telur paskahku sekarang Skotlandia. Seperti Ayah, sepasang mata biru terang yang memancar dari sekujur kulit pucatnya. Sebiru langit yang membangkitkan semangat, seputih awan tipis yang mudah ditembus sinar matahari musim semi.

Dia bangkit demi menebus dosa-dosa kita.

Masa kanakku batu bata merah. Ibu menyusunku keping demi keping, merekatkannya dengan susu, roti, dan sekolah minggu. Ibu terlalu aktif di sana sampai lupa untuk apa dia begitu. Ibu terlalu hidup di sana sampai abai untuk apa dia bersama Ayah. Ibu lebih hafal jumlah botol susu yang harus kami beli untuk perjamuan ketimbang isi Kitab Mazmur. Ibu selalu bilang hati yang gembira adalah obat, tetapi aku beberapa kali mendengar isak tangisnya di dapur. Ibu terus menyangkal, tetapi aku masih mendengar tangisnya memintal. Mata dan telingaku semakin Tomas, ingin pembuktian sebelum percaya. Ayah meninggikan suara. Ibu terus mengaduk telur. Mereka aneh dan kikuk. Ayah dan Ibu seperti angka sembilan dan enam. Bertolak belakang, banyak diamnya. Kawan-kawanku menawarkan jalan keluar. Mereka menyodorkan setenggak anggur. Botolnya mencantumkan angka 1892. Belum seratus tahun, tetapi tak apalah. Kata mereka, anggur bisa merekatkan renggang-renggang batu bataku, menjagaku agar tetap berdiri tegak.

Aku belajar menonton sepakbola dari mereka, walaupun sedikit terlambat. Di televisi ada anggur lain. Sama gaek, sama memabukkan. Namanya Kenny Dalglish. Dia juga Skotlandia, persis Ayah, persis telurku sekarang. Namun tak seperti Ayah yang terpuruk, larut dalam anggur hingga mabuk, tercelup ke dalam danau dingin, tak pernah bangkit dan tak pernah menebus kesalahannya di mata Ibu dan di mataku; Dalglish memberi harapan, sebuah jabat erat bagi remaja-remaja gamang penuh pertanyaan, apalagi ketika orangtua tak lagi bisa diandalkan. Di tangannya Liverpool anggur yang bertahan, matang sempurna di tengah masa hukuman. Dia menebus apa-apa yang belum sempat diberikan Joe Fagan, memikat mata dan memukat bimbangku yang juga kian Tomas, merongrong pembuktian.

Dia bangkit demi kita.

Dalglish juga. hillsborough

Tetapi Ayah tidak. Apalagi Ibu.

Ibu akan menghitung telur sebentar lagi. Biar dia kukerjai. Kubawa telur Skotlandiaku ke belakang rumah. Kandang ayam kami masih sediakala, seperti sebelum ditinggal Ayah. Ayam betina di sana besar dan gelisah. Kusisipkan telur Skotlandiaku ke bawah busung dadanya, ke antara telur-telur lain yang berjejal berkempitan. Panas dan keringat akan menempanya, seperti panas dan keringat yang menempa Dalglish ketika menggiring bola, membelah garis-garis putih di lapangan.

Siapa tahu telur itu tetap bisa bertumbuh.

15 April

Kostum yang sedianya akan kupakai sudah kusiapkan di ranjang. Semua siap kupakaikan di badan setelah mandi. Sudah kucek tiga kali. Tiket itu tetap tak ada.

Aku membelinya dengan sedikit bersusah payah. Lima poundsterling bukan sekadar peser atau remah celengan buatku. Aku harus menyisihkan uang kiriman Paman, atau kembalian yang Ibu izinkan untuk kuambil. Ketika aku mengeluh kurang, Ibu selalu bilang Tuhan akan menggenapkan. Kata Ibu takutlah hanya kepada Tuhan, lalu kepada Ibu, dan berikutnya para guru. Aku menantang Ibu dengan memecah tabungan, membeli tiket semifinal Piala FA. Bukan di sini, di Liverpool; melainkan di sana: Sheffield, Yorkshire selatan, tempat pamanku yang baik itu tinggal. Ibu mencubitku hingga bilur-bilur kebiruan setelah sadar bahwa aku tidak bercanda. Kunyatakan niatku membolos demi pertandingan itu. Ibu menantang akan merobek-robek tiket itu di depan mukaku jika aku berani melakukannya.

Ternyata Ibu tidak sampai hati membelah tiket itu jadi remah-remah. Tetapi dia tega memberikan tiket itu kepada ibu lain yang memohon-mohon kepadanya. Ibu lain yang dikenalnya lewat sekolah minggu.

“Tetapi dia memberi kita roti sebagai imbalan, Matt!”

“Manusia hidup bukan dari roti saja, Ibu!” teriakku menyitir ayat, tak mau kalah taat darinya.

Ibu membalik badan. Rambut merahnya tergerai berantakan, menjuntai-juntai seperti ekor kuda di bahu. Bagiku itu pertanda kalah. Tetapi kalah sebenarnya bagiku adalah kehilangan tiket. Jadi kulompati pagar belakang, bertekad mengejar anak itu. Beruntung, aku melihatnya sedang menyeberang jalan. Dia gesit sekali, seperti penghuni langit yang sedang mengendarai awan. Tetapi dia bertubuh kecil, jelas kalah cepat dariku. Aku tinggal sejengkal lagi dari kerah sweternya, ketika aku tersentak oleh suara tak jauh di belakangku.

Itu suara ayam kami, beserta kertak-kertak pecah telur. Barangkali telurku.

Aku menoleh, jatuh terguling. Anak itu mengambil kesempatan untuk lari, sementara aku harus tertatih untuk sekadar berdiri lagi. Di kandang belakang, separuh cangkang Skotlandia pulasanku beserpihan di atas jerami. Separuhnya lagi masih utuh. Di tengahnya tersembul ayam kuning muda basah, hidup yang tak terduga baru saja menyambutnya. Panas dan berkeringat. Menyilaukan dan kejam. Kukeringkan ia, lalu kuletakkan dekat ibunya. Setelah semua selesai, aku menggerutu karena tersadar akan suatu hal: aku gagal mengambil kembali tiketku dari tangan anak itu. Habis sudah harapanku menonton Dalglish di Sheffield. Padahal aku sudah berjanji dengan Paman lewat telepon. Paman akan menjemput di stasiun, langsung membawaku ke stadion.

Tidak. Bukan itu yang akhirnya terjadi.

Yang terjadi adalah anak sepuluh tahun itu yang menggantikanku. Dialah yang pergi ke Sheffield, lalu bersatu dengan Paman di stadion, bersatu dengan ribuan penonton lainnya, menyemut bersama, beriring-iringan, hingga semuanya simpang siur dan berhambur.

Aku melihat semuanya di televisi. Nama-nama bergantian tertera di layar. Ketika wartawan menyebut dialah korban termuda dari sembilan puluh enam, aku langsung tahu apa yang terjadi.

Yang kutahu dia terinjak-injak.

Yang tidak kutahu adalah rasanya.

Ibu melintas di belakangku, membawa telur-telur sisaan paskah, warna-warni konyol yang kurang membangkitkan selera. “Manusia hidup bukan dari televisi saja,” sindirnya. Aku bergidik. Keinginanku menonton Dalglish di depan mata belum terwujud sekarang. Bisa nanti. Keinginan anak itulah yang sudah. Namun tak ada lagi kesempatan nanti-nanti buatnya. Menyadari itu, aku seperti tersiram air dingin, tercelup seluruh badan….

Mungkin ini rasanya menjadi Ayah?

…lalu Ibu datang ke bibir danau menginjak tanganku, menendang punggungku, menyalahkan aku atas tragedi yang menungkus lumus Ayah di danau.

Mungkin ini rasanya menjadi anak itu?

Malam bertahun silam itu terpulas nyata dalam benak. Biru mata Ayah, putih buih dari sudut bibirnya. Sejak itu aku dan Ibu angka sembilan puluh enam, tak ada kebahagiaan yang bisa mengobati kami.

Malam itu pun terpintal nyata di depan mata. Sembilan puluh enam korban. Seharusnya ada aku di sana, terpental dan terinjak-injak, demi cita-cita Skotlandiaku. hillsborough

Sebuah cubitan mendarat pada kedang lenganku yang hendak mematikan televisi. Itu tangan Ibu.

Tidak sakit.

Aku memejam dan membayangkan sejuk Yorkshire Selatan bulan April. Tepatnya di atas kubah Hillsborough. Mungkin anak sepuluh tahun itu masih ada di sana. Paman juga. Bangkit dan menembus mega tipis-tipis di atas Dalglish mungkin lebih menyenangkan daripada terus hidup bersama Ibu. [^] hillsborough

hillsborough


Ilustrasi: Photo by Polina Kovaleva from Pexels

Baca juga:
Usaha Memahami Pengalaman Membaca Buku Jingga
Melihat Lokalitas dalam Nadus dan Tujuh Belas Pasung

Bagikan artikel ini ke: