Menu
Menu

Hanya ada Tuhan dan Kugler yang tetap berada di ruang pengadilan.


Oleh: Anton Kurnia |

Lahir di Bandung, 1974, dan sempat menempuh pendidikan di jurusan Teknik Geologi ITB meski kini lebih dikenal sebagai penulis, penerjemah, dan penyunting. Ia telah menulis 10 buku (selengkapnya di bagian akhir cerpen ini).


Pembunuh kambuhan tersohor Kugler dikejar oleh sepasukan polisi. Dia sesumbar tak bakalan tertangkap. Memang betul—setidaknya dia tidak bisa ditangkap hidup-hidup. Pembunuhan kesembilan yang dia lakukan adalah menembak salah seorang polisi yang coba menangkapnya. Polisi itu tewas, tetapi sebelumnya dia sempat membenamkan tujuh peluru di tubuh Kugler. Tiga di antaranya fatal. Kematian Kugler berlangsung cepat. Tanpa rasa sakit. Kugler berhasil lolos dari pengadilan dunia.

Ketika jiwa Kugler meninggalkan tubuhnya, tentulah jiwa itu akan terkejut melihat alam kubur—sebuah dunia di luar dimensi ruang yang bernuansa nilajada dan sunyi tak terperi. Tetapi ternyata tidak. Sebagai orang yang pernah dua kali masuk penjara, kesunyian alam kubur baginya hanyalah sebuah lingkungan baru. Namun, di alam setelah mati ini pun dia harus berjuang seperti di dunia, mengandalkan keberanian.

Pada akhirnya dia tak dapat menghindar dari Pengadilan Terakhir.

Langit memang selalu dalam situasi yang genting. Kugler dibawa menghadap ke mahkamah khusus dengan tiga orang hakim. Ruang pengadilan itu sederhana, nyaris seperti pengadilan di dunia, tetapi dengan satu perkecualian: tidak perlu melakukan sumpah terhadap saksi. Nanti, penyebab atas hal ini akan terungkap dengan jelas.

Ketiga hakim itu tampak tua dan berwajah membosankan. Kugler dipanggil dengan formalitas menjemukan selazimnya: Ferdinand Kugler, pengangguran, lahir tanggal sekian, meninggal … pada titik ini tampak bahwa Kugler tidak tahu tanggal kematiannya sendiri. Segera dia menyadari bahwa ini akan dianggap sebagai kelalaian yang merugikan di mata para hakim. Semangatnya untuk mendapatkan keringanan mengendur.

“Kamu mengaku bersalah atau tidak bersalah?” tanya Hakim Ketua.

“Tidak bersalah,” kata Kugler keras kepala.

“Hadirkan saksi utama,” ujar sang hakim seraya menghela napas.

Di hadapan Kugler muncul seorang lelaki yang tampak istimewa, agung, berjanggut, dan mengenakan jubah biru bersulam bintang emas.

Saat lelaki ini hadir, para hakim bangkit berdiri. Bahkan Kugler pun bangkit, agak enggan walau terpukau. Setelah lelaki itu duduk, barulah para hakim duduk kembali.

“Saksi,” kata Hakim Ketua, “Tuhan Yang Mahakuasa, pengadilan ini telah meminta kehadiran Anda untuk mendengar kesaksian Anda atas kasus Kugler, Ferdinand. Karena Anda adalah Kebenaran Tertinggi, Anda tidak perlu disumpah. Namun, kami meminta Anda hanya bersaksi terkait kasus yang diperlukan dan tidak melebar ke topik lain—kecuali jika itu dibutuhkan dalam kasus ini.

“Dan kamu, Kugler, jangan menyela perkataan Saksi. Beliau mengetahui segalanya, jadi tak ada gunanya menyangkal apa pun. Saksi mohon untuk bersedia memulai kesaksian.”

Hakim Ketua lalu melepaskan kacamatanya dan duduk bersandar dengan nyaman di kursinya. Tampaknya dia bersiap mendengarkan penjelasan panjang dari Saksi. Hakim yang tertua tampak setengah tertidur. Malaikat yang bertugas mencatat amal dan dosa membuka Kitab Kehidupan.

Tuhan, sebagai Saksi, terbatuk ringan sebelum mulai berkata, “Ya. Kugler, Ferdinand. Ferdinand Kugler, anak seorang buruh pabrik, memang nakal dan susah diatur sejak kecil. Dia sangat menyayangi ibunya, tetapi gagal membuktikannya; ini membuat dia sukar dikendalikan dan suka membangkang. Anak muda, kamu menjengkelkan semua orang! Ingatkah saat kamu menggigit tangan ayahmu saat dia hendak memukulmu? Waktu itu kamu ketahuan mencuri setangkai mawar dari taman seorang notaris.”

“Mawar itu untuk Irma, putri si penarik pajak,” ujar Kugler.

“Aku tahu,” kata Tuhan. “Irma baru berumur tujuh tahun saat itu. Kamu tahu apa yang terjadi dengan Irma?”

“Tidak.”

“Dia menikah dengan Oscar, anak pemilik pabrik. Tetapi dia tertular penyakit kelamin dari suaminya dan meninggal akibat keguguran. Kamu ingat Rudy Zaruba?”

“Apa yang terjadi dengan dia?”

“Dia masuk Angkatan Laut dan tewas dalam sebuah kecelakaan di Bombay. Kalian berdua bocah paling nakal di sekitar tempat tinggal kalian. Kugler sudah menjadi pencuri sebelum genap 10 tahun dan pembohong parah. Dia juga selalu berteman dengan orang jahat. Misalnya si tua Gribble, pemabuk dan pemalas yang hidup dari pemberian orang. Namun, Kugler sering memberi Gribble makanan.”

Hakim Ketua menggerakkan tangannya, seakan-akan memberi isyarat bahwa itu tidak perlu disampaikan, tetapi Kugler berkata dengan ragu-ragu, “Lalu … apa yang terjadi dengan anak perempuan Gribble?”

“Mary?” tanya Tuhan. “Dia menikah pada usia 14 tahun. Enam tahun kemudian dia meninggal dunia, mengenang dirimu dalam kepedihan menjelang ajalnya. Kamu sendiri pada umur 14 tahun telah menjadi pemabuk dan sering minggat dari rumah. Kematian ayahmu disebabkan oleh kesedihan dan kecemasan akibat kelakuanmu. Ibumu menjadi rabun akibat terlalu banyak menangisimu. Kamu membawa aib bagi keluargamu. Akibatnya Martha, adikmu yang cantik, tak pernah menikah. Tak ada lelaki yang mau menjadi bagian dari keluarga pencuri. Kini dia masih hidup sendirian dalam kemiskinan, menjahit hingga larut malam setiap hari. Dia kelelahan akibat bekerja keras dan keluhan pelanggan yang cerewet melukai harga dirinya.”

“Apa yang sedang dia lakukan saat ini?”

“Persis saat ini dia sedang membeli benang di toko kelontong milik Wolfe. Kamu ingat toko itu? Waktu kamu berumur 6 tahun, kamu membeli sebutir kelereng pualam di sana. Pada hari yang sama, kamu kehilangan kelereng itu. Kamu ingat kamu menangis dengan marah karena itu?”

“Apa yang terjadi dengan kelereng itu?” tanya Kugler penasaran.

“Kelereng itu tak sengaja bergulir masuk ke lubang selokan. Sebenarnya, hingga saat ini kelereng itu masih ada di sana, setelah lewat tiga puluh tahun. Saat ini sedang hujan di bumi dan kelerengmu itu berkilau dalam terpaan angin dingin.”

Kugler menunduk, terharu oleh penjelasan tak terduga ini.

Namun, Hakim Ketua kembali memasang kacamatanya dan berkata lembut, “Saksi, kita wajib menuntaskan kasus ini. Apakah terdakwa telah melakukan pembunuhan?”

Saksi mengangguk.

“Dia membunuh sembilan orang. Yang pertama dia bunuh dalam perkelahian. Saat dihukum penjara akibat kejahatan ini, dia menjadi rusak sepenuhnya di dalam bui. Korban yang kedua adalah kekasihnya yang tak setia. Untuk pembunuhan itu, dia dijatuhi hukuman mati. Namun, dia berhasil kabur dari tahanan. Korban ketiga adalah lelaki yang dia rampok. Yang keempat seorang satpam penjaga malam.”

“Satpam itu mati rupanya?” tanya Kugler.

“Dia tewas setelah mengalami kesakitan dan menderita selama tiga hari,” kata Tuhan. “Dia meninggalkan enam anak.

“Korban pembunuhan kelima dan keenam adalah sepasang suami istri tua. Kugler membunuh mereka dengan kapak. Setelah membunuh mereka, dia hanya menemukan uang 16 dolar meskipun suami istri itu sebenarnya memiliki uang 20.000 dolar yang disembunyikan.”

Kugler terlonjak. “Di mana?”

“Di dalam kasur jerami,” jawab Tuhan. “Dibungkus kantong linen di dalam kasur. Di sanalah mereka menyembunyikan uang yang mereka kumpulkan dengan tamak dan kikir. Korban ketujuh dibunuh di Amerika. Lelaki itu satu kampung dengan Kugler, imigran yag tak punya kawan.”

“Jadi uang itu ada di dalam kasur,” bisik Kugler takjub.

“Ya,” lanjut Tuhan. “Korban kedelapan adalah orang yang tak sengaja lewat saat Kugler lari dari kejaran polisi. Kugler saat itu menderita radang tulang dan merasa pusing karena kesakitan. Anak muda, kau sangat menderita saat itu. Korban kesembilan dan terakhir adalah polisi yang membunuh Kugler tepat saat Kugler menembaknya.”

“Lalu kenapa terdakwa melakukan pembunuhan?” tanya Hakim Ketua.

“Sama dengan alasan para pembunuh lain,” jawab Tuhan. “Karena amarah atau hasrat terhadap uang—yang disengaja dan terjadi begitu saja; dengan rasa senang dan terkadang karena memang perlu dilakukan. Sebetulnya Kugler ini murah hati dan sering menolong. Dia baik hati terhadap para perempuan, lembut kepada binatang, dan selalu memenuhi janji. Apakah aku perlu menyebutkan perbuatan-perbuatan baiknya?”

“Terima kasih,” kata Hakim Ketua, “tetapi tidak perlu. Apakah terdakwa hendak menyampaikan pembelaan?”

“Tidak,” kata Kugler.

“Kalau begitu, para hakim akan berunding,” ujar Hakim Ketua. Lalu, mereka bertiga keluar dari ruangan.

Hanya ada Tuhan dan Kugler yang tetap berada di ruang pengadilan.

“Siapakah mereka?” tanya Kugler.

“Orang sepertimu,” jawab Tuhan. “Mereka hakim saat berada di dunia. Maka, di sini mereka pun dijadikan hakim.”

“Saya tidak menduganya. Saya kira Anda yang akan menjadi hakim karena—”

“Karena aku Tuhan,” lanjut sang Lelaki Agung. “Tetapi, karena aku tahu segalanya, aku tidak mungkin menjadi hakim. Tidak tepat. Eh, tapi tahukah kamu siapa yang mengadukan kamu kepada polisi kali ini?”

“Tidak,” kata Kugler terkejut.

“Lucky, pramusaji itu. Perempuan itu melakukannya karena cemburu.”

“Maaf, tapi tampaknya Anda melewatkan satu orang lagi yang saya bunuh. Anda lupa tentang Teddy si bajingan tak berguna yang saya tembak di Chicago.”

“Tidak sama sekali,” ujar Tuhan. “Dia berhasil pulih dan masih hidup sampai kini. Aku tahu dia memang informan, tetapi dia sebenarnya lelaki yang baik dan sayang kepada anak kecil. Dia bukan orang yang tak berguna.”

“Tetapi saya masih tak mengerti mengapa bukan Anda yang menjadi hakim?”

“Karena pengetahuanku tak terbatas. Jika hakim mengetahui segalanya, benar-benar segalanya, mereka juga akan memahami segalanya. Hati mereka akan sakit. Mereka tak akan sanggup duduk di kursi hakim—begitu pula aku. Para hakim tadi itu hanya mengetahui tentang kejahatanmu. Sementara, aku tahu segalanya tentang dirimu. Keseluruhan dirimu. Itu sebabnya aku tak bisa menghakimimu.”

“Tetapi mengapa mereka yang menjadi hakim … orang yang juga menjadi hakim di dunia?”

“Karena manusia adalah bagian dari manusia. Seperti yang kaulihat, aku hanya bersaksi. Namun, putusan pengadilan ditentukan oleh manusia. Bahkan di langit sekalipun. Percayalah, Kugler, ini sudah selayaknya. Manusia tidak layak dihakimi oleh Tuhan. Manusia hanya layak dihakimi oleh sesama manusia.”

Pada saat itulah ketiga hakim masuk kembali ke dalam ruang pengadilan.

Dengan suara berat Hakim Ketua berkata, “Atas kejahatan pembunuhan tingkat satu yang dilakukan berulang-ulang, perampokan, pelecehan terhadap hukum, kepemilikan senjata secara tidak sah, dan pencurian setangkai mawar: Kugler, Ferdinand, dijatuhi hukuman seumur hidup di neraka. Hukuman dilaksanakan segera. Kasus berikutnya: Torrance, Frank. Apakah terdakwa hadir?”


Tentang Karel Čapek:

Karel Čapek (1890-1838) terlahir di Bohemia, Eropa Tengah—kini menjadi wilayah Republik Ceko. Čapek menjalani pendidikan di Praha, Paris, dan Berlin, dan meraih doktor filsafat dari Universitas Praha. Dia menulis cerpen, novel, dan lakon, dan dikenal dalam sejarah sastra dunia terutama sebagai dramawan terkemuka. Lakonnya yang paling terkenal, R.U.R., melahirkan kata “robot” yang populer hingga kini. Cerpen di atas diterjemahkan oleh Anton Kurnia dari “The Last Judgement”, terjemahan Leopold Pospisil dari bahasa Ceko, dalam kompendium Man in Literature: Comparative World Studies in Translation (1970).

Tentang Anton Kurnia (lanjutan)

Anton Kurnia telah menulis 10 buku, antara lain kumpulan esai Menuliskan Jejak Ingatan (2019) dan Ensiklopedia Sastra Dunia: Pengantar Menjelajah dan Kawan Membaca (2019), serta kumpulan cerpen Insomnia (2004) yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa Arab. Buku terjemahannya yang sudah terbit berjumlah lebih dari 60, antara lain Cinta Semanis Racun: 99 Cerita dari 9 Penjuru Dunia (2016).

Sesekali ia menjadi narasumber dalam diskusi dan lokakarya tentang penulisan, penerjemahan, dan perbukuan di dalam dan luar negeri, antara lain di Frankfurt Book Fair 2019.

Ia pernah bekerja di dunia penerbitan sebagai Manajer Redaksi Penerbit Serambi, Jakarta, dan Direktur Penerbit Baca, Tangerang Selatan. Ia juga sempat aktif sebagai Koordinator Program Penerjemahan Sastra di Komite Buku Nasional yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Ilustrasi: Kanarraville Falls from Pexels

Baca juga:
– Tamu yang Tak Diharapkan – Cerpen Connie Rae White
– Mimpi Ular – Cerpen Yuan Jonta

Bagikan artikel ini ke: