Menu
Menu

Menggunakan narator Patroklos untuk menceritakan Akhilleus membuat novel ini lebih terbatas tetapi sekaligus menjadi lebih kaya dari versi epik.


Oleh: Mario F. Lawi |

Menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa Latin, Italia, dan Inggris untuk Bacapetra.co. Buku-buku terjemahannya yang telah terbit adalah “Elegidia: Elegi-Elegi Pendek” karya Sulpicia, satu-satunya penyair perempuan era Latin Klasik (2019) dan “Puisi-Puisi Pilihan Catullus“, penyair Latin Klasik pelopor puisi-puisi cinta (2019).


Identitas Buku

Judul: The Song of Achilles
Penulis: Madeline Miller
Penerbit: Bloomsbury
Tebal: viii + 360 hlm.
ISBN: 978-1-4088-2198-5
Paperback edition, 2012

***

Madeline Miller menulis novel The Song of Achilles dari sudut pandang Patroklos, meskipun tokoh utama novelnya adalah Akhilleus, sang Aristos Akhaion, orang Yunani terhebat. Karena mengisahkan Akhilleus, teks-teks epik yang diolah oleh Miller lebih luas dari Ilias Homeros. Kelompok epik yang melingkupi kisah Perang Troia disebut siklus epik (epic cycle). Epik-epik tersebut adalah Kupria karya Stasinos dari Siprus atau Hegesias dari Salamis, mengisahkan tentang penyebab perang Troia, pelayaran orang-orang Akhaia, termasuk pengorbanan Iphigeneia di Aulis, sebelum sampai ke kisah awal Ilias. Kupria ditulis dalam 11 buku. Dalam Kupria ada juga cerita tentang Pengadilan Paris, ketika Paris menilai siapakah di antara Athena, Here dan Aphrodite yang layak memperoleh apel emas kallistei. Setelah Kupria, ada Ilias karya Homeros, lalu diikuti dengan Aithiopis, yang berakhir dengan kematian dan penguburan Akhilleus. Aithiopis ditulis oleh Arktinos dari Miletos dalam 5 buku. Setelah Aithiopis ada Ilias mikra, karya Leskhes dari Mytilene, yang melingkupi rentang kedatangan Neoptolemos, putra Akhilleus dengan Deidamia dari Skyros, juga kedatangan Philoktetes dari Lemnos. Dalam epik yang ditulis dalam 4 buku inilah kita bisa temukan kisah tentang Kuda Kayu yang dipakai para Akhaia untuk menyusup ke balik tembok Troia. Setelah Ilias Mikra, ada Iliou Persis, epik 2 buku yang ditulis oleh Arktinos dari Miletos, yang menceritakan tentang kehancuran Troia, kematian Priamos, dan kepulangan (nostos) para Akhaia. Tepat setelah epik Iliou persis-lah kita baca kisah nostos Odysseus dan para prajurit lain dalam Odysseia Homeros.

Selain karya-karya Homeros, puisi-puisi lain dari siklus epik tak lagi kita miliki secara utuh sekarang ini. Namun, ada bagian-bagian yang disimpan dengan baik dalam epik-epik yang ditulis para penyair belakangan. Epik Posthomerica yang ditulis pada abad keempat Masehi oleh Kointos Smyrnaios, misalnya, menampilkan kembali sejumlah kisah yang ada dalam Kupria, Ilias Mikra, dan Iliou Persis. Ada juga Catullus 64 yang mencuplik sebagian kisah dalam Kupria, terutama kisah tentang pernikahan Peleos dan Thetis. Dengan merangkul kisah-kisah dan kutipan-kutipan dari siklus epik dan dari puisi-puisi yang ditulis belakangan, latar dalam The Song of Achilles terbentuk.

Menggunakan narator Patroklos untuk menceritakan Akhilleus membuat novel ini lebih terbatas tetapi sekaligus menjadi lebih kaya dari versi epik. Lebih terbatas karena puisi-puisi epik yang ditulis dengan sudut pandang narator serba tahu membuat cerita bisa digerakkan dari satu tokoh kepada tokoh lain tanpa ketakutan adanya keterbatasan informasi. Lebih kaya karena dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, Patroklos bebas menyisipkan pemikiran, suara hati, dan kecamuk batinnya dan tokoh-tokoh lain yang berinteraksi dengannya, hal yang tak bisa kita peroleh secara leluasa dalam puisi epik, karena para tokoh dalam puisi epik biasanya melontarkan gagasan mereka secara verbal, termasuk lewat ratapan dan pidato. Lewat narator Patroklos, suara para tokoh menjadi lebih personal dan akrab. Suara dan tindakan tokoh-tokoh perempuan seperti Briseis dan Deidamia, sebagai contoh lain, yang ditampilkan secara terbatas dalam puisi-puisi epik bisa kita saksikan secara lebih leluasa dalam novel Miller.

Melalui narator Patroklos, Miller juga menawarkan bentuk lain bahkan mengubah motif-motif dalam epik yang selama ini kita kenal. Dalam Ilias, kita selalu diberi tahu bahwa yang menggerakkan Ilias adalah “menis”, kemarahan Akhilleus. Akhilleus yang marah pada Agamemnon, juga marah pada Hektor yang membunuh Patroklos. Demikianpun motif dalam epik lain. Achilleis, misalnya. Ketakutan sebagai motif begitu dominan dalam epik tersebut, dan ditampilkan Statius berulang-ulang. Ketika Akhilleus tak ada bersama Chiron, Thetis bertanya dengan takut, “Ubinam mea pignora, Chiron? Dic, aut cur ulla puer iam tempora ducit te sine?” (baris 127-129), “Di manakah kekasih hatiku, Chiron? Katakan, mengapa anakku menghabiskan waktunya tanpa kehadiranmu?”. Pada baris 211, Thetis disebut sebagai “timida mater” atau ibu yang ketakutan. Ketakutan Thetis bahkan ditegaskan oleh Ulixes (versi Latin Odysseus) ketika ia berbisik kepada Akhilleus (buku 1, baris 874-875), “pudeatque dolosam sic pro te timuisse Thetin—Dan biarlah Thetis yang licik malu karena telah begitu takut kehilangan engkau.”

Ketakutan Thetis, yang kita temukan sejak pembuka buku 1 Achilleis, sejajar dengan ketakutan Deidamia ketika Akhilleus akhirnya mesti pergi berperang, mengikuti Ulixes dan Diomedes yang menjemputnya. “O timor! Abripitur miserae permissus Achilles,” ujar Deidamia di antara harapan-harapannya (buku 1, baris 939), “O ketakutan! Kemalangan-kemalangan, Akhilleus yang diberikan diambil kembali.” Bedanya, jika ketakutan Thetis berdasarkan penglihatan dan kenyataannya sebagai seorang dewi, ketakutan Deidamia muncul sebagai firasat. Dalam Achilleis, suara Deidamia bahkan muncul dalam belenggu ketakutan. Ketakutan-ketakutan Thetis di Achilleis juga sejajar dengan ketakutannya di buku 18 Ilias. Dari Achilleis, kita mengetahui bahwa Thetis tidak hanya berusaha mencegah kematian Akhilleus di medan perang dengan cara menyembunyikannya di Skyros, memintanya menyamar sebagai perempuan, mencoba menenggelamkan armada Paris, tetapi juga memandikan Akhilleus ke sungai Styx dengan memegang salah satu tumitnya (buku 1, baris 269-270). Di buku 18 Ilias, Thetis berduka ketika tahu Akhilleus akan mati jika ia membunuh Hektor.

Dengan mengidealisasi Akhilleus, Miller merevisi sejumlah informasi yang kita peroleh dari puisi-puisi epik. Dalam novel yang menang The Orange Prize 2012 ini, misalnya, Miller menyatakan bahwa hubungan seksual antara Akhilleus dan Deidamia bukanlah kasus pemerkosaan berdasarkan inisiatif Akhilleus, melainkan berdasarkan paksaan Thetis. Di novel yang sama bisa kita temukan bahwa Akhilleus juga tidak memerkosa Briseis. Bagian-bagian kecil tersebut menunjukkan kepada kita bahwa karya sastra dari zaman apa pun relevan karena ia bisa dibaca dalam konteks hari ini, meskipun kita tetap bisa melihat bahwa Briseis mati tertembus lembing dan Iphigeneia mati sebagai korban bagi pelayaran para Akhaia, bentuk pengorbanan tokoh-tokoh perempuan yang lazim kita temukan dalam karya epik. Idealisasi Akhilleus, pada akhirnya, membuat karakter Akhilleus yang tak kenal takut dalam puisi-puisi epik tetap bertahan dalam novel Miller. Dialah sang Aristos Akhaion yang diramalkan para Dewi Takdir dalam puisi Catullus 64:

nascetur vobis expers terroris Achilles,
Hostibus haud tergo, sed forti pectore notus

Akan lahir bagimu Akhilleus yang tak punya rasa takut,
Bukan punggungnya, dada kuatnyalah yang dikenal para musuh.

(baris 338-339)

Contoh lain revisi yang dilakukan Miller adalah dengan menghadirkan Patroklos di Skyros, tokoh yang sama sekali absen dalam epik Achilleis. Melalui kehadiran Patroklos di Skyros dalam novel Miller, pembaca tidak hanya dibawa untuk melihat lebih dekat ketakutan seorang ibu, tetapi juga menemukan bahwa ada ketakutan lain yang tak kalah besar, yakni ketakutan Patroklos. Thetis dan Patroklos adalah dua tokoh yang sama-sama takut kehilangan Akhilleus yang mereka cintai. Thetis menyembunyikan Akhilleus di Skyros tidak hanya untuk menjauhkannya dari perang dan para pasukan Yunani, tetapi juga untuk menyembunyikannya dari Patroklos sang kekasih. Menjauhkan Akhilleus dari Patroklos membuatnya tak perlu repot membunuh Hektor, Patroklos tak perlu mati di tangan Hektor, dan ramalan bahwa Akhilleus akan mati setelah membunuh Hektor tak perlu terjadi. Melalui narator Patroklos pula kita jadi bisa melihat lebih saksama perang Troia, terutama 51 hari yang dipotret dalam Ilias. Penculikan Helene mungkin jadi casus belli kisah Ilias secara umum, tetapi casus belli yang paling penting bagi Akhilleus adalah kematian Patroklos sang Philtatos.(*)


Baca juga:
Teman-Teman Saya dalam Novel Kambing dan Hujan
Mendengarkan Kisah Mereka yang Dekat dan Tak Nyaring

Bagikan artikel ini ke: