Menu
Menu

Ada banyak momen ‘tiba sebelum berangkat’ dalam novel ini.


Oleh: Maria Pankratia |

Notulis


Sebelas orang hadir malam itu di Perpustakaan Klub Buku Petra. Seperti biasa, kami duduk mengelilingi meja dan berdiskusi, membicarakan novel kedua Faisal Oddang, Tiba Sebelum Berangkat (KPG, 2018). Gregorius Reynaldo bertindak sebagai pemantik.

Rey membukanya dengan menuturkan penemuannya bahwa, di tahun 2016 naskah Tiba Sebelum Berangkat pernah diikutkan dalam Kompetisi Novel Dewan Kesenian Jakarta, dan hanya menembus 25 besar. Hal yang menarik adalah, pertanggungjawaban dewan juri saat itu, khususnya poin 4, yang berbunyi: … Apabila naskah-naskah peserta Sayembara ini dapat dianggap sebagai representasi atas cara sebagian orang Indonesia memandang Indonesia, yang tampak adalah betapa riwayat kekerasan dan luka Indonesia menjadi bahan bakar cerita yang paling digemari. Sayangnya, tidak semua sejarah direkonstruksi sebagai sebuah cerita yang segar. Semua minim pengalaman kontemplatif. Konsekuensinya, lagi-lagi, kami seperti sedang membaca karya nonfiksi yang tidak menawarkan apa-apa selain sekadar pengingat akan luka bangsa sendiri.

“Entah mengapa, setelah membaca novel ini dan menemukan pertanggungjawaban dewan juri tersebut, saya lalu merasa poin ini sangat identik dengan Tiba Sebelum Berangkat. Novel ini berkisah tentang riwayat pemberontakan DII/TII di Sulawesi Selatan pada tahun 1950-an, jika melihat lagi pertanggungjawaban di atas, saya tidak tahu, mungkin saja benar novel ini masuk dalam kategori tersebut, yang sangat minim kontemplasi, yang pada akhirnya tidak menawarkan apa-apa selain sejarah kekerasan dan luka masa lalu Bangsa Indonesia. Namun demikian, jujur saya katakan, saya sangat menyukai novel ini karena kepadatannya. Intens sekali. Mengangkat konflik sejarah yang apabila kita perhatikan lebih seksama, masih sangat relevan sampai dengan hari ini,” jelas Reynald.

Rey kemudian melanjutkan pembahasannya tentang Bissu di Sulawesi Selatan. “Bicara tentang lima gender di Sulawesi, pada mulanya, saya pikir ini adalah karangan Faisal sepenuhnya. Sesuatu yang muncul dari kepalanya. Akan tetapi, saya lalu melakukan beberapa investigasi dan dari beberapa situs di internet, saya menemukan bagaimana budaya Bugis mengakui kelima jenis kelamin yang telah hidup dan melebur dalam tradisi dan budaya mereka sejak berabad-abad lalu. Dan kini, tradisi itu terancam punah. Hal-hal yang kemudian membuat saya tertarik terutama karena sejarah LGBT yang belakangan mulai ramai dibicarakan, harus dipandang dengan cara lain di Sulawesi Selatan. Apakah benar Bissu di Sulawesi Selatan masuk dalam kelompok LGBT? Atau sebenarnya kita harus melihat ini secara terpisah karena memang budaya ini telah hidup sejak lama? Bisa jadi ketidakpahaman banyak orang yang akhirnya menyederhanakannya begitu saja, begitu terburu-buru memasukkan Bissu ke dalam kategori yang kita kenali sebagai LGBT. Saya pikir, jika novel ini dibaca beberapa tahun lagi, dia masih relevan dan layak untuk dibicarakan,” tutur Reynald.

Rey juga menambahkan, hal yang cukup membikin novel ini seru untuk dibaca adalah bagaimana Faisal mengisahkan Bissu yang berkonflik dengan kelompok-kelompok mayoritas, berkonflik juga dengan Negara oleh karena Undang-Undang.

Menurut Rey, dari novel ini, kita bisa melihat pandangan masyarakat Indonesia Timur terhadap Indonesia secara keseluruhan, pun sebaliknya. Rey juga menyatakan antusiasnya terhadap novel ini. “Ini tipikal novel yang menurut saya bisa dihabiskan dalam sekali duduk. Bahasanya mudah dipahami, temponya cepat, transisi dari bab yang satu ke bab yang lain berhasil membuat penasaran pembaca. Tidak sulit. Dan mungkin bagi teman-teman yang agak sedikit merasa ngilu di beberapa bagian, atau terlalu jorok, terlalu sadis, dan lain sebagainya. Kita jelas berbeda. Karena saya justru menikmati cerita-cerita seperti ini,” tutup Reynald.

Setelah Reynald, Nadya Tanja yang menyampaikan hasil pembacaannya. Nadya yang malam itu baru pertama kali bergabung menyatakan keheranannya. “Saya baru tahu bahwa di Sulawesi Selatan, khususnya Suku Bugis, ada lima gender yang diakui: Laki-Laki, Perempuan, Calabai, Calalai, dan Bissu. Tentang Bissu, jika melihat fungsinya setelah membaca novel ini, saya melihat ada sedikit kesamaan dengan Tua Adat di Manggarai. Di mana untuk hal-hal tertentu, masyarakat akan datang untuk meminta pendapat atau masukan, seperti dalam bidang pertanian, penyakit, dan lain sebagainya. Saya suka novel ini, karena Faisal juga bicara tentang pola pikir yang tumbuh akibat kebiasaan. Kisah Mapatta dan Batari, Alibaba, maupun tokoh-tokoh lainnya, memberikan sudut pandang baru yang perlu dimaknai lebih jauh oleh saya sebagai pembaca,” tutup Nadya.

Selanjutnya ada Tio, yang malam itu datang bersama Gerson. Bagi Tio, ada beberapa hal yang ia dapatkan setelah membaca novel Tiba Sebelum Berangkat. “Satu hal yang sangat membekas adalah tentang pengkhianatan. Bagaimana ibunda Mapatta mengkhianati bapaknya dengan menikahi lawan politik bapaknya. Hubungan Puang Matoa Rusmi dan Andi Upe yang sangat rumit. Mapatta yang pada akhirnya dikhianati oleh Batari, yang kemudian memilih kabur dengan Sumiharjo. Puang Matoa Rusmi terhadap Mapatta, yang memanfaatkannya menjadi Taboto dan kemudian melantiknya menjadi Bissu tanpa sepengetahuan Bissu lain, dan mungkin masih banyak lagi,” tutur Tio.

Bagi Tio, novel ini mengajarkan banyak hal tentang kehidupan: “Ada beberapa kutipan yang sangat berkesan bagi saya dari novel ini, yang pertama di halaman 20 ketika Puang Matoa Rusmi menasihati Mapatt; Hidup ini, nak, adalah perang melawan masa lalu dan pertaruhan untuk mengalahkan masa depan. Kutipan ini secara tidak langsung mengingatkan saya untuk tidak berlarut-larut dengan kesalahan di masa lalu, saya sebaiknya fokus untuk pertaruhan yang berikutnya di masa depan yang serba tidak pasti. Yang kedua di halaman 77 ketika Batari mengajak Mapatta mengunjungi makam. Mapatta mengatakan: saya belajar banyak dari kehilangan. Salah satunya kini saya mengerti bahwasannya satu per satu dari diri kita akan hilang perlahan. Dan satu-satunya yang bisa kita jadikan alasan untuk kuat menghadapinya adalah hanya satu kenyataan bahwa kita memang tidak pernah memiliki apa-apa, bahkan ketika kita bercermin, seseorang di dalam cermin itu, bukan milik kita,” tutup Tio.

Bagian selanjutnya tentang gaya bahasa dalam Tiba Sebelum Berangkat

Bagikan artikel ini ke: