Menu
Menu

Di luar dugaan, perempuan jahanam itu tidak berteriak. Matanya yang sayu memandangku dengan tenang. Lalu berubah dingin, seperti tatapan macan kumbang yang siap menerkam mangsa.


Oleh: Dewi Nova |

Cerpennya tersebar di Bali Post, Serambi Indonesia, Jurnal Perempuan, Magdalene.co, www.langitperempuan.net, www.suarakita.org, dan www.femina.co.id. Perempuan Kopi adalah buku kumpulan cerpen pertamanya. Cerpennya yang lain terbit dalam antologi: Menulis Tubuh (Yayasan Jurnal Perempuan, 2014) dan Indahnya Perbedaan di Tenggara Nusantara, Kumpulan Puisi Temu Sastrawan Mitra Praja Utama X, (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, 2015). Nova dapat dihubungi melalui dewinova.wahyuni@gmail.com dan akun instagram de_nova_


Pukul 7 pagi. Pedagang rokok asongan yang dekil mengetuk-ngetuk kotak tripleks wadah rokoknya. Terutama ketika lampu merah lalu lintas menyala di perempatan 18 Avenue. Para buruh dari berbagai arah turun dan naik jeepney jurusan masing-masing. Aku dan buruh pasar swalayan lain bergegas menuju pasar swalayan terbesar di kawasan Project 4. Kami mulai menata barang-barang, membersihkan lantai, memastikan pintu utama siap menerima pelanggan pada pukul 9 pagi.

Kedai kopi di samping pasar swalayan sudah ramai pengunjung sejak pukul 7 pagi. Mereka para eksekutif muda yang mendapatkan koran gratis karena mampu membeli paket sarapan dengan harga di atas 100 peso. Juga para senior citizen yang mengalungkan kartu mereka agar mendapatkan diskon 20 persen. Sedangkan aku harus puas dengan sarapan garlic rice dan ikan kering.

Aku mencintai para buruh yang bergegas, bekerja keras, seperti aku. Aku benci pedagang rokok asongan itu. Tak hanya karena badannya yang dekil, tapi lebih karena pekerjaannya yang melawan hukum. Pemerintah sudah bertahun lalu melarang orang merokok, tapi ia masih nekat mengetuk-ngetuk tripleks wadah rokoknya. Sebagian sopir jeepney pun tergoda untuk memanggilnya saat lampu merah menghentikan roda mobil mereka. Aku juga tak setuju dengan koran gratis yang diberikan rumah kopi pada pelanggan yang berbelanja di atas 100 peso. Bukankah itu mempermudah orang yang lebih mampu? Sementara kami harus merogoh 20 peso untuk mendapatkan koran. Huh! Dan, senior citizen dimanjakan dengan potongan harga 20 persen. Memangnya mereka bekerja keras di masa mudanya seperti aku?

Tapi yang paling kubenci dari semuanya adalah seorang perempuan berumur 30-an yang melintasi pasar swalayan setiap pukul 8 pagi. Ia selalu duduk di pojok kedai yang paling strategis, dapat melihat dan dilihat dari arah pasar swalayan dan jalan raya. Ia akan memesan menu paling hemat yang bisa bikin kenyang dari pagi hingga jam makan siang. Paket nasi dengan irisan timun dan longganisa terbaik buatan rumah kopi dengan secangkir kopi campuran biji liberika dan robusta seharga 80 peso. Dari pukul 7 hingga 10, kedai kopi itu sangat ramai. Perempuan itu sering mempersilakan senior citizen yang sebagian besar datang sendirian untuk duduk di mejanya. Orang-orang tua itu bersuka ria tak hanya mendapatkan tempat duduk, tapi juga teman bicara untuk menceritakan masa muda mereka. Sebagian mulai rewel dengan mengatakan bahwa kopinya kurang manis. Lalu perempuan itu membantu membawakan krimer dan gula.

Setelah mejanya sepi, ia akan sibuk dengan laptopnya, tak menghiraukan apa pun. Paling cepat ia meninggalkan kedai kopi pada pukul 12 saat matahari di ubun-ubun. Ia akan kembali ke apartemennya tak jauh dari area pertokoan, membuka jendelanya di lantai 7, dan kuduga kemudian berangkat tidur siang. Bayangkan, ia berleha-leha di saat aku sibuk melayani pembeli. Tapi satu lagi kebiasaannya yang kubenci. Sesekali ia akan membeli segelas plastik orange juice dan memberikannya pada si kriminal pedagang asongan sebelum ia menuju apartemennya.

***

Aku sudah memperhitungkannya berminggu-minggu. Perhitungan waktu dan tindakan. Sehingga bila ia berteriak, aku seolah-olah melakukannya tanpa sengaja. Dan permintaan maafku akan membuat orang sekeliling kami bersimpati kepadaku. Sebaliknya, perempuan tukang berleha-leha itu dapat dianggap menggada-ada. Aku tinggal meminta kebaikan Joel, teman sekerjaku, untuk membiarkanku menggantikan tugasnya, menurunkan barang-barang dari mobil ke pasar swalayan pada pukul 8. Tepat saat perempuan itu melintasi pelataran toko swalayan kami.

Sempat ada keinginan ingin menelikung kakinya sehingga ia terjerembap dengan sepatu bot yang membuat mata semua orang tertuju padanya. Tapi itu tak memuaskanku untuk membuatnya terhina. Aku harus melakukan penghinaan serendah-rendahnya, menyerang tubuhnya seperti yang diajarkan peradaban manusia dari abad ke abad.

Pada pagi yang kuperhitungkan, ia melintasi pasar swalayan pada pukul 8 lewat 20 menit. Aku menurunkan sedikit barang yang kubawa sehingga satu jemariku bisa meraih pantatnya. Aku meremasnya dengan racikan kemarahan dan rangsangan sebagai ramuan mujarab untuk membuatnya merasa direndahkan. Kemudian dalam hitungan detik aku sigap menghadapi teriakannya sambil kujatuhkan barangku seolah-olah kami bertabrakan.

Di luar dugaan, perempuan jahanam itu tidak berteriak. Matanya yang sayu memandangku dengan tenang. Lalu berubah dingin, seperti tatapan macan kumbang yang siap menerkam mangsa. Aku sedikit berdebar menghadapi hal di luar perhitungan. Tapi, setidaknya aku tidak perlu berpura-pura lebih jauh kepada orang-orang di sekitar. Sikapnya itu juga membuat orang-orang tak menghiraukan kami. Kukira ia akan berhenti di situ. Ia terus menatapku yang mengumpulkan barang-barang yang kujatuhkan. Kini bibirnya tertarik ke bawah, tatapannya tajam mengunjungi jantungku. Tatapan yang merendahkan. Seolah aku seonggok tai yang paling tak berguna.

Lalu ia meneruskan langkah dengan tenang menuju meja pojok kedai kopi. Melanjutkan kebiasaannya, menawarkan kursi kosong di mejanya kepada senior citizen. Seolah-olah tidak ada peristiwa yang mengganggunya.

***

Di hari lain, tepatnya pada tanggal orang-orang mendapatkan gaji, pasar swalayan begitu sesak. Tiba-tiba saja perempuan itu ada di sampingku. “Kebencian tidak akan mengatasi kemiskinan. Kau harus minta maaf kepada ibumu, karena telah meremas pantatku dan merendahkan dirimu serendah-rendahnya,” katanya.

Belum sempat aku berlaku apa pun, ia telah melangkah, seolah-olah tidak berbicara apa-apa.

Kini bayangan Ibu menyiksaku. Wajahnya keriput dan kulitnya gosong ditempa matahari sejak belia. Belum juga ia menikmati masa tua, gajiku harus tarik-menarik antara ongkos jeepney, garlic rice, dan sewa kamar. Ibu masih di ladang jagung, bekerja terlalu keras entah sampai kapan. Pada hari Natal saja aku dapat menjumpainya. Tidak mungkin aku menyiksanya dengan pengakuan yang dianjurkan perempuan sialan itu. Aku mencoba menepiskan pikiran-pikiran akibat perkataan perempuan itu, sambil membereskan beberapa barang yang diberantakkan pelanggan. Lagi pula untuk apa aku mendengarnya? Bukankah ia tak merasakan kemiskinan yang mencekikku?

***

“Kau telah merendahkan dirimu serendah-rendahnya!” gumam Ibu. Lalu aku meremas bokong Ibu di rimbun daun-daun jagung. Dan Ibu menebaskan parang tidak ke batang jagung, tapi ke batang tanganku. Darah muncrat dari nadiku. Keringatku bercucuran. Aku terbangun dari mimpi buruk. Bantalku basah oleh keringat. Rasa pilu membuatku tak dapat melanjutkan tidur hingga matahari terbit.

Rasanya aku tak pernah senelangsa pagi itu. Pagi terasa diam dan sunyi. Kurasakan kemiskinan semakin mencekik. Gajiku yang rendah mulai menggerogoti kebanggaan pada kemanusiaanku. “Miskin dan rendah…,” gumamku parau.

***

Untuk memulihkan ketenangan hidupku, aku berhenti mengamati perempuan itu. Menepis gelisah mimpi buruk. Juga tidak memikirkan si kriminal pedagang rokok asongan. Melanjutkan kecintaan pada pekerjaanku, mengumpulkan peso untuk membawa hadiah Natal terbaik untuk Ibu.

Suatu hari, saat bergegas pulang, barista di rumah kopi memanggilku dan memberikan bingkisan berwarna merah.

***

Dear Jose,

Saat aku membayangkan menjadi laki-laki, tidak mudah untuk membebaskan diri dari tingkah laku merendahkan perempuan. Apalagi saat kita marah dan kecewa. Atau entah karena apa pun alasannya. Barangkali karena demikian tradisi mengajarkan. Karena itu, aku sungguh prihatin terhadap banyak laki-laki yang merendahkan dirinya dengan maksud untuk merendahkan perempuan.

Kita tidak akan saling mengamati lagi, karena aku harus kembali ke negaraku. Kutitip selembar kain tenun untuk ibumu yang telah mempertaruhkan nyawa melahirkan dan membesarkanmu. Ibu yang begitu mulia dan memberimu nama Jose.

Jose, seperti Jose Rizal, penulis dan pejuang kemerdekaan rakyat Filipina yang kuhormati. Ia tidak punya waktu untuk membenci apa pun, karena seluruh hidupnya dicurahkan untuk kedaulatan bangsa Filipina. Bahkan saat diasingkan di Mindanao, ia mengajari penduduk agar dapat menguasai perdagangan abaka di Dapitan. Agar pribumi tidak terus-menerus menjadi buruh pedagang besar. Walapun hari ini kita kalah banyak dari pedagang besar. Seperti kekalahan pedagang rokok asongan oleh sistem dagang perusahaan rokok transnasional. Yang membuatnya tampak begitu kriminal di matamu. Seperti di mata pemerintahmu dan pemerintahku.

Bagong Pasco at bagong taon Jose

(Aku tahu namamu dari label di saku bajumu, bahkan nomor sepatumu, saat kau jatuhkan barang-barangmu dan martabatmu)

Best, 20 Desember 2014

Perempuan seperti ibumu (*)

Quezon City, 2013

Jeepney: jip yang dijadikan angkutan umum
Garlic rice: nasi kukus dengan bawang putih
Bagong Pasco at bagong taon: selamat Natal dan tahun baru


Ilustrasi:

Baca juga:
– Dessa dan Ibu Mertua | Cerpen Lisa Pingge
– Lubang Gelap | Cerpen Sabrina Lasama

Bagikan artikel ini ke: