Menu
Menu

Pembatasan ketat kepada perempuan ini ditentang oleh kelompok aktivis dan ilmuwan progresif di Tuantu.


Oleh: Feby Indirani |

Memperkenalkan trilogi kumpulan cerpen Islamisme Magis. Buku pertama, Bukan Perawan Maria (Pabrikultur, 2017) terbit dalam bahasa Italia (Add Editore, 2019), mendapat apresiasi kritikus sastra dan media internasional karena kritis pada dunia Islam namun menggunakan humor dan welas asih. Pengincar Perempuan Tuantu dimuat di kumpulan cerpen terbarunya, Memburu Muhammad (Bentang Pustaka, Oktober 2020) yang merupakan buku kedua dari trilogi tersebut.


Ketika roda pesawat yang ditumpanginya mendarat di Tuantu International Airport, Nisa baru menamatkan The Silent Storm buku puisi karya Lumar Thona Zbethern, Presiden Tuantu. Ia mengamati perempuan-perempuan di sekelilingnya yang langsung menyampirkan kain panjang ke seluruh tubuh mereka dengan gerakan sigap dan waspada. Seorang lelaki muda membantunya mengambilkan tas dari kabin.

Ruke,” Nisa mengangguk sambil mengucapkan terimakasih dalam bahasa Tuantu.

“Bukan penulis terbaik dari negeri ini,” ujar lelaki muda tadi pelan, ketika melirik buku di tangan Nisa. Ia seorang lelaki usia 30-an, berkacamata dan rambut panjang dikuncir. Wajahnya tampak khas warga Tuantu, bermata sipit, beralis tebal, berhidung mancung, dan berkulit kemerahan.

“Bagaimana menurut Nona?” Nada bicaranya terdengar bersahabat.

“Motivasional, dan sangat nasionalis,” sahut Nisa.

“Apa boleh buat, yang tersedia dalam bahasa Inggris memang hanya karyanya saja.”

“Juga hanya dia yang boleh menulis namanya pada sampul buku,” Nisa tertawa kecil.

Lelaki itu mengulurkan tangan, memperkenalkan diri. “Toma,” ujarnya. Nisa menyambutnya, balas menyebutkan nama. Mereka berdiri di aisle masih menunggu dipersilakan keluar. Toma berdiri di depannya cukup dekat sehingga Nisa bisa menghidu aroma parfumnya. Hermes, barangkali?

“Tidak pernah ada waktu yang tepat untuk berwisata ke negeri kami,” ujar Toma.

“Untuk pekerjaan,” sahut Nisa dengan suara rendah.

“Bahkan lebih buruk lagi,” Toma terdengar getir. “Maaf, tapi Anda akan ditemani rekan laki-laki, kan? Sekarang ini mobilitas perempuan jadi semakin sulit…”

“Ya, saya tahu, dalam sebulan terakhir, kembali terjadi setidaknya enam kasus penyerangan yang mengakibatkan dua korban luka serius dan sisanya luka ringan….”

“Dan Anda masih di sini? Berarti Anda memang pemberani.”

“Atau hanya bodoh,” Nisa mencoba bercanda.

“Hati-hati,” bisik Toma sebelum mereka berpisah.

Pagi itu hujan rintik-rintik sesuai ramalan cuaca. Kata buku panduan wisata Lovely Planet, Musim semi adalah saat terbaik mengunjungi Tuantu meskipun April adalah bulan paling basah. Nisa membetulkan letak pasminanya. Berdiri di bawah tulisan besar Welcome to Tuantu, ia menunggu mobil jemputannya datang. Beberapa supir taksi menyapanya, menawarkan jasa. Nisa menggeleng sopan. Pandangannya jatuh pada sebuah papan pengumuman bagi turis tentang panduan keselamatan bagi perempuan.

Dia teringat Mardiyah, pemimpin redaksinya yang sempat meragukan keputusannya untuk liputan ke Tuantu.

“Kamu yakin akan berangkat? Banyak kolega laki-laki yang bisa menggantikan jika kamu ragu.” Nisa menggeleng. “Insya Allah, saya siap Mbak. Saya sudah beberapa kali menulis tentang Tuantu, tapi belum pernah betul-betul menginjakkan kaki di sana. Bukankah itu aneh?”

“Ya dan tidak. Banyak orang yang sudah menulis tentang Mars, dan juga belum bisa sampai ke sana.”

“Tapi Tuantu bukan Mars, dia hanya berjarak enam jam penerbangan.”

Atasannya mengangkat bahu, lalu menandatangani surat jalan untuk Nisa. “Baik, selamat bekerja kalau begitu. Kembali dengan selamat ya.”

Nisa hanya terkekeh menyahutnya.

Negeri yang berpenduduk sekitar 6 juta orang ini adalah satu dari dua puluh negara dengan pertumbuhan ekonomi terpesat di dunia, karena merupakan salah satu penghasil gas bumi terbesar. Dengan pemandangan pantai dan gunung yang sama-sama memesona, seharusnya Tuantu berpotensi sebagai tujuan wisata favorit. Namun, ia malah berada di daftar ‘negeri yang paling jarang dikunjungi’.

Sejak dua puluh tahun lalu, Tuantu kerap mengalami serangan binatang buas. The Beast, si Buas, demikian warga Tuantu menyebutnya, adalah binatang yang sebelumnya dianggap legenda urban, yang ternyata sungguhan ada dan memperlihatkan dirinya. Diduga karena terdesak oleh pembangunan infrastruktur yang menghabiskan banyak hutan, B kehilangan habitat tempat hidupnya. Keadaan diperburuk ketika ada penyakit yang menyerang jenis betina mereka, dampaknya mulai dari kemandulan hingga kematian jenis betina. Ini menyebabkan spesies mereka terancam punah.

Itulah teori yang diajukan para ilmuwan tentang kenapa B mengincar dan menyerang manusia perempuan di Tuantu. Tujuan penyerangan menurut teori itu adalah naluri seksual, yaitu mempenetrasi kelamin perempuan untuk menanamkan benih demi melanjutkan keturunan mereka. Ada beberapa kesaksian yang menyebutkan bahwa B juga pernah menyerang laki-laki, tapi kasus ini terbilang langka.

Jarang ada yang benar-benar melihat wujud B. Gambar B yang ada di buku-buku kajian, tayangan dokumenter dan konten media lainnya biasanya berupa ilustrasi, berdasarkan penelusuran para ilmuwan yang juga dikumpulkan dari kesaksian para korban. Ada juga yang berupa foto-foto yang tidak sempurna, hasil jepretan beberapa fotografer profesional dari klub fotografer pemburu B. Meski demikian foto-foto itu berguna menangkap lebih jelas sosok B untuk penelitian lebih lanjut.

Kepalanya mirip serigala, bermoncong dan memiliki kuping yang runcing, tapi warna bulu-bulunya coklat seperti beruang grizzly. Penglihatannya sangat tajam. Namun, yang lebih membuat merinding adalah kesaksian beberapa korban yang menyebutkan, mata B terlihat cerdas. Ketika ia menatapmu, ia seolah sedang membacamu.

B bisa bergerak dan terbang sangat cepat dengan sayapnya yang hitam selebar sekitar 2 meter, sehingga menimbulkan kekagetan luar biasa kepada target yang disasarnya. Ia lebih sering keluar di malam hari meskipun mengincar korbannya sejak siang hari, bahkan mungkin berhari-hari sebelumnya. Seorang ahli biologi di Tuantu yang sering dikutip media menyatakan, B mengincar mangsanya ketika sedang terbang, dan mengenali tubuh perempuan dari permukaan kulitnya.

Tekstur kulit perempuan berbeda dari laki-laki. Memakai pakaian yang tertutup akan menyulitkan B untuk mengincar mangsanya.

Keberadaan B yang kerap menyerang perempuan membuat pemerintah menetapkan berbagai aturan berpakaian dan aturan keluar rumah bagi perempuan. Perempuan mesti berpakaian tertutup seluruh tubuh dan wajahnya agar terlindung dari incaran B. Jika keluar rumah terlebih malam hari, perempuan mesti ditemani oleh rekan atau anggota keluarga laki-laki. Di atas pukul 9 malam, perempuan yang keluar rumah harus memiliki izin khusus.

Pembatasan ketat kepada perempuan ini ditentang oleh kelompok aktivis dan ilmuwan progresif di Tuantu. Sebab sejumlah kasus justru memperlihatkan bahwa penyerangan B terhadap perempuan ternyata belum bisa dipastikan polanya. Di berbagai wilayah, serangan tetap saja terjadi kepada perempuan yang mengenakan pakaian tertutup.

Kejadian ini seolah memberikan amunisi kepada analisis ahli lain bahwa B tidak hanya mengincar perempuan melalui penglihatan, melainkan melalui penciuman juga. B diduga mampu mengenali aroma Feromon dari tubuh perempuan di masa subur mereka, dan itulah yang memandu mereka. Oleh karena itu menutup tubuh saja tidak cukup, masih harus dibarengi dengan upaya lain seperti, membatasi ruang gerak para perempuan.

Debat tentang bagaimana cara terbaik melindungi perempuan dari serangan B berlangsung tak habis-habisnya di Tuantu. Aturan pemerintah mengenai cara berpakaian dan keluar rumah bagi perempuan tidak bisa diganggu gugat. Mereka tidak segan-segan memenjarakan warga yang memiliki pendapat berbeda karena dianggap membangkang.

Selama dua dekade terakhir, memakai pakaian tertutup, setengah tertutup, terbuka, atau setengah terbuka adalah ekspresi politis bagi warga perempuan. Selanjutnya hal ini juga jadi salah satu cara mengategorisasikan perempuan di Tuantu. Jika seorang perempuan memakai pakaian tertutup, masyarakat akan menilainya sebagai seorang yang patuh, berkomitmen, dan mampu melindungi diri. Jika seorang perempuan Tuantu berpakaian terbuka, dia pemberontak, tidak bisa menjaga diri dengan baik, dan keras kepala.

Tuantu salah satu negara yang penting bagi Indonesia karena dua hal. Pertama, ia adalah salah satu mitra dagang yang penting bagi Indonesia. Tuantu mengekspor karpet, tekstil dan mineral dan mengimpor kayu, sayur, sinetron dan film-film horor dari Indonesia. Kedua, karena sebagaimana Indonesia, lebih dari 85 persen masyarakat Tuantu adalah Muslim, sehingga tradisi, kebijakan, dan aturan yang berlaku di Tuantu kerap menjadi perbandingan. Hal ini membuat Tuantu menjadi menarik bagi jurnalis Indonesia seperti Nisa yang fokus di isu-isu HAM dan politik Internasional.

***

“Baru sekali berkunjung ke Tuantu, Nona?” Sapa supir yang menjemputnya.

Dia minta dipanggil Ludba. Kulitnya coklat mengilat, dengan brewok yang lebat menutupi garis rahangnya yang tegas. Tubuhnya tinggi tegap, tetapi kakinya pincang sejak kecelakaan yang dialaminya di masa muda. Ludba dulunya adalah seorang tentara, tetapi karena cedera dalam tugas, dia kini menghidupi diri dengan menjadi supir dan bodyguard yang bisa disewa sewaktu-waktu.

“Iya, hanya empat hari. Izin maksimal bagi perempuan dibatasi sependek itu untuk setiap kunjungan. Yah dapat multiple entries untuk lima tahun, sih. Katanya karena alasan keamanan. Apa Tuantu memang semakin sulit untuk perempuan?”

“Betul, istri saya juga sekarang semakin sulit pergi ke mana-mana. Kedua anak laki-laki kami memilih bekerja ke luar negeri, jadi tidak ada yang menemani ibunya jika saya sedang kerja.”

“Sayang sekali.”

Mereka terdiam. Nisa memandang ke luar jendela, menyaksikan lanskap pemandangan pinggir kota dengan hamparan pegunungan Eltuantu dan dataran luas padang pasir. Ia menurunkan jendela, menghirup udara Tuantu. Mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi di tol luar kota, menuju Diktata, ibu kota Tuantu yang terletak di lembah.

Ketika memasuki kawasan kota, Nisa terperangah dengan tata kotanya; menyaksikan monumen, patung, dan arsitektur gedung-gedungnya. Semua bangunan dan monumen itu berwarna putih, membuat kesan bersih dan modern. Tapi pada mereka, selalu ada sesuatu yang tampak tak selaras; seperti ingin memberikan aksen, serupa meletakkan buah ceri di atas es krim. Ada kubah berwarna oranye terang pada gedung kantor pemerintahan yang bermarmer putih, monumen pahlawan yang terbuat dari batu putih tapi mengenakan sabuk emas, bangunan kampus yang berbentuk seperti telur. Panjul, putih, tapi dikelilingi garis merah terang yang menjadikannya mirip telur berpita. Apakah arsiteknya terilhami telur Paskah?

Segalanya terlihat futuristik, artifisial, dan cenderung kekanak-kanakan. Semakin memasuki kota, Annisa melihat perempuan-perempuan menutupi diri mereka dengan kain panjang.

“Sungguh kota yang ajaib!” komentar Annisa yang masih tercengang.

Ludba meliriknya dari kaca spion depan. “Ya, dan kami juga punya perempuan-perempuan cantik. Sayang tidak ada yang terlihat lagi sekarang.”

“Ludba, apakah dengan menutup diri seperti itu, B tidak menyerang lagi?”

Ludba menggeleng. Wajahnya tampak sedih. “Tetap saja ada. Bulan lalu tetangga saya mengalaminya. Untung hanya luka ringan, tetapi sempat dirawat di rumah sakit dua hari karena shock.”

Annisa terdiam. Ludba memperlambat kecepatan mobilnya karena mereka mulai memasuki area kota yang ramai.

“Ludba, menurutmu, benarkah B itu sakti?”

“Ya, memang ada kepercayaan yang berkembang kuat di kalangan masyarakat Tuantu, bahwa B memiliki kekuatan supranatural. Mereka yang berani menantangnya mesti menanggung risiko besar, yaitu petaka, bahkan maut.”

Ludba kemudian bercerita, belasan tahun lalu pernah ada seorang polisi yang dengan gagah berani ingin menangkap binatang itu. Belum sampai berhasil, tetapi kabarnya bagian sayap B terpotong. Prestasi ini menjadi berita utama di hampir seluruh media di Tuantu.

“Ah iya, saya pernah baca berita itu!”

Nisa teringat pernah menyaksikan sebuah video pemberitaan salah satu korban serangan B dan takjub pada upaya keras para jurnalis yang membuat berita itu. Bukan untuk menyelidiki fenomena B secara ilmiah, melainkan lebih banyak mengangkat sisi-sisi emosional, dramatis, dan heroiknya. Berbagai sudut pandang peristiwa diungkap sehingga memunculkan kesan yang menarik terkait B. Termasuk, tentang perempuan korban yang berhasil diselamatkan polisi itu, yang kebetulan lajang dan berparas manis. Polisi penyelamat yang dipuja-puji sebagai pahlawan gagah berani, lokasi tempat pertarungan antara tim polisi dan B yang konon angker, dan hal-hal seperti itu ikut diberitakan.

Karena video itu, Nisa menelusuri pemberitaan lainnya mengenai kasus yang sama. Namun ia nyaris tak menemukan media nasional Tuantu yang betul-betul membahas mengenai fenomena binatang buas itu sendiri. Kenapa begitu sedikit investigasi polisi mengenai B yang diungkapkan kepada publik? Kenapa penelitian bagian sayap yang terpotong itu tidak pernah dipublikasikan secara transparan?

Foto B diambil oleh seorang jurnalis berita kriminal yang ditugaskan memantau dan ditempatkan khusus di kepolisian. Foto yang diambil pada malam hari dan tidak begitu jelas, hanya jurnalis tersebut yang berhasil mendapatkan foto B dari berbagai angle.

Namun, tidak sampai setahun setelah peristiwa tersebut, polisi pemotong sayap B dikabarkan terluka dalam tugas sehingga harus dibebastugaskan. Sejak dibebastugaskan, ia semakin sulit ditemui wartawan, identitasnya seperti disamarkan, barangkali hal tersebut dimaksud untuk melindungi dirinya. Sementara itu, beberapa bulan setelahnya, jurnalis yang mengambil gambar B sebelumnya, mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi kemudian meninggal dalam perjalanan.

Entah siapa yang memulai, tetapi beredar dugaan bahwa mereka mengalami kemalangan akibat kutukan B. Awalnya di kalangan media, lalu akhirnya mulai menyebar luas ke publik. Hal ini memperkuat mitos yang telah lama beredar bahwa siapa pun yang berani menantang B, akan mendapat karma buruk.

“Ya, ya betul. Nona ternyata sudah riset banyak tentang Tuantu, ya,” puji Ludba.

“Iya, dan saya akan memaksimalkan waktu untuk mengobrol dengan sebanyak mungkin sumber di sini, menggali sebanyak mungkin cerita. Anda harus menemani saya.”

***

Selama empat hari itu, Annisa bertemu dengan para narasumbernya, perempuan dan lelaki Tuantu, mulai dari para korban, ilmuwan biologi, sosiolog, ahli hukum, ahli sejarah, juga pejabat pemerintah. Dia mengumpulkan berbagai keping puzzle dan sudut pandang sehingga makin memahami situasi Tuantu dengan segala keanehan dan kompleksitasnya.

Beberapa spekulasi ilmuwan menyebutkan persoalan B bisa diatasi dengan inovasi rekayasa biologi, yaitu menyembuhkan penyakit jenis betinanya. Tapi hal ini membutuhkan dana penelitian yang sangat besar, juga dukungan para ahli dari luar negeri. Padahal Tuantu sangat ketat dalam memberikan izin tinggal kepada warga asing.

Larangan pemerintah keluar malam bagi perempuan ternyata dipatahkan oleh penyerangan di siang bolong. Sesuatu yang awalnya sangat mengejutkan. Seorang perempuan terjatuh setelah betisnya digigit B, saat hari terang benderang. Para saksi menyebutkan ada bayangan hitam yang menyosor betis perempuan tersebut, dan kemudian melesat kabur. Betis sang perempuan berdarah, ia segera dilarikan ke rumah sakit. Lukanya cukup serius meskipun tidak sampai membahayakan jiwanya. Ia sangat terguncang karena mendapat serangan tiba-tiba.

“Rasanya seperti terbakar. Menusuk, panas, menyengat. Untuk sesaat aku tidak tahu apa yang terjadi sampai kulihat kakiku sudah bersimbah darah. Dan matanya, ia menatapku, seperti merasa puas. Saat itu juga aku berharap kehilangan kesadaranku.” Demikian kesaksian perempuan tersebut ketika ditemui Nisa.

Akhirnya, pada siang hari pun semua perempuan harus menutup dirinya jika beraktivitas di ruang publik. Dari waktu ke waktu, pemerintah Tuantu terus menambah aturan demi melindungi perempuan. Waktu berkegiatan dan ruang gerak perempuan Tuantu makin terbatasi. Tubuh dan wajah perempuan pun harus terbalut sepenuhnya oleh kain, karena selalu ada kecemasan bahwa si B akan melihat dan mengendus bau kulit mereka.

Semua larangan dan pembatasan tersebut membangkitkan protes dari kelompok aktivis Tuantu. Mereka mengkritik pemerintah yang tidak serius mengatasi persoalan B. Apalagi sempat tersiar isu bahwa dana keamanan yang besar untuk penanggulangan B malah dikorupsi. Para aktivis perempuan pun mulai sering melakukan aksi demonstrasi, yang kerap berujung hukuman penjara. Para perempuan yang nekat melanggar aturan, misalnya memperlihatkan kulit mereka saat keluar rumah, dikenai berbagai sanksi, mulai dari denda hingga penjara. Perempuan Tuantu kerap mengalami ancaman ganda: serangan B dan sanksi pemerintah.

“Kami tidak punya kehidupan lagi di Tuantu. Segalanya atas nama melindungi kami. Tapi benarkah demikian? Kami tidak punya hak atas tubuh kami lagi,” ujar Anne Tianinia, aktivis perempuan yang ditemui Nisa di penjara.

****

Empat hari terasa begitu padat, dan singkat. Dan Nisa sudah harus pergi, dengan membawa begitu banyak cerita dari berbagai narasumber. Dalam perjalanan menuju Bandara Internasional Tuantu, Nisa mengungkapkan keresahannya.

“Ludba, apa benar B memang tidak bisa ditaklukkan?”

“Menurut saya, bisa.”

“Tetapi?”

“Selain takut kena sial, banyak yang menganggap membunuh B itu berarti merusak alam, melawan ciptaan Tuhan.”

“Tapi kan B sudah sangat membahayakan?”

“Betul.”

“Ludba, saya benar-benar tidak mengerti satu hal. Secara akal sehat, jika ada binatang buas berkeliaran, mereka yang harusnya dikerangkeng. Bukan manusia yang jadi terkurung!”

Ludba terdiam. Mereka menghabiskan sisa perjalanan itu dalam hening.

“Nona,” ujar Ludba sebelum Nisa turun.

“Anda benar, memang seharusnya begitu. Tetapi mengatur-atur dan melarang-larang perempuan adalah pilihan yang selalu lebih mudah, ketimbang bersusah-susah mengatasi persoalan yang sebenarnya.`”

***


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
Mengejar Mimpi ke Jakarta
Bibi Meyda dan Kerang-Kerang Mati

Bagikan artikel ini ke: