Menu
Menu

Mengejar mimpi ke Jakarta…


Oleh: Adi Zamzam |

Adalah nama pena dari Nur Hadi. Menulis cerpen, puisi, esai, dan novel remaja. Senang memakai nama asli saat menulis nonfiksi, sementara Adi Zamzam untuk tulisan fiksi. Beberapa karya yang telah diterbitkan, Laba-laba yang Terus Merajut Sarangnya – Kumpulan cerpen (UNSA Press, 2016), Persembahan Teruntuk Bapak – Novel remaja (DIVA Press, 2017), MELIHAT – Novel (Bhuana Sastra, Bhuana Ilmu Populer, 2017), Menunggu Musim Kupu-kupu – Kumpulan cerpen (Basabasi/DIVA Press Grup, 2018), Rahasia Sehat Tania – Buku Pengayaan (PT. Wangsa Jatra Lestari/Tiga Serangkai Grup, proses terbit)


Harjoyo berlarian memanggil satu per satu kawan-kawannya. Hartini yang sibuk membantu emaknya mengelap daun pisang—untuk bungkus dagangan sego janganan[1]. Kartono sedang membantu bapaknya merajang lung[2] pakan kuda. Kardi malah hendak pergi memancing—lantaran kesepian. Sementara Hendro baru saja selesai memberi makan ayam. Hendrolah yang paling sulit ditarik keluar. Padahal sebelumnya mereka sudah saling janji. Permainan jangan sampai mendekati waktu Zuhur. Laut akan mengirimkan udara panas ke Karangaji!

Saat permainan sudah bisa dimulai, Harjoyolah yang terlihat paling semangat. Meski di putaran pertama harus kalah dan jadi penunggu markas.

Harjoyo celingukan. Sepi sekali. Tapi dalam dadanya ada semangat yang tak ia mengerti. Ia pun mencari. Di balik pohon randu Mbah Ranu. Di sebelah baratnya ada pagar hidup kangkung rabi dan daun entong. Mereka pun ternyata tak ada di situ. Rumah tua Mbah Nyapo yang tak berpenghuni, pagar hidup rumah Pak Carik, buk Kali Cipluk di samping rumah Pak Carik, pohon sawo di sebelah timur, sumur dan jeding[3] milik Pak Mo di bawahnya… oh, tapi Harjoyo mesti memastikan bahwa markas—pohon petai cina yang harus ia jaga, aman dari serangan semua kawannya yang sudah sembunyi entah di mana.

Harjoyo mulai gelisah tatkala semua tempat ternyata tak menyembunyikan kawan-kawannya. Apakah mereka telah pulang dan mengerjainya dengan telak?

*** mengejar mimpi ke jakarta

Harjoyo masih menyimpan rencana membalas perlakuan teman-temannya sebelum merasa kenangan itu begitu lucu dan takkan pernah kesampaian. Itu sebelum mereka dipersatukan dalam sebuah grup jathilan milik Pak Mo. Harjoyolah yang paling bersinar di antara mereka, lantaran juga menguasai permainan kuda lumping.

Tapi kini ia merasa telah tersesat di sebuah tempat yang kadang terasa asing. Terlempar dari pulau kenangan, terdampar di kota ini. Dari cerita yang sering ia dengar sungguh tak seperti ini.

“Kau lihat kan, aku sudah bisa beli apa sekarang?” pamer Kardi ketika berlebaran di kampung. Lima anaknya juga pasti dapat jatah, dari baju baru sampai sepeda motor. “Kau pasti takkan percaya kalau di sana aku cuma jualan air dan jagung. Dapat apa aku kalau masih bertahan sebagai pemain jathilan.

Harjoyo kerap membayangkan Kardi yang setiap hari menghitung uang. Dalam sepekan kemarin Harjoyo sudah menyusuri beberapa tempat yang pernah disebutkan Kardi. Kampung Lodan, Kampung Krapu, Kampung Muka, Kampung Walang, Kampung Akuarium, Kampung Marlina (Harjoyo sempat mengira ini adalah nama artis), Kampung Kerang Ijo, Kampung Blok Empang, Kampung Prumpung, Kampung Rawa Timur, Kampung Kunir, Kampung Kali Apuran, dan Kampung Baru…

“Aku biasanya pindah-pindah dari tempat-tempat itu…,” ujar Kardi ketika itu.

Ia memang pernah bertemu dengan beberapa penjual air dan jagung. Ia tanyai, apakah mereka kenal, atau setidaknya pernah bertemu Kardi?

Ada seseorang yang mengaku kenal. Dopar, tinggal di Kampung Walang.

“Dulu dia sekamar denganku,” Dopar mengawali ceritanya.

“Lalu sekarang?”

“Dia pindah ke Kunir. Biasanya sih sekalian cari pekerjaan baru lagi,” jawab Dopar. Tapi Joyo tak sepenuhnya percaya bahwa itu adalah Kardi yang ia cari.

Kamar yang ditempati—tepatnya disewa—Dopar sempit, berlantai semen, dengan lemari pakaian yang hanya berupa kotak triplek enam pintu yang salah satunya sudanya jebol. Beda dengan yang sering diceritakan Kardi. Mungkin itu Kardi yang lain. Sayangnya Dopar mengaku tak tahu kampung asal Kardi. Tepatnya lupa. Mereka cuma sebulan sekamar.

*** mengejar mimpi ke jakarta

Tentang Hartini, Joyo juga punya potongan cerita sendiri. Berbekal kartu nama yang ia minta dari istrinya, juga ingatannya tentang kepulangan Hartini tiga bulanan silam setelah hampir lima tahun tiada kabar. Dengar-dengar Hartini sudah punya salon kecantikan sendiri di Tanah Abang.

Joyo akhirnya menyempatkan diri mampir ke Tanah Abang. Tapi dari beberapa orang yang ditanya, tak satu pun pemilik salon kecantikan bernama Hartini. Salon kecantikan itu tak sebesar seperti yang sebelumnya dibayangkan Harjoyo—yang sempat berencana menanyakan adakah lowongan pekerjaan sementara buatnya. Sebelum…

“Kamu siapa?” tanya perempuan itu.

Harjoyo melongo, setengah malu. Semula ia mengira perempuan yang mirip Hartini hanya bercanda.

“Aku Tince. Di sini tidak ada yang namanya Hartini,” jawab perempuan itu. Serius. Di tangan kanannya ada telepon genggam yang konon berharga mahal. Joyo bahkan masih ingat betul dengan telepon genggam yang tak boleh disentuh oleh siapapun itu.

“Abang salah orang. Coba cari ke tempat lain,” ujar Tince, yang lalu berlalu dengan lelaki paruh baya, entah siapa. Sepertinya lelaki yang diteleponnya tadi.

Akhirnya, tinggallah Harjoyo sendiri, memandangi kios demi kios yang berjubel di kawasan itu. Kartu nama yang bertuliskan Salon Tince urung ia perlihatkan.

*** mengejar mimpir ke jakarta

Harjoyo mulai merasa putus asa dan absurd dengan keinginannya sendiri. Jakarta terlalu besar. Mungkin itu sebabnya ia kesulitan mencari empat kawan masa kecilnya, yang juga pernah satu anggota grup jathilan yang akhirnya ia pimpin. Lagipula, apakah mereka sedia kembali mengulangi kejayaan yang sudah jadi masa lalu?

Adalah juga kejadian kemarin, ketika ia sarapan pagi di Warung Nagih pinggir Jalan Kapten Tendean Mampang. Sebenarnya ia sudah akan menyapa lelaki yang mengimami salat Subuh sekaligus mengisi kultum rutin tiap hari Jumatnya. Tapi ia tahan-tahan keinginan itu, mengingat insiden sebelumnya. Joyo tak mau disangka cari tempat tidur hanya dengan modal sok kenal. Toh ia sudah mulai terbiasa tidur di mana saja saat kantuk sudah tak tertahan.

Maka, Joyo pun mencari jawab dari pemilik Warung Nagih perihal lelaki yang ia curigai sebagai kawan lama. Dengan bekal enam puluh persen keterangan yang ia dapat dari Warung Nagih, Joyo sebenarnya sudah akan sampai ke tempat tinggal kawan lamanya itu. Sebelum kemudian ia melihat keramaian yang janggal. Ada para polisi juga yang ikut mengepung. Hingga akhirnya keluarlah dia yang Joyo sangka sebagai kawan lama; dalam keadaan tangan terborgol.

“Tersangka teroris?” pendengaran Joyo tertambat pada percakapan samar-samar orang sekitar.

Tanpa dicari, semua keterangan yang Joyo butuhkan hadir sendiri. Tentang keluarga Dur Rahman, tentang perjalanan hidupnya hingga diangkat jadi imam musala, serta dugaan-dugaan tentang bagaimana bisa Dur Rahman tersangkut jaringan teroris.

“Apa Dur Rahman punya nama lain sebelum direkrut jadi teroris?” Harjoyo sempat terlibat dengan percakapan di sampingnya.

Namun ketika info yang didapat tak jua mencukupi prasangkanya, akhirnya Joyo pun mencukupkan perburuan info tentang Dur Rahman yang sangat mirip dengan Hendro—kawan lama yang paling suka mengaji. Entah bagaimana ceritanya Hendro kemudian bisa berubah menjadi Dur Rahman…

*** mengejar mimpi ke jakarta

Harjoyo tersenyum-senyum sendiri. Beberapa orang lalu lalang di lobi Stasiun Gambir yang kebetulan berpapas pandang langsung mengalihkan tatapan. Merasa aneh. Apakah Harjoyo tersinggung? Tentu saja tidak. Ia hanya sedang melihat Kardi, Kartono, Hartini, dan Hendro yang sedang berlarian di antara lalu lalang keramaian itu. Main petak umpet. Sampai kedua mata Joyo terasa pedih dan berkabut, lalu kenangan itu memudar dengan sendirinya.

Joyo memutar tas ranselnya ke depan. Mengambil dua butir roti bulat yang ia beli sewaktu hendak mengikuti dua bocah penyemir sepatu. Ia lalu berjalan menuju dua anak berpakaian kumal yang tampak sibuk menyemir sepatu di samping kursi tunggu. Ditukarnya senyum dengan tempat duduk seorang gadis yang katanya sedang menunggu Argo Bromo Anggrek tujuan Stasiun Tawang.

“Kalian tinggal di mana?”

Dua penyemir sepatu itu menunjuk ke arah Monas. Tapi tentu saja Harjoyo yakin, tempat tinggal mereka bukanlah di sana.

“Apa kalian masih punya orangtua?”

Dua anak kecil penyemir sepatu tadi menggeleng, hampir berbarengan.

Maka, Harjoyo pun berniat menunggu hingga pekerjaan mereka selesai. Sebuah perjuangan berat melawan kantuk. Hingga ia bermimpi kembali didatangi oleh keempat kawan kecilnya yang mengajak main jathilan, tapi di Jakarta. Saat Joyo terbangun, kedua anak tadi bilang pulangnya masih nanti.

Joyo sempat berpikir untuk menginap di musala stasiun saja. Tapi musala stasiun selalu saja dipenuhi orang berganti-ganti rupa. Mungkin tengah malam baru sepi. Hingga ia kehilangan aset yang dikuntitnya tadi.

“Ke mana perginya si Rizal dan Sripin tadi?” ia pun keluar masuk stasiun, bertanya ke sana-kemari, hingga seseorang yang entah siapa kemudian memberi petunjuk.

“Ooh…, mereka biasanya tidur di taman itu,” menunjuk ke sebuah taman yang segaris dengan Monas.

Harjoyo sebenarnya sudah akan gegas menuju taman yang ditunjukkan orang tadi. Siapa tahu Rizal dan Sripin memang sudah balik ke sana—dan melupakan janjinya kepada Joyo. Tapi niat itu segera terhenti oleh sebuah dompet yang mengintip dari saku belakang seorang perempuan bercelana jeans dan kaos lengan panjang yang kebetulan tengah membelakangi tas ransel Joyo dan sibuk dengan dunia dalam telepon genggamnya.

“Tidak dosa, sebab kau dalam keadaan terpaksa,” suara itu terus saja membisiki Harjoyo. Dua hari lalu dompetnya juga raib diambil tangan nakal Jakarta. Sepertinya kejadiannya sewaktu ia mengambil wudu di musala, atau setelahnya—sewaktu menonton penangkapan Dur Rahman. Jadi ini impas.

Harjoyo sudah membayangkan pulang kampung dan kembali merekrut anggota grup jathilan yang baru—meski semuanya anak-anak. Ia mengaku kalah dengan Jakarta. Tak masalah jika harus malu dengan istri yang sebelumnya sudah menasihati. Mengapa harus Jakarta, jika di kampung pun seharusnya bisa?

Harjoyo lari tunggang langgang ketika ternyata pantat perempuan itu begitu peka dan langsung meneriakinya copet. Semua mata spontan tertuju ke arahnya. Beberapa orang bahkan sudah tersulut emosi. Hanya dalam hitungan menit, Harjoyo harus beriba-iba meminta belas kasihan. Tiba-tiba Jakarta berubah menjadi begitu besar, asing, dan garang.

Tapi untunglah semua bayangan buruk itu berhasil ditepis Harjoyo sekuat iman.

“Aku ingin jadi orang hebat!” desisnya lirih. Sebelum kemudian menyambar tas ransel—yang juga berisi kostum jathilan, menjauhi si perempuan yang masih asyik dengan telepon genggamnya. Berlari ke arah Monas.(*)

[1] Nasi pecel

[2] Batang kacang tanah yang sudah dicabut

[3] Bak kamar mandi terbuka


Ilustrasi:Oliva Sarimustika Nagung | 

mengejar mimpi ke jakarta mengejar mimpi ke jakarta mengejar mimpi ke jakarta mengejar mimpi ke jakarta

Bagikan artikel ini ke: