Menu
Menu

Oleh: Armin Bell |

Pemimpin Redaksi. Juga mengelola www.ranalino.id.


Juni 2020, Luis Thomas Ire merilis lagu “Babak Baru” di akun youtube-nya. Versi solonya naik tanggal 2. Delapan hari kemudian muncul versi ‘keroyokan’; beberapa musisi asal Nusa Tenggara Timur, yang tinggal di tempat berbeda, terlibat: Paul Hanny Wadhi, Illo Djeer, Ricky Alvino, Obeth Cealtie, David Kristomi, dan Andra. Sehari setelah meninggalkan jejak like di video terakhir itu, saya menghubungi Luis.

“Malam, Luis. Sa suka ini lagu e. Saeh Go Lino bisa pake? Maksudnya, kami garap/isi vokalnya rame-rame.” Saya tulis pesan itu via WA. Dibalas. Luis setuju. Dia kirim minus one-nya malam itu juga. Saya bagi kabar itu di grup WA Saeh Go Lino, komunitas kecil kami di Ruteng.

Singkat cerita, semua mau terlibat. Dengan kapasitasnya masing-masing, tentu saja. Yang bisa nyanyi akan nyanyi, yang bisa garap video akan bikin video, yang bisa dukung dengan doa akan berdoa dua kali lebih sering dari anggota lainnya agar project baru kami ini berjalan, yang tidak bisa menyanyi tetapi ngotot mau nyanyi diingatkan secara santun untuk terlibat di seksi keamanan saja. Sah. Disepakati. Dikerjakan.

1 Agustus 2020, lagu “Babak Baru” versi Saeh Go Lino naik di youtube komunitas ini. Kami senang. Banyak yang juga senang. Kami tambah senang. Dan di atas semua kesenangan itu, lagu ini memang bikin banyak orang senang sebab liriknya (sebut saja) tepat untuk banyak situasi.

Dari belantara yang penuh marabahaya/ Kau dan aku terpukul jatuh dan terluka/ Dengan sisa-sisa tenaga dan rasa percaya/ Terbalut lelah menyeret langkah dalam resah//

Merindukan terang jiwa, Berselimut gamang:/ Akankah semua ini kita hentikan/ Dan tersiakan segala perjuangan?//

Kita di persimpangan/ Terus berjalan dan menang/ Atau mundur dan terkalahkan/ Di sinilah kita di depan pintu gerbang/ Babak baru kehidupan.//

Kawan…ku tahu kau bimbang/ Percayalah, aku pun demikian/ Tapi janganlah semua ini kita hentikan/ Dan tersiakan segala perjuangan//

Kita di persimpangan/ Terus berjalan dan menang/ Atau mundur dan terlupakan/ Di sinilah kita di depan pintu gerbang/ Babak baru kehidupan.//

Pedih masih mendera/ Dunia masih terus dilanda/ Badai kelam yang belum mereda/ Tak perlu bersembunyi/ Kuatkan jiwa dan hati/ Cinta yang jadi haluan kita//

Tetaplah bertahan/ hingga terbitnya terang//

Siapakah yang tak pernah tiba di persimpangan? Tidak ada. Saya kira, semua pasti pernah (atau sedang?) mengalaminya.

Para musisi seperti Luis, dkk. jelas mengalaminya sebagai dampak wabah yang sedang melanda dunia ini. Mereka, sebab cafe-cafe ditutup dan acara yang biasanya melibatkan penampilan mereka batal diselenggarakan karena kita semua harus di rumah saja, tidak bisa bekerja di panggung-panggung sebagaimana biasa dan harus segera memilih: mundur dan terlupakan atau terus berjalan dan menang?

Kehadiran digital platform macam youtube dan spotify memungkinkan mereka tidak terkalahkan tetapi justru mampu membuka pintu babak baru kehidupan; kita tahu akan seperti apa nasib siapa saja yang tak berani membukanya pintu itu. Saya menduga, lagu “Babak Baru” itu mestilah lahir dari refleksi pengalaman personal profesional.

Lalu, lagu itu menjadi lagu wajib beberapa teman. Juga Yuan-Enzo-Yani, keluarga kecil yang kini sedang berjuang bersama di satu rumah sakit di Denpasar. Pasutri Yuan dan Yani merasa lagu itu begitu baik hati di tengah kerja keras mereka bersama dokter-dokter di sana agar Enzo, bayi mereka yang masih merah dapat segera sembuh dari sakitnya; tetaplah bertahan hingga terbitnya terang. Dan, tentu saja, lagu itu adalah lagu kita semua.

Corona ‘melumpuhkan’, bukan? Barangkali karena situasi lumpuh itu tak boleh dibiarkan terlalu lama, dibukalah banyak hal secara perlahan. Penerbangan antarpulau, tempat-tempat wisata, cafe-cafe, sekolah, rumah-rumah ibadah, pintu-pintu rumah bagi para tamu. Hati juga. Pikiran juga; tentang adaptasi kebiasaan baru—bahwa situasi sulit ini belum selesai dan kepatuhanmu pada protokol-protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 akan banyak membantu kita semua tetap bertahan. Hingga terbitnya terang.

Namun, tampaknya itu jadi soal. ‘Pembukaan’ tadi, oleh sangat banyak orang, dianggap sebagai pengumuman bahwa semua telah kembali ke situasi semula. Maksud saya, berapa dari sepuluh orang yang kau temui masih rajin mencuci tangan dan menggunakan masker saat bepergian? Duh… Akankah semua ini kita hentikan/ Dan tersiakan segala perjuangan?

Saya tidak tahu bagaimana menjawabnya. Yang kita punya, saya kira, adalah harapan agar badai ini segera berlalu. Tetapi kita masih di persimpangan, kawan. Terus berjalan adalah sebuah keharusan. Tetapi jangan asal jalan. Babak baru yang masing-masing akan kita buka itu haruslah babak baru yang baik. Para musisi memilih bermain di youtube. Sudah seharusnya begitu. Mereka mengisinya dengan karya-karya terbaik; mudah-mudahan youtube akan memberi mereka ‘hidup’. Yang lain, yang tidak terlampau baik memanfaatkan teknologi itu, jangan paksa diri ka! Sudah susah begini, masih tega juga kalian menjejali kami dengan konten-konten yang menyusahkan (baca: jelek) itu?

Berbaikhatilah. Terus berjalan dan menang itu bukan semata soal personal. Saya kira begitu. Kehadiranmu di mana saja sebaiknya ditujukan untuk memenangkan dirimu sendiri, sesama, dan alam ciptaan. Sebab jika tidak, bersembunyilah saja. Siapa tahu, diammu bisa membantu orang lain di bangsa yang tahun ini berusia 75 tahun ini.


Ilustrasi: Foto Kaka Ited

Baca juga:
– Sejarah, Ingatan, dan Fiksi
– Kabar Apa yang Kau Bawa dari Kosovo?

Bagikan artikel ini ke: