Menu
Menu

Kalau kau tidak dapat perempuan, sering-seringlah berdemokrasi dengan burungmu, dari diri sendiri, oleh diri sendiri, dan untuk dirimu sendiri. mimpi ular.


Oleh: Yuan Jonta |

Lahir dan dibesarkan di Ruteng. Pernah kuliah Psikologi di Jogja. Sekarang menetap di Ruteng, anggota Klub Buku Petra Ruteng.


Tadi malam, saya mimpi digigit ular. Ular itu, berwarna hijau, datang dari gua ular. Saya jatuh dengan tubuh yang kaku. Kemudian ular lain datang. Satu, berwarna kuning, merayap di atas perut saya. Satu lagi, berwarna merah melilit burung saya. Dan, dalam tatapan tidak berdaya menunggu mati dikerubung ular, datanglah ular biru, menyusup ke dalam telinga saya.

Bak diberi sihir ular, saya tiba-tiba mendapat kekuatan ular mandraguna. Mulanya saya melihat lidah saya menjulur dengan ujung yang terbelah. Saya mengeluarkan bunyi desis. Saya rasa bisa berbahasa ular.

“Oi, perutmu gendut sekali.” Terdengar suara ular yang di perut.

“Tapi burungnya kecil.” Sahut ular yang satunya lagi.

Dengan kesaktian baru itu, saya suruh ular-ular itu pergi. “Oi, jangan main di atas tubuhku lagi. Pergi sana!” Begitu kira-kira kata yang terlintas di dalam benak, walau yang keluar hanyalah desis patah-patah. Mendengar desis mandraguna itu, ular-ular itu meminta maaf, lalu kembali ke dalam gua.

Masih dalam mimpi itu, saya kembali ke rumah. Di rumah, seperempat tubuh ular yang biru keluar dari telinga saya, memberitahu bahwa dirinya sudah menyelamatkan saya, dan berarti saya berhutang budi padanya. Ia menuntut saya untuk menikahinya.

Saya bergidik, mana bisa ular kawin dengan manusia? Maka saya mintalah dulu dia untuk keluar seutuhnya, dengan dalil untuk menjernihkan dulu pikiran dari pengaruh-pengaruh ular.

Dan ketika ia keluar, ular itu kena bedal palu dari saya. Kepalanya menjadi gepeng. Saya justru bertambah takut, akan ada kesialan yang menimpa saya.

Benar saja, saat terjaga dari mimpi, hal aneh terjadi, telinga saya menjadi bengap dan bernanah. Astaga, apa saya kena sial? Saya coba merangkai hal-hal yang saya buat di hari-hari sebelum sampai pada saat saya akan tidur tadi malam. Semakin saya pikirkan, semakin saya heran. Tidak ada sebab yang bisa menjelaskan telinga yang bernanah ini.

Daripada berjulur-julur tidak jelas di rumah, saya putuskan untuk menyambangi orang-orang pintar yang saya kenal.

/Ema[1] Karel/

Ketika saya datang, Ema Karel sedang bersantai di depan rumah, di bawah pohon mangga, sedang mengunyah sirih pinang bersama istrinya, Ende Lina. Istrinya menyambut dengan ramah, sementara Ema Karel bersikap dingin-dingin saja. Mungkin begitu syarat menjadi orang pintar.

Sehabis sapaan hangatnya itu, Ende[2]Lina langsung masuk ke rumah. Sebelum berhasil saya tahan, Ema Karel sudah menahan saya lebih dulu.

“Kita sambil minum kopi to…” katanya, saya sudah kalah dominasi.

“Mimpi apa tadi malam?” Pertanyaan yang langsung membuat saya terperanjat. Sungguh bapak ini sakti mandraguna. Dengan tanpa basa-basi lagi saya ceritakan semuanya.

“Harus buat ngelong[3] itu, Nana. Kalau tidak kau bisa mati.”

Saya benar-benar bertambah takut mendengarnya. Saya tidak mempersoalkan kematian, toh semua orang pada akhirnya akan mati. Tapi, di usia semuda ini, ya Tuhan, saya belum juga menjadi berguna, orang tua pun belum sempat saya bahagiakan, dan burung saya ini, petualangan terjauhnya hanya dililit ular dalam mimpi.

Ende Lina keluar dari rumah, membawa kopi untuk kami bertiga. “Pilkada tahun ini pilih siapa?” katanya. Dan itu mengubah topik pembicaraan kami lebih hangat.

Saat hendak pulang, Ema Karel meniupkan mantra ke telinga saya, rasa pekaknya langsung hilang. Ia berjanji, besok atau lusa nanahnya juga mampat.

/Om Juan/

Saya menuju orang pintar lainnya, namanya Om Juan. Katanya dia jago menafsir mimpi, dia sarjana psikologi. Saya mendapatinya sedang merokok. Santapan jiwa, katanya.

“Oh, mimpi begitu, kau sedang dihimpit masalah, itu membuatmu tidak berdaya, sudah jelas sekali kau terhimpit sebab kau dikerubungi ular sementara tubuhmu terbujur kaku. Kejadian terakhir dalam mimpimu, berarti kau sedang dalam dilema, keputusanmu membunuh ular menandakan rasa putus asa, kau mau mengakhirinya dengan jalan pintas.”

“Mimpi itu manifestasi hasrat yang kau pendam. Dan berbicara tentang ular, sepertinya burungmu merindukan sesuatu. Ular itu tidak sembarangan datang, ular itu simbol falik, ini dikuatkan lagi oleh ular yang bermain dengan burungmu,” tambahnya, yang malah membuat saya kebingungan.

“Oh, ya, kalau kau tidak dapat perempuan, sering-seringlah berdemokrasi dengan burungmu, dari diri sendiri, oleh diri sendiri, dan untuk dirimu sendiri,” tambahnya lagi. Yang ini saya paham betul maksudnya.

“Pilkada tahun ini pilih siapa?” mungkin pertanyaan ini bisa membuat obrolan kami lebih berimbang.

“Saya tidak suka populisme,” jawabnya yang sama sekali tidak nyambung. Susah sekali berbicara dengan orang pintar. Sebaiknya saya tidak perlu berlama-lama, saya bisa gila hanya karena istilah.

/Hanes/

Malam harinya saya ke rumah Hanes. Dia bukan orang pintar, dia hanya teman saya yang amat dungu. Setelah bertemu Om Juan, saya butuh keseimbangan.

“Ole, kenapa kau tidak datang tadi siang?”

“Kenapa?”

“Itu mimpi ekor satu, hari ini angka yang keluar 41.” Jawabnya sesal, mengingat angka kupon putih hari itu. 4 itu jumlah ular, dan angka 1 menyerupai ular, analisanya. Ternyata semudah itu tafsiran mimpi saya.

Malam itu saya puas sekali, lebih karena si burung dapat petualangan baru.(*)

.

Catatan:

[1] Ema = sebutan untuk lelaki tua, bapak, kakek (bahasa Manggarai)

[2] Ende = sebutan untuk wanita tua; ibu, nenek (bahasa Manggarai)

[3] Ngelong = upacara adat berupa pemberian sesajen berupa telur ayam kampung kepada roh leluhur.


Ilustrasi: Photo by Carolina Roepers from Pexels

Baca juga:
– Pengincar Perempuan Tuantu
– Mengejar Mimpi ke Jakarta

Bagikan artikel ini ke: