Menu
Menu

Tentang literasi bergerak: Persiapkan dirimu sebaik mungkin. Jangan membuang banyak waktu hanya untuk sesuatu yang tidak mendukung pengembangan diri.


Oleh: Erik Jumpar |

Tinggal di Manggarai Timur. Pemimpin Redaksi di Tabeite.com, juga bergiat di Taman Baca Matahari, Golo Mongkok, Manggarai Timur.


Di malam yang temaram, pada 19 November 2020, saya bertemu dengan Yohan Calas, Yergo Gorman dan Damian Hambur. Mereka pengagas sekaligus pegiat di komunitas literasi bernama Cangkir 16, salah satu komunitas yang cukup intens dalam membicarakan literasi di Kota Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Bersama seduhan kopi yang terlarut dalam cangkir di Kedai KopiBee, kedai kopi pilihan baru beralamat di Kelurahan Satar Peot, Borong, diskusi kami malam itu berlangsung cukup serius. Obrolan tentang rencana kerja-kerja kolaboratif diperbincangkan dalam nuansa penuh kehangatan, termasuk ide besar untuk suatu riset pengarsipan yang harapannya dapat dikerjakan tanpa hambatan.

Kerja-kerja literasi tidak cukup bergerak sendiri. Kita sebaiknya tidak mengedepankan ego komunitas hingga menonjolkan segi eksklusif dari komunitas terkait, lalu abai terhadap kerja-kerja kolaboratif lintas komunitas. Malam itu, kami akhirnya memutuskan untuk mulai bergerak bersama melalui agenda Literasi Bergerak di SMAN 7 Borong.

Dalam perjumpaan itu, saya membawa nama media daring kami, Tabeite. Belakangan ini, atas ide dan niat baik bagi kemajuan literasi, kami sepakat agar gerakan kami tidak hanya berbasis daring, tetapi memilih suatu langkah besar untuk turut terlibat dalam kerja-kerja di luar jaringan; literasi bergerak.

Hari yang kami nanti-nantikan pun tiba, di akhir pekan penuh semangat, pada hari Sabtu (21/11/2020), kami sambangi SMAN 7 Borong. Lembaga pendidikan menengah atas ini beralamat di Desa Gurung Liwut Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur. Letaknya dua ratus meter dari jalan utama, jauh dari permukiman warga. Gedungnya berhimpitan dengan perkebunan cengkih, menambah kesan akan nyamannya proses belajar mengajar.

Saat kami tiba, matahari baru saja tampak, embun pagi masih menempel di dedaunan. Di tepi jalan Borong menuju Waling, tepat di pertigaan masuk menuju sekolah, kami disambut oleh dua orang siswa. Mereka ditugaskan oleh pihak sekolah untuk menjemput kedatangan kami.

Di halaman sekolah, tepat di bawah pohon yang berdaun rindang, sekitar limapuluh orang siswa telah menanti kedatangan kami. Peserta didik yang terlibat adalah para pengurus OSIS dan siswa/i utusan dari masing-masing kelas. Sembari mengucapkan selamat datang, mereka tersenyum sumringah, ada ketulusan yang tersirat untuk merayakan perjumpaan ini.

Tak menyia-yiakan waktu, kami mengawali kegiatan dengan mengatur buku-buku yang kami bawa. Tigapuluh enam buku dipamerkan. Acara kemudian dilanjutkan dengan memperkenalkan diri dan komunitas terlebih dahulu.

“Hari ini kita merayakan perjumpaan. Ruang temu yang akan kita jalankan demi mempersiapkan diri kita untuk mengisi hari-hari dengan ragam kegiatan yang positif,” tutur Yergo Gorman mengawali sesi perkenalan.

Yergo kemudian melanjutkan, “Literasi bergerak dengan dominasi gerakan berupa baca buku dan membagikan pengalaman membaca, tentu akan memberi pengalaman berharga dalam perjalanan akademik bagi adik-adik maupun bagi kami yang ikut bergiat di dalamnya.”

Yohan Calas kemudian menambahkan, “Kegiatan yang sedang kita lakukan merupakan salah satu jalan pembuka untuk mendukung adik-adik mempersiapkan hari esok yang lebih baik. Dengan membaca, asupan kepala kita semakin kaya dengan ilmu pengetahuan.”

Lalu Damian Hambur ikut menyampaikan beberapa hal tentang pentingnya membaca bagi masa depan. “Semakin hari tantangan kita semakin besar. Untuk menyambut tantangan zaman yang makin beragam, isi kepala kita harus diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan. Hanya dengan begitu, generasi kita akan percaya diri untuk bersaing dengan siapa saja di hari esok. Salah satu kegiatan yang mendukung hal tersebut adalah kita harus lebih giat membaca,” jelas Damian.

Ruang perkenalan berakhir. Jumlah buku yang kami bawa ternyata tidak sebanding dengan jumlah siswa yang hadir untuk melahap isi buku-buku tersebut. Untuk mengantisipasi kekurangan buku, kami membuat kesepakatan membaca secara bergilir. Peserta yang mendapatkan buku diarahkan untuk membaca buku di tempat yang terpisah dan tentu saja lebih tenang, sementara peserta yang masih menanti giliran, kami ajak untuk berbagi pengalaman tentang literasi.

“Sekarang kita sedang memasuki era digital. Demi mempersiapkan diri menghadapi era digital, kita harus lebih akrab dengan literasi,” tutur Yohan Calas membuka sesi berbagi pengalaman siang itu.

Literasi digital menjadi topik yang harus akrab dengan anak-anak zaman sekarang. Semakin hari tantangan yang dihadapi semakin berat, suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus menghadapinya dengan pola pikir yang lebih kritis.

Setiap hari, kita berpapasan dengan ragam berita yang berseliweran di media sosial. Saat kita tidak selektif dalam membaca setiap berita yang muncul, kita akan termakan berita palsu (hoax). Puncaknya pun dapat berimbas dengan kualitas diri yang semakin keropos. Literasi merupakan satu-satunya jalan untuk menyaring semua informasi yang kelak kita terima.

“Dengan literasi, pola pikir kita lebih kritis. Berita-berita palsu mampu ditangkal. Membaca akan membangun budaya yang kritis. Pikiran kita lebih runcing dalam membaca informasi yang ada,” lanjut Yohan.

Tantangan zaman di masa kini lebih besar, tentu tidak sama jika hendak dibandingkan dengan duapuluh tahun yang lalu. Anak-anak sekarang dituntut dan ditantang untuk menjadi anak zaman. Kita diharuskan untuk memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik. “Kalian harus menjadi anak zaman, bukan korban zaman. Hanya dengan begitu kita mampu bersaing dengan siapa saja yang ada di luar sana,” jelas Yergo Gorman.

Lebih jauh, Yergo mengajak anak-anak yang bergabung dalam kegiatan ini untuk menyiapkan diri sebaik mungkin. “Persiapkan dirimu sebaik mungkin. Jangan membuang banyak waktu hanya untuk sesuatu yang tidak mendukung pengembangan diri,” pungkas Yergo.

Ajakan dari Yergo Gorman sekaligus menutup sesi pertama untuk anak-anak yang belum mendapatkan giliran membaca. Sementara anak-anak yang telah membaca buku diminta untuk kembali berkumpul di titik utama, lalu memberikan buku bacaannya pada kawan-kawan yang belum mendapatkan giliran.

Di sesi dua, teman-teman pegiat mengawalinya dengan menggali pengalaman membaca dari masing-masing peserta. Isi buku yang ditanyakan berupa kutipan yang menarik dan gambaran singkat dari buku yang dibaca.

“Kerap kali kita diremehkan, bahkan dikucilkan saat kita sedang menjalankan masa kecil. Padahal kita menyimpan sejuta keunikan yang ada di dalam diri. Beruntung ada ibu yang selalu mendukung dan berdiri bersama kita,” jelas Maria Imda Kurniati.

Ia membaca buku berjudul Tak Masalah Menjadi Orang yang Berbeda karangan Kim Doo Eung. Buku itu menyadarkan kita bahwa orang-orang hebat seperti Edison, Andersen, Einstein, Bill Gates, dan lain-lain memiliki sosok ibu yang luar biasa di belakangnya.

“Saya membaca buku berjudul Kabar Dari Timur karangan Fatris MF. Buku ini menceritakan Indonesia bagian timur. Negeri kita tercinta dengan sejuta pesona yang memikat, baik budaya maupun alamnya,” jelas Yasinta Manis, peserta yang lainnya.

Usai diisi membagikan pengalaman membaca buku, teman-teman pegiat kembali mengajak adik-adik peserta saling berbagi tentang pentingnya literasi dan semangat untuk membaca sebagaimana yang telah disampaikan di sesi sebelumnya.

Setelah seluruh proses tuntas dilaksanakan, perjumpaan merayakan literasi hari itu pun berakhir. Para peserta yang sedang membaca buku kembali diarahkan untuk berkumpul di titik utama. Kami lalu menyampaikan limpah terima kasih atas partisipasi aktif dari seluruh peserta dan dukungan dari pihak sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Terima kasih perjumpaan, panjang umur literasi.(*)


Baca juga:
– Guru | JANGKA
– Pengakuan Che | CERPEN

Bagikan artikel ini ke: