Menu
Menu

Intimina// seluruh awal dan akhir/ terletak pada bibir


Oleh: Ayu Ruhyuni |

Lahir dan besar di Makassar. Aktif berkontribusi pada kegiatan komunitas literasi Rumah Baca Philosophia dan Toko Buku Dialektika. Alumnus Universitas Hasanuddin.


Duniamu

Duniamu adalah frasa “aku mencintaimu”, kau ulangi ribuan kali untuk melumat payudaraku secara cuma-cuma

Duniamu adalah ledakan emosi yang diterima oleh mata, pipi, perut, betis, klitoris, dan seluruh jengkal kulit lebamku

Duniamu adalah dunia sekeliling termasuk desa terasing kecuali dapur dengan semua jenis panci dan pisau yang tergantung di sana

Duniamu adalah pulang ke rumah ongkang-ongkang kaki, minta kopi di atas baki, dan melempar kancut putih yang mesti kucuci sepulang kerja nanti

Duniamu adalah upah lima belas ribu per jam, ketika aku menerima tujuh ribu lima ratus setiap sabtu, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun, dan terus begitu

Duniamu adalah promosi jabatan yang mengetuk pintumu, namun tak pernah muncul mengintip pintuku sebab aku tak ada—sedang menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui

Duniamu adalah ruang rapat paripurna yang dihentikan sebab pembahasan rancangan undang-undang yang kusodorkan terlalu sulit untuk dipikirkan oleh otak, dompet, dan buah zakarmu

Duniamu adalah segala hal yang tidak ada aku di dalamnya

.

Tiara; Drama 4 Babak

1/
Di hadapan meja rias, pukul dua pagi
Tiara bercermin dan tertawa sendiri
Apa yang lucu dari pantulan jam dinding?
Jam-jam senggang seorang sarjanakah?
Atau detak detik dan keluh kesah yang bosan?

Tiara baru lelap ketika Fajar memanggil

2/
Di hadapan meja belajar, pukul empat pagi
Tiara memotret selfie dan bersungut sendiri
Apa yang menjengkelkan dari sekutip foto?
Tumpukan buku mahal rujukan tesiskah?
Atau biaya rencana pelesiran yang tak terjangkau?

Tiara baru lelap ketika Ayam memanggil

3/
Di hadapan meja kerja, pukul enam pagi
Tiara meremukkan kalender dan marah sendiri
Apa yang dongkol dari rentetan tanggal dipenuhi janji?
Cicilan panci menunggu pada akhir bulankah?
Atau rencana belaian tak pernah dapat kesempatan?

Tiara baru lelap ketika Kereta terakhir memanggil

4/
Di hadapan meja penghulu, pukul delapan pagi
Tiara menunduk dan melamun sendiri
Apa yang hening dari hiasan kembang kantil?
Surga menjelma kebaktian pada suamikah?
Atau tangisan bocah-bocah ditinggal ayahnya?

Tiara baru lelap ketika Suami memanggil

.

Cut, Nyak Dende~

Dari atas pelana kuda, Cut bersiap-siap
Meluapkan amarah, mengikat kelam babad
Melempar hari lalu seperti lembing
Jauh ke garis horizon, lalu kembali terpelanting
Jauh ke masa kini, tempat cicit kulantuk merinding
_____ Sebab melewati gang sempit pukul dini hari
_____ Kayaknya lemparan koin nasib seorang gadis
_____ Masihkah dia suci saat pulang nanti

.

Tragedi

Dari genggaman ayah tiri
Pemakaman datang dalam dua hari

Sehari menggelapkan, sehari membutakan angan
Sehari memucat, sehari memutih seperti buih
Sehari menangisi, sehari meratapi satir komedi
Sehari mengkhayal, sehari melamunkan liang lahat
Sehari menipu, sehari merampok hampa pelukan
Sehari mengheningkan, sehari menulikan teriakan
Sehari bergemuruh, sehari berserak kekalutan

Sehari ibuku, sehari lagi aku

.

Intimina

Seluruh awal dan akhir
Terletak pada bibir

Lalu revolusi mengalir
Bermuara pada hilir

Mengecup segala perkara
Lalu disiram dengan air

Mati rasa dan tetap berdarah
Maka, nikmat mana lagi
Yang kau dustakan?

.

Induksi

Jika cinta_________secepat apa
Meminta _________kau sambut
Kematianmu _____ tegur sapa
Untuk bertemu __ malaikat maut?

.

Satu Perintah Tu(h)an

Dengan lantang aku bacakan,
Sepuluh permintaan pada Tu(h)an:

menendang bola pinalti ___ ____ mendaki gunung bulusaraung
mengayuh sepeda jauh ______ ___ menyandang gelar profesor
bulumata bebas dari maskara __ airmata bebas kapan saja
menyatakan cinta sukarela_____ menikahi lelaki feminis
tidak ingin mencuci piring _____ tidak mau menimang budak

__________________ atau aku mati saja!

Kutebak; Langit membentangkan tangannya menyambutku.


Ilustrasi: Photo by Aksonsat Uanthoeng from Pexels intimina

Baca juga:
– Puisi-Puisi Rachmat Hidayat Mustamin – Delapan Sekuen
– Puisi F. Aziz Manna – Golek
– Puisi-Puisi Afri Meldam – Garis Air

intimina

Bagikan artikel ini ke: