Menu
Menu

Ervina membatin bahwa rasa-rasanya dia ingin menjadi seperti induk kucing itu.


Oleh: Abul Muamar |

Lahir di Perbaungan, Serdangbedagai, 6 November 1988. Alumnus Pascasarjana Filsafat UGM.Buku cerpennya, Pacar Baru Angelina Jolie (Gorga, 2019).


Setelah dipiara selama tiga tahun, setelah sempat dikira mandul, kucing milik Ervina Yana akhirnya melahirkan. Ervina tidak menyaksikan detik-detik ketika kucingnya mengejan. Tahu-tahu, suatu hari ketika dia masuk ke kamar untuk tidur siang, dia mendapati bagian tengah kasurnya kotor oleh darah yang belum lagi mengering. Di bagian pinggir kasur yang bersih dan kering, tanpa merasa bersalah karena sudah mengotori kasur, induk kucing itu menjilati tiga anaknya yang baru saja lahir.

Kekesalan karena mendapati kasurnya dikotori hanya sempat terbit sesaat dalam benak Ervina. Diperhatikannya kucingnya menjilati anak-anaknya dengan penuh ketakjuban. Sesekali kucingnya berhenti dan balas menatap wajahnya dan mengeong pelan karena tahu sedang diperhatikan.

Hanya satu dari tiga anak kucing yang baru lahir itu yang warnanya serupa dengan induknya; namun, tak seperti induknya yang bulunya hitam semua, pada leher si anak kucing ada garis putih melingkar yang, ketika beranjak remaja, terlihat seperti dipakaikan kalung. Satu yang lain berwarna kuning bergaris-garis putih pada bagian perut, sedangkan yang satunya lagi berwarna cokelat keemasan. Tak cuma itu, ekor anak-anaknya juga pendek, tak seperti induknya yang ekornya panjang kurus.

Selagi memerhatikan kucingnya menjilati anak-anaknya, Ervina membatin bahwa rasa-rasanya dia ingin menjadi seperti induk kucing itu. Tapi, itu jelas mustahil. Evolusi selama ribuan tahun, demikian yang dia baca dari buku-buku sains, membentuk manusia menjadi mamalia paling rentan sejak dalam kandungan.

**

Sudah hampir empat bulan Ervina Yana berpisah dari suaminya. Meski belum resmi bercerai, suaminya pergi meninggalkannya demi bersenang-senang dengan perempuan lain yang lebih muda. Dalam curhatan yang diunggahnya di Facebook, dia menuliskan predikat perempuan lain itu sebagai ‘pelakor’ meski dia tahu belaka bahwa perempuan itu tidak merebut suaminya secara aktif, melainkan suaminyalah yang justru memburu wanita itu. Pikiran patriarkis dalam alam bawah sadarnya yang terbentuk oleh lingkungan tempat dia dibesarkan, mendorongnya untuk menyebut perempuan lain itu dengan predikat seperti itu. Terlepas dari itu, tidak sulit baginya untuk menjadi terbiasa hidup sendiri. Dia menganggap bahwa menjanda jauh lebih terhormat ketimbang menjadi istri seorang lelaki pengkhianat. Dia pun menolak mentah-mentah proposal yang diajukan suaminya perihal niat ingin menjadikan perempuan lain itu sebagai istri kedua dan menegaskan kepada suaminya bahwa “lebih baik tak bersuami daripada dipoligami!”.

Maka, ketika ia tak sengaja membaca sebuah berita yang melintas di Facebook tentang istri seorang direktur sebuah bank syariah yang sampai bergetar suaranya dan berkaca-kaca matanya saat menjadi saksi pernikahan sang suami dengan perempuan lain yang lebih muda dan segar, Ervina tak bisa menahan diri untuk tidak menyumpah serapah.

“Bajingan! Punya istri baik dan setia malah dimadu,” tulisnya pada kolom komentar tautan berita itu. Komentarnya itu pun mendapat ratusan likes dari netizen lain.

Ervina lebih mudah mengusir kesepian berkat keberadaan kucingnya. Sekarang rumahnya bahkan menjadi lebih ramai karena kucingnya bertambah tiga. Tiga anak kucing itu tumbuh sehat dan lincah. Kecuali saat tidur dan makan, anak-anak kucing itu tak sudah-sudah bermain, berlari-lari dari sudut ruangan yang satu ke sudut yang lain. Kadang-kadang salah satu di antara mereka akan bersembunyi di balik pintu atau di bawah kolong lemari, sementara yang lain mencari-cari. Kemudian mereka akan saling berdiri seperti seekor kuda terlatih dan saling menerkam dan bergumul ketika yang bersembunyi itu keluar dari persembunyian.

Lain waktu ketika sedang rebahan bersama induknya setelah puas menetek, anak-anak kucing itu akan menangkap ekor induk mereka yang sepertinya memang sengaja digerak-gerakkan oleh si induk. Ervina terharu setiap kali memerhatikan tingkah laku anak-anak kucing itu. Keharuannya menjadi-jadi saat tiga anak kucing itu saling berpelukan ketika tidur. Kadang-kadang sewaktu tidur, anak-anak kucing itu akan saling menindih, menjadikan tubuh saudaranya sebagai bantal.

**

“Tidak ada laki-laki yang lebih kejam daripada suami yang meninggalkan istrinya yang tengah dirundung duka,” ujar tetangganya, Bu Renggo, yang rutin mengunjunginya semenjak dia kehilangan bayi.

“Tidak apa-apa, Bu. Saya juga sudah melupakannya.”

“Ya, setidaknya kalaupun dia tidak bisa menghiburmu, jangan pula dia selingkuh sama si pelakor itu.”

“Sudahlah, Bu. Tak usah bicarakan itu lagi.”

Ervina semakin tegar dari hari ke hari. Kepada tetangganya yang kepo namun baik hati itu, dia katakan bahwa dirinya sudah melayangkan gugatan cerai.

“Ibu dukung keputusanmu, Er. Kamu masih muda. Kamu bisa menikah lagi. Pasti banyak laki-laki yang mau sama kamu.”

Ervina tidak menanggapi perkataan Bu Renggo yang terakhir itu kecuali hanya dengan senyuman kecil sambil mengelus-ngelus salah satu anak kucingnya yang sedang duduk di pangkuannya. Sesudah itu dia kembali menyampaikan kepada tetangganya itu, sebagai penegasan, bahwa dirinya baik-baik saja tanpa seorang suami.

**

Suatu pagi tiga bulan yang lalu, ketuban Ervina pecah. Suaminya tak di rumah dan memang sudah tak pulang sejak sepuluh hari sebelumnya, pergi bersama si perempuan lain itu. Bu Renggo, yang mengetahui keadaannya setelah mendengar jeritannya, cepat-cepat membangunkan suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai penarik becak.

Karena klinik bersalin di dekat rumah mereka tak beroperasi semenjak wabah, Ervina dibawa ke rumah sakit meskipun mereka tahu biayanya akan jauh lebih mahal.

Pak Renggo tancap gas menuju rumah sakit yang dikenal sebagai rumah sakit spesialis persalinan di kota itu. Ervina duduk bersama Bu Renggo di bak becak. Tendangan bayi dalam perutnya beberapa kali dirasakannya, mendesak-desak ingin segera dikeluarkan.

Tiba di rumah sakit, Ervina, didampingi Bu Renggo, diterima oleh seorang perempuan muda yang dari penampilan dan caranya melayani, langsung terketahui bahwa dia mahasiswi yang sedang magang. Anak magang itu terlihat canggung saat menyilakan Bu Renggo untuk membantu Ervina mengisi formulir pendaftaan pasien.

“Kamu sajalah yang mengisikan. Ini orang sudah buru-buru mau melahirkan,” bentak Bu Renggo.

Tepat ketika Bu Renggo menyampaikan itu, seorang resepsionis yang lebih tua yang merupakan pegawai tetap rumah sakit itu langsung mengambil alih peran si anak magang.

“Ibunya mau bersalin ya?” tanyanya kepada Bu Renggo sambil menoleh ke Ervina.

“Iya, sudah pecah ketubannya. Tolonglah cepat ditangani,” jawab Bu Renggo mewakili Ervina. Ervina cuma bisa merintih menahan sakit.

“Sudah ada hasil swab test-nya, Bu?”

Ervina dan Bu Renggo saling menoleh. Sesaat ketika mereka saling bertatap-tatapan, sakit yang dirasakan Ervina menghilang. Dari kebingungan yang tampak kentara di wajah mereka, si resepsionis dapat menangkap bahwa Ervina belum memiliki hasil swab test.

“Kalau belum ada, ibu harus dites swab dulu, ya. Di rumah sakit ini juga menyediakan layanan tes swab, kok,” kata si resepsionis. Ia lantas meminjam KTP Ervina untuk mengisikan biodatanya.

“Ya, sudah, terserah kalian sajalah bagaimana bagusnya,” kata Bu Renggo.

“Untuk biayanya dua juta tiga ratus ribu ya, Bu. Nanti dibayar di kasir terlebih dahulu, baru nanti kita lakukan tes swab-nya.”

Ervina yang mendengar perkataan si resepsionis terkejut. “Dua juta tiga ratus ribu?” tanyanya memastikan.

“Iya, Bu. Dua juta tiga ratus ribu,” kata si resepsionis, “Untuk biaya bersalinnya nanti berbeda lagi. Dua juta tiga ratus hanya untuk swab test-nya saja.”

“Saya tidak punya uang segitu.”

Si resepsionis cengar-cengir. Ekspresi wajahnya menunjukkan keprihatinan yang dipaksakan.

“Saya tidak punya uang segitu!” ulang Ervina, kali ini dengan nada meninggi karena melihat si resepsionis tak bersimpati padanya.

“Mungkin bisa ditransfer, Bu, melalui ATM-nya.”

“Saya tidak punya uang segitu, bukan tidak membawa ATM!”

“Mohon maaf, Bu, kalau begitu mungkin ibunya bisa hubungi suaminya dulu…”

“Dia tidak punya siapa-siapa. Suaminya minggat. Semua saudaranya sudah meninggal!” potong Bu Renggo, ketus. Dia mulai kehilangan kesabaran. “Saya pun tidak punya uang segitu. Suami saya cuma tukang becak.”

Kedatangan pasien lain yang hendak bersalin membuat si resepsionis jadi punya alasan untuk mengabaikan mereka.

Bu Renggo dan Ervina beranjak menjauh dari meja resepsionis. Ervina menangis menahan sakitnya, sementara Bu Renggo memeluk dan menenangkannya.

“Rumah sakit anjing ini! Ayo ke rumah yang di sana itu, Pak,” kata Bu Renggo kepada suaminya.

Di jalan menuju rumah sakit kedua, Pak Renggo menanyai istrinya apa yang terjadi di rumah sakit pertama. Mendengar penuturan istrinya membuatnya menyumpah serapah sepanjang jalan. Saat tiba di rumah sakit kedua, karena tak ingin pengalaman serupa terulang, Pak Renggo ikut turun dari becak, masuk ke dalam rumah sakit. Diparkirkannya becaknya sembarangan di tepi jalan.

Rupanya di rumah sakit kedua pun prosedurnya sama saja: Ervina harus menjalani tes swab terlebih dahulu dengan biaya Rp2,3 juta. Tak mau menghabiskan waktu sia-sia mengingat keselamatan Ervina dan bayinya, mereka langsung bergegas meninggalkan rumah sakit itu dan pergi ke rumah sakit yang lain lagi yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari rumah sakit itu.

Mereka tiba di rumah sakit ketiga hampir satu jam kemudian. Petugas rumah sakit ketiga ini cukup berbaik hati, demikian anggapan awal Ervina dan Bu Renggo serta suaminya. Mereka menawarkan biaya swab test yang jauh lebih murah kepada Ervina, yakni Rp600 ribu dan Ervina pun menyanggupinya. Mereka juga langsung memeriksa bayi dalam kandungan Ervina setelah mengambil sampel lendir dari hidung Ervina.

Sebentar kemudian, dengan wajah penuh penyesalan, seorang dokter menghampiri Ervina dan memberitahukannya secara hati-hati bahwa janin dalam kandungannya sudah tidak bernyawa.

“Kami turut berduka dan prihatin atas kejadian ini,” kata dokter.

Tangis Ervina pecah. Para petugas mencoba menenangkannya. Namun, semakin ditenangkan, semakin menjadi-jadi tangisnya.

Ketika tangisnya mereda setelah ditenangkan oleh Bu Renggo, Ervina kembali masuk ke ruangan tempat bayinya diperiksa. Dia meminta agar mayat bayinya segera dikeluarkan dari perutnya.

“Walaupun dia sudah meninggal, saya tetap ingin melihatnya,” katanya memohon kepada petugas yang dikiranya seorang dokter.

Namun, jawaban petugas rumah sakit sungguh tak disangkanya.

“Mohon maaf, Bu, bayi ibu belum bisa dikeluarkan sekarang, karena harus menunggu hasil swab test-nya terlebih dulu,” kata si petugas.

“Kapan itu, Pak?” tanya Ervina, nanar, dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya.

“Kalau untuk tes swab keluarnya lima hari, Bu,” kata petugas itu.

“Maksud Anda, lima hari lagi baru bayi saya bisa dikeluarkan dari perut?”

“Iya, Bu.”

“Lima hari kaubilang?”

Ervina mencoba mencekik leher petugas itu namun justru pada saat itu dirinya tumbang.(*)


Ilustrasi: Photo by Dids from Pexels

Baca juga:
– Puisi-Puisi Ilham Rabbani – Membaca Perbatasan
– Puisi-Puisi Wisława Szymborska – Autotomi

Bagikan artikel ini ke: