Menu
Menu

Siapakah puteri itu? Bagi saya Maryam adalah kenyataan yang sangat mengena dengan perempuan mana pun di seluruh dunia. puteri


Oleh:Regina M. Sweetly |

Mahasiswa Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin. Tinggal di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dapat dihubungi via instagram @regina_meicieza dan email: regina.sweetly@gmail.com


Identitas Buku

Judul Buku: Panggil Aku Maryam
Kategori: Social Sciences
Penulis: Lesley Hazleton
Penerjemah: Muhammad Isran
Editor: Muhammad Ali Fakih
Cetakan Pertama: Maret 2020
Penerbit: IRCiSoD

Diterjemahkan dari Maryam Histories-Mary: A Flesh and Blood Biography of The Virgin Mother, terbitan New York: Bloomsbury Publishing 2004.

*

Pengantar

Siapakah puteri itu yang datang sebagai fajar menyingsing kemerah-merahan, indah penaka bulan, gemerlap laksana surya, dahsyat bagaikan bala tentara yang siap sedia bertempur? Pernahkah saudara mendengar, membaca, atau mengucapkan kalimat tersebut? Jika saudara adalah seorang legioner, pasti saudara sudah sangat familiar dengan kalimat itu. Tidak sekadar membacanya lurus-lurus, saudara sudah melantunkan kalimat itu dengan nada yang indah seperti ketika saudara mendoakan Catena Legionis. Kalimat itu berasal dari Kidung Agung 6:10. Sebuah kidung yang berisi syair pujian. Siapakah puteri itu?

Ya, ia adalah Maria. Maria digambarkan sebagai seorang puteri yang datang sebagai fajar/matahari/cahaya. Cahaya sendiri identik dengan sang terang yaitu, Allah sendiri. Maria oleh otoritas Gereja Katolik memberinya gelar Theotokos, yang berarti “Yang Melahirkan Allah” atau “Bunda Allah”. Masakkan perempuan yang melahirkan Allah tidak lebih menakjubkan dari penggambaran Allah? Sudah layak dan sudah sepantasnya, jawab umat beriman. Bagaimana bisa seorang Theotokos bisa menjadi amat dihormati di suatu tempat, sementara di tempat lain tidak dipandang sama sekali? Apakah gelar Theotokos amat berlebihan sehingga umat tertentu takut mendengarnya?

Saya ingat, pertama kali menginjakkan kaki di Gua Maria paroki St. Fransiskus Asisi Makassar. Waktu itu masih sangat kecil untuk bisa memahami betul alasan perlunya berkunjung ke Gua Maria dan berdoa. Siapa perempuan berjubah biru dengan kerudung menutupi kepalanya dan ular di bawah kakinya? Mengapa ia harus berada di sana, berdiri di sudut-sudut sepi gereja? Seistimewa apakah hidupnya? Apakah ia memang hanyalah manusia biasa? Puteri

Dia orang dari masa lalu yang sangat ingin saya temui setelah Puteranya, Yesus. Sungguh, melihat patung dan lukisannya sudah membuat saya terkesima. Oma saya memajang patung Bunda Maria di sudut ruang tamu, yang akhirnya saya pindahkan ke kamar saya. Penampakannya dalam wujud patung tidak serta merta membuat saya yakin bahwa itulah wujud aslinya. Apakah wujudnya persis seperti yang dilukiskan oleh Fra Angelico[1]?

Pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya muncul dan selama ini lebih sering saya abaikan. Saya pikir, sikap kritis sama sekali tidak diperlukan sebagai orang beriman. “Hus, hati-hati!” Seru ibu saya ketika saya mulai mengajaknya berdiskusi soal-soal agama. Tapi saya tidak bisa mengelak bahwa banyak pikiran dan pertanyaan liar menghantui saya. Sampai akhirnya menemukan jawaban sedikit demi sedikit.

Pelajaran di sekolah Katolik selama sembilan tahun, dan beberapa pengalaman mengikuti kegiatan kategorial gereja seperti Legio Maria selama dua tahun belakangan ini, mempengaruhi cara pandang saya. Saya menyangka bahwa saya sudah sangat mengenal Maria. Saya juga sadar, perjalanan spiritual masih terus berlanjut. Masih saja pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan menyisihkan ruang kosong. Pertanyaan-pertanyaan itu menuntut jawaban yang lebih dalam, dan jawaban-jawaban yang ada menuntut perspektif yang lebih beragam. Pertanyaan yang secara sadar saya ucapkan dan secara kolektif dilantunkan bersama saat saya memimpin rapat rutin Legio Maria: Siapakah puteri itu?

Apakah Maria Sama dengan Maryam?

“Kalau ditanya apakah sama, Maria yang dikenal dan diimani oleh orang Katolik dengan Maryam yang ada di dalam Al-Qur’an? Sama!” Ujar Mgr. Kornelius Sipayung dalam talk show Legio Maria dengan tema Viat Voluntas Tua pada Oktober 2020 lalu. Saya berasumsi bahwa mayoritas umat dari agama-agama Abrahamik sudah tahu akan hal tersebut.

Hazleton memiliki pandangan yang berbeda. “Maria adalah sebuah legenda, sedangkan Maryam adalah kenyataan”. Hazleton berusaha untuk mengembalikan sosok aktual Maria. Itulah ide utama tulisannya. Ia tidak secara eksplisit menanggalkan dogma yang dilekatkan pada diri Maryam selama berabad-abad lamanya. Justru menurutnya, dogma merupakan permukaan luar suatu agama yang perlu diselami. Hazleton berhasil mengantar pembacanya menyelam ke dalam dunia Maryam melalui sastra dan tanpa sama sekali mengabaikan keakuratan data. Karya yang sangat ilmiah namun disajikan dalam bentuk sastra, menurut saya brilian sekali, seperti ketika Yesus mengajar murid-muridnya lewat perumpamaan.

Maryam adalah seorang gadis penggembala-tani yang hidup di Nazareth, tepatnya di Perbukitan Galilea paling selatan. Tidak terlepas dari konteks sosio-kulturnya, Hazleton menggambarkan bahwa kehidupan Maryam begitu keras, sehingga hidup menjadi begitu singkat untuk Maryam mengenal yang namanya masa muda/masa remaja. Sangat beruntung jika seorang bayi dapat melalui minggu pertama setelah kelahirannya dan mencapai usia sepuluh tahun yang rentan terhadap penyakit, infeksi, dan kematian akibat kekejaman manusia. Ternyata, Maryam sudah cukup dewasa ketika ia hamil di usia 13 tahun.

Orang Tua Maryam

Hazleton masih menyisakan teka-teki perihal orang tua Maryam yang selama ini kita yakini bernama Anna dan Yoakim atau dalam ajaran Islam, Hannah dan Imran. Kisah Anna dan Yoakim berasal dari Injil Apokrif terbilang sangat baru, lantas mengisi ruang kosong yang sangat luas dalam Injil Matius dan Lukas. Tidak hanya mengisi ruang kosong di dalam Injil, Hazleton berhasil merekonstruksi perihal keperawanan Bunda Maria. Bagaimana kemudian seorang perempuan yang melahirkan dikatakan sebagai seorang perawan? Lalu siapakah ayah biologis Yesus sebenarnya? Yusuf kah? Ke mana ia setelah peristiwa hilangnya Yesus dalam kerumunan, yang akhirnya ditemukan dalam Bait Allah? Di mana Yusuf saat Yesus dijatuhi hukuman mati di salib? Lalu bagaimana Maryam menjalani hidupnya setelah Yesus bangkit dan naik ke surga?

Hazleton tidak ingin terlalu berspekulasi tentang siapa orang tua Maryam. Sebaliknya, ia menghadirkan sosok perempuan tua bijaksana yang mendidik dan membesarkan Maryam menjadi seorang tabib yang handal. Olehnya, Maryam sejak dini telah belajar tentang persalinan, seni dan ramu-ramuan herbal, organ-organ tubuh, dan cara merawat orang-orang yang mengidap berbagai macam penyakit. Salome telah mentransmisikan pengetahuannya kepada Maryam, dan Maryam kepada Yesus, Puteranya. “Pengetahuan itu sendiri adalah kehendak Tuhan,” kata Salome. Tanpa pengetahuan, jelas Salome, Maryam, maupun Yesus takkan mampu berbuat banyak dan tak akan mungkin kita dengar namanya hari ini. Puteri

Praktik penyembuhan tradisional dan herbal alami yang bercampur dengan agama, kerap diejek sebagai takhayul. Praktik sihir dan primitif di zaman Maryam bahkan sampai abad ke-21 ini. Dengan keahlian mereka, Salome dan Maryam menyelamatkan orang-orang miskin, lemah, tertindas dan terpinggirkan. Salome, Maryam, dan tabib perempuan lain, bisa mempunyai kemampuan yang tidak kalah dari tabib atau imam dalam bait Allah. Entah praktik penyembuhan tradisional maupun modern, sama-sama telah sepakat bahwa apa yang terjadi di dalam pikiran dapat mempengaruhi tubuh. Di sinilah pentingnya kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan keimanan (agama dan kepercayaan yang dianggap takhayul); betapa meresahkan ketika ada orang yang selalu berusaha membenturkan keduanya.

Yesus, Anak Seorang Perempuan

Menyoal kehamilan Maryam, sebagai praktisi penyembuh, ia pasti paham tentang kontrasepsi dan aborsi. Ia bisa saja memilih hamil atau tidak. Ia juga bisa saja menggugurkan kandungannya sebab ia tahu caranya. Apakah dengan pengetahuan yang ia miliki, sudah pasti ia akan melakukan aborsi? Atau malah ia berani memilih untuk melahirkan dan membesarkan anaknya? Saya tidak akan mengadili pilihan hidup saudara.

Namun, Maryam merupakan perempuan yang mengambil keputusan dan ia memegang teguh keputusan itu. Kendati ia tahu cara menggugurkan kandungan, ia memilih untuk melahirkan dan membesarkan anaknya. Hazleton menyebut dalam istilah anyar sekarang, Maryam adalah seorang pro-life sekaligus pro-choice. Istilah ini muncul pertama kali di Amerika Serikat pada akhir 1960-an (dan awal 1970-an) dalam konteks debat nasional yang memanas soal legalisasi aborsi. Di dalam tulisannya, Hazleton tidak mengurainya secara jelas sehingga diperlukan sebuah diskursus untuk mengupasnya.

Apakah Maryam benar-benar perawan? Pertanyaan sederhana, namun ketika diutarakan bisa berarti keluguan orang beriman atau malah terkesan sebagai olok-olokan. Bisa dikata tidak ada orang yang terobsesi untuk mencari tahu dan berharap bahwa segala sesuatu bisa dijelaskan, termasuk keperawanan Maryam. Namun, tetap saja kita bisa menemukan pertanyaan seperti itu. Keperawanan Maryam sangat penting. Lalu mengapa itu penting?

Maryam sebagai seorang perawan seakan menunjukkan bahwa ia adalah makhluk aseksual. Hal itu pun menyangkal kemungkinan yang lain bahwa Maryam mungkin saja sudah memiliki anak sebelum Yesus, mungkin saja ia diperkosa oleh seorang pemuda di desanya sendiri, atau diperkosa oleh tentara Romawi, atau mungkin saja diperkosa oleh Imam Bait Allah dan mencarikan suami atau Ayah pengganti bagi Maryam dan bayinya; seperti pada kejadian nyata yang dialami Linda Lawless[2] yang baru mengetahui bahwa ayah biologisnya adalah seorang pastor ketika usianya sudah 50-an tahun. Kemungkinan yang lain, Maryam diperkosa untuk melunasi utang-utang mengingat kondisi sosial-kultur pada waktu itu. Saudara bisa membaca penjelasan yang utuh di buku. Yang jelas keperawanan Maryam tidak pas apabila ditentukan lewat selaput dara.

Menganggap bahwa perempuan yang diperkosa kotor, hina, dan jauh dari martabat merupakan kesalahan besar. Kesannya kita telah bersekongkol dengan si pelaku pemerkosaan. Mengingat baik Maryam maupun perempuan mana pun di seluruh dunia telah, sedang, dan sangat berpeluang untuk diperkosa.

Hazleton menawarkan satu cara pandang yang sangat lazim dan manusiawi. Kehamilan Maryam dipandang sebagai misteri kesuburan sehingga pertanyaan siapa ayah biologis Yesus sebenarnya menjadi tidak berarti apa-apa. Yesus mungkin saja mengenal ayahnya, dan mungkin juga tidak. Yang terpenting dari semua itu adalah, Ia merupakan anak dari seorang perempuan, dan itu lebih dari segalanya. Yesus tanpa Yusuf baik-baik saja. Tetapi sangat sulit membayangkan Yesus tanpa Maryam ibunya. Ibu yang memilih untuk melahirkan, membesarkan, dan mengajarinya, semua yang ia ketahui.

Teladan Maryam

Hazleton tidak hanya berusaha menyelamatkan dunia Maryam ibu Yesus, tetapi juga perempuan-perempuan Maryam lainnya. Herodias yang meminta kepala Yohanes, sampai Maria Magdalena yang dikenal sebagai pelacur.

Maria Magdalena mendapat tempat yang sangat istimewa bagi Yesus. Maryam dan perempuan-perempuan inilah yang juga menjadi inspirasi ajaran Yesus; dapat saudara temukan pada khotbah di atas Bukit. Aib menjadi kebanggaan, kekerasan menjadi kelembutan, kehinaan menjadi kasih sayang, ketidakpercayaan menjadi kesetiaan, merupakan esensi ajaran Kristianitas yang diajarkan Yesus.

“Maria terkenal karena apa? Karena kedukaannya.”

Saya ingat persis kata-kata Pastor Sam ketika pertama kali mengikuti seminar pada kegiatan Acies Legio Maria. Hazleton-pun tetap mempertahankan sosok Maryam sebagai ibu yang berduka. Tidak ada penghiburan. Dalam kedukaannya itu, Maryam sudah tahu konsekuensi dari semua yang telah ia ajarkan pada Yesus. Ia tahu bahwa para pejuang akan berakhir dengan hukuman bahkan digantung di atas kayu salib. Setidaknya ia yakin bahwa itu semua tidak sia-sia. Sesungguhnya, Maryam jauh dari kata menderita, pasif, dan diam. Ia tahu persis apa yang mesti ia perbuat. Saya pikir inilah sebabnya ia dijadikan sebagai pedoman umat beriman.

“Kita semua bersifat ilahiah,” Maryam mengingatkan mereka. Meyakini bahwa Allah hadir di dalam diri setiap orang adalah ancaman bagi kaum aristokrat, dan Maryam bersama perempuan-perempuan cahaya telah menciptakan bentuk awal dari teologi pembebasan. Menarik ketika teologi pembebasan sebenarnya berakar pada diri (tubuh dan jiwa) seorang perempuan. Munculnya teologi pembebasan pada abad 20 sebagai usaha untuk mengkontekstualisasi ajaran dan nilai-nilai agama, di saat kondisi ekonomi dan politik sudah sangat menyengsarakan rakyat. Seperti oase di tengah gurun pasir, Maryam dan Puteranya hadir sebagai penyelamat kaum miskin dan tertindas.

Apa yang membuat diskursus tentang teologi pembebasan dinilai kurang cocok di Asia termasuk Indonesia? Apakah benar bahwa pengetahuan kita tentang sosok Maryam benar-benar telah dikaburkan oleh dogma-dogma tentangnya?

Kita selalu mendambakan permenungan yang berakar pada masalah-masalah konkret. Apakah selama ini permenungan kita keliru dan kita salah berdoa? Apakah kita sudah sangat jauh dari ajaran Maryam dan Yesus, yang sebenarnya sungguh sangat memperhatikan dan membela kaum-kaum miskin dan tertindas?

Melihat latar belakang sosial kultur yang dipaparkan oleh Hazleton dalam buku ini, Maryam dan Yesus tidak pernah jauh dari kaum miskin dan tertindas. Jika ada kekurangan dalam buku ini, maka itu adalah Hazleton perlu mengelaborasi teologi pembebasan dengan tidak tanggung-tanggung.

Penutup

Siapakah puteri itu? Bagi saya Maryam adalah kenyataan yang sangat mengena dengan perempuan mana pun di seluruh dunia. Tidak sekadar menjadi kenyataan, ia juga menyembuhkan kenyataan terperih. Hazleton berhasil memberikan suatu idealisme baru kepada saya tentang sosok Maryam, perempuan yang sangat berpengaruh seantero dunia selama berabad-abad.

Buku ini sangat penting sebab tidak banyak umat/orang yang mau menerima kenyataan Maryam, dan ingin mendalami imannya sendiri tanpa perlu didikte. Selain itu untuk bahan studi dan penelitian di berbagai lintas disiplin. Akhirnya, Hazleton dengan epik menutup buku ini dengan kalimat, “Dalam ruh, semangat Maryam, kita semua adalah ia.” (*)

Puteri —-

[1] The Wall Street Journal. “Fra Angelico: Heaven on Earth Review: Pictures Fit for a Pope”, 23 Februari 2018, diakses di https://www.wsj.com/articles/fra-angelico-heaven-on-earth-review-pictures-fit-for-a-pope-1519418536, 4 Februari 2021, 18.30 wita.

[2] Abc.net.au. “The ‘hidden children’ of the Catholic Church are Refusing to Live in Secrecy Anymore”, 24 Septermber 2019, diakses di https://www.abc.net.au/news/2019-09-24/children-of-priests-connect-through-coping-international/11532668 , 4 Februari 2021, 18.00 wita.


Baca juga:
Membaca Perbatasan | Puisi-puisi Ilham Rabbani
Rumah untuk Nenek | Cerpen Goh Sin Tub

Bagikan artikel ini ke: