Menu
Menu

Home for Grandma adalah cerpen Goh Sin Tub dalam Goh’s 12 Best Singapore Stories (1993).


Oleh: Miguel Angelo Jonathan |

Berkuliah di Universitas Negeri Jakarta, berjualan buku di Toko Buku Rusa Merah. Kumpulan cerpen pertamanya berjudul Bagaimana Madelijn Mempertahankan Redoute Hollandia (2020). Menerjemahkan cerpen Goh Sin Tub.


“Mereka mengirimkan nenek mereka ke Rumah[1],” bisik May kecil pada Mama.
Dia tidak perlu berbisik. Kami berada di balkon. Jauh di bawah kami, tetangga kami membantu nenek mereka masuk ke dalam Mercedes milik mereka. Namun bisikan May dengan jelas menyampaikan perasaan kami. Ketersembunyian, malu, dan skandal dari semuanya.

“Tidak berbakti! Tidak menghargai nilai-nilai Asia!” Meng, adik laki-lakiku, bereaksi lebih terbuka. Meng berasal dari generasi etika konfusianisme di sekolah dan sangat menghargai nilai Asia. “Jangan khawatir, Ma!” dia dengan tegas meyakinkan ibuku. “Kami tidak akan mengirimkanmu ke Rumah. Tidak akan pernah!”

Mama tersenyum dan memandangi kami bertiga. Aku merasa seperti dapat membaca pikirannya. “Semoga surga mengaruniakan kalian selalu berpikir seperti itu.” Wajahnya kemudian menjadi keruh. Aku tahu dia pasti memikirkan ibunya sendiri.

Nenek saat ini tinggal bersama Paman Charles dan Bibi Helen. Dia berusia lebih dari tujuh puluh tahun dan, walaupun tua, masih berkemauan kuat. Paman dan Bibiku adalah orang yang sangat baik dalam banyak standar. Tetapi tetap saja sepertinya mereka bisa kurang pengertian pada beberapa waktu. Atau setidaknya kurang pertimbangan. Mama sering mendapatkan panggilan telepon dari Nenek ketika perempuan tua itu sedang sendirian di rumah. Percakapan ini biasanya membuat Mama sayu dan sedih.

Karena aku sudah cukup dewasa, Mama menjelaskan padaku apa yang terjadi. Paman dan Bibi tidak memperlakukan nenek dengan baik. Mereka melukainya dengan mengabaikan perasaannya. Mereka menghabiskan sedikit waktu dengannya, memberikan sebagian besar perhatian mereka kepada kedua anak mereka dan kepada masalah-masalah kecil mereka. Mereka menghibur teman-teman di rumah, yang mana membuat nenek tidak senang karena dia jadi tidak bisa membuat mereka membantunya dengan kebutuhannya.

Meskipun Bibi membiarkan anaknya sesekali menjalankan tugas nenek, dia sering menyuruh mereka belajar untuk ujian mereka yang tiada habisnya itu.

“Omong kosong saja! Bagaimana bisa ujian, ujian terus-menerus? Ketika kamu dan saudaramu sekolah, tidak pernah ujian sebanyak itu!” Nenek mengoceh pada Mama.

Mama mencoba menjelaskan. Sekarang ini, anak-anak harus mengerjakan banyak tugas dan memang benar ada banyak ujian.

“Membual saja! Kamu selalu berpihak kepada mereka.” Nenek tidak puas.
Keluhan lainnya tampak lebih serius. Seperti ketika Paman dan Bibi terlambat pulang ke rumah, lupa kalau pembantu sedang libur. Dan Nenek yang malang tidak memiliki siapa pun untuk membuatkannya makan malam. Jadi Nenek harus mendapatkan makan malamnya tiga puluh menit lebih lama dari yang biasanya.

“Kenapa mereka harus selalu pergi? Kerja, kerja, seharian tidak cukup. Malam hari juga harus pergi. Melupakan semua tentang Nenek di rumah.” Nenek sering menyebut dirinya sendiri dengan nomina diri.

“Jangan membuat dirimu sendiri sedih, Nenek.” Mama mencoba menenangkan dia. “Mereka tidak pergi sesering itu. Hanya sekali atau dua kali seminggu. Dan mereka biasanya pergi karena pekerjaan mereka untuk Asosiasi Tunanetra.”

“Untuk apa pergi dan memedulikan orang lain. Di rumah ada Nenek. Punya ibu tua sendiri. Tidak peduli padanya, buat apa peduli orang lain?”

Percakapan ini biasanya berakhir dengan Nenek yang masih kesal dan Mama terkelu, dan air mata tertahan.

Tentu saja, Mama dan Papa menceramahi Paman dan Bibi ketika mereka menemui keduanya. Paman menjelaskan dari sisi mereka.

“Kamu mengenal Nenek. Untungnya Helen menantu yang sangat baik, atau dia tidak akan mungkin tahan dengannya selama bertahun-tahun ini.”

Bibiku melirik penuh terima kasih pada Paman tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia cerdik. Dia tahu dia harus membiarkan adik Mama sendiri yang berbicara pada sesi ceramah ini.

“Bisakah kamu lebih jarang pergi?” pinta Mama. “Dia tidak memiliki banyak waktu yang tersisa, kamu tahu. Dia mencintaimu. Itulah kenapa dia ingin kamu ada di dekatnya.”

“Dia tidak memiliki banyak waktu yang tersisa? Kami sudah pernah mendengar kalimat itu. Sekitar sepuluh tahun lalu. Ingat ketika dokter pertama-tama mengatakan dia menderita diabetes dan kondisi jantungnya membuatnya lebih buruk? Sesungguhnya dia itu kuat dan bertekad untuk hidup. Dia akan mengatasi stres dan melampaui hidup kita semua!” Paman terdengar lebih daripada sedikit kesal. “Lagi pula, hidup harus terus berjalan, kau tahu,” tambahnya. “Kami merasa kami memiliki tugas untuk membantu orang tunanetra. Aku hampir kehilangan penglihatanku, kau ingat? Aku merasa ini adalah cara kami untuk membalas… Ngomong-ngomong, Helen dan aku tidak pergi sesering itu. Tentunya kamu tidak bisa menyebut satu malam dalam seminggu seringnya.”

“Bisakah kau memperbolehkan pembantu untuk mengurusi lebih banyak keperluan Nenek?” kata Mama, teringat keluhan nenek lainnya.

“Kami melakukannya. Tapi kau tahu dia memanggil pembantu ke ruangannya sebegitu seringnya. Dan untuk apa? Untuk mematikan kipas angin. Untuk menghangatkan atau mendinginkan tehnya. Untuk membawakannya handuk. Kami tidak bisa menyediakan dua pembantu. Kau tahu berapa banyak pembantu yang baik telah pergi karena dia? Mereka semua bilang mereka tidak keberatan dengan tugas kami, tetapi mereka tidak tahan dengan Nenek yang memanggil mereka dari pekerjaan sepanjang waktu untuk segala hal-hal kecil yang bisa dia lakukan sendiri.”

. cerpen goh sin tub

Mama dan Paman tidak pernah bertengkar tetapi aku merasa sesi ini selalu berakhir dengan tidak ada pihak yang merasa puas. Sekalipun begitu, kasih yang mereka miliki untuk satu sama lain semenjak mereka masih anak-anak menahan mereka bersama. Meskipun mereka tidak mau mengakuinya, mereka secara naluriah memahami satu sama lain bahkan dalam kesalahpahaman mereka.
Namun ada beberapa kesempatan ketika mereka nyaris bentrok. Ini karena dari waktu ke waktu Nenek memutuskan mengalami krisis. Dia akan menelepon Mama dan berkata:

“Datang sekarang! Bawa Nenek ke rumahmu. Nenek tidak ingin tinggal di sini satu hari lagi. Mereka tidak peduli pada Nenek. Jika tidak ada yang menginginkan Nenek, Nenek lebih baik mati. Kalau kau tidak datang, Nenek akan menelan racun.”

Mama akan kacau balau, berpakaian dengan tergesa-gesa dan berbegas ke tempat Paman.

Pada satu kesempatan ternyata Paman harus pergi ke Malaysia untuk bisnis selama beberapa hari dan dia ingin membawa Bibi bersamanya.

“Helen butuh istirahat. Dia harus pergi atau dia akan menjadi sedeng. Aku tahu. Aku harus menghabiskan malam dengan Nenek. Helen harus bersama dengannya sepanjang hari.”

Mama mengenal saudaranya dengan baik. Tidak ada cara baginya untuk membujuknya. Meski begitu dia kasihan pada nenek, dia mungkin berpikir tidak masuk akal.

Jadi dia menatap penuh permohonan pada Bibi Helen. Untuk sejenak Bibi tampak sebal dengan permintaan tak terucapkan Mama. Bibirnya bergerak hendak bicara. Kemudian dia menggigit bibirnya dan tidak mengatakan apa pun. Sebaliknya, dia berpaling pada Paman. “Aku tidak perlu pergi kali ini. Nenek sangat sedih. Akan ada lain waktu…”

“Helen, tidak! Kamu tidak bisa terus seperti ini—” Paman sangat jengkel.

“Charles, tolong—” Potong Bibi, mendadak tegas, sebelum Paman dapat melanjutkan.

Dan dengan begitu Nenek memenangkan hari. Dengan bantuan Mama. Tapi kupikir Mama tidak senang sama sekali dengan kemenangannya.

. cerpen goh sin tub

Ada kejadian lain ketika Nenek terpeleset dan jatuh dan mebuat seisi rumah Paman menjadi kacau balau. Rumah kami juga, meski dalam taraf yang lebih kecil.

Pola hidup seluruh keluarga Paman berubah. Nenek memerlukan lebih banyak perhatian, anak-anak harus pergi ke sekolah dengan teman dan pulang dengan bus sendiri. Waktu makan seluruhnya menjengkelkan. Pembantu tambahan harus dipekerjakan. Berujung pada pengunduran diri pembantu lama yang tidak bisa akur dengan pembantu baru. Paman bahkan harus mengambil cuti selama beberapa hari untuk menyelesaikan permasalahan dan mengurus perawatan medis buat Nenek.

Dalam kasus kami, Mama berada di luar rumah hampir sepanjang waktu. Kami tidak pernah makan hamburger begitu banyak dalam hidup kami! Dan Papa harus mengurus pekerjaan rumah tangga semampu yang dia bisa. Kami anak-anak juga harus mengunjungi Nenek lebih sering dari biasanya.

Di tengah semua ini untuk sejenak si perempuan tua tampak menerima kecelakaannya dengan baik. Kenyataannya, aneh untuk dikatakan, dia terlihat lebih jarang menggerutu. Sepertinya dia membaik akibat semua perhatian intensif yang dia dapatkan.

Namun itu tidak bertahan lama. Segera Nenek kembali ke dirinya yang dulu, yang baik dan buruk. Itu adalah tanda pemulihan tetapi itu juga berarti kami harus kembali kepada keluhan tiada habis yang lama dan sesi tidak berhasil Mama dengan Paman untuk menyelesaikannya.

. cerpen goh sin tub

Aku pernah bertanya pada Mama kenapa kita tidak bisa ganti merawat Nenek.
Mama berkata: “Nenek lebih memilih tinggal bersama anaknya sendiri. Dia itu kuno. Kamu tahu, anak perempuan menikah dan menjadi keluarga orang lain, anak lelaki tetap tinggal dan meneruskan keluarga.

“Selain itu, kita tidak semujur Paman. Kita bahkan tidak bisa mempekerjakan pembantu. Dan flat kita kecil. Pekerjaan Papa sangat berat. Dia bekerja begitu keras. Kamu tahu dia benar-benar melakukan dua pekerjaan. Sepulang kantor dia juga mengajar kelas malam.”

“Apa Papa tidak setuju?” Tanya Meng dengan kepolosan yang terus terang. Dia telah bergabung dengan kami tanpa kami sadari.

“Tidak,” kata Mama, “dia tidak keberatan. Tapi aku tahu Nenek lebih baik. Papa bukan orang yang sabar seperti Paman Charles. Dia tidak berbicara banyak tetapi mendidih di dalam. Dia pulang ke rumah cukup kelelahan terkadang. Dia butuh kedamaian dan ketenangan.”

“Maksudmu Papa bersumbu pendek?” ucap Meng, bangga mendemonstrasikan ungkapan baru yang dia pungut dari pembacaannya yang rakus.

“Apa itu sumbu pendek?” tanya May. Keduanya teralihkan jadi membicarakan tentang dinamit dan The A-Team di TV.

.

Suatu hari, Meng dengan bangga membawa pulang sebuah salinan majalah sekolahnya yang mengangkat sebuah artikel yang mengutip dengan panjang lebar dari pihak pemerintah mengenai tugas kita untuk mengurus orang-orang tua.

“Adalah salah satu dari nilai Asia yang kita junjung tinggi bahwa yang tua harus dihormati dan dihargai. Memang tradisi kita adalah keluarga multigenerasi, dengan beberapa genarasi tinggal bersama dalam satu atap.

“Dengan populasi kita yang menua dan harapan hidup yang lebih tinggi, kita sekarang menghadapi masalah khusus dalam menangani perawatan orang lanjut usia. Orang Singapura sangat terurbanisasi dan sebagian besar terekspos nilai-nilai Barat. Oleh karena itu kita cenderung mengedepankan solusi Barat terhadap permasalahan sosial.

“Tetapi kita tidak boleh menyerah kepada godaan untuk mendirikan lebih dan lebih banyak Rumah untuk orang lanjut usia. Kita harus berpegang teguh pada kebudayaan Asia kita dan nilai Asia kita. Semua dari kita harus menghormati dan merawat kaum lanjut usia kita sendiri dalam rumah keluarga kita sendiri.

“Kita harus mencegah pendirian Rumah untuk kaum lanjut usia. Kami tidak menganjurkan peningkatan substansial apa pun dalam pengeluaran dana publik untuk rumah semacam itu.

“Pada dasarnya kami lebih memilih menganjurkan penggunaan sumber daya kita untuk mendorong tradisi Asia dari keluarga tiga tingkat dan mempromosikan fasilitas sosial dan rekreasi dan juga peluang kerja bagi orang tua.”

.

Meng yang dewasa sebelum waktunya membacakan seluruh artikel untuk kami, meninggalkan May yang berjuang keras untuk memahami semua kata penting. Seperti biasa, dia tertinggal mengikuti Meng dengan pertanyaan panjangnya.

“Ayo kirimkan artikel itu untuk Paman dan Bibi,” saran Meng.

“Tidak,” kata Mama. “Aku yakin mereka telah mengetahui semua yang ada di sana.”

.

Hidup bisa terus berjalan seperti itu. Dengan senggolannya yang biasa tetapi sebaliknya kurang lebih lancar bagi kami, walau tidak terlalu lancar bagi Paman dan Bibi, yang harus melaksanakan kewajiban Asianya untuk Nenek. Tetapi hidup memiliki cara untuk mengambil putaran yang mengejutkan…

Suatu malam Paman dan Bibi datang menemui kami. Dia memberitahukan kami kabar gembira mereka. Paman telah dipromosikan ke jabatan senior di cabang pertamanya di Tokyo. Ini adalah lompatan besar ke depan dalam kariernya. Dia harus pergi untuk jangka waktu tiga sampai lima tahun. Mungkin malah lebih lama. Tentu saja, keluarganya harus ikut dengannya.

Ada satu masalah. Nenek.

Apakah Mama akan merawatnya mulai sekarang? Tidak ada orang lain yang bisa diandalkan.

“Tentu saja!” kata Meng. Tapi tak ada yang memperhatikannya. Tidak juga May.
Mama terlihat bimbang dengan kemungkinan ini. Papa menatap ke arahnya. Dia ragu-ragu. Kemudian dia berkata: “Aku menyerahkannya padamu. Sungguh. Apa pun yang kau putuskan. Aku akan mencoba membuatnya berhasil.”

“Tampaknya kita harus bergantian merawatnya. Tidak ada solusi lain,” dia mengesah akhirnya.

“Tentunya kami akan membayar untuk biaya perawatannya. Dan juga untuk pembantu,” ujar Paman.

“Kita harus mencarikan ruangan untuk Nenek dan pembantu. Meng dan May, kalian harus memberikan ruanganmu dan pindah dengan kakakmu,” kata Papa.
Aku meringis. Meng dan May tidak menyadari pada saat itu artinya ruang personal yang berkurang.

.

Nenek tinggal bersama kami selama hampir tiga tahun. Tiga tahun yang panjang.
Pola hidup kami harus diatur ulang untuk berkisar di sekitarnya. Karena dia bisa jadi sangat mendominasi dan Mama takut padanya tetapi menyayanginya pada saat yang sama.

Seiring bertambah tua dan berkurangnya pergerakannya, dia juga bertambah semakin permarah dan menuntut. Kami kehilangan pembantu demi pembantu. Nenek akan membuat beberapa dari mereka menangis usai makian kejinya.

“Tidak pernah punya pembantu seperti ini sebelumnya. Sangat malas. Sangat lamban mengerjakan sesuatu. Dan selalu hanya ingin mencuri. Aku bilang padamu kalau aku mati aku akan kembali dan menghantui mereka!” Nenek akan mengeluh pada Mama.

Adapun untuk Meng yang malang, nilai Asianya dieksploitasi sepenuhnya. Nenek mengerang dan merintih padanya agar dia duduk berjam-jam di samping tempat tidurnya. Dalam keadaan siaga bersiap untuk menjalankan perintahnya.

Aku memuji Meng untuk itu. Dia memegang teguh mati-matian idealnya, meski dia sebenarnya rindu bermain dengan teman-temannya.

Dia bahkan meninggalkan aktivitas kepramukaannya, yang mana sangat dia sukai, untuk dapat tinggal di rumah bersama nenek atas desakannya. Mama baru tahu tentang itu setelah pembina pramuka berbicara dengannya. Itu adalah pertama kalinya Mama meninggikan suaranya kepada Nenek. Perempuan tua itu menyadari kesungguhan kemarahan Mama dan tidak mengambil risiko dengan bereaksi.

Meng sekarang tidak terlalu antusias dan bersemangat terhadap nilai Asianya. Namun suatu hari dia mengangkat topik itu lagi. Ketika membalik potongan buku klipingnya, dia menemukan guntingan majalah sekolah yang dia bacakan kepada kami sebelumnya. Dia membacakan beberapa kalimatnya dengan keras.

Lalu dia berkata dengan datar: “Pemerintah nampaknya memahami nilai Asia bagi masyarakat… tetapi mereka juga harus memahami masyarakat.”

May menghadapi dengan lebih santai karena dia tidak memiliki pergumulan etos perihal nilai-nilai Asia sebagaimana Meng. Dia hanya tidak menurut dan mengabaikan kapan pun itu cocok dengannya, yang mana membuahkan omelan dari Mama dan Papa dan aku (dan Meng). Tapi omelan itu memudar menjadi keheningan.

Aku pun berkembang dari peduli dan perhatian menjadi masa bodoh dan cuek. Itulah rahasiaku untuk bertahan. Tapi saat itu aku tidak memikul tanggung jawab. Aku masih belum dewasa.

Papa menderita ulkus. Mama harus memaksanya meninggalkan pekerjaan malamnya, kendati konsekuensi berkurangnya pendapatan keluarga. Papa menjadi orang yang kurang bersahabat. Lebih banyak bertengkar dengan Mama, dan lebih mudah kesal dengan kami anak-anak. Sumbunya telah semakin memendek.

Ibu bertambah jauh lebih tua dalam tiga tahun itu. Dia berbicara lebih sedikit. Sering kali dia tenggelam dalam pikirannya. Sering kali satu-satunya reaksinya terhadap omelan Nenek adalah dengan menggelengkan kepalanya. Situasi akhirnya mencapai batasnya ketika Nenek hampir-hampir lumpuh di ranjang dan inkontinensia. Tidak ada yang mau bekerja untuk kami. Setidaknya, tidak untuk waktu yang lama.

Mama dan Papa mengambil keputusan dengan enggan, agak malu, tetapi menerima yang tak terelakkan. Jadi, Mama menjelaskan pada Nenek kalau kami harus mengirimnya ke Rumah. Itu adalah Rumah yang bagus. Di sana mereka memiliki perawat dan pembantu untuk merawat banyak kebutuhan yang diakibatkan oleh penyakitnya. Kami akan mengunjunginya setiap akhir minggu. Paman dan keluarganya akan menemuinya kapan pun mereka kembali untuk liburan. Paman telah diajak berkonsultasi dan sudah menyetujui solusinya serta langsung menawarkan untuk membayarkan semua biaya.

Nenek sama sekali tidak menyukainya. Dia meronta-ronta dan menangis dan memanggil kami semua dengan istilah buruk.

“Kamu dan suami tidak bergunamu! Dan semua anak setan binalmu! Kamu tidak punya perasaan sama sekali pada Nenek. Nenek menyesal ketika Nenek melahirkanmu!” Dia meludah dengan kejam pada Mama setelah memaki dan menyumpahinya selama hampir satu jam.

“Lebih baik Nenek mati sekarang. Berikan Nenek pil tidur. Nenek telan sebotol penuh dan mati sekarang!”

Wajah Mama memucat. Dia mengulurkan tangan, mengambil botol pil tidur di meja samping tempat tidur Nenek dan tanpa sepatah kata pun menyerahkannya kepada ibunya.

Suasana membeku. Tidak ada yang bergerak. Nenek tidak bisa percaya apa yang dia lihat. Tidak pula Papa maupun aku. Juga, aku tahu, bahkan Mama sendiri.

Kemudian Nenek menjatuhkan botol ke lantai. Botol pecah berkeping-keping dan kejutan itu memecah keheningan. Nenek roboh. Dia menangis dari hatinya.
Di antara isak tangisnya dia mengangguk dan memekik pelan: “Baik. Baik. Nenek pergi ke Rumah… Tapi, Sayang, tolong jangan membenci Nenek!”

Itu mematahkan Mama sepenuhnya dan sungguh-sungguh, mendengar nama sayang masa kecil yang terlupakan itu. Ibunya sudah tidak menggunakannya untuk waktu yang sangat, sangat lama. Mama menangis dengan begitu lepas, seperti anak kecil yang terluka. Dan seperti anak kecil yang terluka, dia menempel dengan erat pada ibunya.

Untuk sesaat Papa berdiri diam di sana. Dia menghormati kekeramatan momen pribadi antara anak perempuan dan ibunya. Lalu Papa meletakkan satu tangan di atas Mama. Sejenak kemudian tangannya yang satu menjangkau Nenek. Dan Nenek menyentuh dan menggapai tangan itu juga.

Dan untukku, aku berdiri di sana tidak yakin apa yang harus dilakukan. Berat hatiku. Ini adalah pelajaranku dalam cinta yang tak terlupakan. Dan tekanan dari cinta.

.

Pagi berikutnya kami memanggil taksi. Kami membantu Nenek dan membawakan barangnya ke lift lobi dan menekan tombol lift.

Salah satu tetangga kami, keluarga dengan seorang anak perempuan remaja seumuran Meng, turun dengan lift. Kami tidak mengenalnya dengan baik. Jadi kami hanya mengangguk. Semua tetap diam saat kami berdiri bersama dalam kedekatan yang tidak nyaman.

Kami keluar lebih dulu. Ketika kami beranjak keluar dari lift, aku dengan jelas mendengar anak perempuan tetangga kami berbisik dengan mencela: “Mereka mengirimkan Neneknya ke Rumah.” (*)

[1] Panti Jompo


Tentang Goh Sin Tubcerpen goh sin tub

Goh Sin Tub adalah penulis pionir sastra Singapura. Ia meraih banyak penghargaan di bidang tulis-menulis. Ia lahir pada 1927 dan meninggal pada 16 November 2004. Ia menulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Rumah untuk Nenek (Home for Grandma) adalah cerpen Goh Sin Tub dalam Goh’s 12 Best Singapore Stories (1993). Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Miguel Angelo Jonathan.

Ilustrasi Cerpen Goh Sin Tub ini diambil dari pexels.

cerpen goh sin tub


Baca juga:
Puisi-Puisi Salvatore Quasimodo – Laude
Menjelang Sang Nabi Lenyap ke Langit

Bagikan artikel ini ke: