Menu
Menu

Meski sedikit dan terbatas, buku cerita anak asal Indonesia memberikan gambaran akan “dunia Indonesia” bagi pembaca anak Prancis.


Oleh: Jafar Suryomenggolo |

Menetap di Paris, Prancis.


“Gluglu, gluglu, gluglu… Najib si kalkun percaya dirinya adalah kalkun terindah dan tercerdas di antara kalkun-kalkun yang ada di hutan Indonesia.”

Demikianlah awal kisah dari sebuah buku cerita anak yang disebut berasal dari Indonesia, bagi pembaca anak-anak Prancis.

Di Prancis, sebagaimana di banyak negara berpendapatan tinggi lainnya, buku cerita anak hadir menawarkan berbagai kisah dalam banyak rupa dan bentuk. Selain kisah legenda dan fabel dari Eropa sendiri, banyak tersedia cerita anak dari berbagai negara di empat benua. Sebagian tersedia lewat terjemahan, dan sebagian besar lagi tersedia dalam bentuk diceritaulangkan oleh pengarang Prancis sendiri.

Selintas tampak buku cerita anak dari Asia yang tersedia bagi pembaca Prancis umumnya berasal dari tiga negara: Tiongkok, India, dan Jepang. Tak bisa dipungkiri, ketiga negara Asia ini memiliki banyak legenda dan cerita anak yang akan selalu memikat pembaca usia muda. Terlebih Jepang memang sudah terkenal menghasilkan banyak manga dan anime selama lebih dari empat dasawarsa terakhir. Menyusul kemudian cerita dari Korea dan Vietnam. Cerita anak dari kedua negara ini hadir mengimbangi dan menawarkan keberagaman khas Asia.

Bagi pembaca muda (dan juga penerbit buku anak!), lima negara tersebut sudah cukup mewakili “Asia.” Dari sini pula, bisa dikatakan bahwa “peta Asia” anak-anak Prancis memang tak beranjak jauh dari kelima negara tersebut. Anak yang tidak puas atau punya rasa ingin tahu yang tinggi tentu akan mencari sendiri cerita dari negara-negara lain – dan mungkin sekali, dibantu oleh orang tua mereka.

Memang, buku cerita anak asal Indonesia tidak banyak tersedia bagi pembaca anak Prancis. Tak berlebihan pula bisa dikatakan bahwa jumlahnya tidak lebih dari jumlah jari tangan dan kaki manusia. Selain sedikit, tidak mudah ditemukan ataupun tersedia di toko buku ataupun perpustakaan umum.

Boleh jadi juga, kondisi tersebut setara dengan sedikitnya terjemahan karya fiksi pengarang Indonesia yang tersedia dalam bahasa Prancis. Jumlahnya tak lebih dari 54 judul terbentang dari 1958 hingga 2019 (sekitar 1 judul buku dalam 13 bulan). Jadi, baik buku cerita anak maupun fiksi dewasa asal Indonesia sangat jarang ada di Prancis. Ada kesan “dunia Indonesia” sangat-sangat terbatas dikenal oleh orang Prancis, baik anak-anak maupun orang dewasanya – sesuatu yang sangat berbeda dengan dunia Jepang, Tiongkok, ataupun Vietnam yang lebih terasa dekat di hati, pikiran, dan imajinasi pembaca Prancis.buku cerita anak indonesia di prancis tokek

“Dunia Indonesia”

Meski sedikit dan terbatas, buku cerita anak asal Indonesia memberikan gambaran akan “dunia Indonesia” bagi pembaca anak Prancis. Setidaknya, ada dua hal yang mencolok. Pertama, cerita-cerita yang ada memberikan gambaran akan alam Indonesia, seperti halnya cerita tentang Najib si kalkun di atas. Yang menjadi latar adalah “hutan Indonesia” – dan ini agak berbeda dari cerita anak asal Tiongkok dan Jepang yang kerap mengambil latar kehidupan kota.

Tak bisa dipungkiri, hal ini karena cerita jenis fabel dengan keragaman satwa adalah yang utama. Selain kalkun (meskipun sesungguhnya tidak ada kalkun liar yang hidup di hutan Indonesia!) ada pula: tapir (Ivanovitch-Lair, 2008), orang-utan (Ivanovitch-Lair, 2008), landak (Jacquet, 2016), tokek (Brignone, 2017), kancil (Féret-Fleury, 2005; Fréchard, 2011; Jacquet, 2016), dan juga penyu (Prévot, 2009). Keragaman ini dapat dimengerti sebagai cara memperkenalkan berbagai satwa khas tropis yang ‘eksotis’ bagi anak-anak Prancis yang tidak pernah melihat satwa itu di alam negerinya sendiri. Boleh jadi, cerita anak asal Indonesia (atau berlatar Indonesia) menjadi representasi alam tropis bagi pembaca anak Prancis.

buku cerita anak indonesia di prancis ibou min

Kedua, cerita anak asal Indonesia bagi pembaca anak Prancis menawarkan persoalan hubungan manusia dengan alamnya. Hal ini tampak jelas, misalnya dari kisah Ibou Min’ et les tortues de Bolilanga (Ibu Min dan Penyu Bolilanga), tentang kedekatan manusia dengan satwa dan alam sekitar. Memang, persoalan lingkungan hidup menjadi tema penting sejak akhir 1990-an dan banyak buku cerita anak yang mengedepankan persoalan ini. Jadi, cerita anak asal Indonesia (atau berlatar Indonesia) dikemas menjadi literatur didaktis tentang lingkungan hidup bagi pembaca anak Prancis. Lumayan ironis, mengingat masih jarangnya buku cerita anak kita yang mengangkat tema lingkungan hidup bagi anak Indonesia sendiri.

Kisah si Kancil

Dari sekian buku cerita anak yang tersedia bagi pembaca anak Prancis, kisah si kancil tampil mencolok dibanding kisah lainnya dari Indonesia. Ada kesan kisah si kancil menjadi ‘wakil’ Indonesia dalam dunia buku anak di Prancis.

buku cerita anak indonesia di prancis kanjil

Kisah si kancil, sama seperti dikenal di Indonesia, tampil jenaka dan cerdik. Ia bisa mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada, dan malah menguntungkan dirinya. Kisah si kancil bisa disandingkan dengan kisah si rubah merah (renart) dari khazanah fabel Prancis (Eropa Barat umumnya). Si rubah juga tampil jenaka dan cerdik. Perbedaannya, si kancil tampil jinak sementara rubah tampil liar (meski tidak culas). Selain itu, kisah si kancil di Prancis dianggap sebagai fabel (untuk anak-anak), dan tidak memperoleh tafsir politik seperti yang sering dikait-kaitkan di Indonesia.

Kisah si kancil di Prancis juga agak berbeda: si kancil punya lidah sinis dan ironis. Ciri ini jelas tidak dikenal dalam kisah si kancil yang beredar di Indonesia selama ini. Boleh jadi ciri ini adalah khas buku cerita anak Frankofon yang mewanti-wanti pembaca anak Prancis akan pahitnya kenyataan dunia (dan mereka mesti siap diri jangan sampai tertipu siapa pun!) – yang berbeda dari cerita anak Anglofon yang cenderung mengumbar manisnya kehidupan dan akhir cerita yang bahagia (happy ending).

Menariknya, catatan paling awal (yang tersisa ada di dunia) tentang kisah si kancil adalah sebuah buku beraksara Jawi dari abad ke-17, yang disimpan di dalam Perpustakaan Nasional Prancis di Paris. Kisah si kancil kuna ini, sebagaimana telah dibahas oleh Proudfoot (2001) dan Voisset (2012), lebih beragam dan punya tempo relatif cepat, tidak bertele-tele seperti yang kita kenal di Indonesia. Ternyata, kekayaan khazanah fabel dari Nusantara sudah lama berada di Paris – dan luput dari pengamatan kita sendiri. Boleh jadi, kita orang Indonesia perlu menimbang lebih lanjut kisah si kancil yang selama ini kita kenal dengan menilik kisah si kancil yang selama ini duduk manis di Paris.

buku cerita anak indonesia di prancis hikayat pelanduk


Kepustakaan:

Brignone, Marie; Élodie Nouhen. 2017. La complainte de Gecko. Paris: Didier Jeunesse.

Dubovská, Zorica; Vratislav Šťovíček; Jaroslav Serych. 1979. Contes d’Indonésie. Diterjemahkan dari bahasa Ceko oleh Yvette Joye. Paris: Gründ.

Féret-Fleury, Christine; Geneviève Lecourtier. 2005. Contes d’Indonésie, les aventures du Kanchil. Paris: Père Castor, Flammarion.

Fréchard, Maïté; Barroux. 2011. Kanchil le malin. Paris: Belin.

Fréchard, Maïté; Barroux. 2012. Pelanuk le rusé. Paris: Belin.

Ivanovitch-Lair, Albéna ; Annie Caldirac ; Joëlle Jolivet. 2008. Le jour de la fin du monde. Paris: Tourbillon.

Jacquet, Guy; Béatrice Tanaka. 2016. Kanjil et le roi des tigres. Paris: Kanjil.

Montage, Anne ; Fréderick Mansot. 2001. Nakiwin, le jardinier bienheureux. Paris: Actes sud junior, Cité de la musique.

Morpugo, Michael. 2018. Enfant de la jungle. Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Diane Ménard. Paris: Gallimard Jeunesse.

Prévot, Franck; Delphine Jacquot. 2009. Ibou Min’ et les tortues de Bolilanga. Paris: Thierry Magnier.

Proudfoot, Ian. 2001. A ‘Chinese’ mousedeer goes to Paris. Archipel 61: 69-97.

Rocard, Ann. 2009. Poutri Telour. Contes de tous les pays, hlm. 60-67. Champigny-sur-Marne: Lito.

Sébaoun, Elisabeth ; Marie-Odile Fordacq. 2005. Le singe et le crocodile. Conte indonésien. Raconte-moi un conte d’animaux, hlm. 104-109. Paris: Tourbillon.

Scott, Nathan Kumar; Radhashyam Raut. 2008. La feuille de bananier magique: Une aventure de Kanchil, le petit cerf-souris. Diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Fenn Troller. Paris: Syros.

Tanaka, Béatrice. 1992. La quête du prince de Koripan. Paris: Syros.

Tanaka, Béatrice. 2017. Kanjil compte. Paris: Kanjil.

Voisset, Georges. 2012. Contes sauvages: les très curieuses histoires de Kancil le petit chevrotain. Bécherel : Les Perséides.


Baca juga:
– Lengking Burung Kasuari: Wajah Papua yang Lain
– Siasat Struktur “Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi”

Bagikan artikel ini ke: