Menu
Menu

Dalam “Lengking Burung Kasuari” Tante Tamb yang dicurigai akan jadi pusat konflik, kemudian pada akhirnya kedapatan berselingkuh.


Oleh: Maria Pankratia |

Bergiat di Yayasan Klub Buku Petra, mengelola Pustaka Bergerak dan agenda bulanan Bincang Buku Klub Buku Petra. Cerpen-cerpennya disiarkan di Bali Post, Jurnal Sastra Santarang, Pos Kupang, dan beberapa antologi bersama.


Setelah “Wesel Pos” dari Ratih Kumala dan “Dawuk” karya Mahfud Ikhwan, Bincang Buku Klub Buku Petra yang ketiga membahas “Lengking Burung Kasuari”.

Novel ini ditulis oleh Nunuk Y. Kusmiana, nama yang terbilang baru di panggung sastra kita. Meski di sampul belakang buku ini tertera keterangan bahwa Nunuk pernah menang dalam kompetisi menulis cerita bersambung di Majalah Femina tapi novel inilah yang pertama dan melejitkan namanya. Dalam novel ini, penulis bercerita melalui mata seorang anak berusia tujuh tahun bernama Asih, anak seorang tentara asli dari Jawa Timur, tentang Papua pasca Trikora.

Novel “Lengking Burung Kasuari” (Gramedia, 2017) sebelumnya menjadi pemenang unggulan Sayembara Novel DKJ 2016, dan merupakan karya perdana/kedua terbaik di Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.

Sebagaimana ringkasan di sampul belakang novel, dibuka dengan tukang potong kep, Sendy yang saat itu sudah lebih lama menetap di Jayapura berusaha membuat Asih ketakutan pada perjumpaan mereka yang pertama. Tukang potong kep adalah laki-laki, tinggi besar, hitam dan keriting, yang memikul parang ke mana-mana, memburu kepala anak-anak berambut lurus untuk ditanam di bawah jembatan.

Selanjutnya pembaca diajak berkenalan dengan keluarga tentara-tentara Jawa yang tinggal di Papua pada tahun 1970-an. Ada keluarga Asih yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan Tuti, adik kesayangannya. Tante Bahar dan Tante Tamb, para istri tentara yang adalah tetangga keluarga Asih. Mereka tampil dominan dalam cerita, selain Sendy dan keluarganya yang memiliki pohon Kersen di atas kandang babi yang ternyata juga dihuni seekor burung kasuari. Atap kandang babi di dalam novel ini dikisahkan sebagai tempat nongkrong favorit Asih dan Sendy, meskipun ada tragedi yang sempat menimpa kedua bocah setelah itu.

Selebihnya novel ini mengisahkan keseharian yang lazim dijalani anak-anak dan keluarga kelas menengah ke bawah beserta segala konflik; rumah tangga dan sosial, di daerah yang tingkat kemajuannya sangat lambat, di ujung timur Indonesia.

Menariknya, karena diceritakan dari sudut pandang anak-anak, maka sebagian besar masalah yang dihadirkan di novel ini akan dianggap sebagai ‘terlampau sederhana’ bagi orang-orang dewasa. Berikut beberapa komentar yang berhasil dirangkum dari peserta Bincang Buku Klub Buku Petra pada hari Kamis, 21 Maret 2019 di LG Corner Ruteng.

Isu Kesehatan dalam Lengking Burung Kasuari

dr. Ronald Susilo yang bertindak sebagai pemantik pada Bincang Buku edisi ketiga tahun 2019 ini membawa peserta melihat kisah ini dari sudut pandang kesehatan. Dokter Ronald menyoroti beberapa bagian yang barangkali bagi pembaca biasa terkesan tidak terlalu penting.

[M]bah Putri menyuruh ibu untuk tak mengonsumsi telur ayam. Karena akan membuat bayinya lahir bulat. Ibu dilarang memakan daging ayam juga karena akan membuat bayinya terlahir dengan tubuh berbau amis. Susu juga tidak boleh diminum karena akan membuat bayinya berbau amis juga. Lebih dari itu, ibu dilarang makan terlalu banyak nasi karena khawatir bayinya akan besar di dalam perut yang mengakibatkan sulit dilahirkan. (hal. 120)

Menurut Dokter Ronald, bagian tersebut masih jadi soal klasik yang sering dialami oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, terutama masyarakat pinggiran atau kelas menengah ke bawah yang hingga saat ini masih memegang teguh hal-hal berbau mistis atau mitos. “Salah satu penyebab tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah gizi yang kurang. Mengapa negara Indonesia yang terkenal besar sumber daya alamnya mengalami gizi kurang/buruk, dari novel ini kita kemudian menemukan salah satu jawabannya. Budaya kita lebih mengajarkan ketakutan daripada berpikir logis,” jelasnya.

Senada dengan itu, peserta Bincang Buku lainnya, Mantovanny Tapung, menambahkan  bahwa masalah gizi hingga stunting, merupakan permasalahan domestik yang belum mampu diselesaikan di Indonesia, bahkan di Era Revolusi Industri Digital seperti sekarang ini. “Kisah yang dituturkan Nunuk dalam novel ini seharusnya membangkitkan kesadaran kita tentang persoalan gizi masyarakat Indonesia yang tidak bisa diselesaikan begitu saja. Perhatian pada 1000 hari pertama kehidupan harus menjadi konsentrasi utama pemerintah,” tutur Manto.

Tak Ada Ketegangan

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pengalaman membaca secara umum oleh para peserta dan struktur mikro yang terdapat di dalam novel Lengking Burung Kasuari.

Hampir semua peserta Bincang Buku mengakui bahwa novel ini terlampau datar dan lambat, tak ada konflik yang berarti. Meski cukup baik secara struktur, alur, dan plot, tapi Nunuk seperti memberikan harapan palsu kepada pembaca. Yuan Jonta, Jeli Djehaut, Ajen Angelina, Febry Djenadut, Ucique (tidak hadir tapi mengirimkan hasil pembacaannya via whatsapp) adalah para peserta Bincang Buku yang mengeluhkan hal tersebut.

Sebagai contoh, Tante Tamb yang dicurigai akan menjadi pusat dari konflik dalam kisah ini karena sejak awal selalu bertindak semena-mena terhadap Asih dan kemudian pada akhirnya kedapatan berselingkuh, juga oleh Asih, malah menghadirkan adegan antiklimaks yang mengecewakan pembaca. Perang dingin antara kedua insan beda usia tersebut tidak sampai pada titik yang menggetarkan. Tanggung sekali.

Meski demikian, menimbang bahwa narator dalam novel ini adalah seorang anak kecil, menurut Armin Bell, Nunuk justru berhasil menuturkan kisah ini dengan sangat baik. “Barangkali kita terbiasa membaca novel/cerita pendek yang naratornya adalah orang-orang dewasa. Kita telanjur menetapkan standar ketegangan yang biasa kita kenal dan lupa bahwa bagi anak-anak seusia Asih, setiap peristiwa (yang tampak biasa) justru dianggap menegangkan atau bahkan menakutkan,” papar Armin.

Hanya saja menurutnya, jika dibandingkan dengan “Mirah Mini” karya Nukila Amal, buku lain yang juga menggunakan anak-anak sebagai narator, “Lengking Burung Kasuari” tidak terlampau berhasil. Nunuk mengalami kesulitan pada beberapa bagian sehingga terpaksa ‘ikut hadir dalam cerita untuk membantu narator’.

Pendapat senada disampaikan oleh beberapa peserta lainnya. Dodo Natal misalnya, merasakan kejanggalan ketika Asih memakai kata “domestik”, sesuatu yang menurutnya belum diketahui oleh anak usia tujuh tahun yang hidup di era 70-an. Dodo juga menyoroti penggunaan kata Tionghoa yang dianggapnya sebagai usaha mengganti/menghaluskan sebutan Cina namun justru gagal. “Di tahun-tahun itu, kita masih pakai kata Cina dan bukan Tionghoa. Ini jadi seperti anakronisme,” paparnya.

Kejanggalan lain yang juga ditemukan dalam novel ini kehadiran Mas Harto, tokoh yang tiba-tiba muncul di halaman 33 dan dikisahkan sebagai keponakan Bapak yang berangkat bersama-sama naik kapal dengan Ibu ke Irian. Padahal di bagian sebelumnya (halaman 12) diceritakan hanya Asih dan Tutik yang berangkat bersama Ibu.

Rini adalah salah seorang peserta Bincang Buku yang memilih berkomentar tentang tokoh Ibu pada “Lengking Burung Kasuari”. Kegigihan Ibu Asih yang bekerja untuk mengimbangi gaji kecil suaminya, tidak mudah menyerah, dan selalu berusaha membaca peluang bisnis di Papua, menjadi hal yang menyita perhatian Rini dan Febhy.

“Ibu Asih mampu mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak, juga membuka usaha sampingan demi menunjang kebutuhan sehari-hari. Ini bisa jadi inspirasi bagi kita semua,” paparnya. Sementara itu, Bapak Asih yang adalah seorang tentara, dan tentara biasanya digambarkan sebagai tegas dan menakutkan, dalam novel ini justru diceritakan sebaliknya. Beliau digambarkan sebagai tokoh ayah yang ideal, penyayang, pendengar yang baik, pendongeng yang handal, serta menghargai kebaikan.

Kasuari Sebagai Papua dan Masa Kecil yang Kembali

Kita tidak akan menemukan pembahasan khusus tentang burung Kasuari dalam novel ini. Sesuatu yang barangkali akan dianggap aneh karena burung itulah yang namanya tercantum di judul. Lalu mengapa Nunuk memilih judul itu jika tidak ada bagian yang istimewa tentangnya dalam novel tersebut?

Menurut Tommy Hikmat, burung Kasuari sesungguhnya menampilkan sudut pandang yang menarik. Selain ingin mewartakan kekayaan alam khas Papua, melalui burung Kasuari yang digambarkan akan segera memberi reaksi jika terdapat gerak atau bunyi mencurigakan di sekitarnya, Nunuk ingin menampilkan Papua meski secara sangat samar. “Papua itu bumi yang cantik tetapi akan bereaksi seperti Kasuari jika ada yang ingin mengganggu. Siapa saja. Atau apa saja. Saya kira itu yang mau Nunuk sampaikan melalui Kasuari ini,” ungkap Tommy.

Alfred Tuname yang juga ikut hadir pada Bincang Buku tersebut juga menyampaikan hal yang sama, bahwa burung Kasuari adalah Papua. “Ada bagian di mana tokoh Bapak menjelaskan kepada Asih bahwa, Burung Kasuari itu tidak menakutkan tetapi Asih (kita) yang sebenarnya takut pada Burung Kasuari. Kita berusaha menjauhinya (Papua) tanpa pernah berusaha mendekati dan memahami mereka,” jelasnya.


lengking burung kasuari wajah papua yang lain

Peserta Bincang Buku “Lengking Burung Kasuari” di LG Corner Ruteng


Secara keseluruhan, novel “Lengking Burung Kasuari” adalah gerbang menuju menuju masa lampau, masa ketika masalah-masalahmu hanyalah seputar bagaimana menemukan kawan baru yang asyik untuk diajak main masak atau main benteng, “ancaman” Kasuari yang menyambutmu seperti tantangan menyebut kata sandi demi mencapai ranting-ranting kersen yang dipenuhi buah-buahnya ranum menggiurkan, di atas kandang babi beraroma tak sedap, juga mitos tukang potong kepala yang hingga saat ini masih menjadi misteri di sebagian besar wilayah di Indonesia.

Novel Lengking Burung Kasuari oleh Nunuk Y. Kusmiana ini diberi bintang 3.5 oleh para peserta Bincang Buku yang hadir malam itu: dr. Ronald Susilo, Melanie Cici Ndiwa (yang sekaligus menjadi moderator), Mantovanny Tapung, Elin Setia, Febriany Djenadut, Ajen Angelina, Rini Kurniati, Dodo, Armin Bell, Yuan Jonta, Alfred Tuname, Tommy Hikmat, Jeli Djehaut, saya, dan crew LG Corner.

Bincang Buku Edisi Keempat akan berlangsung pada Kamis, 25 April 2019, masih di LG Corner Ruteng. Buku yang akan dibicarakan adalah Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi, sebuah dongeng karya Yusi Avianto Pareanom. (*)

Bagikan artikel ini ke: