Menu
Menu

Laki-laki itu Vincent van Gogh! Laki-laki miskin yang pernah hidup bersamanya beberapa tahun lalu.


Oleh: Yudhi Herwibowo |

Menulis cerpen dan novel. Buku terbarunya, kumpulan cerpen Terkutuk (Elex Media Komputindo).


Perempuan itu mengangkat kepalanya, seiring laki-laki berpakaian kumal itu—anaknya—mendekati pembaringan. Kedua matanya tiba-tiba berbinar penuh harap. Melenyapkan rasa sakit yang sudah beberapa hari ini mendera tubuhnya, terutama di bagian rahimnya.

Sambil menunggu anaknya duduk, bibirnya bergetar, “Bagaimana, Sayang?”

Anaknya tak langsung menjawab. Ia menunduk sejenak, seakan mencoba menghindar.

“Kau mendapat kabar tentangnya bukan?” Ia menarik tangan anaknya ke dada, “Kabar tentang… Vincent van Gogh?”

***

Seharusnya ia tak perlu lagi mengingat laki-laki itu!

Beberapa tahun terlewati tanpa saling berkabar, seharusnya sudah membuatnya melupakan sosok itu. Toh, selama ini ia sudah merasa bisa melakukannya. Ia tak pernah mencoba mengingat laki-laki itu. Kalau pun ada kelebatan ingatan membawanya ke sana, ia selalu bisa cepat-cepat menepisnya. Ia sudah belajar, hidupnya terlalu pahit, hingga untuk mengkhayal sesuatu yang indah saja adalah kemewahan. Tapi entahlah, akhir-akhir ini, saat ia mulai terbaring karena sakitnya yang semakin parah, ia tak bisa lagi mengekang ingatan itu.

Laki-laki itu Vincent van Gogh! Laki-laki miskin yang pernah hidup bersamanya beberapa tahun lalu.

Ia tak tahu apakah ia masih layak mengingat laki-laki itu. Tapi siapa yang mampu menahan gejolak sel-sel otak yang ingin mengenang sesuatu? Walau sudah sekian lama terkubur? Mungkin karena ia sendiri pernah menganggap itu bagian paling indah dari masa lalunya. Bagian yang selalu ia kenang saat-saat kesedihannya memuncak.

Ia telah memahami dirinya, bila—bisa jadi—seluruh tubuhnya terbentuk dari butir-butir kesedihan yang mengendap dan menggumpal sedikit demi sedikit hingga membentuk sosoknya secara utuh. Hingga di sepanjang hidupnya kemudian, hanya kesedihan yang bisa dirasakan. Itulah yang membuatnya selalu bisa mengingat saat-saat ia tengah tak bersedih.

Ini sama sekali bukan metafora yang berlebihan. Ia memang telah dilahirkan dengan kesedihan. Nyaris sepanjang hidupnya hanya ada kesedihan. Sebagai seorang pencuci baju dengan bayaran tak seberapa, berat baginya untuk bertahan hidup. Terlebih ia harus menanggung ibunya yang culas, dan juga seorang anak yang lahir dari rahimnya. Kelaparan adalah hal biasa yang sejak dulu kerap dirasakannya. Juga kedinginan karena tak memiliki tempat berteduh dan selimut untuk menutupi tubuhnya.

Maka untuk menambah uang, ibunya menyuruhnya mencari tambahan di lorong gelap yang ada di belakang hutan kota. Ia tahu, seperti apa lorong itu. Berjalan di situ sama artinya menjajakan diri, karena di situlah, para laki-laki hidung belang di Den Haag datang untuk mencari pelampiasan.

Dan ia sama sekali tak bisa menolak keinginan itu. Ibunya sudah terlalu tua untuk membantunya bekerja, dan anaknya, yang sangat ia sayangi, walau ia tak mengetahui siapa ayahnya, juga harus terus diberi makan. Maka ia memutuskan menjalani semuanya.

Dan di situlah, ia pertama kali melihat laki-laki itu.

Kesedihan masih menggelayuti dirinya. Sejak matahari tenggelam ia sudah berada di lorong itu, tanpa satu laki-laki pun yang menghampirinya. Sementara angin terus menerpanya, hingga beberapa kali nyaris merubuhkan tubuhnya. Ia merasa malam begitu kejam padanya. Ia menggigil. Tak ada uang yang tersisa, selain beberapa sen yang bahkan tak cukup untuk membeli segelas minuman. Sungguh, ini menyakitkan, terlebih saat ia membayangkan tangisan anaknya yang kelaparan dan teriakan ibunya.

Ia memutuskan untuk masuk ke sebuah cafe yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia tahu, satu-satunya obat yang dapat menghapus kedinginan di tubuhnya sekaligus melupakan tangisan anaknya serta teriakan-teriakan ibunya hanyalah anggur. Walau nyaris tak memiliki uang, ia mengenal dengan baik pemilik cafe itu, sehingga ia bisa membeli anggur setengah gelas saja! Tapi setengah gelas anggur apa yang mampu memabukkan seperti harapannya? Ia nyaris mengutuk dirinya karena telah membuang-buang recehan terakhirnya.

Namun saat itulah ia melihat laki-laki itu duduk tak jauh darinya. Setelah bertatap beberapa kali, laki-laki itu menawarinya segelas anggur. Walau laki-laki itu begitu kumal, tak terawat, dan nampak semiskin dirinya, dengan senang hati ia menerima tawaran itu. Ia juga tak menolak saat laki-laki itu menawarinya gin and bitters untuk gelas keduanya.

Kesan pertamanya terhadap laki-laki itu adalah kemurungan. Wajahnya begitu murung, suaranya pun bernada murung. Ia hanya nampak sedikit bersemangat saat mengenalkan dirinya sebagai seorang pelukis. Selain itu, kembali, hanya kemurungan seutuhnya. Tapi itu tak membuatnya menolak saat laki-laki itu mengajaknya ke rumah sewaannya di kawasan Schenkweg, di belakang Stasiun Ryn. Itu merupakan kawasan pinggiran Den Haag yang bersebelahan dengan padang rumput di tenggara. Keadaan yang tak jauh berbeda dari rumah sewanya sendiri.

Awalnya ia hanya mengenal laki-laki itu sebagai Vincent. Kelak beberapa tahun setelah mereka berpisah, ia baru tahu kalau nama keluarga di belakang nama itu adalah nama yang cukup terkenal di Amsterdam. van Gogh

Tapi di rumah sewanya, tak ada tanda-tanda kalau ia dari keluarga berada. Kamarnya kecil dan berbau apek. Hanya ada sebuah kasur dengan dipan yang nampak tak kokoh, sebuah meja makan reyot dan kursi-kursi kayu yang dibuat asal-asalan, serta sebuah kuda-kuda yang biasa dipakai untuk menggambar. Kuda-kuda itulah yang paling mencolok, karena letaknya ada di tengah ruangan.

Namun walau begitu, ia ternyata suka berada di situ. Terlebih di meja makan itu. Di situ kisahnya bersama laki-laki itu banyak tercipta. Di setiap waktu makan, laki-laki itu akan menawari setangkup roti hitam dengan sepotong keju murahan. Selalu, ia memberinya potongan yang lebih besar. Itu membuatnya terpesona. Kebaikan hati laki-laki itu seperti mampu mengikis kesedihan yang selama ini ada padanya.

Ia merasa, dari cara laki-laki itu memperlakukan dan berbincang padanya, bahkan saat memintanya untuk menginap, bisa jadi ia mungkin perempuan satu-satunya yang pernah bersama dengannya.

Sungguh, menyadari itu, membuatnya merasa begitu nyaman.

..

Laki-laki itu kemudian memintanya menjadi model lukisannya. Ia tak mengerti apa alasannya. Ia mengenal beberapa perempuan yang juga kerap menjadi model para pelukis amatir. Mereka biasanya para perempuan muda dan bertubuh indah. Biasanya para pelukis itu akan melakukan dua hal pada mereka: menidurinya lalu melukisnya, atau melukisnya lalu menidurinya.

Tapi saat laki-laki itu memintanya, ia tak merasa laki-laki itu akan berniat seperti itu. Walau di malam-malam sebelumnya mereka telah menghabiskannya bersama di dipan yang sangat berisik, namun ia tetap yakin, laki-laki itu bukan tipe pelukis kebanyakan!

Jadi ia menurut saja saat laki-laki itu memintanya berpose duduk di kursi. Ia bahkan tak berkata apa-apa saat laki-laki itu memintanya untuk menanggalkan pakaiannya. Hanya ada sedikit keraguan yang muncul: ia adalah perempuan 40 tahun dan sadar tubuhnya tak lagi layak untuk dilukis. Ia terlalu kurus. Sebagian kulitnya pun telah berkeriput sebelum waktunya. Dan satu, yang membuatnya nyaris menolak, payudaranya sudah mengendur. Layu.

Namun ia tetap tak mencoba mengungkapkan keraguan itu. Hanya saja saat ia mulai melepaskan satu demi satu pakaiannya, ia bertanya ragu, “Apakah ini… tidak masalah?”

Laki-laki itu menatapnya tak mengerti, “Tentu saja tak masalah. Bagaimana kau bisa berpikir ini… sebuah masalah?”

Jadi ia kemudian hanya diam. Dibiarkan waktu berlalu tanpa kata-kata. Laki-laki itu terus berkonsentrasi penuh melukisnya, bergantian menatapnya dan menatap kanvas lukisnya.

Hingga ketika akhirnya lukisan itu selesai, ia menunjukkan padanya sambil berkata, “Aku akan memberi judul lukisan ini: Kesedihan.”

Dan ia hanya diam, tak mengerti. Lubuk hatinya bertanya, mengapa kesedihan? Apa laki-laki ini menyadari kalau seluruh dirinya terbentuk dari butir-butir kesedihan?

Ia sama sekali tak melihat bila laki-laki itu menambahkan sebuah kalimat di bawah lukisannya. Kalimat yang diambilnya dari Michelet[1]; Comment se fait-il qu’il y ait sur la terre une femme seule?Bagaimana bila seorang wanita hidup sendirian di dunia ini dan kehilangan harapan?

.

Ia tak pernah mengerti apa yang sebenarnya ada di kepala laki-laki itu!

Beberapa bulan bersamanya, ia hanya tahu bila laki-laki itu diciptakan dari gumpalan-gumpalan kebaikan di hatinya.

Setiap ia datang, laki-laki itu masih selalu membagi roti hitam, dengan potongan yang lebih besar untuknya. Ia bahkan selalu menyisakan uang padanya setiap kali ia menjadi model lukisannya. Bahkan kala ia sedang tak memiliki uang sepeser pun, ia tetap berjanji akan membayarnya sesegera mungkin saat ia mendapatkan kiriman uang dari adiknya. van Gogh.

Ia sebenarnya tak lagi memperhitungkan itu semua. Bersama laki-laki itu saja sudah membuatnya merasa nyaman. Ini yang membuat ibunya tak pernah setuju dengan hubungan itu, dan selalu berteriak-teriak mengatakan laki-laki itu memanfaatkannya. Tapi ia tak peduli. Ia tahu apa yang telah dipilihnya. Ia yakin dengan laki-laki itu karena, tak hanya tak pernah menuntut apa-apa darinya, ia juga mengajukan permohonan padanya agar ia tak lagi kembali ke lorong gelap itu.

Sungguh, ia begitu terharu dengan permohonan itu. Ia segera menyanggupi permintaan itu, walau sedikit hatinya meragukannya. Ya, ia harus realistis. Laki-laki itu semiskin dirinya. Ia hanya mengandalkan kiriman uang dari adiknya yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. Sungguh, ini sebenarnya adalah kehidupan yang mengerikan karena ia tahu kiriman itu bisa berhenti kapan saja!

Namun ketakutan itu seakan sirna dengan sendirinya, saat ia kembali duduk berhadapan di meja reyot itu. Laki-laki itu masih memberikan potongan roti hitamnya yang lebih besar. Bahkan ketika ia harus melahirkan anaknya, yang tak ia ketahui siapa ayahnya, laki-laki itu pulalah yang bersusah payah mencari biaya baginya. van Gogh.

.

Ia tak pernah berpikir seluruh pengorbanan laki-laki itu karena ia mencintainya. Ia pikir itu terlalu muluk. Ia tahu bila itu semua hanyalah karena kebaikan hati laki-laki itu. Bahkan ketika laki-laki itu melontarkan keinginannya untuk menikahinya, ia tahu kalau itu pun bagian dari kebaikannya.

Saat itu, ia masih belum mengenal keluarga laki-laki itu. Namun saat beberapa kawan perlentenya datang dan menatapnya dengan sinis, ia mulai bertanya-tanya siapa dirinya sebenarnya. Terlebih saat adiknya yang rapi dan nampak kaya, juga hadir di rumahnya. Ia tiba-tiba mulai merasa berada di tempat yang salah. Ia merasa tak pantas berada di situ.

Ia bisa menebak dari perbincangan yang tak dimengertinya—karena biasanya mereka sengaja menggunakan bahasa Inggris dan bukan bahasa Belanda—kalau laki-laki itu selalu mendapat tekanan karena keinginan untuk menikahinya.

Maka suatu malam saat mereka berbaring bersama di atas dipan yang berisik itu, ia berbisik pelan, “Kau tak harus menikahiku. Kita dapat terus bersama, tanpa kau harus berkorban seperti itu…”

Tapi laki-laki itu menggeleng keras. Kekerasan hatinya sama sekali tak bisa diubah.

Ia sendiri tak lagi bisa menyangkal bila ia telah jatuh cinta pada laki-laki itu, bahkan mungkin sejak pertemuan mereka yang pertama. Berulang kali ia mencoba untuk mengingkari, tapi ia tak bisa. Laki-laki itu telah begitu banyak melakukan pengorbanan padanya. Ia menyemai kebahagiaan-kebahagiaan di kesedihan-kesedihan yang ada pada dirinya.

Namun ia benar-benar tak ingin membawanya melangkah terlalu jauh di jalan yang tak seharusnya. Sungguh, ini tak adil untuknya. Sangat tak adil. Maka malam itu, ia memutuskan untuk kembali ke lorong gelap yang tak semestinya didatangi lagi. Ia yakin, saat laki-laki itu tahu apa yang sudah dilakukannya, ia akan pergi darinya!

***

Keheningan telah melenyapkan apa pun yang ada di sekitar perempuan itu, kecuali kenangan masa lalunya.

Kesedihan memang telah kembali menggumpal sejak hari itu, sejak ia berbaikan setelah pertengkaran-pertengkaran besar mereka akibat kembalinya ia ke lorong gelap itu 5 tahun yang lalu…

Dan hari ini, di antara penyakitnya yang telah merayap di sekujur tubuhnya, bahkan mulai pula menggerogoti kesedihannya, ia teringat kembali pada laki-laki itu. Ia ingat bagaimana saat ia berbagi roti hitam di meja reyot itu, ia ingat kala harus menanggalkan pakaiannya satu demi satu di depan laki-laki itu, ia ingat pada tatapan laki-laki itu saat mengatakan penuh keyakinan akan menikahinya…

Sungguh, ia ingat semuanya. van Gogh.

Ia merasa, kini ia sangat layak mengingat semua tentang laki-laki itu, di antara napasnya yang mungkin telah sangat terbatas. Ya terbatas. Oleh karena itulah, sejak kemarin ia memohon pada anaknya, yang juga pernah menerima kebaikan laki-laki itu, untuk mencari tahu kabar tentang laki-laki itu di galeri lukisan yang ada di kotanya.

“Bagaimana?” ia bertanya kembali dengan segenap sisa tenaganya.

Anaknya menunduk. “Ya, aku sudah mendapat kabar tentangnya, Bu,“ ujarnya sambil menelan ludah. “Ia… kini sudah menjadi pelukis ternama. Lukisan-lukisannya terpajang di galeri itu…”

Lalu anaknya terdiam. Ia tak tahu kalau ucapannya tadi ternyata sudah cukup membuat perempuan itu tersenyum begitu lebar. Matanya tiba-tiba berbinar, nampak begitu gembira.

Ia sama sekali tak menyadari, bila tanpa ia ketahui, anaknya mencoba membuang wajahnya jauh-jauh dari tatapannya. Karena di situlah raut bersalah terlihat samar. Ya, raut bersalah. Karena saat ia memberanikan diri datang di galeri terbesar yang ada di pusat kota, dan menanyakan pada salah seorang pegawai di sana, tentang seorang pelukis bernama Vincent Van Gogh, pegawai itu hanya menggelengkan kepalanya sambil berujar, “Dari ratusan kanvas yang ada di sini, tak ada satu pun milik pelukis yang kau tanyakan itu!” (*)

***

[1] Jules Michelet, sejarahwan Prancis. Ia penulis History of France.


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung.

Baca juga:
– Pengakuan | Cerpen Ken Hanggara
– Mimpi, Istri, dan Serigala | Cerpen Giovanni Boccaccio

Bagikan artikel ini ke: