Menu
Menu


Oleh: Raudal Tanjung Banua |

Lahir di Lansano, 19 Januari 1975. Buku cerpennya yang terbaru, Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan (2020). Raudal Tanjung Banua mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia di Yogyakarta.


Matabe, Sipora

Dua gereja tegak berdampingan
seperti ibu dan anak
Satu dari papan dan kayu meranti tua
Satu lagi dari bata merah muda,
masih baru, tentu—persis anak pengganti ibu.
Kedua dindingnya putih-putih
dan menaranya sama-sama karib
menyangga salib
yang itu juga: tanda kasih
yang dititip dari sorga
ke dunia. Ketika bertiup angin laut
lewat di sela-sela daunan rumbia,
sebentar lagi senja, dan malam larut
akan tiba. Jendela dan pintu-pintu terkatub
seperti dada-dada jemaah tertutup
jubah dan selimut. Dalam malam berdoa,
kabut pun menyelimuti jisim mereka berdua.

2019-2020

.

Tuapeijat, Lirih Bercakap

Kapal kayu tua dengan geladak lengkung
persis topi laken serdadu tua jangkung
Membuatnya tampak gagah sandar
Di pelabuhan. Anak-anak ombak
Dibiarkannya bermain-main di lunas
dan kaki buritan. Apa yang kaubawa, Pak Tua?
Bertanya lampu Pelabuhan Tuapeijat
yang mengerjap karena angin memukulnya.

Kapal itu menangkap isyarat
dan menjawab, esok kumuat keluwih, kelapa dan kopra
untuk dibawa ke Sumatera
Daratan induk, sang linuwih, tapi betapa sedih:
Hanya punya sedikit kelapa dan lebih banyak sawitnya
Memungkasi hutan raya
—o, sakitnya!

Tapi di sini, dari Pagai, Siberut dan Sipora
pohon-pohon juga terhumbalang, Pak Tua!
Bakau, sagu, rumbia binasa. Sebentar lagi sawit
merentang kuasa ke bukit-bukit sikerei dan uma
Apa nanti yang akan kaubawa?

Kapal kayu tua dengan geladak topi lakennya
Terdiam gagu seperti seorang serdadu tua
Dipaksa menyerah bukan pada kehendaknya.

2018-2020

Catatan: raudal tanjung banua
Sikerei: dukun dan pemimpin ritual di Mentawai.
Uma: rumah tradisional Mentawai.

.

Tiga Sajak Kecil dari Bali

1. Pasar Badung

Bunga yang kuncup di tangkainya
Mekar dalam keranjang pagimu

2. Jalan Sulawesi, Denpasar

Deretan toko kain dan toko emas
Saling mematut diri mana yang pantas

3. Aksara Gaib, Karangasem
—Buat IDK Raka Kusuma

Kaugurat aksara keramat
Nama-nama gaib terbaca
Kalimatmu mengalirkan darah
Dan nasibku menunggu
Keajaibannya di sana.

2018-2020

.

Mambal, Mengwi

Air matamu, Dewata
Jernih tertadah

Setapak jalan tanah memanjang
Mencari celah cahaya

Sebatang tangga bambu meregang
Menyadap aroma luka
Ke pucuk-pucuk nira

Di akar-akarnya
Bergalon-galon air tanah
Jernih ditadah

Di pucuk-pucuknya
Segalon tuak
Membeku darah.

2018/2020

.

Pergi & Pulangnya Seorang Tapol

+ Siapakah yang menangis sebenarnya, Ayah?
_ Mata yang mencucurkan air mata
_ Atau hidung yang sengau menjepit udara
_ sehingga lirih mulut dan lidah, tak bisa berkata-kata?
_ Telinga yang menangkup gema suara kesedihan
_ Bagai kelepak kelelawar di gua-gua jauh,
_ atau tangan dan jemari kita
_ yang tak bisa menyentuh pipimu dan pipiku?

– Besoklah, Nak, kelak kau tahu…

_ (Bertahun-tahun kemudian, ketika si ayah tiba
_ Dari derita jauh di pulau
_ Masih di stasiun yang sama
_ Si anak yang dulu bocah remaja
_ Kini sudah dewasa, dan ia tahu,
_ Ia mengerti, dan tak lupa—seperti jerit pluit kreta
_ Sepilu itu juga—si ayah ia terima kembali):

+ Sesungguhnya, Ayah
_ Ketika engkau pergi dulu
_ Yang menangis adalah semesta wajahmu:
_ Mata, hidung, mulut, telinga
_ Dari mana darah dan air mata
_ Mengaliri kesakitan dan kesedihan
_ Tangan dan jemari waktu
_ Tak bisa menghapusnya. Juga tanganku.
_ Karena itu, kita bawa tangis ke mana-mana
_ Karena yang menangis sesungguhnya
_ wajah semesta di wajah manusia kita.

– Ya, akhirnya kau tahu, Nak,
_ bengkak dan lebam wajah ayah
_ Ompong dan patah gigi ayah
_ Mata rabun dan pecah gendang telinga
_ Adalah tangis semesta yang bertahun jadi mendung
_ Di wajahKu. Dan kau kini telah pandai membacanya
_ Sambil mengeja luka-luka.

2019/2020

.

Cerita Dua Tanjung

Antara dua tanjung, sebuah teluk terkurung
Karang-karang. Antara Tanjung Kerbau
dan Tanjung Kayu Putih, ada secelah jalan air
pintu masuk dan ke luar Teluk Kayeli

Di depan menghadang Pulau Manipa
Kampung-halaman Kapten Jonker
Sekutu Speelman dan Arung Palakka
Yang menghanguskan Pariaman dan Ulakan
Di pantai barat Sumatera.

Nun di timur, negeri Ilath—tercatat punya suara
tentukan Bapa Raja Patuanan—tempat makam keramat
seorang habib yang tak putus diziarahi
oleh yang karib.

Dekat di barat, kota kecil Namlea
Tumbuh seperti tunas sagu di bagian atas rawa-rawa
Tapi masih merawat kota lama di bawah
Dengan pantai, dermaga dan silsilah.

Dua tanjung satu pulau, selalu seperti itu
Melambai sabar saat kau masuk atau keluar
Di antara sawang rumah dan lampu perahu
Menjulang waktu: sekarang dan lalu
Seperti karang-karang, sejarah menancapi tepian teluk
kelabu-tenang…

Namlea, 2018/Yogya, 2020


Ilustrasi: Pexels raudal tanjung banua

Baca juga:
Puisi Pasya Alfalaqi – Di Tengah Pohon Jati
Puisi Saddam HP – Nakama
Puisi Ng. Lilis Suryani – Enigma Tubuh

Bagikan artikel ini ke: