Menu
Menu

Saya menulis tentang diri saya sendiri. Di depan begitu banyak luka, riset kadang hanya dibutuhkan untuk melengkapi cerita.


Oleh: Felix K. Nesi |

Redaktur cerpen Bacapetra.co. Tiga bukunya: kumpulan cerita Usaha Membunuh Sepi, novel Orang-orang Oetimu, dan kumpulan puisi Kita Pernah Saling Mencinta.


I

Saat melihat Laura mati, saya bersandar di tembok dan menangis. Itu pukul tiga dinihari, sunyi senyap. Saya tidak percaya bahwa Laura berjalan sangat jauh, berhasil bertahan hidup dari hantu dan binatang hutan, tetapi memilih mati sesudah melahirkan.

Sesudah menangis dinihari itu, lebih dari enam hari saya berusaha menyusun versi cerita lain, membelokkan cerita di mana Laura tidak mati, mencoba meyakinkan ia untuk tetap hidup. Bagaimanapun, saya telah bersama Laura cukup lama, ia menceritakan kepada saya setiap jengkal perjalanan hidupnya, mulai dari kanak-kanaknya, sekolahnya, kisah cintanya bersama Fernando – bagian yang saya keluarkan dari draf awal dan tidak ikut diterbitkan… saya telah jatuh hati kepadanya dan tidak ingin ia mati.

Tetapi seperti Am Siki, saya tidak berhasil membujuknya. Laura tetap mati, bertemu ayah dan ibunya.

Saya tidak berhasil menghidupkan kembali Laura, tetapi kenyataan bahwa saya menangis lebih dari sepuluh menit ketika ia mati, menangis dengan suara tersedak, menyadarkan akan banyaknya luka di dalam hati saya.

Saya lahir dan besar di Nesam, Nusa Tenggara Timur, sebuah kampung kecil tepat di antara Kupang dan Dili. Selain Bito’o, makhluk lain yang tidak ingin anak-anak jumpai saat mencari burung atau buah-buahan hutan adalah Fretilin. Kata orang-orang, Fretilin berambut keriting, gondrong, kumisan, dan suka membunuh anak-anak. Stereotip buruk itu masih ada sampai hari ini. Kadang, jika saya muncul di kampung dengan rambut gondrong saya, tanta-tanta akan bilang: Auhe, nakmanan onaha Fretilin! Shit, you look like a fucking fretilin!

Di kelas empat SD, saat banyak pengungsi Timor Timur berdatangan, kelas kami punya teman baru dari Timor Timur. Namanya Yanti. Ia cantik dan pendiam. Teman-teman menyukainya, tetapi ia tidak begitu menyukai sekolah. Ayahnya berkali-kali mengantar ia ke sekolah dengan ranting asam. Menyeret di halaman sekolah sambil memukulnya… sangat dramatis. Kau bisa melihat anak perempuan yang ketakutan kepada sekolah, dan seorang ayah yang putus asa — kau bisa melihat si ayah memukuli anaknya sambil menangis. Tetapi bagian itu akan segera kau lupakan, sebab sebentar kemudian sudah akan ada kejadian lain: Perkelahian anak muda kampung dengan pemuda dari kamp pengungsi. Rumah dibakar. Seseorang terluka karena panah. Suara tembakan. Polisi yang memukuli anak-anak muda. Tentara yang mondar-mandir mencari info tentang lonte, dan hal-hal lain yang tidak menyenangkan.

II

Di kelas empat SD, suatu hari, saya berkelahi dengan Kristo dan Frid, dua saudara tua saya, sesudah mereka memberitahu bahwa buku-buku yang saya baca dengan serius di bawah petromaks adalah fiksi yang berisikan omong kosong. Orang mengarang cerita itu, dan saya membuang waktu dengan terlalu serius membaca omong kosong orang. Sebelum mereka memberitahu, saya percaya bahwa benar ada seorang laki-laki tua yang suka memancing tetapi kesepian di laut, saya tahu bahwa ada seorang anak yatim bernama Oliver Twist yang hidupnya menyedihkan… intinya saya menganggap setiap buku yang saya baca adalah sesuatu yang benar-benar terjadi di belahan bumi lain.

Bagi anak Sekolah Dasar, itu artinya, belahan bumi lain sangat istimewa, sangat spesial, dan mereka mempunyai orang-orang yang akan menuliskan segala apa yang terjadi, menuliskannya dengan detail dan menyenangkan untuk dibaca. Dengan kata lain, di bawah sadar saya percaya, bahwa belahan bumi lain itu istimewa, sedangkan belahan bumi yang saya pijak, yaitu tanah Timor, sangat membosankan, tak layak ditulis.

Saat berhenti berkelahi dengan dua orang saudara saya (sesudah Ibu turun tangan ikut menjelaskan), dan dengan ikhlas menerima bahwa semua yang saya baca hanyalah karangan semata, saya jadi suka menulis. Kapan lagi saya diizinkan untuk membohongi orang lain?

Saya mulai menjadi pengarang bagi kawan-kawan saya di SD Nesam. Saya menulis cerita empat halaman di bagian tengah buku tulis Kiky, melepaskannya dari buku, dan satu kelas membacanya bergiliran. Seingat saya semua kawan di kelas membacanya, bahkan Donatus yang slengean dan lebih suka bermain bola daripada duduk di ruang kelas. Mereka bergiliran membaca dan memberi komentar, masukan, meminta saya mengubah jalan cerita, dan seterusnya.

Sejak itu saya butuh lebih banyak buku karena dua lembar di bagian tengah selalu saya copot. Saya menulis kisah pahlawan cilik di Jakarta saat ia berlibur ke rumah nenek, menulis tentang santri di Surabaya yang bisa tenaga dalam, menulis cerita tentang seorang anak yang memadamkan kebakaran di Stasiun Gambir, dan lain sebagainya. Tentu saja sesudah sampai di tangan ke-50, dua lembar kertas itu akan hilang tersapu angin atau dipakai cebok oleh seseorang yang berak di hutan lamtoro di belakang sekolah.

Tetapi saya tidak pernah menulis tentang Timor. Saya menyadari kemudian bahwa saat saya menulis, Timor adalah negeri yang sangat jauh, yang tidak saya pikirkan. Meski lahir dan tinggal di Timor, bacaan-bacaan dan dunia tulis-menulis lebih mendekatkan saya kepada stasiun gambir, tugu monas, atau keluarga kelas menengah Jakarta yang punya dua anak, seperti dalam buku-buku cerita Milik Negara Tidak Diperdagangkan.

Saya sadari kemudian bahwa saya terasing di negeri saya sendiri. Saya menjadi besar dengan ingatan bahwa kami tidak penting di mata Indonesia. Guru-guru marah bila kami berbahasa daerah di sekolah, itu bahasa kampung, jangan dipakai. Makan sirih adalah perilaku tidak beradab, memakai pakaian tenun adalah kebiasaan primitif-kampung. Peta yang tergantung di kelas salah menuliskan nama bekas kerajaan kami, dari Oelolok menjadi Oilolok, tapi tak ada satu pun yang protes, sebab di mata kami, orang kota pembuat peta selalu benar, dan kami yang salah, kampungan, dan belum cukup banyak belajar – meski kami tahu bahwa kami benar, tetapi kami akan berpikir lagi: mungkin kami salah, sebab pembuat peta adalah orang-orang terpelajar yang tidak mungkin salah.

Hal-hal di atas hanya contoh kecil, akan bertambah kalau saya masukkan peran Gereja, juga pengalaman menghadapi rasisme dan kolonialisme, baik oleh orang asing yang datang ke Timor, atau sesudah saya pindah di Tanah Jawa dan berhadapan langsung dengan orang Jawa, yang kadang melihat saya hanya sebagai orang timur buruk rupa yang bodoh dan pengacau.

Ingatan-ingatan kecil seperti itu menjadi luka menjadi amarah yang saya sadari sesudah menangisi Laura.

III

Di pembukaan Festival Winternachten 2020 di Den Haag, Goenawan Mohamad berkata, literature and art cannot be built by anger. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak membenci Belanda, ia tidak marah, meski ayahnya ditembak oleh tentara Belanda. Dengan begitu banyak luka dan amarah di dalam hati saya, apa yang bisa saya katakan di depan kalimat seperti itu?

Di sela Bincang Buku di Klub Buku Petra di Manggarai, akhir tahun 2019, seorang anak muda bertanya berapa lama saya riset. Ia sedikit kagum bahwa saya bisa mencatat begitu banyak episode kekerasan di Timor.

Saya menulis tentang diri saya sendiri. Di depan begitu banyak luka, riset kadang hanya dibutuhkan untuk melengkapi cerita. Kita telah dahulu tahu bahwa sesuatu telah dan sedang terjadi, kita hidup dalam ketakutan, kita bisa merasakan ada banyak orang putus asa, seperti ayah Yanti yang memukul anaknya sambil menangis. Kita tahu sesuatu sedang terjadi, kita hanya tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Penulis motivasi maupun orang-orang psikologi selalu berkata: berbagi itu menyembuhkan. Saya telah menulis, saya telah berbagi cerita saya dengan Anda sekalian, lewat buku setebal 200 halaman. Namun melihat negara yang sampai hari ini masih hadir hanya untuk melukai, saya tidak berharap untuk bisa sembuh, bisa memaafkan.

Jogja, 2020


Baca juga:
Dari Mata Patroklos
Menyingkir dari Derita Wabah Lewat Kisah-Kisah Paradoks

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *