Menu
Menu

Dalam novel Burung Kayu, penulis sengaja tidak mencantumkan glosarium karena punya maksud tertentu, yaitu anti-intelektualisme, seperti buku kumpulan cerpen Nadus dan Tujuh Belas Pasung.


Oleh: Gerson Djehamun |

Kesibukan setiap harinya menjaga kios–dekat persimpangan Katedral Ruteng yang baru–dan menunggu pembeli. Ke mana-mana selalu berjalan kaki.


Intro

Malam, tanggal 11 Maret 2021 pada hari Kamis, Klub Buku Petra kembali menggelar bincang buku yang rutin dilaksanakan setiap bulan. Meningkatnya eskalasi kasus Covid-19 di Ruteng, menggagalkan rencana awal mendiskusikan buku secara tatap muka. Diskusi dialihkan secara virtual. Pukul 19.00 WITA, Maria Pankratia selaku moderator sudah menyiapkan ruangan virtual zoom meeting untuk pertemuan.

Buku yang dibahas kali ini ialah novel berjudul Burung Kayu karya Niduparas Erlang. Ternyata penulis kebetulan hadir, tanpa ada kesepakatan sebelumnya. Bermula dari unggahan di Instagram Klub Buku Petra yang menandai penulis—tidak bermaksud apa-apa—penulis tertarik bergabung. Dan itulah yang membuat bincang buku kali ini jadi lebih menarik.

Beberapa orang hadir dalam diskusi kali ini, termasuk di dalamnya orang-orang yang bukan anggota Klub Buku Petra. Anggota Klub Buku Petra ada Maria Pankratia selaku moderator, Rey Gregorius yang bertindak sebagai pemantik menggantikan Nadya yang berhalangan malam itu, karena harus bertugas di tempat yang belum terjangkau sinyal di pedalaman Manggarai Timur. Kemudian ada dr. Ronald Susilo, Hermin Nujin, Febhy Irene, Lolik Apung, Cici Ndiwa dan saya sendiri. Dari luar Klub Buku Petra ada Ifana Tungga, Yanti Mesakh, Osi Herima, Ney Dinan, Marianus Nuwa, dan Afryantho Keyn; hadir secara virtual dari tempat masing-masing. Tidak semua yang hadir menyampaikan hasil pembacaannya. Beberapa memang hanya ingin mendengarkan hasil pembacaan saja dan menyimak diskusi yang berlangsung malam itu.

(Kesulitan) Membaca dan Memaknai Burung Kayu

Rey yang bertindak sebagai pemantik, pada kesempatan pertama memberi ucapan selamat kepada Niduparas Erlang yang berhasil menang dalam Kusala Sastra Katulistiwa 2020 kategori prosa dan juga masuk dalam daftar nominasi naskah yang menarik perhatian juri dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019. Rey membaca novel ini kurang lebih dua minggu, dengan pembacaan yang terputus-putus karena agak kesulitan sewaktu membacanya pertama kali.

“Novel ini, memiliki latar tempat di Mentawai. Akan tetapi setting waktu tidak tampak,” ucap Rey yang lantas menduga bahwa peristiwa dalam cerita itu terjadi awal tahun 1950-an atau 1980-an (karena ada bukti masuknya pemerintahan). Selanjutnya, Rey menebak juga setelah masa kemerdekaan.

“Konflik yang dibawa adalah multidimensi, di mana terdapat konflik tokoh dengan dirinya sendiri, konflik antar-suku, dan suku dengan agama,” komentar Rey. Pemantik kita ini sempat mengaku ‘jengkel’ dengan ketiadaan glosarium. Untuk memudahkan itu, ia mengandalkan google. Secara keseluruhan Rey menilai bahwa ini novel yang baik. Lokalitas yang dibawa pun baik, penuh dengan simbol. Rey senang dengan strategi yang dibuat Nidu, yaitu adanya momen pengulangan yang selangkah demi selangkah memudahkan pemahaman akan jalan cerita.

Selanjutnya dr. Ronald Susilo. Menurutnya, kisah dalam novel tidak berbeda dengan budaya di Manggarai. Sehingga walaupun tidak ada glosarium, masih bisa dipahami. Dokter Ronald memberikan beberapa penilaian tentang novel ini yang dirasakannya agak kurang baik, di antaranya soal perjalanan emosi tokoh utama yang terputus-putus dan konflik antara pemerintah dan agama. Dokter Ronald menilai lebih “keren” konflik uma satu dan lainnya. Menurutnya, novel ini mirip novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi karena sama-sama etnografi. Ada dua pertanyaan yang muncul di benak Dokter Ronald ketika selesai membaca novel ini. Apakah mereka yang tinggal di pedalaman salah dan yang di kota itu benar? Apakah mereka yang hidup di pedalaman lebih baik dari yang tinggal di kota? Fakta yang ditemukan dalam novel adalah orang pedalaman kerap menghubungkan penyakit yang mereka alami dengan roh jahat dan Puskesmas yang dianggap bukan tempat berobat melainkan tempat orang menjemput kematian.

Pertanyaan lain adalah ritual tradisional itu benar atau salah? Sebab dapat menimbulkan masalah baru; dulu kondisi aman-aman saja sebelum ada mantri dan dokter, dengan pelayanan yang ada sekarang malah makin banyak yang sakit.

Kesempatan berikut diberikan kepada Hermin. Hermin membaca novel ini secara pelan. Namun selalu, katanya, dia merasa bertanggung jawab jika sudah membaca. Artinya harus tuntas, suka tidak suka, mengerti tidak mengerti. Sama seperti Rey, Hermin mengalami kesulitan yang sama, yaitu kesulitan mengartikan istilah karena tidak adanya glosarium. Tetapi, Hermin memuji buku ini pertama-tama karena penulisannya yang detil, pun membahas dengan baik.

“Hampir di semua kampung, jika mau mempertahankan animisme atau apa pun itu, akan ada dilema pada satu kehidupan baru yang menghampiri,” kata Hermin ketika mulai mempersoalkan isi novel. Novel ini mengingatkan Hermin bahwa orang zaman dahulu harus mempertahankan tradisi. Hermin tertarik pada halaman 19 yang berbunyi: Ah, lidah yang berkisah menusuk-merasuk dibanding anak panah beracun yang dilepas-lesakkan sekuat roh; lebih tajam dari mata parang yang diayun-entakkan pada batang-batang sagu yang ditumbangkan. “Jadi, seperti kita pada zaman sekarang ketika berbagai rumor, sesuatu yang tidak rumit menjadi rumit,” tukas Hermin.

Hermin juga tertarik pada kisah cinta Taksilitoni; bagaimana ia bisa mengambil adik iparnya sendiri sebagai suami. Di Manggarai dikenal dengan lili. Lainnya adalah Hermin memperhatikan penamaan anjing yang unik-aneh, yaitu Pemerintah dan Sistem. Bahwa tidak semua perbuatan pemerintah baik bagi mereka—orang-orang yang tinggal di pedalaman.

Hermin mempertanyakan mengapa ada pengulangan kisah. Dalam pada itu, Hermin menyinggung soal burung kayu yang sepertinya tidak mewakili keseluruhan cerita. Kisah tentang burung kayu hanya terdapat di bagian-bagian awal.

Feby berbeda dengan yang lainnya. Ia kerap melihat buku dari cover-nya. Pun di Burung Kayu. Tampak luar buku ini menurut Feby menceritakan banyak kejadian serta menggambarkan aspek tertentu. Masuk ke isi buku, Feby merasa cukup sulit. “Membaca buku ini dari awal dibutuhkan fokus, mood, dan niat. Tidak bisa saat kebetulan,” katanya.

Feby setuju dengan pendapat-pendapat sebelumnya. Dia merasa risih dengan ketiadaan glosarium dan mempertanyakan judul yang sama sekali tidak dibicarakan banyak dalam novel. Menurut Feby, menikmati buku ini harus tanpa jeda, semisal tidak bisa membacanya dua halaman lalu dilepas. Feby mengategorikan novel ini dalam fiksi ilmiah. Oleh karena itu, novel ini cocok bagi orang yang suka belajar budaya dan meneliti tentang budaya. Pada intinya, menurut Feby, novel ini mengajak orang untuk menjaga budaya agar tetap lestari. Terakhir, Feby senang di halaman 155 yang mengingatkannya pada lagu-lagu Gereja.

Ya Abba Bapa, ini aku anak-Mu

Layakanlah seluruh hidupku

Ya Abba Bapa, ini aku anak-Mu

Pakailah sesuai dengan rencana-Mu

Sampailah pada giliran saya. Saya termasuk yang membaca novel ini dengan pelan, sebanyak dua kali. Pada pembacaan pertama, saya merasa cukup sulit dengan adanya kosa-kata baru. Pada pembacaan selanjutnya, dengan kesabaran dan ketelitian, saya merasa lebih baik sekalipun tidak ada glosarium. Saya melihat burung kayu sebagai sebuah simbol kebesaran yang dipakai oleh sebuah uma. Tanda kebesaran itu dibanggakan oleh uma bersangkutan, yaitu uma Saengrekerei bahwa mereka lebih hebat dari uma yang lain. Konsep itu dilanjutkan pada tahap berikutnya, yaitu konflik yang mengiringi cerita di dalam novel. Itulah alasan mengapa burung kayu tidak digambarkan lebih lanjut di bagian setelah bagian-bagian awal novel. Saya kemudian bertanya kepada penulis: “Apakah kebencian atau dendam turun-temurun merupakan tradisi lisan?”

Maria Pankratia sebagai moderator juga menunjukkan hasil bacaannya. Ia baru membaca buku itu dan tidak mengalami kesulitan. Namun ia tetap harus membuat daftar kosakata. Baginya novel ini memiliki cerita yang bagus dan menarik.

Selain anggota Klub Buku Petra, ada Ibu Osi yang ikut dalam bincang buku virtual ini. Setelah mendengarkan hasil bacaan tadi, ia menilai novel Burung Kayu memiliki isi yang mendalam, terutama tentang warna-warni kehidupan dan juga kebiasaan orang-orang. “Intinya novel ini hendak menggambarkan indahnya kehidupan yang penuh lika-liku,” ujarnya. Ia memang belum membaca novel itu, tetapi dari pembacaan peserta sebelumnya, Ibu Osi ingin segera membaca novel tersebut

Penulis Burung Kayu Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan

Memasuki sesi ini, Niduparas Erlang mendahului dengan ucapan terima kasih karena Klub Buku Petra berkesempatan membahas karyanya.

Pertanyaan pertama dari Rey: “Mengapa tidak memilih menggunakan glosarium?”.

Penulis memulai jawabannya dengan sebuah narasi. Ia mula-mula sempat berdiskusi bersama teman-temannya dari kajian sastra untuk menjelaskan istilah daerah yang digunakan para sastrawan, terutama buku terbitan Balai Pustaka, misalnya Azab dan Sengsara, disusul Siti Nurbaya. Itu adalah buku-buku yang menggunakan catatan kaki sebagai penjelasan istilah lokal di Medan dan Minang pada masa itu.

“Dan pada saat yang sama, terbitan-terbitan yang disebut sebagai bacaan ria dan sastra Tionghoa Melayu peranakan itu tidak menggunakan glosarium dan jauh lebih leluasa menggunakan bahasa Melayu rendah ketimbang bahasa Melayu tinggi yang digunakan Balai Pustaka, “ ujar penulis tersebut.

Hasil diskusi Nidu dengan teman-temannya mengatakan bahwa itu merupakan politik bahasa yang digunakan Balai Pustaka untuk tujuan pendidikan—menjadi yang paling pertama. Balai Pustaka menentukan kriteria karya sastra. Yang tidak sesuai kriteria tidak diterbitkan. Nidu merasa heran bahwasanya hal itu kemudian diterima saja oleh para sastrawan sebagai kelaziman.

“Dan saya sebagai penulis, siapa yang mengharuskan saya melakukan hal seperti itu?” Ungkap Nidu seakan menentang. “Sementara dalam bahasa daerah, ada konsep yang tidak bisa diterjemahkan secara leksikal begitu saja,” tambahnya.

Akan tetapi, Nidu mengakui sempat mengalami pergolakan untuk ikut yang mana; dari awal telah menjadi pertaruhan: apakah diterima atau tidak oleh pembaca. Sebab kebanyakan pembaca menerima yang lazim dengan glosarium. Hal yang sama juga pernah dilakukan Nidu saat menerbitkan kumpulan cerpen keduanya di tahun 2014 atau 2015. Namun, Nidu yakin dengan adanya repetisi sebagai sebuah strategi, novelnya akan lebih mudah dimengerti.

Pertanyaan kedua ialah “Apakah kebencian atau dendam turun-temurun merupakan tradisi lisan?”

Menurut Nidu, sebetulnya bukanlah kebencian yang diturunkan melainkan tentang apa yang dikisahkan, misalnya bagaimana orang zaman dahulu menemukan tanah, bukit, lalu mengklaim bahwa itu kepunyaan mereka. Kisah tersebut diwariskan dari generasi ke generasi.

“Hanya saja dalam kisah mengenai kepemilikan, tidak bisa melepaskan keterhubungan antara suku siapa yang berkerabat dengan suku lain. Siapa yang mau melepaskan diri dan membangun suku baru,” ujarnya.

Di dalam kisah yang demikian kompleks, dendam tidak bisa dilepaskan begitu saja. Karena selain hubungan kekerabatan yang dikisahkan, konflik antarsuku mau tidak mau juga diwariskan: dendamnya, hubungan kekerabatannya.

Lokalitas: Perlawanan Terhadap Fiksi Pascamodern

Lolyk Apung adalah anggota Klub Buku Petra. Frater yang menempuh pendidikan filsafat di STFK Ledalero itu tidak sempat membaca Burung Kayu, tetapi telah melihat tentangnya di google. Lolyk mengatakan bahwa lokalitas dicurigai memuat bibit eksploitatif, yaitu memanfaatkan yang lokal untuk kepentingan lain: menulis karya dan lainnya. Mengapa demikian?

“Karena (sudah) tidak memiliki bahan dari barat, maka memakai yang dari timur-sebagai yang jarang dibahas. Tapi secara mentah dimasukan ke dalam karya tanpa interpretasi atau refleksi,” ungkap Lolyk yang juga pernah menulis tentang lokalitas dalam kumpulan cerpen Nadus dan Tujuh Belas Pasung.

Tapi menurut Lolyk, itu sah-sah saja. Ia melanjutkan bahwa mengangkat kearifan lokal merupakan bentuk perlawanan terhadap sepak terjang budaya modern, yaitu globalisasi yang membawa kapitalisme; fiksi pascamodern itu membutuhkan interpretasi. Ia kemudian membandingkan puisi Sapardi Djoko Damono yang kental akan nuansa intelektual dengan puisi Putu Wijaya yang berisi keseharian masyarakat. Artinya tidak perlu ada interpretasi lagi.

“Artinya juga adalah Mas Nidu tidak perlu mengintepretasikan karyanya, biarkan pembaca saja. Walaupun Mas Nidu mati sebagai pengarang, kami lahir sebagai pembaca,” kata Lolyk

“Dalam novel Burung Kayu, penulis sengaja tidak mencantumkan glosarium karena punya maksud tertentu, yaitu anti-intelektualisme, seperti buku kumpulan cerpen Nadus dan Tujuh Belas Pasung. Kita harus beralih dari apa yang diinterpretasikan ke apa yang dikerjakan untuk lingkungan atau wilayah lokalitas kita,” tutup Lolyk.

Lolyk mengapresiasi novel Burung Kayu.

Alasan Memilih Penerbit Teroka

Berangkat dari pertanyaan Dokter Ronald, yaitu “Mengapa memilih penerbit Teroka?”, berikut jawaban penulis.

Nidu mengatakan bahwa itu adalah sebuah kebetulan. Buku-buku Nidu sebelumnya, yaitu kumpulan cerpen pernah diterbitkan di Surabaya, Gramedia juga. Nidu menjelaskan bahwa di Teroka ada teman kuliahnya yang tengah mengerjakan tesis dan baru saja merayakan kelulusannya waktu itu.

“Ketika mau membuat penerbitan, mereka berpikir naskah siapa yang akan mereka terbitkan pertama?” ingat Nidu. Sebagai teman yang sudah lama berkenalan, mereka kemudian berdiskusi, ngobrol. Naskah Nidu pun diputuskan menjadi novel pertama yang akan diterbitkan. Selanjutnya naskah diserahkan, melewati proses penyuntingan yang lama, tidak mulus-mulus amat; “Karena penerbit mempunyai kepentingan sebagai penerbit dan penulis mempunyai kepentingan sebagai penulis,” ucap Nidu.

Nidu tidak berpikir novelnya diterbitkan penerbit besar. Ketika Teroka memberikan tawaran, itu jauh lebih menarik ketimbang penerbit lain, terutama dalam hal fasilitas, yaitu bagaimana penerbit Teroka memperluas jangkauan agar buku Nidu tiba di tangan para pembaca, cara-cara apa yang sebaiknya ditempuh. “Hal itu yang justru menarik untuk bagaimana distribusi buku lebih lanjut daripada sekadar cetak,” kata Nidu. Tawaran itulah yang membuat mereka bersepakat.

Jawaban Nidu sekaligus menjadi akhir dari diskusi. Pertemuan kemudian ditutup. Para peserta memberikan bintang empat untuk novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang ini. Moderator berterima kasih kepada penulis dan semua yang hadir karena menyempatkan diri untuk hadir; pengalaman berharga bagi saya untuk bisa berbincang dengan penulisnya langsung.

Ruteng, malam itu tidak turun hujan, tidak ada kendala apa pun malam itu, termasuk sinyal yang seringnya hilang muncul. Sampai selesai, diskusi berjalan dengan lancar.

Bincang Buku berikutnya akan berlangsung secara virtual pada hari Kamis, 08 April 2021. Buku yang dibahas merupakan karya Minanto, Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2019, Aib dan Nasib. Sampai jumpa.(*)


Baca juga:
Darah di Pantai Omaha
Bagaimana Pandemi Mengubahmu Menjadi Gregor Samsa

Bagikan artikel ini ke: