Menu
Menu

Ketika kapal baja itu tiba di pantai Omaha, pasukan divisi ke-352 Jerman langsung menggempur dengan peluru dan molotov.


Oleh: Risda Nur Widia |

Buku kumpulan cerpen tunggalnya Berburu Buaya di Hindia Timur (2020). Cerpennya telah tersiar di berbagai media nasional dan lokal.


Kau memeluk senapan berjenis Karabiner 98k yang beberapa hari lalu kau dapat dari seorang Heer[1] dalam satuan Wehrmacht[2], Jerman, yang kepalanya berlubang di pantai Omaha.

Sambil mendekapnya, kau masih merasakan guncangan air laut dan suara granat yang menghancurkan tubuh-tubuh tak berdosa itu. Padahal kejadian itu sudah terjadi sekitar dua hari lalu, tapi perang masih terasa di jiwamu.

Kau, pria 24 tahun kelahiran Boston, benar-benar merasa beruntung bisa lolos dari serangan serupa mimpi laknat tersebut. Kau menarik napas dan mengembuskannya. Kau berpikir terkutuk karena terjebak pada divisi ke-1 penyerangan Overlord[3] ini. Banyak temanmu yang tewas, meregang nyawa di tepi pantai Omaha dengan cara yang mengerikan. Bila ada yang masih hidup, barangkali hanya sedikit. Namun kau berpikir itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Kau tersenyum dan sedikit bisa mengambil hikmah dari kesialan besar yang terjadi karena kediktaktoran Nazi itu. Tapi Hitler[4] memang pria yang konyol! Pekikmu. Hitler seperti tidak puas dengan operasi Barbarossa[5] terhadap Rusia, kini pria konyol itu ingin menyatukan lagi Eropa berdasarkan obsesinya mengenai ras dan etnis dengan mengorbankan kalian semua.

Sekali lagi, kupingmu mendengung. Kau seperti mendengar lesak tembakan ke arahmu. Padahal kau kini tidak sedang bertempur.

“Rokok?” kata seorang serdadu tiba-tiba kepadamu, “Aku punya sebatang yang kudapat dari seorang Heer yang terbunuh.”

Kau menatap pria yang terlihat tirus itu. Kau menggeleng.

Sampai hari ini, perutmu belum bisa menerima secara normal makanan. Kau masih membayangkan serpihan kaki, usus, kepala, bola mata, potongan tangan, dan jarimu sendiri yang terlepas kemarin. Darah yang membuat laut menjadi merah itu juga masih berdebur di otakmu. Semuanya seakan begitu jelas.

Seperti mengerti perasaanmu yang kacau, serdadu itu menarik lagi rokoknya. Serdadu itu lantas menyesap rokoknya sendirian. Namun ketika kau melihat tangan si serdadu, terdapat getar lembut di sana. Kau menyadari, serdadu itu masih terpukul seperti dirimu.

***

Tanganmu kebas. Kau merasakan perih luka pada balutan di tangan kirimu. Tiga jarimu hilang entah ke mana. Mungkin sudah tersapu ombak bersama darah dan serpihan daging milik para serdadu divisi ke-1 dan ke-29 di pantai Omaha.

Sejak 5 Juni 1944, ketika kolonel Bodo Zimmermann, kepala operasi OB West Jerman dapat memecahkan kata sandi yang gencar disiarkan oleh Inggris melalui sajak berjudul Nyanyian Musim Semi karya Paul Verlin, neraka pertempuran seperti sudah disiapkan. Begitu juga denganmu yang tergabung di divisi ke-1, di bawah perintah Panglima Tertinggi Dwight D. Eisenhower, yang memerintahkan setiap kolonelnya mempersiapkan pertempuran dua hari lalu.

Pertempuran yang kau lalui itu, adalah perang paling luar biasa dalam hidupmu. Di kapal-kapal pembawa para serdadu itu, kau berdesakan dengan sekitar 20-35 orang serdadu. Hampir selama 30 menit sebelum penyerangan, kau terapung di atas kapal. Banyak wajah murung yang kau lihat. Ada yang mematung memandang langit pukul 16.00; ada yang menangis atau berdoa; ada pula yang terus memandangi foto keluarganya.

“Bila aku mati ditembus peluru,” kata serdadu itu, “aku ingin mati seperti puisi. Tapi tidak ada kematian yang indah, jadi tidak terlalu buruk bila sebelum mati aku bisa melihat wajah istri dan anakku.”

Kau sendiri merasakan takut yang sama dan ingin menangis. Namun seperti kehabisan alasan, kau hanya mampu termenung—terlebih ketika Kolonel Richard menjelaskan mengenai lokasi pertempuran.

Kolonel Richard sejak keberangkatan menjabarkan kalau pertempuran yang terjadi di Omaha akan tiga kali lebih mengerikan daripada di Utah, Gold, Juno, dan Sword. Kolonel Richard membocorkan bahwa pertahanan Wehrmacht Jerman yang paling kokoh terdapat di pantai itu. Ditambah serangan Luftwaffe[6] dari angkasa yang bisa menghancurkan puluhan kepala.

“Bila kalian masih percaya Tuhan, lekaslah berdoa,” kata Kolonel Richard, “hari ini kita akan mengalami hari yang abu-abu. Bila besok kita masih menghirup aroma kopi, itu adalah keniscayaan.”

Ketika kapal baja itu tiba di pantai Omaha, pasukan divisi ke-352 Jerman langsung menggempur dengan peluru dan molotov. Kolonel Richard, atas perintah Panglima Dwight, gagal membaca situasi. Divisi ke-1 dan ke-29 menghadapi segerombolan Heer terbaik Jerman. Satu per satu tumbang. Peluru dari senjata jenis Carbine M1 dan Maschinengewehr 34 berhasil menggerus tubuh-tubuh itu. Banyak kepala, mata, dada, dan kaki berhasil tertembus peluru para Heer. Kau pun lekat menatap setiap tubuh yang kehilangan hidupnya.

“Tuhan, bunuh jiwaku,” gumam seorang serdadu.

Doa seperti menjadi potongan sajak yang terlampau romantis di medan perang. Doa tidak bekerja dengan baik untuk menyelamatkan serdadu dari ledakan molotov yang dijatuhkan pasukan Luftwaffe. Kau sendiri berusaha menembaki segala yang bisa ditembaki. Sampai kau berpikir: Tidak ada yang benar-benar dirimu tembak selain ketakutanmu sendiri.

Kau terus merangkak di atas tubuh para serdadu yang mati dan yang hidup, hingga akhirnya membuatmu acap mendengarkan hal-hal konyol dan menyedihkan dari bibir mereka. Misalnya, ketika kau berjumpa dengan serdadu di dekat setumpuk mayat kawan-kawanmu, serdadu itu berbaring sambil memeluk rosario. Selain serdadu paruh baya itu, kau menjumpai serdadu lain yang terlihat pasrah memeluk senapannya berjenis Submachine Gun Thompson. Pria itu berbaring di samping kanan—menghadap dirimu.

Kau memekik keras, “Apa yang kau lakukan? Kau bisa mati!”

Serdadu itu menjawab, “Aku sedang memeluk putriku.”

Kau mengernyitkan kening. “Yang kau peluk itu adalah senjata. Bukan anakmu. Kau bisa mati terkena bom!”

“Sudahlah,” desis serdadu itu melepas topi bajanya, “di tengah kekacauan ini aku malah melihat putriku yang telah meninggal dua tahun lalu. Ia memanggil-manggil namaku untuk lekas menyusulnya.”

Kau terdiam melihat serdadu itu bernyanyi lagu yang tak jelas. Sampai kemudian, tanpa kau sadari, sebutir peluru melesak ke arahnya. Kau terkejut. Batok kepala serdadu itu pecah dan darahnya terburai ke arahmu.

Namun keterkejutan itu tak lama dilanjutkan dengan ledakan tank-tank yang terkena molotov. Divisi pasukan yang dipimpin oleh Mayor-Jenderal Percy Hobart dalam menentukan gerakan kendaraan lapis baja berjenis, Sherman Duplex[7], seperti tidak berkutik dengan meriam-meriam yang dilemparkan Wehrmacht dari Point Du Hoc[8], yang diletakkan di suatu bukit.

Kau mencoba bertahan. Kau kembali melesakkan tembakan buta. Kau kembali pula merasa kalau hanya menghambur-hamburkan peluru dan menunggu maut datang. Sampai akhirnya tanpa kau sadari, ledakan kuat menghantam tidak jauh dari lokasimu dan membuatmu terpelanting hingga kehilangan tiga jari.

Kau memekik kesakitan seraya mencari potongan jarimu yang terlepas. Namun, bukan jari-jarimu yang kau temukan. Kau menemukan potongan kaki, tangan, kuping, dan usus yang terburai milik serdadu lain di tepi pantai Omaha.

***

Walau sudah dua hari, kau masih merasakan perih pada tangan kirimu. Yang lebih parah lagi, kau sering dihantui oleh bayang-bayang perang berikutnya yang lebih mengerikan. Kau secara refleks memeluk senjata rampasan berjenis Karabiner 98k lagi. Bau amis meruap dari gagang senjatamu. Senapan berjenis Karabiner 98k itu seakan sudah berhasil membunuh banyak kawanmu.

Kau melirik serdadu yang sebelumnya menawarkan rokok. Sosok itu terlihat tenang duduk seraya memandang pasukan lain yang duduk di sebuah piano bekas. Piano itu memang berhasil selamat dari baku tembak yang terjadi beberapa jam lalu di kota Isigny-sur-Mer.

“Kau tahu, Kurt adalah seorang pianis yang andal,” ujar serdadu itu lagi. “Ayahnya adalah seorang pianis yang hebat. Ayahnya pernah mengadakan sebuah konser piano di gedung Konservatif di Berlin.”

Kau melirik. “Aku seperti mendengar nama Jerman padanya.”

“Betul. Kurt Hahnke memang masih memiliki darah Jerman. Ia mengikuti perang ini karena ingin membalaskan dendam Ayahnya. Aku sedikit tahu dari seorang kawan, semua keluarga Kurt mati setelah diasap oleh Nazi karena Yahudi.”

Kau memandang Kurt yang tampak tenang memainkan piano. Jari-jari Kurt lincah bergerak di atas tuts piano. Ketika melihat Kurt bermain piano, kau mendadak ingat jari-jari kebanggaanmu yang menghilang entah di mana. Jari-jari yang kau harapkan dapat mewujudkan cita-citamu sebagai musisi setelah perang.

Serdadu itu menambahi, “Memang apa yang dipilih Kurt adalah tindakan bodoh. Kurt telah membunuh seluruh bakatnya. Mungkin saja besok jari-jarinya yang terampil itu menghilang. Apakah kau tahu: ia besok diposisikan pada garis depan pertempuran?”

Kau tidak menanggapi. Para serdadu yang masih tersisa tampak tenang mendengarkan lantunan piano Kurt. Para Serdadu itu seperti sedang mengheningkan cipta atas segala kehancuran, melalui permainan piano Kurt. (*)


[1] Heer,sebutan untuk angkatan darat Jerman

[2] Wehrmacht, sebutan untuk satuan pasukan Jerman

[3] Invasi Normandia, yang nama kodenya adalah Operasi Overlord, adalah sebuah operasi pendaratan yang dilakukan oleh pasukan Sekutu saat Perang Dunia II pada tanggal 6 Juni 1944. Hingga kini Invasi Normandia merupakan invasi laut terbesar dalam sejarah, dengan hampir tiga juta tentara menyeberangi Selat Inggris dari Inggris ke Perancis yang diduduki oleh tentara Nazi Jerman.

[4] Hitler, pemimpin besar Nazi

[5] Operasi Barbarossa (Jerman: Unternehmen Barbarossa) adalah sebutan invasi tentara Nazi Jerman di Uni Soviet pada Perang Dunia II. Invasi ini dimulai pada tanggal 22 Juni 1941.

[6] Luftwaffe, sebutan untuk pasukan Udara Jerman

[7] Sherman Duplex, sebutan bagi tank-tank ampuh tentara Amerika

[8] Pertempuran Pointe du Hoc adalah pertempuran yang termasuk dalam Operasi Overlord atau yang disebut juga sebagai Invasi Normandia atau juga disebut D-Day yang terjadi pada 6 Juni 1944, salah satu pertempuran yang paling menentukan dalam Perang Dunia II.


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
– Pengadilan Terakhir – Cerpen Karel Čapek
– Tiba Sebelum Berangkat; Kisah yang Mengalir

Bagikan artikel ini ke: