Menu
Menu

Karenanya kita pernah sering
berciuman, Fatimah


Oleh: Deri Hudaya |

Lahir di Singajaya, 3 September 1989. Novel Déng (Layung, 2016) Godi Suwarna adalah buku terjemahannya yang telah terbit. Ia juga menerbitkan buku kumpulan cerpen bahasa Sunda, Lalakon Kadalon-Dalon (Kentja Press, 2018). Buku terakhirnya berjudul Lalayaran Luhureun Heulang (Kentja Press, 2020), yang menghimpun karya enam penyair muda yang menulis dalam bahasa Sunda. Bersama Poesual Art, ia bereksperimen membuat film-puisi. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani, mengajar di Universitas Garut, dan mengelola blog Huma Nini Nora. Saat ini, ia tengah menyiapkan buku puisi pertamanya Lawang Angin dan novel terjemahan Godi Suwarna berjudul Sandekala.


Satu Malam Pandemi
Sebelum Pulang

Di halaman depan rumah kontrakan
yang tidak mungkin terbayar lagi
dan jadi mirip neraka tapi belum bisa
ditinggal pulang malam ini, aku serahkan
diriku pada lirik-lirik lagu tentang pulang
sambil membayangkan sengkarut
imajinasi Columbus yang jauh.

Apakah pulang akan bernama pulang
jika benua tidak melahirkan anak-
anaknya, jika Adam dan Hawa tidak pernah
saling jatuh cinta di surga, jika kampung
dan kota dan pabrik dan jalan raya
tidak dibangun tuan-tuan kolonial yang
mesum dahulu kala, jika tak ada sekolah
dan pertanyaan perihal cita-cita.

Aku masih di sini, ditemani seekor
pulang yang luar biasa malas dan manja
tapi bulu-bulunya sehalus kehadiran
malaikat pencabut nyawa. Sekali lagi
aku memetik gitarku sambil meminum
sebotol kebimbangan Columbus
di bawah langit berwarna sengsara
tanpa ada nikmat-nikmatnya.

Bagaimanakah pulang jika ke sana
pun pulang, ke mana pun pulang,
di mana-mana pun pulang, ketika pulang
adalah bulan sabit keparat di atasku
seperti perahu lesung tersesat, rudin,
utopis, berisi buruh kere tanpa tabungan,
tak punya pesangon dan tidak mampu
mendapatkan pacar dari kelas borjuis
yang kebetulan budiman.

Pohon jambu tak tahu diuntung di depanku
menggugurkan bayang-bayang pulang
dari rantingnya. Apakah angin celaka
malam ini berembus dan menghasut
pulang hanya untukku? Demi setan-setan
penunggu jemuran, mengapa rumput liar
terus bergoyang di batok kepala,
mengingatkanku pada rumah butut,
pada tanah tandus kampung yang telah
lama bukan lagi milikku.

Atas nama Columbus yang sedih
dan habis, seekor pulang menyebalkan
di sampingku agak sempoyongan, lalu
berjalan meniti angin, berjinjit di kabel
listrik, mengeong pada atap-atap kota,
dan melenggang ke bulan yang tidak lantas
jadi purnama, masih seperti perahu lesung
yang tentu tidak agung seperti perahu
besar Nuh, tapi tenteram seperti batu
nisan. Setidaknya, di sana tidak harus
bayar kontrakan.

2020

.

Mantra Pengantar Tidur

Setelah bersusah payah jadi sarjana
pendidikan susastra akhirnya saya bisa
membuat sebuah mantra sederhana
yang tidak sempat saya ucapkan kepada
pacar karena ia—puji Tuhan—terlalu

cepat mati. Mantra ini tidak sempat
diisyaratkan api kepada kayu bakar
karena ibu saya telah biasa memasak
telor dadar dengan kompor gas.
Saking sederhananya, mantra ini hanya

terdiri dari empat kata yang sama sekali
tidak arkhaik, terdiri dari: hutan, tahun,
tuhan, dan hantu. Mantra ini bisa dibaca
kapan saja, termasuk saat buang hajat.
Agar tidak lupa, saya menulisnya

dengan stabilo hijau di empat dinding kamar.
Saya tidak bosan membacanya, terutama
jika tidak punya cukup kuota untuk
membuka laman dewasa di internet.
Urutan katanya kerap tertukar. Tapi

tidak apa-apa. Mantra pascakolonial
tidak harus tertib, yang paling penting
saya tidur lelap bersama mimpi-mimpi
yang tidak terusik oleh imperialis sialan
dan teman-temannya

dan kacung-kacungnya.

2020

.

Cinta Berita dan Cerita

Demikianlah,

Berita dan Cerita hidup
di sebuah tempat paling indah
yang terlalu banyak namanya
sehingga bisa disimpulkan
tidak bernama.

Mereka menikmati
kebebasan apa saja. Telanjang,
memaki, berbohong atau
apalagi? Kecuali
mendekati pohon terlarang.

Sementara Cinta
adalah makhluk melata
di sudut-sudut yang
bahkan sulit dibayangkan,

Ia berada di dalam
sekaligus di luar kehendak
Berita dan Cerita.

Atas kehadirannya,
Berita dan Cerita dapat
menjangkau tabu
dari pohon terlarang itu.

Mereka lalu menyebutnya
buah pengetahuan.

Mereka kemudian pergi
dari tempat paling indah
tak bernama itu
untuk mengabarkannya
pada seluruh umat manusia.

Tapi itu tidak pernah
Tapi itu tidak akan pernah
Tapi itu hanya pernah…

Yang samar kita artikan:
barang siapa mengecap
buah pengetahuan, ia akan
mengetahui dirinya sendiri
dan harga penderitaan
yang tak mungkin terbayar
dalam hidup ini.

Yang samar terdengar
di ambang tidur
para leluhur.

Yang mana
semua itu membuatmu
semakin tergoda
untuk jadi pencuri
atau pencari

dan membuatku
semakin tak tahu diri.

Lalu kau dan aku
sama-sama membayangkan
tempat paling indah
tak bernama itu

di kamar pengap
yang kita sebut dunia-kita
melampaui batas
ruang dan remang
bayang-bayang
kata:

jauh, uuuh…
gelap, aaah…

jauh, uuuh…
gelap, aaarght…

2020

.

Kepada Fatimah Vlogger

1
Pejamkan matamu
dan lihat sebentar masa lalu

Kita telah sepakat
untuk tidak selalu sepakat

Tentang rama-rama
atau anjing budukkah
binatang paling lucu di dunia

Tentang kampung kita yang kumuh
atau kota penuh polusi
yang patut kita caci

Mungkin, yang tidak
mungkin pernah kita debatkan
hanya satu soal

: semua agama dan
kepercayaan menebar tafsir
perihal kasih sayang

Karenanya kita pernah sering
berciuman, Fatimah,
dengan bibir merah remaja
yang cukup terlatih

mengecup perbedaan

2
Pejamkan matamu
dan jangan menangisi kampung kita
yang tinggal puing—mereka
sebut itu dengan nama lain: pembangunan

Bayangkan saja masa depan,
jika aku jadi dai eksentrik
yang giat keluar-masuk
gedung diskotik

Bayangkan juga,
dalam kelimbungan mabuk
tidak satu lonte pun mudah
merenungkan firman Tuhan,
kecuali engkau

Ibarat langit dan bumi,
kita akan hidup bersama
sampai hari kiamat nanti

3
Tapi kini, bisakah kita
syukuri saja rekah fajar
sebelum matahari
jadi cakar dan ilusi

Aku tidak lebih dari debu
di telapak sepatu seorang mafia,
sementara engkau serupa peluh
untuk makna selembar tisu

Engkau terkurung dalam
sangkar emas TikTok

aku suntuk dengan puisi-
puisi urban atau kampungan

dengan segala kesinisan
dan kemuakan di halaman
koran minggu tanpa pembaca

4
Pejamkan matamu
dan jangan menangisi hari ini

Pejamkan matamu
di layar ponselku
dan tersenyumlah lebih banal lagi

Aku akan senantiasa
tulus mencintaimu
dengan setiap makian
dalam puisiku

2020

.

Teka-Teki

1
Sebuah tempat
paling rahasia
yang kita
ketahui bersama

2
Sebuah akhir
yang sebagian
dari kita percaya
sebagai awal

3
Seorang tua
berbaring menanti,
tapi ia bilang
hendak pergi

4
Seorang makelar
menawarkan kavling tanah
yang tidak pernah
ia ukur

5
Hanya saat mabuk
engkau boleh bertanya
apa yang lebih meyakinkan
dari omong kosong?

2020


Ilustrasi: Photo by Jackson David from Pexels

Baca juga:
– Puisi-Puisi Ama Achmad – Mompopot
– Puisi-Puisi Iyut Fitra – Kepadamu Kami Bicara
– Dari Mata Patroklos | Mario F. Lawi

Bagikan artikel ini ke: