Menu
Menu

ia akhirnya tahu:
merah adalah penanda, ama achmad


Oleh: Ama Achmad |

Emerging writers MIWF tahun 2014. Bergiat di Babasal Mombasa sejak 2016. Menginisiasi Festival Sastra Banggai sejak tahun 2017.  Menulis puisi, cerpen, esai, serta sesekali menjadi editor lepas. Sekarang sedang menulis novel dan menyiapkan rencana-rencana untuk komunitasnya.


Pastoral

Pagi tak pernah syak pada kokok ayam,
dan matahari yang lahir dari laut.

Tentu saja ada yang tetap tertidur:
televisi tua di ruang tamu,
jendela yang kehilangan warna,
dan keberangkatan yang hanya rencana.

Tetapi hari tetap memanjang,
seseorang menggusah burung-burung.
Seseorang lain menyisir takdir di telapak tangan.

(8 September 2020) ama achmad

.

Juli yang (Berpura-pura) Tabah

: untuk Sapardi Djoko Damono

Juli tidak sedang berandai-andai tentang kau
yang angin, yang meringsut dan menyusup di
celah jendela, dan membawa dingin.

Cuaca dengan segala yang mengiringnya,
tidak sedang menyengaja mematahkan
kuntum bunga dan menggoyang dahannya.

Jalur-jalur kawat terperangkap dalam
lanskap langit yang pias, bersetia sampai lengkap
seluruh hari, hingga luruh pucuk kemboja muda.

“Sudah sampaikah aku?”
“Tutup matamu dan tidurlah. Puisi-puisi
akan tetap berdetak, kata-kata masih bernapas.”

(19 Juli 2020) ama achmad

.

Ketika Ingin Bunuh Diri

Kamu ingin pergi dari tubuhmu dan takdirmu.
Melepaskan diri dari banyak duri yang melekat kuat.

Kamu lelah terperangkap dalam nama dan usia yang senantiasa
dirayakan setiap tahunnya dengan tiup lilin dan potongan keik.

Kamu tidak lagi memercayai waktu dan kalimat positif
yang didengungkan orang-orang kaya
dalam buku pesanan yang sengaja ditulis,
dan terbit dengan wajah manis mereka di sampulnya.

Kamu hampir tidak mampu melihat wajahmu
yang terampil meminjam senyum dari ingatan lama.

Kamu ingin mati lebih cepat dari janjimu.
Tetapi kamu memilih; duduk di trotoar,
memandang langit yang biru dan teringat
pesan “orang mati bunuh diri tidak diterima di surga”.

(April, 2020)

.

Menikmati Sinole

: untuk Theoresia Rumthe

Telah dipersiapkan sagu, parutan kelapa muda, ikan dan bara,
juga sejumput kenangan masa kecil yang tidak pernah tanggal.

Telah dinyalakan api, dicacah tomat dan cabai, juga bawang merah
yang tidak pernah sengaja mengiris air dari kedua mata.

Telah diperas lemon, diseduh teh tawar, dan kursi yang menghadap laut,
juga seluruh pandang pada yang jauh, yang biru.

Telah dicecapnya kampung dan dikunyahnya rindu. Telah ditenangkan degupnya,
seperti ombak kecil Kei pada pasir panjang yang menyimpan separuh jejaknya.

. ama achmad

Mompopot

: Madina

Ia ingat semua itu:
tirai berkilauan dipasang,
sirih, pinang, dan helai daun
pacar tertata di dulang.

Ia kenali seluruhnya:
ibu dengan mata basah,
ayah dengan suara gemetar
dan alunan berzanzi yang tak putus.

ia tak paham segalanya:
dua noda merah di pipi,
satu tanda bulat di pucuk kepala,
dan daun-daun yang mengikat
sepuluh jemari.

ia akhirnya tahu:
merah adalah penanda,
lepasnya tangan dari rumah,
diikatnya seluruh oleh janji.

ama achmad


Ilustrasi: Photo by Juan Pablo Serrano Arenas from Pexels

Baca juga:
Puisi-Puisi M. Aan Mansyur – Cara Lain Membaca Sajak Cinta
Melihat Kerja Literasi di Palu dan Luwuk
Bertemu Felix

Bagikan artikel ini ke: