Puisi-Puisi Setia Naka Andrian – Surga Itu
10 April 2021| | 0 CommentSurga itu gadis kecil/ yang sedang lucu-lucunya/ Ia matematika dengan sejuta suara lembab/ dan influenza
Oleh: Setia Naka Andrian |
Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Mendaki Dingin (PSK Kendal, 2020). Buku puisinya Kota yang Mukim di Kamar-Kamar (PSK Kendal, 2019) memperoleh Nomine Antologi Puisi Terbaik Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.
Surga Itu
Surga itu panjang tangan rupanya
Hari-hari menjadi baik di ujungnya
Kau bilang, jangan ke mana-mana dulu
Setiap orang sedang senang menjadi
patahan batu-batu
Surga itu baju yang kau kenakan
ternyata
Kau kaget tak terkira
Menjadi sepasang kekasih
Rebahan di tengadah tangan
Surga itu perjamuan makan malam
kiranya. Sebuah obrolan
yang tak pernah diciptakan
Saat menu dipilih menjadi dunia kecil
dalam gerbong sejarah yang dibuat
di sebuah minimarket di kamarmu
Surga itu menjadi sangat mahal.
Kendaraan baru yang bisa dinaiki
dari banyak pintu di sekitar rumahmu
Lalu akhirnya kau dijual di luar hubungan
; kekasih dalam pencarian
para penagih hutang harian
Surga itu gadis kecil
yang sedang lucu-lucunya
Ia matematika dengan sejuta suara lembab
dan influenza
Sedangkan siapa saja yang beranjak
sebelum pulang, maka di situlah
semua orang akan bertanya,
Ke mana langkah kaki selanjutnya
Ke mana surga akan dibawa masuk ke
dalam dada pemeluknya
Kemudian seseorang yang jauh
di luar sana bertanya,
Apakah surga itu sebuah agama?
Kendal, Februari 2021
.
Burung-Burung
: Iman Budhi Santosa
burung-burung menyambar
tubuh-tubuh lelah,
atap-atap rumah,
tanaman gagal berbiak
di pekarangan
musim panen dibawa lari
tikus dan hama
dan apa saja
yang kerap berpusingan
menjadi kebaikan-kebaikan
yang tumbang sembarangan
burung-burung menanak nasi
di ketinggian
di sepanjang udara
yang abadi menghubungkanku
dengan surga terakhir
di pikiranmu
burung-burung menggambar
kabel listrik yang ditanam
di kaki para pedagang senjata
penakluk segala godaan
dan rasa cemburu di akhir pekan
burung-burung tetap terbang
meski hujan di luar sana runtuh
tak beraturan
meski siapa saja kerap menjatuhkan
dirinya sendiri
sebelum sama sekali tenggelam
menjelajahi apa saja yang sulit
dipulangkan dari genangan air
dan sisa kemerdekaan
burung-burung tak mati sembarangan
ia punya rumah dalam kuburnya
ia punya kubur dalam rumahnya
Kendal, Februari 2021
.
Paman Naga Merah
: Jesy Segitiga
Ada naga merah, Paman
Rumah ibadah di balik jendela
Kemenangan tumpah ruah
di leher istrinya
Anak-anak mengendarai apa saja
di luar tubuhnya
Tombol-tombol di dinding rahasia
bahagia mengenakan baju impor
dari China
Ada naga merah, Paman
Ia yang sedih mencuri perhatian
di balik dermaga
Ia menahan pecahan ombak
dari sisa gulungan badai
yang dikirim dari surga
Tahukah kau, Paman
Katanya, naga merah diciptakan
dari berbagai kesempatan
di luar mata uang
Diciptakan dari sejuta kenangan
dalam gudang kekalahan
; dari surga mana saja
asal itu dipilih dari keningmu
yang maha dalam
Aku kian tak paham, Paman
Bagaimana mungkin kebahagiaan
ditimbun di alam bawah kenangan
Bagaimana badai di dada
dan segala yang ingkar di hati kita
tumbuh dari berbagai kemalasan
dan tepuk tangan
Lalu harus bagaimana lagi, Paman
Orang-orang di luar sana
kini memilih tenggelam
dalam sesat tak tertahankan
Tak sedikit dari mereka
yang memilih pulang duluan
Mengendarai apa saja
Asalkan semua bisa sampai
Menuju keagunganmu
yang maha menyenangkan
Paman, ada naga merah, Paman
Jika begitu;
Apakah hidup kita selamanya
akan tetap merah remaja, Paman?
Kendal, Februari 2021
.
Masa Muda
Aku tak tahu, jika memang masa muda
diciptakan dari bakteri
dan sisa kumur di pagi hari
Aku tak tahu, jika memang masa muda
masih punya rasa takut
dan tinggal sekarat di televisi
Aku tak tahu, jika memang masa muda
Lahir di februari dan dibaca
dari hujan bukan di bulan juni
Aku tak tahu, jika memang masa muda
Memilih jadi halaman depan, kandang ayam
dan sepasang muda-mudi berpelukan
Setiap kali air melompat menjadi tanaman
Aku tak tahu, jika memang masa muda
Terbuat dari jam kerja dan sisa lembur
yang berantakan di meja atasannya
Aku tak tahu, jika memang masa muda
Tak akan pernah selesai di rumah ibadah
Apalagi menjadi makan malam
yang tinggal serumah dengan kesumpekan
dan anggur hangat
di akhir pekan
Aku tak tahu, jika memang masa muda
Sejujurnya bukanlah aku
Aku tak tahu, ke mana lagi
masa-masa kemenangan harus dituju
; selain menjadi seperti yang negara ini mau
Kendal, Februari 2021
.
Dari Sebuah Enter
Pukul saja enter itu
; lima sentimeter
Huruf memanjang
dari matamu
Dari pilihan font yang kau tipu
setiap waktu
Pukul saja enter itu
; satu meter
Serbuk merah menyala
dari hidungmu
Dari ikat rambut yang patah
di leherku
Pukul saja enter itu
; sepanjang ciumanmu kepadaku
Lalu aku berbisik di telinga kirimu;
Bawalah aku pulang,
Bawalah aku menjadi
seperti maumu
Menjadi esok hari yang lucu,
Sapu tangan, kapas terbang,
atau apa saja
Meski segala itu sangat mustahil
bagi hidupmu
; apalagi kematianku
Pukul saja enter itu
; selebar lingkar dadamu
di malam pertamaku
Seperti kemarin kau tahu,
Aku menciptakan ungu
di bibirmu
Sungguh, aku sengaja mengajakmu
Menjadi segala yang susah dipikirkan
Menjadi masa depanmu
yang sangat awam
di dinding ocehan televisi
dan di remukan berita
koran-koran harian
Pukul saja enter itu
; seperti sempat kau pukul aku
dengan tabung oksigen
dari kata-kata terakhirmu
Sebab memang enter itu,
adalah bagian belakang masa mudamu
yang sama sekali
tak pernah miring ke kiri
Memunggungi segala yang seharusnya
kau tulis tanpa enter itu
Pukul saja enter itu
; seperti sejarah dan kenangan
yang saling menipu
Lalu ciptakanlah aku
dari ruang bermainmu
Dari berbagai petasan
dan bom yang meledak jinak
di dunia hewan
dan tumbuh-tumbuhanmu
Agar sampai kapan pun
Aku tak tahu, kapan semuanya
akan keluar dari rindu
Kapan semua akan kau lepas
menjadi surga sepenuh tuhanmu
Kendal, Februari 2021
Ilustrasi: Photo by Emma Bauso from Pexels
Baca juga:
– Puisi-Puisi Raudal Tanjung Banua – Cerita Dua Tanjung
– Puisi-Puisi Iyut Fitra – Kepadamu Kami Bicara
