Menu
Menu

Orde Baru seperti suanggi saja. Orang-orang bernas, mati tanpa bekas.


Oleh: Hyan Godho |

Lahir di Boawae- Flores, NTT, pada 17 Agustus 1998. Tinggal di Ritapiret, Maumere dan mengenyam pendidikan di STFK Ledalero. Bergiat aktif di Teater Tanya Ritapiret. Menulis puisi, cerpen, dan cerita-cerita lucu. Puisi-puisinya dimuat di lokatuahg.blogspot.com.


Mama Yo bangkit dari tempat doanya, ia menata kembali untaian Rosario yang sebelumnya ia genggam erat, ia lilit pada salib yang di sebelahnya berdiri patung Bunda Maria. Patung itu kecil saja, patung pemberian saudarinya di Ende, yang selalu ia yakini mampu menjadi perantara yang agung untuk permohonan-permohonan kecil dan sederhana.

“Cari hidup di orang punya tana watu itu harus banyak backing, Ine. Alas paling kuat untuk kita yang selalu embu mamo pesan itu, doa. Jangan lupa doa, kapan dan di mana pun engko berada. Doa itu tameng mahakuat, Du’a Ngga’e mbana sama, hidup jadi lebih enteng.” Saudarinya menasihatinya sambil memberikan sebuah patung kecil berukuran 15 cm. Itu sebelum Mama Yo pergi ke Nagerawe, tempat hidupnya yang baru.

Kelak ia mengabdi di sana sebagai Pegawai Negeri Sipil. Setidaknya ia ada pekerjaan, setelah bumi Lorosae kisruh dan berantakan. Peristiwa berdarahnya Santa Cruz, membuat keluarganya mencium tanah. Kehidupan yang sudah mapan di Timor-Timor, lesap begitu saja. Mereka pulang ke kampung halaman dengan tangan hampa.

Dari Tim-Tim, penuh ketakutan mereka berlayar ke Ende. Keadaan sangat darurat. Di Kota Dili, orang-orang tidak lagi membentang merah-putih, kota itu penuh darah. Orde Baru seperti suanggi saja. Orang-orang bernas, mati tanpa bekas.

Tiba di Ende, saudara dan saudarinya senang, mereka luput dari maut. Sudah lama sekali mereka merantau ke tanah Lorosae dan tidak pulang-pulang. Suami Mama Yo yang adalah pegawai IT di salah satu sekolah di Dili, sibuk sekali dengan kebutuhan-kebutuhan siswa-siswi maupun para guru di sana. Hampir tiap hari, mereka membutuhkan tenaganya untuk mengurus ini dan itu. Sedang Mama Yo, setia mengikuti suaminya, ke mana pun suaminya pergi. Jadi, waktu untuk pulang ke kampung hampir tidak ada dan tidak memungkinkan.

Kali ini, mereka pulang. Tetapi kepulangan mereka adalah air mata. Tidak ada apa-apa yang mereka bawa. Namun, atap rumah keluarga selalu ramah. Keluarga adalah pepohonan yang selalu sejuk dan melindungi.

“Mama, kita mulai dari awal,” suaminya berucap penuh kepasrahan. Ia tidak menduga sama sekali, bahwa mereka akan sepatah ini.

*** suanggi

Syukur mereka kembali ke Ende. Mama Yo dibiayai kuliah oleh suaminya dan sanak keluarga untuk kuliah lagi hingga sarjana. Ia akhirnya lolos tes PNS, dan ditempatkan di daerah Nagekeo, sebuah kabupaten yang baru saja mekar dari kabupaten sebelumnya, Ngada.

“Oh Nagerawe itu di Nagekeo?” tanya saudarinya asal.

“Iya, Nagerawe itu desa yang sejajar dengan Alorawe di bagian Selatan, kecamatan Boawae. Di Ngada juga ada Nagerawe. Itu kan pas di perbatasan. Tapi daerah Nagerawe yang di bagian Ngada sudah lumayan bagus jalannya, tidak compang-camping.” Sambung suami Mama Yo lancar. Ia dulu bersekolah di SPMA Boawae. Ia tahu baik tempat itu. Dulu, mereka suka memancing di Jembatan Me Bhada sampai di Ae bha.

“Kalau Alorawe?”

“Itu juga bagian dari Nagerawe, hanya sekarang sudah pisah. Mereka berdiri sendiri. Alorawe melingkar cantik seperti kuali, dari atas dataran tinggi. Hanya itu tadi, jalanannya ompong. Macam gigi nenek Hermina saja.”

Dulu, Suami Mama Yo, ketika perayaan Misa Kristus Raja di Alorawe, ia harus basah-basahan melewati sungai Aesesa yang mengalir beringas. Jembatan belum ada. Temannya nyaris hempas terbawa arus. Nasib baik, Tuhan menyelamatkan hidupnya. Suami Mama Yo yang lahir besar dengan laut sehingga Ia tahu baik mau-maunya air itu bagaimana.

Orang-orang di sana kecil, tapi trampil! Mereka jago bertani dan berternak.”

Suami Mama Yo kerap mendengar cerita-cerita unik dari teman-temannya di sana. Terdengar menyenangkan, tetapi sesungguhnya sangat memprihatinkan. Pernah suatu kali, Tobias, teman sekolahnya yang dari Alorawe menceritakan bahwa waktu musim penghujan, ketika Pastor Paroki datang untuk melayani umat di stasi setempat, mereka harus bersusah payah mengangkat Pastor agar bisa menyeberangi sungai. Mereka menyiapkan bambu pengayuh yang mereka rancang ala kadarnya, tahan-tahan supaya pastor bisa melewati aliran sungai. Namun, kadang-kadang arus kalau terlampau deras, hari minggu atau hari raya di Alorawe itu sepi sekali. Mereka tidak bisa merasakan Tuhan yang representatif dan yang Ada itu.

“Di sana kadang-kadang hantu lebih dominan dari Tuhan, eja. Ja’o pu kakak perempuan yang baru selesai sarjana, meninggal orang bikin,” Keluh Tobias.

“Orang sekarang tu suka cemburu. Lihat orang lain sukses, hati suka panas. Hidup di sana kalau tidak ada alas, kau bisa jadi kapas. Enteng-enteng saja dibawa kian-kemari oleh angin maha jahat,” lanjut Tobias kesal.

*** suanggi

Saudari Mama Yo tidak bertanya lagi. Iparnya kalau cerita kadang-kadang wora juga.

Tau to orang Ende?” canda saudari Mama Yo. “Mereka kalau cerita suka bunyi seperti ombak di tangga alam.” Ia tertawa dan memilih membantu saudarinya menyiapkan barang-barang perlengkapan sebelum ke Nagerawe, daripada mendengar iparnya yang nyerocos tanpa henti.

Saudari Mama Yo paling bisa menetralkan kembali suasana yang mulai tegang. Sebetulnya candaannya dengan iparnya tadi, hanya mau menghilangkan ketakutan yang mulai membayangi Mama Yo. Mama Yo kadang suka cemas mendengar cerita-cerita aneh macam begitu. Ia masih trauma dengan peristiwa yang dialami di bumi Lorosae. Ia tidak habis pikir, bagaimana kepala manusia terpisah dari tubuhnya dengan begitu mudah.

Melihat kecemasan itu, saudari Mama Yo diam-diam memberikan sebuah patung kecil yang ia peroleh dari Pater Josep, misonaris asal Polandia yang berkarya di paroki mereka. Pastor Josep sangat berkarisma dan baik hati. Begitu banyak hal-hal jahat yang ia patahkan melalui doa-doanya.

“Saya hanya punya ini, untuk engko, ine.” Saudari Mama Yo menyerahkan patung Bunda Maria kepada Mama Yo.

“Ini benda paling berharga yang saya miliki. Jaga baik-baik, dan berdoalah dengan tulus untuk permohonan-permohonanmu,” Mama Yo kemudian memeluk saudarinya, tanpa sadar, air mata mengalir di kedua bola mata kakak dan adik itu.

“Jangan lupa pasang lilin di kuburan e, kamu dua suami-istri. Minta juga doa dari embu mamo. Tiada yang lebih ampuh selain doa, ine, untuk kita manusia yang rapuh dan tak berdaya ini.”

Saudari Mama Yo sangat perhatian sebab Mama Yo adalah satu-satunya adik yang tersisa setelah Mince, saudari tengahnya yang meninggal ketika masih kecil. Mama Yo adalah saudari bungsu. Baru beberapa tahun lalu ia kembali dari Timor-Timor, kini pergi lagi. Rasa-rasanya hidup ini hanya dijalani untuk mengalami perpisahan yang terus-menerus. Saudari Mama Yo sedih ditinggal pergi lagi. Tetapi apa mau dikata, jika kepergian ini untuk hidup yang lebih baik.

*** suanggi

Di Nagerawe Mama Yo cepat bergaul dengan siapa saja. Orang-orang mengenal Mama Yo dengan baik. Perawakannya yang pendek dan suaranya yang lantang menjadi ciri khas. Sejak kedatangannya di Nagerawe, anak-anak muda sangat bersemangat untuk sekolah. Ia mendorong para orang tua untuk berani menyekolahkan anak mereka. Apa pun yang terjadi.

“Kamu wesi-peni kamu punya wawi, bhada sampai gemuk-gemuk, kamu juga harus wesi-peni kamu punya anak-anak dengan ilmu yang cukup,” nasihat Mama Yo ketika mengadakan pertemuan dengan para orang tua. Para orang tua sangat senang dan dengan semangat membeli buku serta alat tulis untuk anak-anak mereka.

Mama Yo semangat bukan hanya di sekolah saja, di Komunitas Umat Basis (KUB) atau di KBG-nya pun, ia semangat bukan main. Ia mendorong umat KBG-nya untuk rajin berdoa, kalau ada tanggungan koor di kapela, ia juga turut melatih mereka bernyanyi.

Orang-orang begitu menyukai Mama Yo. Jika ada hajatan atau acara syukuran anak sekolah, sambut baru, atau pernikahan, Mama Yo selalu diundang. Ia menjadi sosok yang selalu dinantikan, sekadar undangan maupun yang ikut mengatur acara. Orang Nagerawe dan Mama Yo seperti terang rembulan dan malam. Kedekatan mereka seperti itu, kalau orang Nagerawe adalah malam, maka Mama Yo itu bulan yang menerangi malam-malam mereka.

Namun demikian, Bapa Rafel, rumah yang bersebelahan dengan Mama Yo, tidak menyukai kondisi tersebut. Menurutnya, Mama Yo itu terlalu sok dan buat-buat. Bapa Rafel resah dengan kehadiran Mama Yo di kampung mereka. Hatinya panas ketika melihat Mama Yo dengan seragam dinasnya setiap hari pergi ke sekolah untuk mengajar. Kadang berjalan kaki, kadang diantar suaminya dengan sepeda motor. Ia sudah mencoba membuat Mama Yo dengan le’u-le’u, tetapi tidak bisa, malah yang kena imbasnya adalah babi peliharaan suami Mama Yo. Kadang, guna-guna itu kembali lagi ke rumahnya.

Ketika berpapasan dengan Suami Mama Yo, jangan harap Bapa Rafel mau tegur, padahal Suami Mama Yo sudah sapa duluan. Ia bungkam, jalan terus seperti robot. Bapa Rafel juga jarang mengikuti kegiatan-kegiatan di KBG mereka. Ia ikut, kalau ada kematian saja. Selebihnya tidak. Barangkali ia takut, nanti kalau ia mati, tidak ada yang melayat atau menguburkannya.

Siang hari, ia di rumah saja atau istirahat di kebun. Tetapi ketika malam tiba, rekan-rekan kelelawar-nya pun tidak kebagian apa-apa. Ibu Ratna, teman guru Mama Yo bilang, dia itu suanggi besar. Ia sangat terkenal di seantero kampung. Ibu Ratna menduga, anak sulungnya yang telah meninggal adalah akibat perbuatan Bapa Rafael.

“Orang-orang bilang, dia itu beli guna-guna pakai kerbau besar. Untuk ukuran ayam saja, barang itu bisa membuat orang sakit berbulan-bulan, apalagi ukuran kerbau! Kau bisa lenyap dalam sekejap,” Ibu Ratna menjelaskan.

Akan tetapi Mama Yo tidak mengacuhkannya, ia baik-baik saja. Ia selalu berdoa. Kekuatannya adalah doa. Setiap petang, lilin di kamarnya selalu terang. Tentang kematian babi peliharaan suaminya, ia pun tahu, dan ia memilih untuk tenang-tenang saja. Jenis yang satu ini hanya bisa dilawan dengan doa. Selebihnya Tuhan yang atur.

*** suanggi

Sudah mulai malam, Bapa Rafael pulang dari kebun, lewat depan rumah Mama Yo, ia semprot ludah tiga kali ke halaman rumah Mama Yo. Entah untuk apa. Ritual itu ia lakukan setiap hari. Ini hari yang terakhir ia lakukan, hari yang kesembilan. Biasanya pada hari yang terakhir, korban yang ia targetkan itu pasti tinggal nama saja. terhempas oleh guna-gunanya. Namun, Bapa Rafael tidak pernah tahu, bahwa di hari-hari yang sama pula, Mama Yo tekun berdoa Novena Sembilan Hari kepada Bunda Maria. Mama Yo melakukan itu diam-diam, tanpa sepengetahuan orang-orang rumah. Belum sempat Mama Yo sebut amin pada novenanya yang terakhir, ia mendengar suaminya mengetuk-ngetuk pintu kamar cukup keras.

“Mama, mama, kita pu tetangga depan rumah meninggal,” Suami Mama Yo tampak tergesa-gesa, wajahnya pucat pasi.

Dengan tenang Mama Yo bangkit dari tempat doanya, ia menata kembali Rosario yang ia genggam erat sejak tadi, ia lilitkan kembali pada salib, yang di sebelahnya berdiri patung Bunda Maria. Dengan rasa terima kasih yang sungguh kepada Tuhan, ia keluar dari kamar. Dari balik jendela, ia melihat orang-orang sudah mulai ramai di rumah Bapa Rafael.(*)


Catatan:
Tana watu (bahasa daerah orang Nagekeo/Ende/Ngadha): kampung halaman.
Ine (bahasa daerah orang Ende): mama, saudari.
Embu Mamo (bahasa daerah orang Nagekeo/Ngadha/Ende): Nenek Moyang.
Du’a Ngga’e mbana sama (bahasa daerah orang Ende): Tuhan berjalan bersama kita.
Eja (bahasa pergaulan di Flores): ipar, sering juga dipakai untuk menyapa orang baru (laki-laki dewasa).
Ja’o (bahasa daerah orang Ende/Ngadha): Saya.
Wora (Bahasa daerah orang Ende): Tipu-tipu, banyak omong kosong.
Wesi Peni (bahasa daerah orang Nagekeo): memberi makanan untuk hewan peliharaan.
Wawi (bahasa daerah orang Nagekeo): Babi.
Bhada (bahasa daerah orang Nagekeo -Boawae-): Kerbau.
Le’u-le’u (bahasa daerah orang Nagekeo, Flores pada umumnya): guna-guna, jampi-jampi.

suanggi suanggi suanggi


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
Yang Kita Miliki dan Tak Kita Miliki | Cerpen Andy Kresna Crenata
Kasmir dan Kina | Cerpen Afryanto Keyn

Bagikan artikel ini ke: