Menu
Menu

“Wabah bikin sengsara. Lupakan saja. Mari kita sama-sama cari cara agar tetap waras di tengah kesengsaraan ini!”


Oleh: Yoga Aditya Pratama |

Alumni jurusan Bahasa Unpad. Suka menulis di waktu luang. Beberapa artikelnya pernah tayang di The Jakarta Post, Geotimes, Detiknews.com, dll. Menyukai isu-isu budaya populer, terutama apabila terkait dengan hal-hal kebahasaan. Saat ini bekerja sebagai penulis lepas.


Identitas Buku

Judul Buku: Kisah-kisah Kecil & Ganjil
Penulis: Agus Noor
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: Pertama, Juli 2020
Tebal: 272 halaman
ISBN: 978-602-391-993-2

***

Wabah corona memaksa kita bersahabat dengan derita, kecemasan, kegetiran, ketakutan, kesepian, hingga kematian. Walau begitu, selama pandemi ini, masyarakat dunia tampaknya tak lupa akan hakikat dirinya sebagai makhluk sosial yang dianugerahi prinsip kebahagiaan.

Tak peduli segetir apa pun penderitaannya, manusia akan menyalakan insting survival-nya dan mencari celah untuk bahagia dan kabur dari segala bentuk kemelaratan. Pengalaman menyelamatkan diri dari bala seperti demikian bisa dirasakan melalui seni kata-kata dengan membaca Kisah-kisah Kecil & Ganjil karya Agus Noor yang bertabur paradoks.

Di novel ini, Agus Noor menulis dengan menggunakan pendekatan objektif. Maksudnya, walau latar utamanya adalah wabah, setting tersebut ditaruh jauh di belakang. Yang muncul di permukaan justru adalah cerita-cerita kecil dan ganjil yang berbumbu misteri, klise dan hiperbola, surealisme, imajinasi liar, hingga sentilan-sentilan politik dalam bentuk satire yang menyindir ketidakbecusan pemangku kebijakan dalam menangani pandemi.

Buku ini tak seperti Sampar milik Albert Camus yang menampilkan situasi epidemi dengan gambaran deskriptif dan reflektif dari dekat. Agus Noor, sebaliknya, ingin menjauh dari wabah dan mengajak pembaca untuk berimajinasi di sebuah ruang abstrak yang jauh dari penderitaan. Di ruang imajiner tersebutlah pembaca bisa tetap hidup dan tertawa, sebuah ilusi bahwa seolah-olah keadaan sedang baik-baik saja dan jauh dari duka apa pun. Sang penulis seperti mengatakan: “Wabah bikin sengsara. Lupakan saja. Mari kita sama-sama cari cara agar tetap waras di tengah kesengsaraan ini!”

Selama pandemi, orang-orang terpenjara di dalam rumah. Kehidupan sosial dibatasi. Langkah progresif ke masa depan semacam tertutup. Yang ada adalah orang-orang diam stagnan di tempat, di dalam rumah masing-masing, atau bahkan lebih banyak menjelajah waktu kembali ke masa lampau, seperti yang orang-orang lakukan dengan mengunggah kembali kenangan beberapa waktu sebelum pandemi ke media sosial Instagram, biasanya dengan tagar #throwback. Media sosial jelas menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menjadi destinasi pelarian dari duka wabah.

Hal ini jugalah yang sebetulnya mengawali ide novel Kisah-kisah Kecil & Ganjil, seperti yang diungkap penulisnya sendiri di bagian pengantar. Menurutnya, mulanya buku ini adalah flash fiction yang ia tulis di Instagram dan ia beri nama “Cerita Instagram”. Di sana, ia memperbolehkan orang lain alias netizen untuk ikut menulis. Bagi sang penulis, Instagram bisa dijadikan sebagai “ruang kreatif”, sebuah ruang imajiner yang menawarkan kehidupan lain ketika wabah melanda.

Proyek ini seakan-akan mengajak netizen untuk menjadi seperti William Shakespeare yang mengarantina diri namun tetap kreatif dan produktif dengan menulis tiga mahakarya Macbeth, King Lear, dan Anthony and Cleopatra yang ia selesaikan saat terjadinya wabah bubonik di awal tahun 1600-an. Hanya saja, Agus Noor tidak melakukannya sendirian. Ia mengajak netizen untuk menunjukkan jiwa Shakespeare-nya masing-masing.

Selain karena memang tiada cara lain yang tetap menghibur, berkreasi di media sosial, terutama Instagram, tampak seperti menjadi satu-satunya tugas kultural yang bisa dilakukan mayoritas masyarakat sejak awal masa wabah hingga kini. Konon, ini bisa menjadi cara untuk tetap bahagia yang berujung pada meningkatnya imun sehingga bisa meminimalisasi peluang tertular virus. Itulah tampaknya salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan oleh masyarakat.

Bermain Instagram menjadi tugas masyarakat, wabah urusan pemerintah—seperti seharusnya; itulah yang tampaknya ingin ditunjukkan novel ini. Sebabnya adalah karena mayoritas masyarakat menilai bahwa selain tak mampu menangani wabah dengan baik, pemerintah juga tak bisa diandalkan untuk membantu masyarakat luas, termasuk dalam hal hiburan. Ini seperti tercermin dari perkataan tokoh Malik di dalam novel: “Kau tahu sendiri, pemerintah selalu merepotkan hidup kita. Mengharapkan bantuan pemerintah akan jauh lebih merepotkan” (hlm. 25).

Lalu apa hasil dari eksisnya ruang kreatif Instagram ini?

Hasilnya liar. Seakan-akan pikiran-pikiran apa pun yang menakutkan, yang misterius, yang cemas, yang erotis, yang surealis, yang tertekan saling sikut untuk keluar dari diri yang terepresi oleh kebijakan publik untuk melakukan karantina mandiri selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan saat pandemi. Keliaran itu nampak begitu nyata dalam dongeng-dongeng di buku itu.

Sekumpulan dongeng-dongeng pendek ini diawali dengan tema misteri di Bagian 1. Tiada yang tahu siapa sosok di balik bayangan yang berjalan sempoyongan dan menyeret mayat bersamanya di suatu malam di tengah pandemi itu. Tiada yang tahu pula apakah bayangan itu sebetulnya berwujud laki-laki atau perempuan. Spekulasi lain menyatakan bahwa barangkali bayangan itu sedang menyeret mayatnya sendiri.

Misteri itu—yang juga dibalut kengerian dan derita—membuka “ruang kreatif” imajiner yang abstrak itu. Bukankah ini menjadi ironi? Di tengah-tengah krisis, kita ditawarkan sebuah ruang imajiner di mana kita bisa mengalami kewarasan alternatif, tetapi di pintu utama menuju ruang itu kita pun disuguhkan nuansa yang sama gelapnya. Kita seperti anak kecil yang diberi kesempatan oleh seorang dewasa untuk mengintip sebuah peristiwa hukuman penggal kepala lewat celah lubang jendela.

Keliaran imajinasi lainnya juga ditampilkan lewat gambaran-gambaran surealis. Tokoh utama, orang miskin, yang berubah menjadi anjing mengawali cerita ganjil di Bagian 3. Surealisme lain ditunjukkan oleh kehadiran suatu makhluk bertubuh anjing dan berkepala perempuan dengan rambut tergerai dan bersayap sebesar kuda yang muncul dari langit (hlm. 102).

Novel ini juga didominasi oleh cerita-cerita berbau disonansi dan paradoks, atau bahkan mendekati improbabilitas, seperti seorang bayi baru lahir yang langsung mengucap nama Tuhan dan mengajak Srintil berdzikir, bukan menangis (hlm. 107). Unsur-unsur tersebut juga terkadang dibalut kepedihan yang jenaka. Cerita tokoh Malik, misalnya. Ia “mati karena wabah dan mayatnya berjalan sendiri menuju kuburan, karena tak ada lagi orang yang hidup mau menguburkan orang yang mati” yang kemudian dirumorkan mengajak istri orang miskin masuk ke dalam kuburnya seakan-akan masuk ke sebuah kontrakan, melakukan entah apa (hlm.54-55).

Segala keliaran ini tentunya berawal dari jiwa yang gelisah yang ditimpa wabah dan diwajibkan melakukan karantina mandiri. Agus Noor, seperti masayarakat lain, menolak untuk terus-terusan direpresi. Oleh karenanya, ia menciptakan ruang imajiner kreatif dan mengajak orang lain (netizen) untuk memasukinya dan membebaskan diri dari derita. Kegelisahan-kegelisahan dari jiwa yang terisolasi itu kemudian menelurkan kisah-kisah kecil dan ganjil yang bertabur paradoks, juga disonansi dan improbabilitas.(*)


Baca juga:
Bagaimana Pandemi Mengubahmu Menjadi Gregor Samsa
Membaca Musashi | Jericho Saban

Bagikan artikel ini ke: