Menu
Menu

Tolstoy biasanya dianggap sebagai seorang realis; Perang dan Damai dan Anna Karenina dikagumi sebagai mahakarya realisme.


Oleh: Saddam HP |

Penulis dan penerjemah. Ia menerjemahkan dari bahasa Inggris dan Latin. Buku puisinya adalah Komuni (2019). Karya terjemahannya adalah Ecloga I (2019) karya penyair Romawi Vergilius (dikerjakan bersama Mario F. Lawi). Ia bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.


Pada 1884, di puncak ketenarannya sebagai novelis, Leo Tolstoy menghasilkan sebuah tulisan autobiografi aneh yang harus diterbitkan di luar negeri karena komentar kontroversialnya tentang agama. Bertajuk Pengakuan, buku itu menceritakan tentang krisis spiritual yang ia alami pada 1877 saat hidupnya tidak lagi berarti dan membuatnya hampir bunuh diri.

Bahkan sebelum 1877, menurut pengakuannya lebih jauh, ia mulai kehilangan kepercayaan pada nilai karya artistik dan pentingnya tulisannya sendiri. Ini membedakannya dari orang-orang sezamannya, yang tampaknya percaya bahwa, agama telah kehilangan relevansinya dengan dunia modern, seniman harus mengambil alih tugas imam sebagai pembimbing moral dan spiritual. Seni harus menjadi agama baru, kata mereka, karya-karya besar adalah kitab suci baru. Ia tidak setuju. Bagaimana mungkin para seniman, yang dalam pengalamannya biasanya jahat dan tidak bermoral, bisa bertindak sebagai pembimbing moral bagi umat manusia?

Meskipun demikian, terlepas dari keraguannya terhadap panggilannya, ia terus menulis dan menerbitkan karya, menerima imbalan pujian dan uang untuk pekerjaan yang secara pribadi ia anggap tidak berharga.

Kita harus berpikir dua kali sebelum memberikan Tolstoy hak yang ia klaim dalam Pengakuan untuk menolak karya-karya sastranya yang awal. Tahun 1877, tahun krisis spiritualnya, adalah juga tahun saat Anna Karenina diselesaikan. Tidak dapat dibayangkan bahwa orang yang menulis novel itu tidak sepenuh hati terikat pada tulisannya, malah diam-diam percaya bahwa halaman-halaman yang ia hasilkan itu tidak berharga. Pengakuan adalah tulisan bertenaga dengan hawa ketulusan mendesak yang turut membawa serta pembaca. Paling tidak lewat novel Anna Karenina, ada yang harus percaya bahwa orang yang menulis Pengakuan terikat sepenuh hati pada tulisannya. Namun, kenyataan bahwa Tolstoy dalam Pengakuan justru menyebut penulis Anna Karenina sebagai penipu, menulis dengan itikad buruk, tidak berarti bahwa penulis Anna Karenina benar-benar seorang penipu. Pengakuan tidak berhak untuk mengeklaim, karena watak autobiografisnya, karya tersebut berbicara tentang kebenaran yang lebih otoritatif daripada yang dapat diungkapkan oleh novel biasa. Memang, bagi orang yang menganggap serius pretensi religius dari seni, yang berkeyakinan bahwa keindahan dan kebenaran adalah satu dan sama, Anna Karenina harus membicarakan kebenaran yang lebih tinggi daripada Pengakuan, karena karya itu jauh lebih ambisius, dengan konstruksi estetika yang lebih indah. Namun, seseorang tidak harus menyetaraan seni dengan agama untuk mengetahui bahwa Anna Karenina pada dasarnya tidaklah palsu. Anna Karenina adalah karya sejati. Satu-satunya perdebatan adalah kebenaran macam apa yang dikatakannya.

Apa yang disampaikan Anna Karenina kepada para pembacanya? Kasarnya, apa amanat novel itu? Sejak masa Tolstoy, masalah ini telah hangat dibicarakan. Bagi sebagian besar pembaca saat ini, Anna Karenina adalah kisah seorang wanita cantik yang meninggalkan pernikahan tak membahagiakan demi cinta, tetapi kemudian harus menderita hukuman karena diusir dari masyarakat, dan bunuh diri dalam keputusasaan. Dengan kata lain, novel itu tidak membahas persoalan Anna secara kritis. Jenis ekstrem dari pembacaan yang tidak kritis ini melihat Anna (seperti Emma Bovary, saudari spiritualnya) sebagai pemberontak melawan tatanan patriarki yang menindas dan pada akhirnya dihukum oleh penulis laki-lakinya dengan cara dibunuh. Meskipun begitu, dalam pembacaan cerita Tolstoy ini, Anna meninggalkan suami dan anaknya untuk mengikuti jalan pemenuhan pribadi yang egois dan secara tertebak mengakhiri hidupnya dalam belantara moral. Pembaca harus menjadikan Anna sebagai contoh tentang cara untuk tidak hidup, bukan sebagai contoh untuk hidup.

Krisis pada tahun 1877, sejauh berhubungan dengan pembedaan Tolstoy si penulis dan Tolstoy si manusia, berubah menjadi pertanyaan etis tunggal: Bagaimana saya harus menggunakan bakat saya untuk berbuat baik kepada sesama? Selama dua dekade Tolstoy bergumul dengan pertanyaan ini, menguji berbagai jawaban yang paling jelas dan paling sederhana (meskipun belum tentu yang paling benar) bahwa ia bertugas membawa ajaran-ajaran sejati Yesus ke dunia modern, dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh orang kampung yang paling sederhana sekali pun. Oleh karena itu, hampir sebagian besar tulisan Tolstoy pasca-1877 diinspirasi nilai-nilai kristiani dan kurang percaya pada kecerdasan estetis.

Karya pertamanya yang mewujudkan sikap yang baru dirumuskan terhadap seni dan panggilan artistik ini adalah kisah “Tuan dan Hamba” (1881), menceritakan seorang pedagang sukses bernama Brekhunov yang melakukan perjalanan lintas negara yang berisiko dengan kereta kuda di musim dingin untuk menyelesaikan suatu kesepakatan demi keuntungan yang besar. Meskipun telah banyak kali diingatkan, Brekhunov tetap melakukan usaha bodohnya, dan akhirnya mati kedinginan.

‘Hamba’ (rabotnik, pekerja) yang dibawa Brekhunov dalam perjalanannya, seorang petani bernama Nikita, melihat malapetaka saat keserakahan tuannya – serta ketidakmampuannya sebagai seorang navigator – memimpin mereka, tetapi ia mengikutinya dan menaati perintahnya. Faktanya bahwa Nikita sendirian bertahan di malam hari bukanlah konsekuensi dari tindakannya. Dalam arti tertentu, Nikita tidak peduli apa yang terjadi pada dirinya, tetapi menempatkan dirinya dalam tangan Tuhan. “Selain tuan seperti Vassily Andreich [Brekhunov] yang ia layani di sini, ia selalu merasa dalam kehidupan ini dirinya bergantung pada tuan besar. . . dan. . . tuan itu tidak akan menganiayanya.”

Brekhunov adalah orang yang jahat, egois, tidak jujur, serakah, sembrono, dan suka memerintah. Ia memperlakukan Nikita sebagai anggota spesies rendahan, setara dengan kuda yang menarik kereta mereka, makhluk yang hidupnya tidak penting baginya. Brekhunov, yang terlibat dalam begitu banyak kesepakatan bisnis yang penting, di puncak badai salju, dalam upaya menyelamatkan dirinya, menunggang kuda, meninggalkan Nikita, meskipun ia tahu bahwa Nikita, yang hanya mengenakan kaftan tipis dan sepatu bot berlubang, mungkin akan mati kedinginan. Sambil membenarkan diri, ia menggambarkan: “Adapun dia [Nikita]. . . sama saja jika dia mati. Betapa sia-sia hidupnya! Ia tidak akan menyesalinya, tetapi bagi saya, syukurlah, ada sesuatu untuk dijalani.” (hlm. 243)

Kuda, aktor ketiga dalam drama itu, mengantar Brekhunov bukan ke tempat yang aman dan hangat tetapi kembali ke lingkungan petani yang membeku. Kemudian terjadilah sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Brekhunov membuka mantel bulunya dan berbaring di atas Nikita, menghangatkan Nikita dengan tubuhnya sendiri. Ia berbaring di sana sampai pagi menjelang, badai mereda, dan para penolong tiba. Pada saat itu, tuan yang punya segalanya sudah mati, sedangkan hamba yang tidak penting itu akhirnya selamat.

Pesan Kristiani dari cerita ini sangat jelas: barangsiapa kehilangan nyawanya akan menyelamatkan nyawanya; karya kerahiman ilahi tidak dapat dipahami. Hal yang membuat kejayaan seni “Tuan dan Hamba” menjadi kurang jelas adalah paradoksnya. Tolstoy biasanya dianggap sebagai seorang realis; Perang dan Damai dan Anna Karenina dikagumi sebagai mahakarya realisme. Salah satu prinsip realisme adalah bahwa setiap tindakan memiliki sebab, yang ikutannya adalah novelis bertugas untuk memberikan motif psikologis yang masuk akal untuk tindakan karakternya itu. Tetapi Brekhunov mengorbankan hidupnya tanpa alasan sama sekali. Pengorbanannya, dalam ungkapan bahasa Inggris, ‘out of character,’ tidak masuk akal, bahkan tidak bisa dipercaya. Namun konsep tidak masuk akal atau tidak bisa dipercaya itu hanya untuk pikiran sekuler. Orang beriman memahami bahwa Brekhunov bertindak out of character karena Tuhan telah bersabda kepadanya, karena yang ilahi telah campur tangan dalam hidupnya. Dengan membawa Tuhan sebagai aktor ke dalam ceritanya, Tolstoy menantang landasan rasional dan sekuler dari realisme fiksi.

Novela Matinya Ivan Ilyich (1886) adalah karya yang paling terkenal dan dikagumi di antara karya-karya terakhir Tolstoy. Saat membacanya pertama kali, komponis Peter Ilych Tchaikovsky merasa sangat bergembira. Dalam buku hariannya ia menulis: “Lebih dari apa pun, saya yakin bahwa penulis-pelukis terhebat yang pernah hidup adalah Leo Tolstoy . . . Saya percaya patriotisme tidak mengambil bagian dalam kepercayaan saya terhadap karya penting Tolstoy yang agung dan hampir ilahi ini.”

Ivan Ilyich membangkitkan reaksi semacam karena impresi yang diberikannya, melalui kecepatan naratif yang tak berbelaskasihan dan ketelanjangan tekstur prosanya, bahwa si penulis tidak sabar dengan pakaian fiksi yang kita pakai membungkus kehidupan untuk membuatnya tertanggungkan – fiksi, misalnya, bahwa saat mendekati kematian, kita dapat mengandalkan kasih sayang dari keluarga, atau fiksi bahwa entah ilmu kedokteran atau kerahiman ilahi atau keduanya akan memastikan bahwa hari-hari terakhir kita tidak menjadi badai derita dan teror yang tak henti-hentinya.

Ivan Ilyich Golovin adalah pria sederhana, seorang birokrat hukum yang menebus pernikahan yang tidak bahagia dengan membenamkan dirinya dalam pekerjaan. Untungnya, kariernya berkembang; di rumah ia bisa membuat semacam gencatan senjata dengan istri bengisnya. Lalu tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas dan terlalu dini dalam hidupnya, ia terserang penyakit yang tidak dapat didiagnosis. Para dokter tidak dapat membantunya – baginya, mereka bahkan tidak mencoba. Diabaikan oleh keluarganya, yang mencela penderitaannya itu sebagai penebusan kelayakan sosial, ia pun ditinggalkan untuk menghadapi kematiannya dengan hanya dibantu oleh Gerasim, seorang pelayan muda yang membersihkan kotorannya dan menghilangkan rasa sakit dengan duduk selama berjam-jam sementara kaki Ivan Ilyich diangkat ke pundaknya. Ketika Ivan Ilyich mencoba mengucapkan terima kasih, Gerasim mengesampingkan ucapan terima kasih itu. Apa yang ia lakukan untuk Ivan Ilyich sekarang, katanya, akan dilakukan pula oleh orang lain untuknya, bila saatnya tiba.

Pada akhirnya, penderitaan Ivan pun usai. Seperti yang dilaporkan istrinya setelah kematiannya, dengan keegoisan karakter: “Selama tiga hari penuh ia menjerit tanpa henti. Jeritan yang tak tertahankan. Saya tidak mengerti bagaimana saya bisa bertahan . . . Ah, apa yang telah saya alami!”

Kita bisa membacanya di awal cerita, “Sejarah masa lalu kehidupan Ivan Ilyich adalah yang paling sederhana dan biasa serta paling mengerikan,” (hlm. 47). Kata-kata “paling sederhana dan biasa” adalah milik Ivan Ilyich. Kata-kata “paling mengerikan” berasal dari Tolstoy sendiri, dan merupakan dakwaan atas kehidupan yang belum tercerahkan, kehidupan yang terbuang sia-sia, mengejar yang tak berarti.

Namun, saat kematian Ivan tiba, hal yang sempat dianggap tak berarti seperti hidupnya, ternyata tidak sepenuhnya samar. Pada hari ketiga jeritannya, ia seolah “tiba-tiba” dihantam oleh kekuatan fisik, dan sadar bahwa saat terakhir sudah dekat. Putranya, seorang anak laki-laki pemalu yang menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di kamar sambil masturbasi, mendekati ranjang kematian sang ayah, menempelkan bibirnya ke tangan Ivan, dan menangis. Seketika itu pula wahyu turun ke atas Ivan: bahwa ia tidak menjalani kehidupan yang baik, tetapi juga masih ada waktu untuk memperbaikinya. Ia membuka matanya, melihat putranya seolah-olah untuk pertama kalinya, dan merasa kasihan padanya. Ia menatap istrinya dan merasa kasihan juga padanya. Ia mencoba mengucapkan kata “Maafkan,” tetapi tidak bisa. Meskipun begitu, semua yang “tiba-tiba” akhirnya terselesaikan. Sakitnya hilang. Teror kematian lenyap. Penderitaan kematian fisik, perubahan tubuh yang mati akan berlanjut selama berjam-jam; tetapi pembebasan dari dunia telah tiba. (hlm. 90)

Kata kuncinya di sini, seperti dalam “Tuan dan Hamba,” adalah “tiba-tiba.” Apa pun yang “tiba-tiba” terjadi pada Brekhunov atau Ivan Ilyich tidak dapat diramalkan dan pada saat yang sama tidak dapat dihindari. Rahmat Tuhan memanifestasikan dirinya, dan tiba-tiba, serta-merta, dunia menjadi baru. Dalam kedua cerita ini Tolstoy mengadu retorika bertenaganya tentang keselamatan melawan skeptisisme akal sehat dari para penikmat fiksi yang, seperti Ivan Ilyich di masa jayanya, hanya memandang karya sastra sebagai hiburan yang beradab.(*)


Tentang J. M. Coetzee:

Peraih dua kali penghargaan Booker Prize, dan Nobel Sastra 2003. Karya-karyanya, antara lain, Waiting for the Barbarians, Life & Times of Michael K, Boyhood, Youth, Disgrace, Summertime, The Childhood of Jesus, dan The Schooldays of Jesus.

Esai di atas diterjemahkan oleh Saddam HP dari versi Inggris berjudul “Leo Tolstoy, The Death of Ivan Ilyich” dalam buku Coetzee berjudul Late Essays 2006-2017 (London, Vintage, 2018: 152-158).


Baca juga:
Apa yang Membentuk Kelopak Bunga Pohon Sakura?
Catullus: Kelembutan dan Kompleksitasnya

Bagikan artikel ini ke: