Menu
Menu

Dapatkah menyebut pesta adalah sebagian saja dari seluruh cerita tentang Bacapetra.co?


Oleh: Armin Bell |

Pemimpin Redaksi.


Awal tahun 2020, saya menghubungi beberapa teman di Saeh Go Lino. Bacapetra.co akan berulang tahun yang pertama pada bulan Maret dan Yayasan Klub Buku Petra baru saja selesai dengan pekerjaan baik bernama Lomba Cerpen Bertema ODGJ. Pemenang sudah diumumkan, sebuah buku kumpulan cerpen dari lomba itu sedang disiapkan, sebuah perayaan ulang tahun yang menyenangkan rasanya perlu disiapkan.

Kala itu, video musik Halu dari Feby Putri sedang naik-naiknya di youtube; Jose Rizal Manua tampil luar biasa di sana. Maka, tema ODGJ rasanya pas untuk jadi warna utama perayaan ulang tahun pertama itu: menjelaskan keberpihakan. Oliva Sarimustika Nagung bisa jadi orang yang tepat untuk jadi manajer di project ini sebab dia anggota Saeh Go Lino, ilustrator cerpen Bacapetra.co, dan juga sedang mengerjakan ilustrasi untuk cerpen-cerpen yang hasil lomba kelak disatukan dalam buku berjudul Nadus dan Tujuh Belas Pasung.

Pertengahan Maret tahun itu, cerita tentang Covid-19 mengubah segalanya. Ruteng, kota kecil kami yang ada di ketinggian 1.188 meter dpl., ikut terdampak. Belum ada yang positif tetapi larangan-larangan berlaku bagi seluruh bangsa Indonesia. Pesta kecil yang sebelumnya sudah dipikirkan—pasukan Saeh Go Lino siap terlibat dengan mementaskan sesuatu yang interaktif—batal digelar. Kita makan-makan virtual saja sudah. Kalimat itu segera hidup di kepala orang-orang yang hendak terlibat dan makan-makan virtual berarti tidak ada acara makan-makan; tahun depan kita bikin heboh, Covid-19 harusnya sudah teratasi.

Segalanya berlangsung baik-baik saja setelah pesta yang batal itu. Meja redaksi bekerja sebagaimana biasa. Teman-teman yang percaya pada Bacapetra.co terus hadir. Berkunjung, membaca, mengirim tulisan, selalu begitu. Sesekali datang dengan usul, kritik, pujian. Normal-normal saja sembari kita semua sedang menyesuaikan diri dengan era new normal (yang kemudian diganti namanya menjadi adaptasi kebiasaan baru).

Awal tahun ini, tak ada tanda-tanda pandemi akan selesai. Buku Nadus dan Tujuh Belas Pasung sudah diluncurkan. Bagaimana ulang tahun kedua nanti? Saya sempat memikirkan itu di awal 2021. Lalu konsentrasi beralih ke tempat lain. Bacapetra.co harus hidup baik, Yayasan Klub Buku Petra harus berkembang, jejaring harus diperluas, silang pendapat di ruang redaksi harus terjadi, rapat redaksi harus digelar, perubahan harus dilakukan, dan lain-lain, dan lain-lain.

Januari, Februari, dan tiba-tiba Maret. 2021. Berjalan begitu cepat. Sekarang tanggal 20 Maret? Saya kaget menemukan kenyataan itu dua hari yang lalu, ketika sedang melakukan tugas pemeriksaan akhir untuk puisi kedua yang harus tayang bulan ini.

20 Maret adalah hari lahir Bacapetra.co. Saya sedih sebab begitu kaget—sesuatu yang tidak perlu karena hari itu adalah Hari Dongeng Internasional dan seharusnya saya ingat. Saya tidak ingat dan serentak merasa bersalah. Dengan jabatan yang rasanya begitu hebat ini, yakni sebagai seorang Pemimpin Redaksi, saya luput memikirkan tentang perayaan ulang tahun media kesayangan ini. Astaga! Menjadi semakin sedih sebab tak akan ada pesta lagi ulang tahun. Sudah dua tahun ini pesta tak mampir ke rumah.

Lalu saya ingat Laila. Yang menunggu Sihar di Central Park, New York. Yang telah menyiapkan segalanya untuk mereka berdua: Laila Gagarina dan Sihar Situmorang—setelah sekian lama bertemu sembunyi-sembunyi akan bertemu pukul 10 pagi tanggal 28 Mei 1996. Itu kisah pembuka dalam Saman, sebuah novel Ayu Utami (KPG, 1998) yang terkenal itu. Dan sebuah puisi telah siap: kuinginkan mulut yang haus/ dari lelaki yang kehilangan masa remajanya/ di antara pasir-pasir tempat ia menyisir arus (Utami, hal. 3). Kita tahu nasib puisi itu kemudian.

Ah, iya. Puisi. Bersama cerpen, lagu, lawakan, dan makanan yang seharusnya jadi warna ulang tahun kedua Bacapetra.co tak terhidang. Sudah dua tahun, pesta tak mampir ke rumah. Apa yang mungkin terjadi kemudian? Sihar adalah salah seorang yang dalam novel Saman. Ada banyak orang di sana. Saman adalah tokoh utama. Ada Laila, Yasmin, Sakuntala, Cok, Upi, dan yang lainnya. Dapatkah menyebut pesta adalah sebagian saja dari seluruh cerita tentang Bacapetra.co? Perbandingan yang tidak pada tempatnya, bukan?

Tetapi bagaimanapun, setiap orang bisa mengingat apa saja secara acak ketika sedang ingin pesta dan pesta itu batal. Ingatan random macam itu datang dengan bagian-bagian lain di belakangnya; setelah pandemi ini selesai, apakah Bacapetra.co akan tetap ada dan kita boleh merancang pesta?

Nah… Ini! Memikirkan nasib web ini di masa yang akan datang hanya karena pesta yang ‘dibatalkan’ pendemi adalah sesuatu yang aneh dan saya tiba-tiba merasa begitu buruk. Media ini, hidupnya, bukan hanya tentang apa yang terjadi di Ruang Redaksi, Armin! Pembaca adalah yang utama. Yang menggerakkan dunia para penulis, bagian utama lainnya. Pembaca menginginkan tulisan yang bagus, penulis menghendaki karyanya masuk ke lebih banyak hati. Tim Redaksi menghubungkannya, dan begitulah kita berpesta. Sudah dua tahun pesta tak mampir ke rumah sebab dia datang setiap hari.

Terima kasih 1000, semuanya. Selamat Ulang Tahun, Bacapetra.co. Menjadi baik dengan membaca!


Ilustrasi: Foto Kaka Ited

Baca juga:
Tidak Ada Internet di Kampung, Portal Mana yang Akan Terbuka?
Cerpen Yuan Jonta – Mimpi Ular

Bagikan artikel ini ke: