Kawan Masa Lalu
17 Desember 2025| | 27 CommentsAh, aku tidak perlu mengingat-ingat masa lalu itu. Aku telah menguburnya begitu dalam agar tidak bangkit lagi. Dan aku berhasil melupakannya
Oleh: Budi Hatees |
Budi Hatees lahir dengan nama Budi Hutasuhut di Sipirok, 3 Juni 1872. Menulis cerpen, puisi, esai, dan novel. Bekerja sebagai peneliti, penulis buku, editor, jurnalis, dan konsultan di bidang politik dan pencitraan publik. Kini tinggal di Kota Padangsidimpuan, Provinsi Sumata Utara.
Irmayanti mengatakan kalau ia sedang di Bandarlampung mengantarkan Roni Sanjaya, putranya pertamanya, ke rumah kakeknya di daerah Rajabasa. Ia bilang akan pulang ke Way Jepara, kemungkinan ia baru akan sampai selepas Magrib.
Aku tanggapi pesannya dengan mengatakan kalau aku membutuhkan berkas yang telah aku pesan.
“Tidak ada orang di rumah,” katanya. “Pergilah ke rumah, kunci aku taruh di bawah keset. Berkas ada di atas meja kerjaku,” katanya.
Aku bilang akan ke rumahnya.
Irmayanti bekerja di Dinas Sosial Kabupaten Lampung Timur. Aku mengenalnya pertama kali ketika bertamu ke ruangan kerja Sultoni Ahmad, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lampung Timur. Aku bersama empat orang anggota tim kerja penelitian, berkunjung untuk menyampaikan rencana kerja kami melakukan riset sejarah tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang pernah dialami masyarakat Talangsari, Kecamatan Way Jepara, pada tahun 1989. Ratusan orang tewas ketika Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) menyerbu dan menembaki sekelompok orang yang sedang mengaji. Mayat-mayat korban penembakan itu dikubur dalam satu sumur yang kemudian disamarkan posisinya dengan cara menanam tanaman pisang di atas kuburan massal itu. Sampai sekarang kuburan massal itu tidak ditemukan, dan peristiwa berdarah itu tidak pernah diungkapkan.
Sultoni Ahmad mengaku pernah mendengar peristiwa itu, tetapi ia tidak yakin akan kebenarannya. Baginya, mustahil tentara akan menembaki masyarakat yang seharusnya dilindunginya, lalu ia menyatakan kesepakatannya dengan apa yang akan kami lakukan. “Peristiwa sejarah itu perlu diteliti kembali agar jelas kebenarannya,” katanya.
Ia mengatakan pemerintah daerah telah menghapus nama Talangsari sejak lama, dan tak ada lagi berkas-berkas tentang perkampungan itu, tapi ia memiliki staff yang tinggal di Kecamatan Way Jepara dan menduga kalau orang yang lahir, besar, dan tinggal di kecamatan itu pasti masih memiliki ingatan tentang peristiwa itu. Ia memperkenalkan Irmayanti sebagai petugas yang bertanggung jawab mengenai entri data kependudukan.
“Data apa pun yang kau butuhkan, boleh minta kepada Irmayanti. Saya kira ia pasti pernah mendengar tentang peristiwa Talangsari,” katanya.
Sejak itu aku selalu berhubungan dengan Irmayanti. Ia berusia 30 tahun, tujuh tahun lebih muda dibandingkan usiaku, dan ia sudah bekerja di Dinas Sosial Kabupaten Lampung timur sejak berusia 27 tahun. Pengalaman dan pengetahuannya tentang masyarakat sangat berharga bagi kami. Ia merupakan keturunan keluarga transmigran asal Jawa Tengah yang dikirim ke Way Jepara di zaman Presiden Soeharto. Ia berkebudayaan Jawa, dan fasih berbahasa Jawa.
Rumah Irmayanti terletak di pusat Kecamatan Way Jepara, sekitar delapan kilometer dari kantor organisasi kami di Sukadana, ibu kota Kabupaten Lampung Timur. Aku sudah berkali-kali ke rumah itu. Irmayanti biasa menyimpan kunci rumahnya di bawah salah satu pot bunga di halaman rumah itu.
Di dalam rumah itu, Irmayanti tinggal bersama tiga anaknya, Roni Sanjaya dan dua anak kembarnya, Hasan Sanjaya dan Hanif Sanjaya. Si kembar itu pasti ikut bersama Irmayanti ke Bandarlampung. Biasanya, mereka akan ke rumah mertua Irmayanti di Rajabasa, rumah orang tua dari almarhum suaminya, Rahmat Sanjaya. Minimal sekali sepekan Irmayanti selalu membawa kedua anaknya bertemu kakek dan nenek mereka.
Sudah sepuluh tahun Irmayanti menjalani hidup sebagai single parent. Ia tak pernah berpikir untuk menikah kembali. Selain sangat mencintai almarhum suaminya, ia juga tak ingin pernikahannya dengan laki-laki lain akan merusak masa depan anak kembarnya.
“Laki-laki sekarang hanya numpang hidup,” kata Irmayanti ketika suatu hari aku bertanya kenapa ia tidak menikah.
Jawaban itu aku tanggapi dengan memberikan jempol. Sikap Irmayanti itu sama seperti sikapku, sikap yang membuat aku menolak menikah setelah pernikahanku dengan Mahmudiono gagal tanpa sebab yang jelas. Laki-laki itu, setelah kami berhubungan hampir lima tahun, tiba-tiba saja menghilang dan tidak ada kabar sama sekali. Tidak pernah ada pertengkaran di antara kami yang dapat menjadi penyebab ia menghilang. Segala sesuatu baik-baik saja sampai suatu hari, tiba-tiba, ia tidak pernah lagi muncul.
Ah, aku tidak perlu mengingat-ingat masa lalu itu. Aku telah menguburnya begitu dalam agar tidak bangkit lagi. Dan aku berhasil melupakannya, meskipun kenangan itu sering berkelebat, terutama bila aku bertemu dengan seseorang yang memiliki sikap seperti aku dalam memandang laki-laki.
Aku tiba di rumah Irmayanti. Meskipun Irmayanti tidak ada, aku tetap memberi salam. Aku tak menyangka, ada suara laki-laki dari dalam rumah yang membalas salamku. Aku kaget karena aku membayangkan tidak ada orang di rumah itu, dan tidak pernah ada laki-laki di dalam hidup Irmayanti.
Ketika aku berdiri di depan pintu, daun pintu itu dibuka seseorang dari dalam. Begitu pintu terkuak, Mahmudiono atau seseorang seperti Mahmudiono berdiri di sana, dan sosoknya membuat aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Sebagian rambutnya beruban. Ia memelihara kumis, helai-helai rambut di atas bibirnya itu telah memutih.
Ia kaget begitu melihatku. Lama kami terdiam dan saling pandang. Ketika aku yakin bahwa laki-laki itu adalah Mahmudiono dalam versi lebih tua, aku menyebut namanya. Ia menyebut namaku.
Refleks aku membalik badan. Aku tinggalkan Mahmudiono. Ia kaget dan mengejarku sampai ke halaman. Ketika aku hendak masuk ke mobil, ia berteriak: ”Laila, aku merinduimu. Bertahun-tahun aku mencarimu!”
Langkahku terhenti, aku membalik badan dan menatapnya. “Mencariku katamu….!” Aku mendekatinya. “Kau mencari di tempat yang salah. Sampai kapan pun kau tak akan menemukanku.”
“Maafkan aku! Aku tak punya keberanian untuk datang ke rumahmu.”
“Kau memang tidak punya keinginan.”
“Kau tak tahu apa yang aku alami selama ini.”
“Apa kau tahu apa yang aku alami?!” nada suaraku tinggi. “Kau tidak tahu, Mahmud. Kau tidak tahu.”
“Kasih aku kesempatan untuk menceritakan semuanya!”
“Untuk apa?” Aku menggelengkan kepala. “Semua sudah terlambat.”
“Tidak ada yang terlambat bagi kebenaran.”
“Kebenaran?!” Aku menertawakannya. “Kebenaran versi dirimu. Kebenaran untuk membela kelakuanmu.”
“Tidak. Kau dengarkan dulu ceritaku.”
“Tidak ada lagi gunanya.”
“Aku minta maaf, Laila. Aku minta maaf.” Mahmudiono meraih tanganku. “Aku selalu mencarimu selama ini. Kau selalu berpindah-pindah karena pekerjaanmu, karena proyek yang harus dikerjakan organisasimu.”
“Kau tahu pekerjaanku?”
“Aku tahu banyak soal NGO,” katanya.
Aku menatapnya, sama sekali tidak mempercayai ucapannya.
Dulu, aku mengenalnya pertama kali saat kami sama-sama mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Depok, dan perkenalan itu terjadi saat kegiatan orientasi mahasiswa baru. Aku baru masuk, dan ia salah seorang senior yang terlibat dalam kepanitiaan kegiatan orientasi mahasiswa baru.
Sebagai mahasiswa senior, citranya tidak terlalu baik. Para mahasiswa mengenalnya sebagai mahasiswa yang jarang masuk kampus, tak berprestasi akademik, dan nyaris dikeluarkan karena masa perkuliahannya telah usai. Pendek kata, ia bukan mahasiswa yang pantas menjadi contoh baik bagi calon mahasiswa baru.
Tapi, di luar urusan prestasi akademik itu, citranya sebagai pribadi sangat baik. Sebagai salah seorang anggota panitia, ia termasuk yang paling asyik, dan sangat pengertian. Ia banyak memberikan motivasi, dan ia membuka diri terhadap calon mahasiswa yang punya rasa ingin tahu sangat besar tentang segala sesuatu terkait kehidupan mahasiswa.
Karena sisi pribadinya yang pengayom itulah aku tertarik kepadanya. Ia mulai sering berkelebat di kepalaku. Aku pun mulai bertanya-tanya tentang dirinya. Lalu, suatu hari, ia mendatangiku dan mengatakan bahwa ia tertarik kepadaku. Sejak itu kami mulai berhubungan akrab.
Bertahun-tahun hubungan itu terjalin. Bahkan, ketika ia lulus dan bekerja di sebuah organisasi internasional yang berinduk ke International Monetary Fund (IMF) dan bertanggung jawab atas wilayah kerja organisasi di Asia Tenggara, kami selalu punya waktu untuk berdua. Ia tidak keberatan jika harus menemuiku di Jakarta saat ia sedang bertugas di Penang atau malah di Bangkok. Ia sering ke luar negeri, dan membuat jarak antara negara-negara Asia Tenggara menjadi sangat pendek hanya untuk bertemu dengan aku.
Pekerjaannya di organisasi yang berinduk ke IMF kemudian berhenti karena organisasi itu dihapuskan, lalu diganti dengan organisasi baru yang membidangi program pembangunan di daerah-daerah yang terimbas krisis moneter pada tahun 1997. Ia memutuskan tidak terlibat dalam kegiatan organisasi baru itu, tetapi ia memilih ikut organisasi lain yang ia sebut sebagai yayasan yang dibangun salah seorang taipan Indonesia.
Sejak itu ia menjadi sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk membina hubungan kami. Suatu hari aku menuntut agar hubungan kami dilembagakan dalam lembaga pernikahan, dan ia menyanggupinya. Tapi, setelah keputusan itu, ia tidak pernah lagi muncul.
“Kita bicara di dalam rumah saja biar aku jelaskan semuanya,” katanya, sambil menarikku ke dalam rumah Irmayanti. Entah kenapa aku menurut.
Begitu berada di dalam rumah, ia langsung menciumku. Entah kenapa, aku membalasnya. Ia bilang sangat merinduiku dan ia sudah mencariku ke mana-mana. “Aku hampir gila karena tidak menemukanmu,” katanya.
Tiba-tiba aku sadar dan menolak tubuhnya. “Apa kata istrimu kalau menemukan kita berdua seperti ini?” kataku, “Aku tak …”
“Aku belum pernah menikah,” katanya. “Aku mencarimu, hanya kau yang akan aku nikahi.”
Ia kemudian bercerita, dulu ia menghilang karena ia mengungkap kasus pembunuhan massal yang dilakukan ABRI di Dusun Talangsari, Way Jepara. Ia mengkoordinir semua ahli waris korban pembunuhan para santri pengajian di Dusun Talangsari yang dicurigai pemerintah Orde Baru akan melakukan pemberontakan karena berhubungan dengan pemberontakan Negara Islam Indonesia di Jawa Barat. Namun, aksinya disusupi intel dari ABRI, dan ia ditangkap kemudian dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan.
Ia baru keluar sekitar tiga tahun kemudian, setelah purnawirawan jenderal yang terlibat dalam kasus pembunuhan massal itu mengampuninya dengan perjanjian tidak akan mengulangi membongkar kasus pelanggaran hak asasi manusia itu. Sejak itu ia menghabiskan waktu mencariku, tetapi ia tidak menemukanku.
Saat kami sedang berbicara, Irmayanti tiba-tiba datang. Begitu melihat aku dan Mahmudiono, Irmayanti mengernyitkan kening. “Kapan Mas Mahmudiono datang?” tanyanya, lalu menatapku. “Kalian sudah berkenalan?”
Aku tak menjawab pertanyaan Irmayanti, malah balik bertanya: “Kau memanggil Mas kepada Mahmudiono? Apa hubunganmu dengan dia?”
“Kami kakak-beradik. Mas Mahmudiono ini lama menghilang. Kami dengar ia ditangkap tentara karena mengungkap kasus HAM di Dusun Talangsari. Dulu kami tinggal di Dusun Talangsari, dan almarhum ayah adalah salah satu korban pelanggaran HAM itu.”
Aku menatap Mahmudiono. “Kenapa tidak pernah cerita selama ini?”
“Kalau aku cerita, situasinya akan lain. Begitu tentara menangkapku, kau pun akan ikut ditangkap.”
“Tunggu dulu…!” kata Irmayanti. “Kalian saling kenal?”
Aku dan Mahmudiono saling pandang.[*]
Ilustrasi: Oak Totem (Romul Nutiu), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Lagu Malam yang Terpenggal – Cerpen Indra Tranggono
– Dari Balik Jendela Kereta – Cerpen Maria Antonia SFS
– Kekasihku Pergi ke Bulan – Cerpen Yudhi Herwibowo

Jujur bagus dan aku kagum sama mereka..
saya belajar cara mendapat kan uang di website ini
saya ingin dapat uang di website ini
Cerpen tersebut bercerita tentang dua orang yang sudah lama terpisah dan salah paham tentang penyebab perpisahannya dan kemudian bertemu kembali karna mereka mengenal orang yang sama.
Fakta:
Irmayanti mengatakan kalau ia sedang di Bandarlampung mengantarkan Roni Sanjaya, putranya pertamanya, ke rumah kakeknya di daerah Rajabasa.
Irmayanti bekerja di Dinas Sosial Kabupaten Lampung Timur.
Opini:
Ah, aku tidak perlu mengingat-ingat masa lalu itu. Aku telah menguburnya begitu dalam agar tidak bangkit lagi. Dan aku berhasil melupakannya, meskipun kenangan itu sering berkelebat, terutama bila aku bertemu dengan seseorang yang memiliki sikap seperti aku dalam memandang laki-laki.
Sultoni Ahmad mengaku pernah mendengar peristiwa itu, tetapi ia tidak yakin akan kebenarannya. Baginya, mustahil tentara akan menembaki masyarakat yang seharusnya dilindunginya, lalu ia menyatakan kesepakatannya dengan apa yang akan kami lakukan. “Peristiwa sejarah itu perlu diteliti kembali agar jelas kebenarannya,” katanya.
pengen uang
baguss
Senang bisa mendapat yang semestinya
ya cerita yang sangat bagus
1872 kelahiran Budi Hatee ?
Cerpen tersebut bercerita tentang dua orang yang sudah lama terpisah dan salah paham tentang penyebab perpisahannya dan kemudian bertemu kembali karna mereka mengenal orang yang sama.
Masa lalu, biarlah menjadi bagian ingatan kita.
masa depan musti kita jalani dan itu lebih nyata
daripada sejarah.
menurut saya sudah bagu jadi perlu di kembangkan lagi yaa
Masa lalu adalah bagian dari serpihan perjalanan, jangan dibuang. Tapi, disimpan ditempat yang layak. Sebab, sewaktu-waktu juga diperlukan kendati hanya sekedar hiburan.
pepatah pernah berkata
“jika dia pergi biarkan dia pergi karena kalo dia tak kembali dia bukan jodohmu jika dia kembali dia jodoh mu”
pepatah pernah berkata
“jika dia pergi biarkan dia pergi karena kalo dia tak kembali dia bukan jodohmu jika dia kembali dia jodoh mu”
artinya jangan terlalu berharap sama seseorang ingat langit itu luas lautan itu dalam jangan mencintai dia seluas langit kalo tidak mau terluka sedalam lautan
Begitu berada di dalam rumah, ia langsung menciumku. Entah kenapa, aku membalasnya. Ia bilang sangat merinduiku dan ia sudah mencariku ke mana-mana
bagus bgt
berpisah memang menyakitkan tetapi kadang kita harus berpisah untuk alasan tertentu ntah itu takut seseorang terlibat dalam masalah besar kita ntah itu karena alasan yang tak masuk akal
sangat bagus ya sangat berkarya mampu membuat cerita cerita saya sangat suka
Sekeras apapun melupakan masalalu, nyatanya kenangan itu akan abadi selamanya. Dan kalau memang dia orangnya Tuhan akan mempertemukannya diwaktu yang tepat.
baguss bangett
karyanya woww bgtt
cerita ini sangat bagus aku suka banget
Sekeras apapun melupakan masalalu, nyatanya kenangan itu akan abadi selamanya. Dan kalau memang dia orangnya Tuhan akan mempertemukannya diwaktu yang tepat.
kalo memang seperti aku percaya sama tuhan sejauh mana dia pergi dan kalo emang nyatanya dia milik aku pasti dipertemukan diversi yang terbaik
cerita yang sangat menarik