Menu
Menu

Bolpuna Mania: Cerita-Cerita dari Nusa Tenggara Timur tiba-tiba tidak hanya bicara tentang nostalgia masa kecil, tetapi menyentuh soal kesehatan dan gaya hidup.


Oleh: Ronald Susilo |

Pendiri Yayasan Klub Petra. Penggemar buku. Saat ini mengelola Klinik dan Apotek Wae Laku Ruteng. Dokter Ronald juga mengajar di Unika St. Paulus Ruteng dan aktif mendukung kegiatan-kegiatan komunitas di Ruteng.


Malam itu, ruangan di LG Corner terasa lebih hangat daripada biasanya. Lantai dingin yang telah ditutupi karpet mendadak penuh. Di depan, tiga penulis duduk berdampingan: Armin Bell, Carlin Karmadina, Romo Amanche Franck Oe Ninu. Di sudut kiri mereka, Dicky Senda memandu obrolan dengan gaya santainya. Kami sedang menyaksikan peluncuran buku Bolpuna Mania: Cerita-cerita dari Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu rangkaian Laboratorium Sastra Klub Buku Petra.

Berbeda dengan sebagian besar yang hadir, saya datang ke acara itu dengan satu “bekal kecil”: satu minggu sebelumnya, buku ini sudah saya lahap sampai halaman terakhir. Saya ingin datang sebagai pembaca yang sudah punya pertanyaan, bukan sekadar pendengar yang baru pertama kali mendengar judul-judul cerita. Saya ingat, setelah menutup buku ini, satu kata yang menempel di kepala saya: keresahan.

Secara fisik, Bolpuna Mania yang diluncurkan pada hari Sabtu, 29 November 2025 pukul 18.30 Wita itu adalah buku yang sederhana. 105 halaman, delapan cerita, ditulis oleh lima penulis NTT, tidak ada kisah perang besar, tidak ada tragedi luar biasa yang memenuhi halaman-halamannya. Yang ada justru cerita-cerita kecil. Tentang bermain bola, tenun ikat, lagu masa kecil, pasar ikan, moké, pulau kecil, dan pantai tempat berenang. Tetapi justru di cerita-cerita kecil itulah saya menemukan keresahan yang merayap pelan tapi terasa.

Keresahan pertama datang dari halaman-halaman awal, ketika Romo Amanche bercerita tentang permainan bola kaki di masa kecil. Ia menulis, pertandingan mereka dulu “… tidak pernah berakhir ricuh seperti yang dengan mudah ditemukan di layar televisi nasional.” (hal. 7). Di kalimat itu, saya menangkap dua hal sekaligus: nostalgia akan masa kecil yang seru dan kritik halus terhadap cara kita, orang dewasa, merusak permainan yang seharusnya sederhana lewat ego, uang, dan kekerasan.

Sebagai orang yang juga tumbuh di NTT, saya langsung teringat lapangan-lapangan kecil di kampung, bola plastik yang cepat kempes, gawang dari sandal, dan aturan main yang selalu bisa dinegosiasikan. Tidak ada wasit resmi. Tetapi justru karena itu kami belajar berunding dan berdamai. Keresahan Romo Amanche seperti mengingatkan bahwa permainan masa kecil bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga soal cara kita belajar menjadi manusia. Apa jadinya jika anak-anak lebih banyak melihat pertandingan ricuh di televisi daripada permainan jujur di kampung mereka sendiri?

Bolpuna Mania Cerita-Cerita dari Nusa Tenggara Timur

Bolpuna Mania Cerita-Cerita dari Nusa Tenggara Timur | Foto: Adenk Crova

Keresahan lain muncul dari tulisan Armin Bell. Dalam ceritanya, ia mengeluh soal lagu-lagu dari masa kecil yang pelan-pelan hilang, salah satunya adalah lagu “Gunung Ranaka”. Ia menulis bahwa karya dua tokoh penting Manggarai di era 70-an ini tidak tercatat dalam arsip daerah, sehingga tak ada yang tahu persis kapan lagu itu ditulis. Lalu keluar seruan yang menyentak: “Astaga! Betapa banyak hal yang telah berubah sejak masa kecil kami yang lucu nan lugu.” (hal.57).

Di titik ini, keresahan bergeser dari lapangan bola ke soal arsip dan ingatan kolektif. Lagu yang dulu dinyanyikan banyak orang bisa tiba-tiba bisa hanya karena tidak ada yang bersedia mencatat dan menyimpannya dengan benar. Sebagai orang yang ikut mengelola klub buku dan komunitas baca, saya merasa seperti sedang ditegur: Kalau lagu saja bisa hilang, bagaimana dengan cerita-cerita lisan, nama-nama tokoh kampung, atau kisah-kisah kecil yang hanya hidup dari obrolan ke obrolan?

Keresahan serupa, tetapi dengan wajah berbeda, muncul dari cerita “Hebok Tahik” karya Ansel Langowuyo. Di sana, laut masa kecil menjadi latar yang indah sekaligus pilu. Ansel menulis ketakutannya bahwa anak-anak yang suka bermain di laut “tidak lagi mampu berenang mencapai boddi” karena laut di sekitar rumah mereka telah dipagari dengan papan bertuliskan “Dilarang berenang di sini.” (hal.105). Gambarannya sederhana, tapi menggigit. Laut yang seharusnya menjadi ruang bermain dan belajar, perlahan-lahan dipersempit oleh papan larangan.

Sebagai orang yang tinggal di Ruteng—kota yang jauh dari laut—saya mungkin tidak tumbuh dengan kebiasaan berenang di pantai. Tetapi saya mempunyai pasien, teman, dan mahasiswa yang hidupnya sangat dekat dengan laut. Ketika membaca kalimat itu, saya membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari anak-anak mereka hanya bisa melihat laut dari kejauhan, tanpa pernah benar-benar menyentuhnya? Keresahan Ansel bukan tentang laut semata, tetapi juga tentang menyusutnya ruang bermain dan kebebasan anak-anak.

Dari laut dan lapangan bola, kita diajak masuk ke dunia tenun ikat lewat cerita Diana Timoria. Di cerita ini, keresahan tampil dalam bentuk yang lebih tenang. Tenun ikat tak lagi menjadi daya tarik generasi muda. Proses pembuatan kain yang panjang, sabar, dan bertahap, tampak kalah menarik dibandingkan dunia serba cepat dan instan. Diana menulis janji pribadi untuk lebih mengenal dunia tenun ikat setelah kuliah, sebuah janji yang terdengar sederhana namun sebetulnya merupakan ajakan halus kepada kita semua: kalau tidak ada yang mau belajar, siapa yang akan meneruskan tradisi ini?

Sebagai pembaca, ada satu keresahan yang justru terasa sangat dekat dengan profesi saya sebagai dokter. Armin menulis tentang latung bombo, olahan makanan pokok dari bulir-bulir jagung, yang mulai tersingkir sejak nasi dari beras dianggap sebagai penanda kesejahteraan (hal.55). Di satu sisi, kita bisa memahami kebanggaan makan nasi setelah sekian lama hidup dalam keterbatasan. Tetapi di sisi lain, saya teringat wajah-wajah pasien diabetes yang ditemui di klinik; beberapa di antaranya datang dari keluarga yang dulu biasa makan jagung dan umbi-umbian, lalu beralih total ke nasi putih tiga kali sehari.

Di sini, Bolpuna Mania tiba-tiba tidak hanya bicara tentang nostalgia masa kecil, tetapi menyentuh soal kesehatan dan gaya hidup. Keresahan Armin tentang latung bombo yang tersingkir berkelindan dengan keresahan saya di ruang praktik: Mengapa kita begitu mudah meninggalkan makanan lokal yang sebenarnya lebih bersahabat bagi tubuh demi mengejar simbol kesejahteraan yang belum tentu sehat?

Lalu, di tengah segala kegundahan itu, hadir cerita-cerita Carlin Karmadina yang tampak sedikit berbeda nada. Ia menulis tentang Pasar Ikan Wuring, tentang semalam di Palue, dan tentang moké merah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kampung halamannya.

Di permukaan, Carlin tidak sedang mengeluh. Ia lebih banyak bercerita tentang perjalanan, perjumpaan, dan keinginan untuk pulang. Tetapi bagi saya, kerinduan untuk pulang itu sendiri adalah bentuk lain dari keresahan (hal.88). Kerinduan selalu menyimpan ketakutan kecil. Takut suatu hari ketika kita kembali, kampung itu sudah berubah terlalu jauh: pasar tidak seramai dulu, rumah-rumah tua diganti bangunan baru, dan orang-orang yang dulu duduk di beranda sudah tidak ada.

Di tangan Carlin, Wuring, Palue, dan moké bukan sekadar latar cerita, tetapi penanda bahwa ada tempat-tempat yang terus memanggil, sekaligus bisa setiap saat tergeser oleh arus besar perubahan.

Di malam peluncuran buku Bolpuna Mania itu, ketika saya mendengar para penulis mengulas kembali cerita-cerita mereka, saya merasa sedang duduk di tengah pertemuan lima jenis keresahan. Ada keresahan pada permainan yang berubah kasar, pada tradisi yang ditinggalkan, pada makanan yang berganti wajah, pada laut yang dipagari, dan pada kampung yang selalu memanggil namun mungkin suatu hari tak lagi kita kenali. Semua itu diikat oleh satu hal, yakni keinginan untuk tidak diam—sesuatu yang bersifat trans~: melintas, menembus, dan melalui.

Trans~ adalah tema kegiatan Laboratorium Sastra Klub Buku Petra yang dilaksanakan di Ruteng, 27–29 November 2025. Kegiatan ini dapat berjalan karena adanya kerja sama antara Yayasan Klub Buku Petra dengan Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya. Selama tiga hari itu, kata trans~ bukan hanya jadi tema di poster, tetapi menjelma menjadi pengalaman. Orang-orang melintas kota, melintas disiplin, juga melintas dari ruang baca ke ruang penciptaan.

Pada hari pertama, 27 November 2025, sejak pagi sekitar pukul 09.30 Wita kami sudah mulai berkegiatan. Sebagai Pendiri Yayasan Klub Buku Petra, saya membuka kegiatan ini dengan semangat penuh. Setelah itu, dua kurator kegiatan, AN Wibisana dan Marcelus Ungkang, menyampaikan pengantar kuratorial. Armin Bell, Direktur Yayasan Klub Buku Petra, juga hadir pada sesi ini.

Acara pertama setelah pembukaan adalah presentasi dari beberapa pembicara yang membuat saya terkagum-kagum melihat pengalaman mereka memulai dan terus menghidupkan komunitas di berbagai wilayah di Indonesia. Ada Gustra Adnyana (Direktur Program untuk Indonesia, Ubud Writers and Readers Festival), Windy Ariestanty (editor, penerjemah, dan inisiator patjarmerah), Aan Mansyur (penulis dan Direktur Makassar International Writers Festival), dan Aden Firman (inisiator Pesta Kampung di Labuan Bajo). Pagi itu, rasanya Bali dan Makassar hadir di Ruteng; kami diajak percaya bahwa geliat sastra di kota kecil pun bisa tumbuh besar jika dikerjakan bersama.

Hari kedua adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Jauh-jauh hari saya sudah berpesan kepada Armin Bell bahwa saya ingin bercerita tentang cara saya memilih buku untuk dibaca. Maka, sang direktur mengatur sedemikian rupa dan terjadilah satu kegiatan di hari kedua itu, “Reading Clinic: Dari Ruang Terapi ke Ruang Solidaritas”.

Reading Clinik Laboratorium Sastra Klub Buku Petra

Sesi Reading Clinic Laboratorium Sastra Klub Buku Petra | Foto: Gonza Thundang

Yang mengisi acara itu tentu saja saya, AS Laksana, Windy Ariestanty, dan AN Wibisana, dengan Ajen Angelina sebagai moderator. Pertanyaan pertama yang dilontarkan kepada saya sederhana tetapi menyenangkan: “Bagaimana Dokter Ronald memilih buku bacaan selama ini?”

Saya menjelaskan bahwa bacaan saya kira-kira 80% adalah fiksi dan 20% nonfiksi. Untuk keduanya, saya memakai cara yang cukup teknis: mencari buku-buku yang telah “teruji” lewat berbagai penghargaan, baik penghargaan internasional maupun penghargaan sastra di Indonesia. Dari situ, saya merasa punya peta kecil untuk menelusuri dunia bacaan yang begitu luas, tanpa merasa tersesat di tengah lautan judul.

Kak Windy kemudian mengingatkan kami bahwa “buku akan menemukan pembacanya”: dengan sering datang ke pasar buku, perpustakaan, dan toko buku. Akan tiba saatnya, bukulah yang memilih kita. AN Wibisana menambahkan, ia membaca sesuai kebutuhan. Jika ingin belajar sastra, ia memilih buku yang sejalan dengan tema yang sedang ia cari. Sementara itu, AS Laksana memberi nasihat dari sudut pandang penulis. Untuk penulis pemula, carilah satu penulis favorit, baca dan pelajari semua bukunya dengan serius, lalu baru melebar ke penulis lain agar cara pandang ikut meluas.

Akhir dari hari itu membuat saya puas sekali. Malamnya saya bahkan sulit tidur, membayangkan kembali hal-hal yang sudah diceritakan dalam kelas-kelas pagi tadi. Rasanya, reading clinic benar-benar menggeser pengalaman membaca saya; dari ruang terapi yang intim menjadi ruang solidaritas, tempat para pembaca dan penulis saling menguatkan.

Hari ketiga adalah malam peluncuran buku Bolpuna Mania: Cerita-Cerita dari Nusa Tenggara Timur dan Panggung Gembira. Setelah dua hari penuh berbicara tentang komunitas, festival, dan cara membaca, malam itu seolah menjadi puncak yang manis: keresahan-keresahan kecil yang ditulis para penulis NTT naik ke panggung, dibacakan, dan dibagikan kepada publik.

Sebagai pembaca yang juga seorang dokter, saya membawa pulang keresahan-keresahan itu ke ruang praktik. Di ruang praktik, saya bertemu para pasien yang pelan-pelan berubah akibat pola hidup yang juga berubah. Bolpuna Mania membuat saya sadar bahwa kerja kesehatan dan kerja literasi pada dasarnya sama-sama berurusan dengan ingatan dan keberlangsungan hidup—baik hidup pasien maupun hidup tokoh cerita.

Delapan cerita dalam buku ini mungkin tampak kecil dan pendek. Tetapi napas yang mereka bawa panjang. Mereka adalah alarm halus bahwa masa kecil, tradisi, dan ruang hidup kita bisa hilang bukan hanya karena bencana besar, tetapi karena kelalaian kecil yang berulang: malas mencatat, malas mengarsip, malas mendengar cerita orang tua, malas kembali ke kampung.

Panggung Gembira Laboratorium Sastra Klub Buku Petra

Panggung Gembira Laboratorium Sastra Klub Buku Petra | Foto: Gonza Thundang

Ketika lampu Panggung Gembira dimatikan dan kursi-kursi mulai dikembalikan ke tempatnya, acara peluncuran Bolpuna Mania memang berakhir. Tetapi keresahan yang ditawarkan oleh lima penulis NTT di dalam buku ini justru baru mulai bekerja. Di kepala saya, satu kalimat menggema. Cerita-cerita kecil seperti ini perlu terus ditulis, dibaca, dan dibicarakan supaya suatu hari nanti, ketika anak-anak kita menengok ke belakang, mereka masih bisa menemukan jejak masa kecil yang utuh—meski dunia di sekeliling mereka sudah berubah sedemikian rupa.[*]


Baca juga:
Tentang Petra, Tiga Hal Harus Saya Ceritakan
Lima Tahun Bacapetra, Jalan Bersama


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

8 thoughts on “Bolpuna Mania, Keresahan dalam Cerita-Cerita Kecil”

  1. Diana Dwi Susanti berkata:

    ijin simpan insightnya yah.
    “Kak Windy kemudian mengingatkan kami bahwa “buku akan menemukan pembacanya”: dengan sering datang ke pasar buku, perpustakaan, dan toko buku. Akan tiba saatnya, bukulah yang memilih kita.”
    terima kasih banyak sebelumnya.

  2. Zaky berkata:

    80%fiksi aku sudah membaca mungkin tidak hampir 80 persen
    dan mungkin yang meneruskan tradisi ya generasi muda ga si.

  3. mochammad sidiq berkata:

    1. Kekuatan Utama Tulisan
    a. Sudut pandang pembaca yang sadar Kamu tidak menempatkan diri sebagai penonton pasif, tetapi sebagai pembaca yang sudah selesai membaca buku. Ini memberi legitimasi pada komentar-komentar yang muncul. Kalimat tentang datang dengan “bekal kecil” sangat efektif sebagai pembuka karena langsung menegaskan posisi penulis: reflektif, bukan sekadar reportase.
    b. Tema “keresahan” sebagai benang merah Kata keresahan bekerja sangat baik sebagai poros. Ia muncul sejak awal, diolah dalam contoh konkret (permainan bola, tradisi, kampung, laut), lalu dipertautkan dengan tema trans~ secara konseptual. Ini menunjukkan kemampuan berpikir tematik, bukan deskriptif belaka.
    c. Perpaduan personal–kolektif Pengalaman pribadi sebagai orang NTT dan sebagai dokter tidak terasa tempelan. Justru di bagian akhir, ketika praktik medis disandingkan dengan literasi, tulisan mencapai kedalaman refleksi yang jarang ditemui. Kalimat:
    “kerja kesehatan dan kerja literasi pada dasarnya sama-sama berurusan dengan ingatan dan keberlangsungan hidup”
    ini sangat kuat dan bernilai kutipan.
    d. Dokumentatif tetapi bernapas Tulisan ini memuat nama, tanggal, jam, tokoh, lembaga—namun tidak kaku. Ini membuatnya berpotensi menjadi arsip kultural, bukan sekadar artikel acara.
    2. Hal yang Bisa Diperbaiki
    a. Panjang dan kepadatan Tulisan ini cukup panjang dan padat. Untuk pembaca umum, beberapa bagian informatif (daftar nama, urutan acara) bisa diringkas atau dipadatkan agar energi reflektif tidak terpecah.
    b. Transisi antarbagian Peralihan dari pembahasan Bolpuna Mania ke laporan hari pertama dan kedua kegiatan terasa agak panjang. Mungkin bisa ditambahkan satu paragraf transisi reflektif yang menjelaskan mengapa detail kegiatan ini penting bagi gagasan keresahan dan trans~.
    c. Kesalahan kecil teknis Ada beberapa titik yang bisa dirapikan:
    Spasi dan tanda baca di beberapa bagian (misalnya judul sesi “Reading Clinic” yang terpotong).
    Konsistensi penulisan istilah (misalnya Wita/WITA). Ini tidak mengganggu makna, tetapi akan meningkatkan profesionalitas naskah.
    3. Posisi Tulisan Ini
    Tulisan ini sudah melampaui level “laporan kegiatan”. Ia layak dibaca sebagai:
    esai sastra,
    catatan kebudayaan,
    atau refleksi literasi dari wilayah pinggiran Indonesia.
    Jika dimuat di media budaya atau jurnal sastra, tulisan ini punya bobot dan tidak terasa naif.
    4. Kesimpulan Singkat
    Ini adalah tulisan yang:
    jujur,
    berjarak tapi terlibat,
    personal tanpa menjadi sentimental,
    dan politis tanpa berteriak.
    Keresahan yang kamu tangkap tidak dipaksakan, tetapi dibiarkan tumbuh dari cerita-cerita kecil—dan justru di situlah kekuatannya.

    1. Zaky berkata:

      penulis ntt sangat bagus

  4. Wihh ceritanya seru sih mebayangkan hal itu saya jadi ingat perjuangan saya.Ahh masa lalu lupakan saja intinya cerita ini tentan perjuangan seseorang yang pantang menyerah

  5. Sabela berkata:

    Buku ini seperti kumpulan bisik—cerita-cerita kecil yang tampak sederhana, tetapi menyimpan keresahan yang sunyi dan terus bergema. Bolpuna Mania mengajak pembaca menyusuri detail keseharian yang pelan-pelan berubah menjadi cermin kegelisahan manusia. Setiap cerita terasa seperti potongan perasaan yang tak berteriak, namun justru menetap lama di benak. Sebuah buku yang membuktikan bahwa dari hal-hal kecil, sastra mampu merangkum kegundahan yang besar.

    1. Wihh ceritanya seru sih mebayangkan hal itu saya jadi ingat perjuangan saya.Ahh masa lalu lupakan saja intinya cerita ini tentan perjuangan seseorang yang pantang menyerah

    2. Icah berkata:

      wihh bagus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *