Menu
Menu

Model Reading Challenge berbeda dengan model bincang buku yang biasa digelar oleh Klub Buku Petra.


Oleh: Beato Lanjong |

Pustakawan Yayasan Klub Buku Petra.


Pada hari Minggu, 29 September 2024, Klub Buku Petra bekerjasama dengan Penerbit Buku Utama Gramedia, menggelar Reading Challenge dengan tema ‘Buku yang Pertama Kali Ditulis Sang Penulis”. Model Reading Challenge berbeda dengan model bincang buku yang biasa digelar oleh Klub Buku Petra. Reading challenge hadir dengan banyak judul buku—berbeda dengan Bincang Buku Petra yang dilaksanakan setiap bulan yang hanya membahas satu judul buku.

Lolik Apung bertindak sebagai pemantik. Ia membaca buku Cantik Itu Luka, dari Eka Kurniawan. Ia membuka pembacaannya dengan mengajukan pertanyaan ini: Mengapa Eka Kurniawan menggunakan sastra sebagai jalan untuk mengisahkan sejarah?

Dalam penelusurannya, ia menilai jika sastra membantu pembaca merasakan emosi tokoh dalam novel tanpa menjadi tokoh cerita. Dalam Cantik Itu Luka, pembaca bisa merasakan adanya perbedaan emosi antara Dewi Ayu dan teman-temannya ketika dijadikan PSK di rumah Mama Kolong. Meski ditangkap, ditahan, bahkan dimasukkan ke rumah pelacuran, Dewi Ayu menikmati semua peristiwa itu.

Di lain sisi, bila pembaca membaca buku ini secara rasional, pembaca akan menemukan banyak peristiwa yang bertentangan dengan akal sehat dan dengan etika. Saat bertemu Eka Kurniawan di Flores Writers Festival di Ende pada tahun 2022 dan berbincang soal karya-karyanya, Eka mengakui jika proses kreatifnya dipengaruhi oleh kebiasaan membaca buku apa saja sewaktu kecil, termasuk buku silat dan buku-buku karangan Ferdy S. Sebagai buku pertama, Eka Kurniawan berhasil membuat bukunya menjadi salah satu buku yang menarik di jagat sastra Indonesia.

Armin Bell turut mengomentari novel ini. Menurutnya, yang Eka Kurniawan lakukan dalam novel ini adalah bagian dari usaha usaha ‘melawan’ dan memberikan cara pandang yang baru (dari sejarah yang tidak ditulis oleh negara). Armin percaya bahwa semua orang punya hak untuk bercerita dan membagikan cara pandang yang berbeda dari cara khalayak umum melihat suatu peristiwa.

Erni Adar yang juga membaca novel ini tertarik pertama kali karena judulnya yang provokatif. Sementara itu, Retha Janu menggambarkan buku ini sebagai “buku yang vulgar”.

Selain membaca novel Cantik Itu Luka, untuk Reading Challenge ini Armin Bell membaca buku puisi Aku Ini Binatang Jalang karya Chairil Anwar. Puisi-puisi dalam buku ini disebut sebagai karya sastra modern Indonesia yang masuk pembabakan sastra di Indonesia. Mengapa begitu? Chairil Anwar adalah penyair yang berhasil memberi bentuk baru dalam wajah perpuisian Indonesia karena ‘ketidakpatuhannya’ pada aturan-aturan puisi lama. Begitu kuatnya puisi “Aku” dalam buku ini membuat Armin Bell melihat Chairil sebagai pemberontak; Chairil membangkitkan semangat perjuangan. Armin Bell sendiri jatuh cinta pada puisi “Senja di pelabuhan kecil” dan “Derai-derai Cemara”, dua puisi tentang situasi patah hati yang dilukiskan dengan manis. Menurutnya, dua puisi ini cukup mempengaruhi banyak penyair setelahnya.

Reading Challenge di Klub Buku Petra Ruteng

Setelah Armin Bell, tiba giliran Chelsea, seorang siswi SMA, membagikan hasil pembacaannya terhadap buku Merawat Luka Batin karya dr. Jiemi Ardian.

Chelsea termotivasi membaca buku ini karena merasa perlu untuk keluar dari stress akibat padatnya kegiatan dan tugas sekolah. Di bagian awal buku ini, ada penjelasan mengenai depresi, fase-fase dalam depresi, dan cara pemulihan atas depresi yang dialami setiap orang. Salah satunya untuk konsultasi ke dokter atau psikiater. Tahapan stres awal bisa dilakukan melalui latihan pernafasan untuk menciptakan ketenangan batin. Cara lain adalah latihan berpikir mindfulness, yaitu latihan sederhana untuk mempunyai pemikiran yang lebih terbuka—dengan tidak perlu khawatir akan masa depan. Buku ini juga membahas perasaan luka, emosi, sikap moodian, depresi, mental mudah menyerah, dan keinginan menjadi sempurna. Membaca buku ini membantu Chelsea belajar dari pengalaman masa lalu, memeriksa pola pikirnya sendiri, serta mempertanyakan kekawatiran yang hampir selalu terjadi.

Peserta berikut bernama Dini. Ia membaca buku Mata di Tanah Melus karya Okky Madasari. Buku ini memanggil kembali masa kecilnya, khususnya tentang rasa penasaran yang muncul dari larangan-larangan yang diajukan orang tuanya. Begitulah kisah Mata, seorang anak kecil yang berusia 12 tahun, yang penasaran dengan tulisan-tulisan ibunya sendiri. Di Atambua, NTT, cerita kemudian bergulir lanjut.

“Pesawat kecil kami mendarat di negeri antah berantah. Saat pesawat itu mulia merendah, saya mulai melihat hamparan hijau yang tidak terlalu lebat, juga tidak benar-benar hijau. Hijau yang kering, namun justru terlihat ramah dan tidak menakutkan.” Karena penutur atau narator banyak diambil dari sudut pandang Mata yang adalah seorang anak-anak, Dini merasa bahwa setiap akhir cerita dibiarkan begitu saja, tidak diberi tanda-tanda bagian selanjutnya. Di tanah Belu, Mata bertemu dengan kebudayaan baru, sejarah tempatan (Belu), cerita magis, dunia kupu-kupu, dan bertemu Atok. Pertemuan-pertemuan ini mengubah karakter tokoh Mata. Di sini, ketika cerita dalam novel disampaikan dengan bahasa yang sederhana, bahasa atau kisah anak-anak, Dini merasa lebih nyaman membacanya.

Peserta kelima adalah Retha Janu. Ia membaca buku kumpulan cerpen Sihir Perempuan karya Intan Paramaditha. Retha memulai membagikan pembacaannya dari warna sampul buku. Dia sendiri tidak tahu apakah Intan sangat menyukai warna merah atau apa. Namun di beberapa sampul buku Intan yang sudah dibacanya, selalu ada warna merah. Oleh karena itu, ia menyukai cerpen “Darah”, sebuah cerpen yang berkisah tentang pengalaman menstruasi. Dalam cerpen ini, fakta menstruasi dijelaskan melalui mitos-mitos.

Bagi Retha, pengolahan cerita mitos yang dipautkan dengan pengalaman keseharian perempuan begitu intens. Selain cerpen “Darah”, ada juga cerpen “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari”. Cerpen yang berkisah tentang kehidupan cinderela ini tampak lebih menghadirkan sisi jahatnya dan bukan sisi baik yang selama ini ada dalam persepsi tentang cinderela; “Pembaca kemudian mempunyai sudut pandang yang lain tentang cinderela.” Dari kisah ini Retha belajar melihat lebih banyak sudut pandang ketika berhadapan dengan suatu isu. Cerpen terakhir yang dikomentarinya adalah “Sajak Porselen’, yang dirasa begitu unik. Cerpen ini bercerita tentang perempuan-perempuan yang dipuja-puja akan kecantikannya, tetapi sebenarnya mereka selalu merasa kosong.

Sementara itu, ada beberapa teman bincang lain yang dengan senang hati datang bersama mengalami bincang buku sore itu. Ada Lolik Pahur, Aurel, dan Uci, Grace, dan saya sendiri. Kurangnya stok buku untuk dibincangkan, tidak lalu membuat kami tidak hadir di Reading Challenge itu. Amat menyenangkan mendengarkan beberapa di antara kami membagikan pembacaan, setelah lama tidak berjumpa, lalu mendengarkan cerita sambil menikmati makanan ringan yang tersedia. [*]


Program Reading Challenge ini adalah salah satu bentuk kerja sama Klub Buku Petra dengan Gramedia Pustaka Utama.

Baca juga:
Membaca Novel Gemulung Seperti Membaca Skrip Film
Nh. Dini Telah Pergi ….


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

1 thought on “Mendekati Buku yang Berbeda dalam Reading Challenge”

  1. NANDHITA berkata:

    Itu sangat bagus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *