Menu
Menu

Kami gali tanah/ tanpa merusaknya/ dan kami bisa melihat/ dalam gelap// kami menjadi laron malam/ yang mengerumuni/ cahaya lampu rumahmu …


Oleh: Sulaiman Djaya |

Lahir dan tinggal di Serang, Banten. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media cetak dan daring seperti Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, bacapetra.co, basabasi.co, biem.co, buruan.co, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013.


Laron

Di masa kecilku, kau bertamu
berputar dan sesekali menukik
mencandai nyala samar
lampu minyakku

sebelum akhirnya
hujan menggerincing
jelang tengah malam.
Baru kupaham sekarang

kau sedang berbicara saat itu
tentang kebahagiaan
yang tak disusun
kalkulasi ekonomi

dan matematika keuangan
tapi bahasa kesunyian
dalam keterbatasan
yang menyelamatkan manusia

dari kerakusan
dan keserakahan.
Lalu kau datang kembali
setelah berpuluh tahun

tak ada lagi nyala
samar lampu minyak,
nyanyi katak di belakang rumah
bersama cahaya mungil

kunang-kunang di kegelapan.
Dan hidup, memang
bukan ringkasan berita
atau simulasi kecerdasan buatan.

(2025)

.

Capung

Darimu aku mengerti
perkawinan dan pertarungan
adalah keseimbangan.
Kau lahir dan tumbuh
pada mulanya

di dasar air
rawa dan lumpur
lalu menjelma
anak-anak udara
di hamparan bentangan padi.

Betapa aku dulu
mengagumimu
sebagai penghibur
masa kanakku
di antara desir angin

dan semilir bambu
adakah yang lebih sabar
dan tangguh
selain waktu?
Ketika senja meluntur

aku pun bergegas
menuju rumah
dan menyalakan lampu:
menggambar rupamu
di buku sekolahku

(2025)

.

Kuntul Senja

Aku diajarkan untuk memanen rindu
gugusan randu. Bila hujan usai,
sepasukan kuntul singgah
bersama senja di sawah-sawah.
Aku ingat kaki-kaki letih masa kanakku

tiba-tiba gembira
mendengarkan nyanyian jangkerik
jelang magrib. Di antara ceri
dan ketapang
di antara irigasi dan tepi sungai

suara bedug saling beradu
dari satu kampung ke kampung
dan kumandang azan dilantangkan
dengan pengeras suara
bertenaga ACCU.

Tapi masih bisa kulihat
beberapa kuntul
mematuk-matuk ikan dan katak
di lumpur-lumpur
kesunyian ibundaku.

(2025)

.

Undur-undur

Waktu-ku kanak-kanak
belajar di kelas
berlantai tanah
betapa gembira saat bel istirahat
ditabuh pekerja sekolah

aku segera berlari
ke belakang
—bersama teman-teman
bermain dengan kalian
melubangi debu

dan keheningan.
Betapa aku kagum
cara kalian berjalan
dan menembus kedalaman
dengan tekun

dan pelan-pelan
seakan hidup memang
tak selalu harus terburu-buru
agar tak melewatkan
yang harus direnungkan.

(2025)

.

Rayap

Kami bangun rumah
dan kota-kota kami
tanpa mesin dan teknologi.
Tanpa limbah
dan suara bising.

Kami jaga ratu kami
dan kekasihnya yang setia
tak pernah meninggalkan
tempat mereka
demi kelangsungan

generasi kami
di masa depan. Kami urai
kayu dan daun
jadi pupuk
agar tanaman milik ibumu

tumbuh subur.
Kami selalu berdoa
dengan bekerja setiap hari
bukan meminta-minta
belas kasihan.

Kami gali tanah
tanpa merusaknya
dan kami bisa melihat
dalam gelap
meski ada saatnya

kami menjadi laron malam
yang mengerumuni
cahaya lampu rumahmu
sebelum akhirnya
kami ke tanah kembali.

(2025)

.

Kepik Koksi

Anak-anak menyukaiku
karena tubuhku seperti mereka
saat baru bisa merangkak.
Embun dan daun-daun belukar
adalah tempat

yang paling kami suka.
Tapi kami juga kadangkala
bermain di padi-padi
mengagumi kesabaran petani
yang hidup jujur.

Kadang kami pun
singgah di muka kaktus
tanpa harus tertusuk duri.
Kami tak takut gerimis
atau hujan Januari

karena baju kami
tebal dan licin
hingga air menggelincir.
Saat hendak terbang dan hijrah
kami cukup mengepakkan

baju kami
yang menjelma perisai
bernama elytra
untuk melindungi sayap kami
yang tipis dan transparan

bercanda dan beterbangan
dengan anak-anak kenangan
yang telah hilang
dilumat kerakusan
dan keserakahan.

(2025)

.

Katak

Bila pelita dinyalakan ibunda
kudengar suara kalian
beragam nada
seusai gerimis jelang malam:
si gurun hujan bersuara

seperti terompet kecil
mainan anak-anak sekolah dasar
yang dijual pedagang keliling.
Kadang seperti suara kucing
yang baru lahir.

Si katak lumut bersuara
seperti kentut manusia
dengan volume tinggi.
Tapi kadang seperti suara sedih
ibuku menahan perih

meski ia kadang tertawa
entah karena apa.
Si panah emas beracun
bersuara seperti kincir angin
dan gasing masa kecil.

Ada juga si genit litoria
yang bersuara seperti itik air
dan kambing mengembik
dan si amazon susu
seperti mengiba

karena rindu
sentuhan manismu
setelah tersenyum
sebab ketulusan sajakku
yang memang kutulis untukmu.

(2025)


Ilustrasi: Insecte (Pierre Tal-Coat), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Dunstan Obe – Menyala, Kuinyadu!
Puisi-Puisi Baitiyah – Mengenakan Pakaian Kecemasan
Puisi-Puisi Alghifahri Jasin – Mengapa Manusia Menangis?


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

9 thoughts on “Puisi-Puisi Sulaiman Djaya – Melihat dalam Gelap”

  1. Agung Khuluq berkata:

    puisi segar, tema unik dan mengingatkan keadaan pedesaan di kasa kecil.

  2. Ridho berkata:

    suka make ini

  3. Wahyu Tanoto berkata:

    salam puisi berseri-seri

    1. puisinya sangat bagus untuk di baca

      1. Fayy berkata:

        keren, mnegingat masa lalu yang dulu pernah semeriah itu

  4. dafa al-fahri berkata:

    cerita ini sangat menyenangkan dan tidak bikin mood saya

  5. Emil Hasan berkata:

    Sehat selalu dan terus berkembang untuk semua

  6. Karsa Budaya berkata:

    Terimakasih kawan-kawan….salam sehat dan bahagia.

    1. Ridho berkata:

      terima kasih juga atas ucapan yang kamu beri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *