Puisi-Puisi Sulaiman Djaya – Melihat dalam Gelap
10 Desember 2025| | 9 CommentsKami gali tanah/ tanpa merusaknya/ dan kami bisa melihat/ dalam gelap// kami menjadi laron malam/ yang mengerumuni/ cahaya lampu rumahmu …
Oleh: Sulaiman Djaya |
Lahir dan tinggal di Serang, Banten. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media cetak dan daring seperti Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, bacapetra.co, basabasi.co, biem.co, buruan.co, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013.
Laron
Di masa kecilku, kau bertamu
berputar dan sesekali menukik
mencandai nyala samar
lampu minyakku
sebelum akhirnya
hujan menggerincing
jelang tengah malam.
Baru kupaham sekarang
kau sedang berbicara saat itu
tentang kebahagiaan
yang tak disusun
kalkulasi ekonomi
dan matematika keuangan
tapi bahasa kesunyian
dalam keterbatasan
yang menyelamatkan manusia
dari kerakusan
dan keserakahan.
Lalu kau datang kembali
setelah berpuluh tahun
tak ada lagi nyala
samar lampu minyak,
nyanyi katak di belakang rumah
bersama cahaya mungil
kunang-kunang di kegelapan.
Dan hidup, memang
bukan ringkasan berita
atau simulasi kecerdasan buatan.
(2025)
.
Capung
Darimu aku mengerti
perkawinan dan pertarungan
adalah keseimbangan.
Kau lahir dan tumbuh
pada mulanya
di dasar air
rawa dan lumpur
lalu menjelma
anak-anak udara
di hamparan bentangan padi.
Betapa aku dulu
mengagumimu
sebagai penghibur
masa kanakku
di antara desir angin
dan semilir bambu
adakah yang lebih sabar
dan tangguh
selain waktu?
Ketika senja meluntur
aku pun bergegas
menuju rumah
dan menyalakan lampu:
menggambar rupamu
di buku sekolahku
(2025)
.
Kuntul Senja
Aku diajarkan untuk memanen rindu
gugusan randu. Bila hujan usai,
sepasukan kuntul singgah
bersama senja di sawah-sawah.
Aku ingat kaki-kaki letih masa kanakku
tiba-tiba gembira
mendengarkan nyanyian jangkerik
jelang magrib. Di antara ceri
dan ketapang
di antara irigasi dan tepi sungai
suara bedug saling beradu
dari satu kampung ke kampung
dan kumandang azan dilantangkan
dengan pengeras suara
bertenaga ACCU.
Tapi masih bisa kulihat
beberapa kuntul
mematuk-matuk ikan dan katak
di lumpur-lumpur
kesunyian ibundaku.
(2025)
.
Undur-undur
Waktu-ku kanak-kanak
belajar di kelas
berlantai tanah
betapa gembira saat bel istirahat
ditabuh pekerja sekolah
aku segera berlari
ke belakang
—bersama teman-teman
bermain dengan kalian
melubangi debu
dan keheningan.
Betapa aku kagum
cara kalian berjalan
dan menembus kedalaman
dengan tekun
dan pelan-pelan
seakan hidup memang
tak selalu harus terburu-buru
agar tak melewatkan
yang harus direnungkan.
(2025)
.
Rayap
Kami bangun rumah
dan kota-kota kami
tanpa mesin dan teknologi.
Tanpa limbah
dan suara bising.
Kami jaga ratu kami
dan kekasihnya yang setia
tak pernah meninggalkan
tempat mereka
demi kelangsungan
generasi kami
di masa depan. Kami urai
kayu dan daun
jadi pupuk
agar tanaman milik ibumu
tumbuh subur.
Kami selalu berdoa
dengan bekerja setiap hari
bukan meminta-minta
belas kasihan.
Kami gali tanah
tanpa merusaknya
dan kami bisa melihat
dalam gelap
meski ada saatnya
kami menjadi laron malam
yang mengerumuni
cahaya lampu rumahmu
sebelum akhirnya
kami ke tanah kembali.
(2025)
.
Kepik Koksi
Anak-anak menyukaiku
karena tubuhku seperti mereka
saat baru bisa merangkak.
Embun dan daun-daun belukar
adalah tempat
yang paling kami suka.
Tapi kami juga kadangkala
bermain di padi-padi
mengagumi kesabaran petani
yang hidup jujur.
Kadang kami pun
singgah di muka kaktus
tanpa harus tertusuk duri.
Kami tak takut gerimis
atau hujan Januari
karena baju kami
tebal dan licin
hingga air menggelincir.
Saat hendak terbang dan hijrah
kami cukup mengepakkan
baju kami
yang menjelma perisai
bernama elytra
untuk melindungi sayap kami
yang tipis dan transparan
bercanda dan beterbangan
dengan anak-anak kenangan
yang telah hilang
dilumat kerakusan
dan keserakahan.
(2025)
.
Katak
Bila pelita dinyalakan ibunda
kudengar suara kalian
beragam nada
seusai gerimis jelang malam:
si gurun hujan bersuara
seperti terompet kecil
mainan anak-anak sekolah dasar
yang dijual pedagang keliling.
Kadang seperti suara kucing
yang baru lahir.
Si katak lumut bersuara
seperti kentut manusia
dengan volume tinggi.
Tapi kadang seperti suara sedih
ibuku menahan perih
meski ia kadang tertawa
entah karena apa.
Si panah emas beracun
bersuara seperti kincir angin
dan gasing masa kecil.
Ada juga si genit litoria
yang bersuara seperti itik air
dan kambing mengembik
dan si amazon susu
seperti mengiba
karena rindu
sentuhan manismu
setelah tersenyum
sebab ketulusan sajakku
yang memang kutulis untukmu.
(2025)
Ilustrasi: Insecte (Pierre Tal-Coat), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Dunstan Obe – Menyala, Kuinyadu!
– Puisi-Puisi Baitiyah – Mengenakan Pakaian Kecemasan
– Puisi-Puisi Alghifahri Jasin – Mengapa Manusia Menangis?

puisi segar, tema unik dan mengingatkan keadaan pedesaan di kasa kecil.
suka make ini
salam puisi berseri-seri
puisinya sangat bagus untuk di baca
keren, mnegingat masa lalu yang dulu pernah semeriah itu
cerita ini sangat menyenangkan dan tidak bikin mood saya
Sehat selalu dan terus berkembang untuk semua
Terimakasih kawan-kawan….salam sehat dan bahagia.
terima kasih juga atas ucapan yang kamu beri