Menu
Menu

menyala, kuinyadu!/ hidup sungguh sopi kepala/ kita gelas seloki; penyatu lingkaran/ yang terbuang


Oleh: Dunstan Obe |

Lahir di Dili, 1998. Menulis puisi, esai, dan kritik sastra. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Salah satu pemenang Sayembara Membaca Flores Writers Festival (2021). Emerging Writers Makassar International Writers Festival (MIWF) 2024. Alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira ini dapat dihubungi via akun Instagram (dunstan_obe).


menelepon kuinyadu

halo, kuinyadu!
kalau sudah mabuk
jangan pukul bapa mantu

gelas seloki masih bisa kita pakai lagi
jangan kau pecahkan di kepala orang tua
komandan pos batas anti anak durhaka
apalagi terhadap negara.

nkri harga hidup, kuinyadu!
harga sembako naik
utang di koperasi bengkak
belis belum lunas

kuinyadu ingin hidup 1.000 tahun dengan bansos?

hukum fisika lelaki miskin:
mabuk berbanding lurus dengan utang

di lingkaran aparat, harus bicara sopan
mereka beli minum pakai uang negara
kuinyadu hanya numpang
oleng

boleh teguk satu dua seloki
tapi ingat babi di kandang,
tapi ingat padi di ladang
hidup tidak selurus pinang

bapak mantu cuma lulus sd
kini ia kepala desa
punya anak nona sarjana pendidikan
        lulus dengan pujian

kuinyadu tersinggung?

tes tentara 5 kali
sapi habis 5 kandang
tidak dapat seragam
kuinyadu menangis 5 liter

jadi suami anak kepala desa boleh?

untuk bahagia, kerap kita mesti menumpang
di bahagia orang lain

menyala, kuinyadu!
hidup sungguh sopi kepala
kita gelas seloki; penyatu lingkaran
yang terbuang

halo, kuinyadu? halo?
suara putus-putus
jaringan menghilang seperti
cita-cita

kita

Kupang, 2024

.

di botol kesepuluh

celakalah mereka yang bangun pagi-pagi
dan terus mencari minuman keras…
(Yesaya, 5:11)

pagi-pagi benar, hari baru buka mata
kuinyadu pikul karung
langkah satu
satu

mau ke pasar saitau
jual pisang dan ubi kayu dahulu
minggu depan tinus uas

orang miskin dilarang sekolah!

kuinyadu mau ke mana?
ada satu botol di jok motor
mari minum dahulu
hidup jangan terlalu serius

di dapur ada ikan kering, se’i babi,
ubi kayu, sambal lu’at, jagung bose
tolakan enak ini, mari makan!
kita kasih jalan seloki pelan-pelan

kuinyadu tarik napas dalam-dalam
lelaki timor tidak bisa tidak minum?
ah, sopi segalanya

kuinyadu simpan karung

kuinyadu lupa kalau ia butuh uang
kalau minggu depan tinus uas
kalau bapa mantu ada demam
kalau istri sedang hamil anak kedua

persetan dengan kepala sekolah
literasi, bapa mantu, istri, dan segala
yang butuh uang
persetan dengan masa depan tinus?

tinus tidak boleh seperti bapanya

di botol kesepuluh
kuinyadu undur diri
coba kasih lurus pikiran yang goyang
aih, oleng sekali

kuinyadu beranjak

di luar, langit buka mata lebih lebar
kepala kuinyadu seperti terbakar
wajah kepala sekolah, wajah tinus,
wajah bapa mantu, wajah istri tercinta

anjing menggonggong
kesialan tidak berlalu
hidup memang asu, kuinyadu!

Kupang, 2024

.

kuinyadu di gereja

kuinyadu sudah lama tidak ke gereja
bulan depan tinus mau sambut baru
pastor bilang orang tua wajib hadir

kuinyadu pakai kemeja menyala
disisip pada beti tenunan istri
selendang melingkar di leher

hari minggu, kuinyadu ganteng sekali
istri di tangan kiri, tinus di tangan kanan
duduk di bangku depan gereja

“gembala yang baik adalah gembala
yang rela meninggalkan 99 domba lainnya
hanya untuk mencari satu domba hilang,” khotbah pastor

kemeja menyala tiba-tiba padam
beti makin sesak di pinggang
selendang seolah cekik leher
kuinyadu tutup muka
di depan pastor
         di hadapan tangga altar

kor sudah nyanyi lagu persembahan
kuinyadu permisi keluar
ke kamar mandi tarik rokok

domba yang sadar diri
akan pulang sendiri
tanpa perlu dicari

kuinyadu masuk kembali ke gereja
kaki-kakinya
domba yang riang

Kupang, 2024

.

Stanislaus di Batas Kota Dili, 1991

Setelah lolos dari penembakan di Santa Cruz, Stanislaus menyadari tanah air dan istrinya telah dirampas tentara. Di batas Kota Dili, tidak ada yang bertanya kepadanya, “Quo vadis, Stanislaus?” Hanya volume revolusi di antara kobaran api dan gugus asap. Diusapnya tubuh yang berwarna tembakan, sepakan, tumbukan, tamparan, dan makian. Ia mengingat penuh seluruh, butir-butir peluru tumpah di hadapannya umpama hujan malam Natal. Malam ketika ia pulang membawa bayi Yesus di hatinya dan mendapati istrinya tidur berselimut tentara. Ia menangis bersedu-sedu untuk cinta yang lebih murah dari tiga puluh keping perak, untuk teman-temannya yang menelan senjata usai menerima Tubuh Kristus, untuk Dili yang bermandikan darah, untuk dirinya yang gagal menjadi martir.

Di pikiran Stanislaus, bayi Yesus lahir karena rencana Tuhan, tetapi bayi di perut istrinya lahir karena rancangan tentara. Ia mengutuk Indonesia karena sudah merusak nasib dirinya. Negara yang membuatnya berjanji di depan Fretilin untuk memerdekakan Timor Lorosae. Menjadi seorang pejuang yang rela ditembaki berkali-kali. Seorang pejuang, yang di hari pernikahannya memakaikan nasionalisme pada jari manis istrinya. Bersumpah di hadapan pastor untuk mencintai istrinya dengan cara yang paling monogami. Walau kini ia menerima lebih banyak luka dari cinta yang berlipat ganda. Maka di hadapan negara dan rumah tangganya, ia hanya laki-laki mabuk yang butuh dipeluk dengan cara yang merdeka.

Stanislaus berterima kasih kepada gereja dan Fretilin yang telah menjadi rumah baginya. Meski di dalam rumah itu, ia menerima lebih banyak salib. Ia berdoa kepada Petrus yang disalibkan terbalik, memohon surga untuk teman-temannya. Supaya di pintu surga, tidak ada yang bertanya mereka orang terjajah atau orang merdeka. Mereka hanya sekumpulan pahlawan yang mabuk nasionalisme. Ia juga berdoa di hadapan Maria yang maha-ibu, meminta maaf untuk dirinya yang tidak memiliki hati seperti suami Maria yang mencintai keluarga kudus. Mestinya pernikahan membuatnya menjadi tukang kayu yang sabar dan bertahan dengan kata maaf.

Di batas Kota Dili, Stanislaus memeluk dirinya sendiri. Dari jauh, lonceng gereja terdengar samar-samar seperti tangisan malaikat. Lagu rekuiem untuk hidup yang terlalu banyak kehilangan. Dari satu dukacita ke dukacita yang lain, Stanislaus paham sejarah adalah pustaka luka orang-orang kalah.

(2021, 2024)


Ilustrasi: The Drunken Gentleman (Carlo Carra, 1916), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Surya Gemilang – Lidah Mama dan Bintang-Bintang
Puisi-Puisi Mario D.E. Kali – Hari Tuhan bagi Kalanuk
Puisi-Puisi Budi Hatees – Tali yang Mengikat Saudara


 

Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

14 thoughts on “Puisi-Puisi Dunstan Obe – Menyala, Kuinyadu!”

  1. Fy berkata:

    sangat menghibur. Sudah sejam membaca puisi di sini dan ketemu yang begini, langsung tertawa. It feels like a fresh air, love it!

  2. Admin berkata:

    Terima kasih sudah menulis puisi-puisi bagus ini bro.

  3. nikita berkata:

    cukup menarik, tapi menurut saya pribadi banyak kosakata yg saya belum tahu apa maknanya 😇🙏

  4. Elin berkata:

    Kata kata nya bagus

  5. Anan berkata:

    Menurutku udah bagus sih, apalagi penggunaan majas nya. Keren

  6. mala berkata:

    kurang menarik untuk dibaca bersamaan dengan nada

  7. Sl berkata:

    Puisi ini cukup menarik untuk dibaca, tetapi ada beberapa kata yang tidak bisa dimengerti.

  8. Onal berkata:

    Kuinyadu ee Menyala🔥🙌

  9. Akhdaan berkata:

    Bagus

  10. Akhdaan berkata:

    Artinya sangat dalam dan banyak makna

  11. Ferdy berkata:

    Kuinyadu hidup jgn terlalu serius
    Mari kita satu botol dulu

  12. Punk berkata:

    Sepertinya akan menyenangkan kalau Kuinyadu bertemu dengan Badrul Mustafa dalam satu frame

  13. Sri berkata:

    Hai kuinyadu, boleh teguk satu dua seloki

    Di batas kota dili, stanislaus memeluk dirinya sendiri.

  14. Onal berkata:

    Menyala Kuinyadu🔥🙌

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *