Menu
Menu

mengapa manusia menangis?/ sejak jatuh di dunia, ia tak lagi memiliki u—t—u—h dirinya/ ia mencari dahan yang semula menahannya dari bahaya


Oleh: Alghifahri Jasin |

Lahir di Ujung Pandang, menetap di Kota Makassar. Menulis buku puisi Kunjungan Singkat ke Rumah (Endnote Press, 2024, 2022) dan album puisi Rencana Penipuan (Platform Digital, 2021). Tahun 2025 terpilih sebagai Emerging Writers pada MIWF (Makassar International Writers Festival). Selain itu, praktik seni peran membuatnya terhubung dengan medium teater, film, dan performance art.


Gulma dalam Diriku

Aku mau menanam suka suka merawat susah susah
aku mau mengajari tangan ini lebih lunak mengetik
setiap jengkal penderitaan
aku mau mengajari tangan ini sekali lagi memetik
setiap buah ketabahan

Aku mau menanam suka suka merawat susah susah
aku mau mengajari kaki ini lebih keras menahan
setiap angin keributan
aku mau kaki ini berkali kali mendahan
setiap kecil kedamaian

Aku suka menanam susah merawat
aku harap tangan ini bisa menjabat maut
tanpa menyisakan sakit
aku harap tangan ini menjadi lembut
tanpa meninggalkan jerit

Aku suka menanam susah merawat
aku harap kaki ini bisa melompati takdir
tanpa menganulir cerita akhir
aku harap kaki ini menjadi tidak getir
tanpa menaksir tabir

.

Memanjati Waktu

aku merindukan saat pohon
memeluk bayanganku di siang hari
rerontokan daunnya seperti
tangan ibu yang mengelus pipiku

aku merindukan kawanku
anak anak berani menukar bahaya
dengan bahak tawa
seperti memain mainkan hidup

aku merindukan bau kerbau
membajak sawah dan
menyelesaikan tidur siang
di punggungnya

angin mengikis diriku tiada henti
aku terjebak dalam waktu semacam ini
dan berusaha keluar darinya

orang orang berharap hidup berjalan panjang
aku selalu mengulang ulang harapan
tetapi patah mengulang kekecewaan

orang orang menyimpan harapan dalam saku
aku menyimpan harapan hari ini
dan selintas lupa

orang orang berlomba menaklukkan dunia
aku hanyalah
aku

usia tua seperti racun
dan kematian satu
satunya penawar

.

Deras Kasih

ibu                    benih tumbuh
                       di dalam tubuh
ibu                    menjaga
                       detak detukan hidup
ibu                    merawat
                       denyut irisan luka
ibu                    tak pernah
                       menawar maut
                       semasa
                       mengandung
mengapa manusia menangis?
sejak jatuh di dunia, ia tak lagi memiliki u—t—u—h dirinya
ia mencari dahan yang semula menahannya dari bahaya
tetapi tak satu pun pohon terlihat
ia menangis sederas derasnya
kelahiran adalah perpisahan pertama
yang ia terima
                       napas berjalan
                       menelan petaka
                       jalan demi jalan
                       menerkam nyawa
                       badan terpisah
                       begitulah
                       derita teramat berat
                       ucap selamat tinggal
dan
kematian adalah pertemuan terakhir
yang ia beri

.

Ramalan Cuaca

peringatan dini!
waspadai potensi hujan
sedang hingga lebat yang dapat disertai
kilat/petir dan angin kencang
pada pagi hari hingga sore hari
di wilayah bagian barat dan selatan

Pernahkah peringatan mengingatkan dirinya
menegur hujan yang sedang ingin singgah
di rumah kecilmu

Sedang kecemasanmu tidak sepadan
dengan genang air yang bermalam
merendam setengah badan

Katakan banjir
berapa kali lagi kau datang
apakah air serupa kau memiliki jalan pulang
atau pulang adalah derita panjang

Kilat menyala
bayangan membunuh dingin
dalam diriku per sekian detik
tidak setiap cahaya terang
bahkan gelap lebih pandai
membagi kehangatan padaku

Apakah
manusia bisa menyelamatkan bencana
kebohongan demi kebohongan dibangun
dan mereka namai sebagai jawaban
coba balik pertanyaannya
apakah bencana bisa menyelamatkan manusia

Mengapa
peradaban selalu diisi dengan kekerasan
kedamaian terbentuk dari pedang yang
telah me ro bek ro
               bek jantungmu
dan mereka namai itu kejayaan
mengapa

Jika besok bencana tiba
bisakah kita berhenti meramal cuaca
mulai hari ini

Biarkan angin kencang pada pagi hingga sore
di wilayah bagian barat dan selatan itu
menghempaskan nama kita yang tiada

.

Cahaya

menahun kuhindari bahaya
kudekatkan diriku pada cahaya
menahan siksa bahasa
kudekap dingin sengsara

jelaskan padaku
caramu mencuri api
dari dewa dewa
yang bermalam dalam mimpiku

ketenangan itu sungguh derita
kebahagiaan itu sungguh rekayasa
kebohongan ini sungguh dipercaya

.

Pandemi Sejarah

perang menyentuh dunia
kabut kesedihan kian menebal
sejarah kita dilapasi
oleh kehancuran
oleh kerapuhan
kejayaan dicapai dengan
melukai daging budak dan
menciptakan kubangan darah

kebijaksanaan tidak bisa mengurai kejahatan begitu saja
inilah kekurangan manusia saat mengenal kejayaan
berabad abad lalu peperangan adalah harga diri yang
ditunjukkan kepada dewa dewa
berabad abad kemudian dewa dewa musnah setelah
pengetahuan memvaksin peradaban biadab

kedamaian adalah anekdot terbesar saat ini
kearifan macam apa yang bisa dilihat
dari kematian anak anak
yang tertembus peluru
dari kematian anak anak
yang terkena ledakan
dari kematian anak anak
yang tertimpa bangunan

aku ingin kau berhenti meledakkan langit langit gaza
aku ingin kau berhenti menembak tubuh badan gaza
aku ingin kau berhenti merobek lembar hidup mereka

saat aku membicarakan gaza
maksudku
aku membicarakan kita


Ilustrasi: Newborn Baby on Hands (Otto Dix), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Menuju Lubang Neraka Paling Dekat | Wawan Kurniawan
Variasi Kesendirian | Pradewi Tri Chatami
Sekelebatan Memori Patah Hati | Adhimas Prasetyo


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

4 thoughts on “Puisi-Puisi Alghifahri Jasin – Mengapa Manusia Menangis?”

  1. Tulisannya Kak Alghi memang sangat bagus, dari cara peramuan kata/diksi, bahkan kiasan-kiasan sederhana tapi penuh makna. Suasananya cenderung ke nostalgia akan masa-masa di mana semua itu sudah ya kalau di zaman sekarang hampir mustahil menemukan semua itu lagi. Semua orang lebih ke gadget, masa-masa yang digambarkan Kak Alghi itu sumpah indah sekali kalau yang sempat mengalami. Manjat pohon, tangkap ikan kalau kita di Pa’baeng-baeng dulu anak-anak sukanya di Makro (Sekarang Lotte), absurd sekali kalau ingat masa-masa itu.

  2. cicilia berkata:

    aku suka banget sama puisi nya menurut ku ini adalah salah satu puisi yang bisa aku buat untuk refrensi tugas ku

  3. Yashintacaa berkata:

    Kumpulan puisi nya bagus sekali, saya paling suka bait “orang-orang berlomba menaklukkan dunia aku hanyalah aku”

  4. Rubihermawan berkata:

    Puisinya sangat indah,begitu dalam makna yang terkandung di dalamnya.Saya suka puisi beliau terutama yang judulnya “Memanjati waktu”
    Banyak pelajaran yang saya petik,perubahan dalam hidup tidak bisa dihindari.Salam literasi damai ibu pertiwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *