Puisi-Puisi Baitiyah – Mengenakan Pakaian Kecemasan
20 September 2025| | 15 Commentsakhir-akhir ini/ ia mengenakan pakaian kecemasan/ tubuhnya tersangkut di gerakan kaki/ cincin yang diputar/ etikan jari/ napas yang pendek/
Oleh: Baitiyah |
Baitiyah. Atau Baiti, rumahku. Saat ini menikmati pekerjaannya sebagai copywriter di sebuah studio desain dan ilustrasi di Kota Malang.
Bagaimana rupa kata?
ketika ia mengatasi dirinya sendiri di tebing lidah,
mata tak dapat menangkap apa pun
bahkan telapak menihilkan tubuhnya dari dunia
2025
.
Bagaimana rindu bekerja?
kerapuhan dan kesepian yang menyelipkan diri mereka pada kekosongan dan kesunyian di celah-celah antara aku dan ruang-waktu yang kuhidupi; sedangkan tiap-tiap ikatan yang terjalin darinya, yang memeluk dan membuka tangan, akan melahirkan sejenis adiksi yang gagal dipertimbangkan pengetahuan; adiksi terhadap kehadiran yang secara radikal menyentuh titik paling manusiawi, yang mencengkeram dan mencekik bagi sebagian, dan mematikan bagi sebagian yang lain.
2025
.
Bagaimana aku melihat tulisan?
I
Ia tergantung di dinding kepala seperti baju yang belum dicuci,
tapi akan dipakai, dan entah kapan.
Teronggok memenuhi ruangan, mengganggu, mendistraksi, membuat jengah.
Tidak akan ada kata yang diucapkan oleh sela-sela kukuku sebelum
sebuah bom meluluhlantakkan, meledak di rumah tetangga sebelah.
Selama dinding kepala masih merasa nyaman dipeluk baju bekas
Selama aku masih merasa nyaman diganggu, didistraksi, dibuat jengah
Kata-kata tidak akan lahir jika kamu tidak meminta dan aku tidak mencoba.
II
Jika bencana datang,
Kamu akan menyaksikan kematian
Kita dan kelahiran kata-kata
Meski entah apa yang akan mereka lakukan
Jika kita sudah tiada.
III
Kata-kata mengenal siang dan malam dengan baik
Sebelum datang darimu beberapa patah dan mereka mengulang
peta keseluruhan diri sendiri
Gelap-terang, bulan-mentari, ramai-sepi,
Garis waktu setipis benang, menjadi garis cakrawala seputih awan yang tak diketahui batasnya
Kata-kata kini memampukan dirinya untuk lahir dari mana-mana dan apa-apa
Dari dasar botol kuteks cokelat, plastik sedotan, atau dari penampilan musik malam Minggu
Meski cinta bikin lekas dan mudah*
Membongkar diri sendiri tetap membawa kata-kata pada barisan tanda tanya
2025
*Teringat sajak Pulang Kampung karya Gunawan Maryanto
.
Bagaimana cara mengeja resah?
hidup yang terbakar di ujung jemari
dicumbu angin
yang mengubahnya menjadi asap
kelebatan-kelebatan memori
yang membumbung tinggi di udara
membawa separuh diriku
ke tempat yang tak bisa kukira
aku mulai menggigil
melihat bagian-bagian diriku yang terbang
rimbun tergantung
di cabang-cabang sebuah pohon basah
dunia ini dingin
seperti dinding yang menempel di pipiku
dan aku memeluk hangat yang tak semestinya
2024
.
Bagaimana rasa ibu puisi?
ada puisi yang lahir dari rahimku
tetapi
ibunyalah yang menangis
mengetahui wujudnya adalah apa saja
akhir-akhir ini
ia mengenakan pakaian kecemasan
tubuhnya tersangkut di gerakan kaki
cincin yang diputar
petikan jari
napas yang pendek
kebingungan yang sempit
dan sepi semarai
sejujurnya
aku lebih suka meringkuk di rahim puisi
dan tak lazim berdiri di sela-sela halaman ini
sayangnya
aku telah belajar menjadi ibu puisi
dari puisi-puisi yang telah menjadi aku
dan seorang ibu
tidak
pernah
memutar balik waktu
meski aku
lebih suka menjadi anak puisi yang durhaka
dan
enggan ada
2024
Ilustrasi: The Red Cloth (Aurelio Tiratelli), dari WikiArt.org.

Puisi yang terdapat makna terdalam
embun menyapa dengan senyumnya,
melekat seperti
perhiasan.
suatu dalam keheningan pagi,
mengajak hati dalam ketenangan.
suka sekali
saya suka
embun menyapa dengan senyumnya,
melekat seperti
perhiasan.
suatu dalam keheningan pagi,
mengajak hati dalam ketenangan.
wawww
menyenangkan dan seru
saya sangat menyukai cerita tersebut,ini sangat menyenangkan
saya sangat menyukai cerita tersebut
Sangat bagus dan saya sangat suka
bagus sekali saya sangat menyukainya
membaca puisi seperti koreksi diri ..
puisi sungguh bisa aku pelajari, aku sangat suka sama puisi, ceritanya dan tulisan sengat mewah dan elegan
seru
kadang ada kala nya melihat apa yang tak pernah dilihat, nihil rasanya jika harus memaksakan diri agar berusaha untuk tak menoleh pada sebuah cinta sinar dalam genggaman tangan.. pada kau sang cinta yang tak pernah menjelaskan apapun.. kini cinta yang dulu tak pernah kau genggam kini terbang jauh darimu..