Menu
Menu

Setelah kilau emas yang kurasakan sebelumnya, kebahagiaan itu sirna seketika. Bengkulu telah ditinggalkan Pemerintah Hindia Belanda.


Oleh: Eko Setyawan |

Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Beberapa bukunya telah terbit, antara lain: Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), dan Sayap untuk Andini (2023). Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Saat ini menjadi guru Bahasa Indonesia di SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo.


Di bawah naungan Deinst van hen Mijnwezwn di Weltevreden, Batavia, tambang emas di Rejang Lebong kian hari kian berkilau. Tuan Eugene Kassel memimpin pembukaan lahan emas baru di Lebong Donok dan menjalar ke beberapa tempat sekitar di bawah naungan wilayah Residen Groenneveld. Aku ditugasi untuk menjadi pengawas tambang emas ini dan mengemban program perluasan wilayah tambang karena menurut data yang ada, Lebong kaya akan emas.
Mula-mula, rekanku, Controleur Jan Hendrik menjelajahi daerah-daerah yang hendak dibuka lahan tambang. Ia temui tetua-tetua di Rejang Lebong dan menyusun siasat agar pembukaan lahan tambang berjalan lancar. Controleur muda itu kulihat begitu semangat ketika bertemu dengan para tetua. Dari tutur katanya saat bicara dengan tetua sekaligus orang yang berkuasa di wilayah Lebong, aku bisa menilai bahwa Jan Hendrik ini mulutnya sangat licin dan penuh tipu muslihat.

Aku mendampingi Controleur Jan Hendrik saat bertemu Haji Ismael, seorang yang memiliki pengaruh di Lebong. Ia menawarkan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dengan orang tua itu. Katanya, Haji Ismael akan diberikan rumah sekaligus barang-barang dari Batavia jika berhasil membujuk warga agar pembukaan lahan emas berjalan dengan lancar. Selain itu, warga di sekitar tambang juga akan diajak untuk bekerja di tambang. Alhasil, siasat itu berhasil. Kami membuka lahan tambang emas tanpa masalah yang berarti.

Perusahaanku semakin berkembang. Semula kami mendirikan Minjbouw Maatschappij Redjang Lebong dan tak lama kemudian disusul cabang lain yakni Minjbouw Maatschappij Ketahun di Lebong Sulur dan meluas hingga Simau di bawah pengelolaan Minjbouw Maatschappij Simau (MMS). Usaha tambang emas semakin luas dan menjanjikan sehingga kantor pengelolaan juga harus ditambah agar mudah untuk mengendalikan dan mengurusi segala keperluan.

Karena pembukaan lahan tambang semakin luas, para petinggi di Batavia mengirim Eddie, seorang ahli administrasi dan di sini tugasnya adalah untuk penerimaan dan pengiriman perlengkapan serta hasil tambang nantinya. Eddie diperkenalkan oleh Tuan Eugene Kassel pada kami di kantor Residen Groenneveld. Selain mengurusi administrasi tambang, kata Tuan Eugene, Eddie juga mengelola administrasi membawahi Afdeling seluruh penjuru Bengkulu. Aku semakin tertarik padanya. Sehebat apa dirinya hingga memiliki jabatan yang sebegitu penting dan beragam.

Tak lama setelah perkenalan itu, aku, Controleur Jan Hendrik, dan Eddie lekas akrab. Kami semakin sering bertemu untuk segera membuka cabang-cabang lain di Rejang Lebong. Eddie telah menyusun jadwal kedatangan alat-alat dan segala keperluan yang hendak digunakan di lahan tambang.

“Aku sudah mengontak para petinggi di Weltevreden, Batavia. Tuan Eugene Kassel juga telah menyetujui. Alat-alat segera datang. Segera persiapan wilayahnya dan setelah sampai, kita angkut ke tempat tambang baru itu segera.” Eddie mengatakan padaku dan juga di hadapan Controleur Jan Hendrik. Dalam ucapannya itu, aku segera memahami apa maksudnya.

“Aku segera memerintahkan Haji Ismael untuk mengerahkan warganya yang berminat bekerja di tambang untuk bersiap,” timpal Controleur Jan Hendrik. “Mereka pasti dengan senang hati terlibat dalam proyek besar ini,” tambahnya.

“Semua yang ada di daftar barang-barangmu sudah kau pastikan lengkap?” tanyaku pada Eddie. “Mata bor, mesin-mesin pemecah batu, penyaring, oven pembakar, pencetak, pengangkut emas, dan juga jalur pengangkut ke kota sudah kau pastikan semuanya?” Aku memastikan segala keperluan untuk pembukaan cabang tambang lengkap dan tidak ada satu pun yang lupa atau pun luput nantinya.

”Oh ya, orang-orang Haji Ismael sudah siap jika kita panggil sewaktu-waktu jika alat-alat kita datang, kan?” pertanyaan kutujukan pula pada Controleur Jan Hendrik. ”Aku ingin setelah semua tiba, mereka lekas berangkat dan bersiap. Jadi tidak memakan waktu yang lama,” kataku menekan.

Mereka berdua mengangguk. Aku suka dengan cara kerja mereka berdua. Bekerja cepat dan tanpa basa-basi. Tak lama berselang perlengkapan tambang pun datang dari Batavia. Kami semua bergegas menuju lahan-lahan baru, semua alat langsung diangkut dan dipasang. Cabang tambang emas di Rejang Lebong mulai bekerja. Mesin-mesin menderu dan itu artinya tambang kami bekerja dan semakin banyak hasilnya.

Ketika kucuri dengar dari Tuan Eugene Kassel dan Residen Groenneveld saat bertemu dengan Petinggi dari Batavia, keuntungan emas dari Lebong mencapai 81 juta gulden dan itu juga dapat dikatakan sebagai pasokan terbesar di Hindia Belanda bahkan sampai di atas 90 persen dari total keseluruhan. Kekayaan itu didapat dari kami yang berada di sini melalui hasil tambang. Kebahagiaan membuncah, kekayaan kami dapat secara melimpah. Namun ternyata kebahagiaan itu tak berselang lama. Karena pada akhirnya, kami menjadi pesakitan setelah kedatangan Nippon.

Setelah kilau emas yang kurasakan sebelumnya, kebahagiaan itu sirna seketika. Bengkulu telah ditinggalkan Pemerintah Hindia Belanda. Itu artinya, kami juga yang ditinggal dan dijadikan umpan atau memang sengaja dikorbankan pada mereka. Di sini hanya tersisa Residen Groenneveld dan beberapa orang saja termasuk aku yang bertanggung jawab pada tambang emas di Lebong. Kata para pimpinan di Batavia, untuk sementara waktu kami bisa tinggal lebih lama di rumah dinas Lebong terlebih dahulu, barangkali berita kedatangan Nippon hanya semu. Untuk mengamankan aset, katanya.

Tapi sesungguhnya kami tahu bahwa mereka telah masuk dari Palembang melalui Linggau dan perlahan melewati pegunungan di Curup menuju Bengkulu dan sebagian lagi berpencar ke arah Lebong. Akhirnya kami ditangkap. Aku sepenuhnya menyadari, kini kami yang masih tersisa di sini adalah tawanan Nippon.

Sebagai tawanan, hidup telah berbalik dan dilingkupi penderitaan. Semula kami adalah bahu yang menopang tapi pada akhirnya kami pula yang dipatahkan. Aku tak habis pikir mengapa para petinggi di Batavia meninggalkan kami di sini. Jika semula kami adalah penguasa, maka kedatangan Nippon menjadikan semuanya berubah. Kami telah jadi babi dan digiring ke penjara Benteng Fort Marlborough.

“Banzai Dai Nippon! Banzai Indonesia!”

Kata-kata busuk itu terus terlontar ketika tentara Nippon datang ke rumah dinas tak jauh dari tambang bersama dengan keluarga para penambang serta warga sekitar tambang lainnya. Mereka bersekutu dan menyeret kami keluar dari rumah dinas. Mereka menenteng senapan dan para penambang membawa sewar dan mengacungkannya pada kami.

”Pai kalian, ndak pacak lagi kami lihat wajah kalian! Gilo kau semua!” Ucapan itu terdengar jelas dari mulut mereka dan mengiang di kepalaku. “Banzai Dai Nippon! Banzai Indonesia!” Mereka berjalan mengarak kami. Dari mata dan mulut mereka, aku melihat dendam dan kemarahan.

Aku merasa ini tidak adil. Apa yang kami perbuat pada para penambang adalah suatu hubungan yang saling menguntungkan. Kami membayar kerja mereka melalui para Afdeling. Kekayaan bukan hanya untuk Hindia Belanda, tapi juga dinikmati warga dan para penambang. Tapi mengapa balasan mereka seburuk ini pada kami.

Aku tak sempat berpikir lebih panjang. Tapi dalam hati aku masih menyimpan tanda tanya. Segala yang kami lakukan di Lebong seolah-olah sia-sia dan menghilang begitu saja. Semua serasa tak berguna. Kami pun diarak dan digelandang ke kota dengan Molek melalui trem yang sebelumnya digunakan untuk membawa emas hasil tambang. Dan kami pun ditempatkan di salah satu penjara di Benteng Fort Malborough.

Satu hal yang tak kusangka adalah Matsukawa, orang yang telah kuanggap sebagai rekan dan kujumpai ketika datang ke Bengkulu dari Lebong, ternyata adalah seorang bandit sipit Nippon. Aku melihatnya ketika sampai di depan pintu utama benteng. Ia menatapku tajam lantas menyunggingkan senyum. Raut wajahnya membuatku muak. Aku sering membagi emas padanya karena dia kuanggap sebagai orang baik yang kukenal.

Pertemuanku waktu itu dengan Matsukawa bermula dari ajakan Residen Groenneveld yang mengajak mengadakan pertemuan dengan para asisten residen Afdeling di bawah kendalinya. Matsukawa diundang ke rumah dinas residen karena ia menjual es kacang tak jauh dari rumah dinas. Harus kuakui, es kacang buatannya sangat menggiurkan, karena di Bengkulu maupun di Lebong masih jarang yang menjual es serupa. Saat kudekati dan memuji buatannya, aku tahu bahwa ia berjualan sehari-hari di Kampung Cina yang berada di depan Benteng Fort Malborough. Aku berjanji padanya untuk mampir di lain waktu jika singgah di Bengkulu.

Namun ternyata Matsukawa diam-diam menjadi mata-mata Nippon dengan berdagang es kacang dan menjadi penguping andal sebab banyak pertemuan kami di hari-hari berikutnya digelar di kedai es kacang miliknya. Selepas penguasaan Nippon, buktinya Matsukawa langsung mendapat kehormatan menjadi Kepala Bagian Bidang Pertahanan dan Keamanan di sini, aku tahu ketika ia mendekatiku dan berbisik di telingaku. Itu luput dari perkiraan petinggi Hindia Belanda di sini begitu juga luput dari bayanganku sebelumnya.

”Terima kasih karena sering singgah di lapat es kacangku. Berkatmu, kini aku menjadi Kepala Bagian Bidang Pertahanan dan Keamanan Nippon di sini. Padahal sebelum ini aku hanya seorang Kempeitai.” Matsukawa mengatakan itu sembari tersenyum. Aku muak melihat raut senyum di wajahnya.

Akhirnya kami diseret dan dimasukkan ke penjara. Tak lama setelah masuk penjara, Residen Groenneveld dihukum dan diseret entah ke mana. Kupikir ia dibunuh atau dijadikan alat negosiasi dengan para petinggi di Batavia. Hanya kami yang ditinggal. Kami yang kumaksud hanya bertiga yakni aku, Controleur Jan Hendrik, dan Eddie. Kami dipaksa untuk turut serta menjadi kacung mereka. Kami dipaksa terlibat dalam pembangunan pilbox yang digunakan untuk tempat perlindungan para tentara Nippon.

Pilbox dibangun dengan tenaga kami, para tawanan dan juga ditambah dengan tenaga orang-orang lokal. Ketika aku melihat orang-orang lokal di sini, aku geram sekaligus getir karena mengingat kelakukan mereka yang menyeret kami dari rumah dinas dekat tambang emas di Lebong. Di bawah kendali kami, mereka sejahtera karena bekerja. Pada akhirnya mereka kini juga jadi budak. Mereka lupa, bahwa Nippon adalah bunga sakura yang mekar di hati orang-orang, tetapi pada akhirnya mereka pula yang menggugurkan.

Dalam membangun pilbox, kami dibagi ke beberapa kelompok tugas yang berisi belasan orang. Aku, Controleur Jan Hendrik, dan Eddie berada dalam satu kelompok yang sama. Mula-mula kami menggali tanah yang dalamnya kurang lebih dua hingga tiga kaki. Di bawah cenderung semakin lebar. Kami bahu-membahu mengerjakannya, dengan cermat tanpa melakukan kesalahan sedikit pun. Karena di sini, kesalahan sekecil apa pun menjadi celah bagi bandit sipit Nippon itu untuk menghukum kami tanpa rasa ampun dan tanpa belas kasih.

Kekerasan sudah lekat dengan tubuh ini. Tendangan dengan sepatu lars, pukulan dengan gagang senapan, hingga tanah dan batu sering dihantamkan pada kami yang membuat kesalahan saat proses pembangunan pilbox. Darah paling sering mengalir lewat kening kami karena gagang senjata paling sering dipukulkan ke kami di area kepala. Sementara kerasnya alas sepatu lars sangat akrab dengan punggung dan dada.

Awalnya semua berjalan lancar. Sampai pada suatu ketika, entah mengapa tiba-tiba Controleur Jan Hendrik mengumpati sekeliling.

Lafaard! Pengecut! Babi!” kata Controleur Jan Hendrik menyumpah-serapahi diri sendiri, pekerja lain, dan juga tentara Nippon. Aku tak tahu alasannya, kupikir ia telah frustasi atas penderitaan dan penindasan yang diterimanya atau tak terima dengan para pemimpin di Batavia. Aku tak sepenuhnya paham.

Tak lama, tentara Nippon menendang dari belakang dengan sepatu lars dan menyeret kerah bagian belakang bajunya disertai menjinjing sekop Controleur Jan Hendrik. Tentu ia menjadi makanan renyah bagi para tentara itu. Suara tendangan demi tendangan terdengar mantap. Gagang senjata beberapa kali mengenai kepalanya. Ia bersimbah darah. Dari wajahnya aku tahu ia begitu menderita. Setelahnya ia menelungkup, sekop itu dilempar ke arahnya. Tapi tentara Nippon itu memberi isyarat pada rekan kami untuk mengambil sekop dan menggerakkan telunjuknya pada Controleur Jan Hendrik dengan memberi perintah agar selanjutnya ia menggali dengan jari-jarinya.

Alhasil, ia melanjutkan menggali tanah dengan tangan kosong. Ujung jarinya cerah, berwarna darah. Aku melihatnya dengan getir. Tapi tak bisa berbuat banyak. Ia tidak sedang menggali emas, untuk apa pula harus dipaksakan, pikirku. Tapi aku lebih memilih diam untuk mengamankan diri. Juga untuk menyimpan tenaga agar tidak terbuang dengan sia-sia. Kami pun hanya bisa melihatnya tanpa bisa membantu apa-apa. Kami semua melanjutkan pekerjaan yang semula berhenti dan mata sipit para bandit Nippon itu terus mengawasi.

Di Bengkulu, kami tidak hanya membangun pilbox, tetapi juga membuat bunker juga menggali tanah di tebing-tebing yang menghadap laut untuk dibuat goa. Hari demi hari waktu kami habis untuk bekerja pada Nippon. Kami bekerja dari satu tempat ke tempat lainnya dengan lekas dan diselimuti ancaman bayang-bayang kekerasan dari tentara Nippon.

Aku berdiam diri bukan karena aku seorang pengecut. Tapi aku lebih mementingkan keselamatanku sendiri. Karena kutahu, jika aku melawan sedikit saja, maka aku harus menerima akibatnya. Di sini tak ada yang bisa menyelamatkan kami. Tidak ada Tuan Eugene Kassel, tidak ada Residen Groenneveld, tak ada pemimpin-pemimpin dari Batavia. Hanya tinggal kami saja yang harus berjuang mempertahankan hidup. Aku tak mempedulikan harga diriku apalagi berpikir untuk melawan. Karena di sini aku menyadari kami semua begitu akrab dengan kekerasan dan kekejaman.

Kekejaman Nippon memang tak pernah kami duga, sebab kekejaman mereka jauh lebih keji dari upaya-upaya yang dilakukan pemimpin kami. Pada banyak hal, pemimpin kami sering kali bernegosiasi dengan orang-orang berpengaruh di sini agar tidak terjadi gejolak. Hal ini kusaksikan dari cara Controleur Jan Hendrik mendekati Haji Ismael dan warganya. Sebab jika ada gejolak, maka dipastikan kami akan mendapat perlawanan dan itu artinya keuntungan dan penghasilan dari tanah Bengkulu menjadi tidak stabil. Harus kuakui, kekejaman tentara Nippon sungguh tak mengenal ampun.

Aku melihat sendiri bagaimana mereka dengan mudahnya membunuh orang. Saat itu telah terjadi pertengkaran karena pajak di daerah Kampung Cina, depan Benteng Fort Malborough. Kami yang sedang membuat pilbox di belakang benteng dipanggil dan diperlihatkan secara langsung bagaimana kekejaman itu tampak nyata. Salah seorang dari mereka yang bertengkar dihukum di hadapan kami dengan cara dipenggal kepalanya menggunakan samurai. Lantas kepala itu diambil dan ditancapkan di sebuah kayu dan dipajang depan rumahnya.

Aku langsung mual seketika. Sewaktu peristiwa itu terjadi, ketakutan melingkupi kami semua. Sebab kematian hanya berjarak beberapa langkah dari tempat kami berdiri. Lebih seram lagi, kematian itu dapat menimpa siapa saja dan kapan saja. Tapi apa boleh buat, hal itu telah begitu akrab dan menyelimuti kami. Kami hidup di bawah bayang-bayang kekerasan yang dilahirkan Nippon. Mau tidak mau, pada akhirnya kami semua menjalani sisa hidup dengan menderita.

Sialnya lagi, hidup di bawah ketiak Nippon seperti halnya diselimuti bencana yang tak pernah usai. Penyakit demi penyakit datang dan hinggap pada diri kami. Rekanku Eddie, di sekujur tubuhnya terkena penyakit kulit, aku dan Controleur Jan Hendrik tak separah dia. Sebelumnya ia bisa selamat dari maut karena penyakit malaria yang diderita sewaktu ikut dalam membangun pilbox di kota Manna. Padahal banyak tawanan yang mati karena malaria di sana. Lebih dari itu, banyak orang yang mati karena malaria lantas ikut ditanam sewaktu mengecor pilbox.

Setelah semua selesai, kami dikembalikan di penjara benteng. Di sana, saban pagi, kami diarak bersama para pekerja lain menuju tengah lapangan utama benteng untuk melakukan Taiso seraya membungkuk ke arah matahari diiringi suara para perempuan yang menyanyi dalam bahasa Jepang. Kami telah jadi budak dan harus mengikuti semua ucapan mereka. Tanpa bisa menolak. Saban pagi itu pula kami harus memberi hormat pada bendera Hinomaru. Lalu baru melanjutkan pekerjaan kami yang entah kapan akan selesai.

Kian hari, di balik terali penjara benteng ini, penderitaan kian nyata. Penyakit kulit Eddie semakin menggila. Tubuh kami kurus kering seperti mayat hidup dan Controleur Jan Hendrik semakin tak keruan perilakunya. Wajahnya kuyu, matanya kosong, dan bibirnya terus-menerus meracau. Beberapa saat kemudian ia merangkak ke dinding dekat lubang angin. Jari-jarinya menggoreskan sesuatu di dinding. Jari-jari yang sebelumnya digunakan untuk menggali tanah sewaktu membuat pilbox itu mengeluarkan darah. Tapi ia terus menggoreskan darah itu. Lalu kulihat dengan saksama, ia menuliskan sesuatu, dan kueja perlahan.

“Die dit kompas mnzii berisp den knoeijer niet bedenk dat-lee cen leidt end at voor tijdverdrijf ik dit heir nederschrijf.”

“Barang siapa mengamati kompas ini janganlah memarahi yang membuat coretan ini, ingatlah bahwa kesengsaraan dan waktulah yang membuat saya mencoret-coret di sini waktu saya menulis ini.”

”Kau tak apa, Controleur Jan Hendrik?” tanyaku padanya. Aku mendekat ke arahnya. ”Apa yang kau tuliskan itu? Sudah hentikan. Itu hanya akan membuatmu menderita,” kataku menenangkannya. Tapi ia tak menggubrisku.

Aku coba menerka apa yang ia tuliskan dengan darah dan menggores dinding penjara di tembok benteng ini. Aku menerka-nerka. Kini aku paham maksudnya. Harus diakui, di bawah bayang-bayang Nippon, sungguh, kami menderita. Aku mendorong tubuhku bersandar di tembok yang lain, tanpa bisa berkata-kata.[*]


Ilustrasi: Soldier (Fernand Leger), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Berita Penculikan – Cerpen Rici Swanjaya
Kurir – Cerpen Aliurridha


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

8 thoughts on “Kilau Emas dan Mekar Semu Sakura, Lebong-Bengkulu, Suatu Ketika”

  1. Beliehem berkata:

    cerpen yang bagus dan memuaskan untuk dibaca

  2. anindia berkata:

    cerpen sangat menyentuh hati

  3. anindia berkata:

    cerpen sangat menarik

  4. acel berkata:

    cerpen ini sangat menarik dan pasti akan di sukai semua orang

    1. Ika nabila Basayeb berkata:

      Menyentuh hati dan bagus sekalii

  5. Linda berkata:

    Dari cerpen tersebut mengingatkan kita pada masa penjajahan yang dimana banyaknya penindasan cerita ini sangat menarik dan memberikan banyak manfaat bagi pembacanya

  6. membaca cerpen ini spt berada pada masa penjajahan saat itu…semoga masa spt itu tidak akan terjadi lagi..penindasan pembunuhan semena mena..sekarang yg menikmati kemerdekaan indonesia juga msh sebagian orang saja…😔

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *