Menu
Menu

Diterangi nyala api di tungku/ seorang tua dalam honai/ menghaluskan mata panah bagi busur/ dari belahan kayu terkuat


Oleh: Topilus B. Tebai |

Lahir di Abaimaida, 14 Juni 1994. Anggota pengurus Komunitas Sastra Papua (Kosapa). Bukunya yang telah diterbitkan antara lain: Aku Peluru Ketujuh (2017), Nemangkawi (2020), Amoye Melawan Anak Raja Iblis dan Dongeng-dongeng Lainnya (2022), dan Perempuan Penyembah Malaikat (2023). Tahun 2025, terpilih sebagai salah satu emerging writer di Makassar International Writers Festival.


Monster

Anak-anakku
Dengarkanlah:

Konon kata leluhur
Di pusat sana ada sekelompok monster

Ada monster pemakan emas
Ada monster peminum minyak
Monster pemakan pohon juga ada
Yang menggunduli hutan-hutan kita.

Suatu waktu para monster
Mengundang leluhur kita mandi
Lalu mereka mencuri pakaian leluhur

Itulah mengapa
Kini para monster berpakaian
Dan kita dengan koteka

Abaimaida, 23 Desember 2019

.

Martir

Hidup adalah tanam ubi, keladi, dan pangkur sagu
panen, makan, sebagai
anak alam

Tapi sejak subuh
tentara datang lebih cepat dari kokok ayam
negara mau kampung kosong demi proyek
belum sempat doa dipanjatkan,
api sudah bakar rumah dan kampung

negara bilang:
diam! menangislah dalam hati saja
jangan kau tunjukkan air matamu.
tersenyumlah.

senjata bilang:
pergilah segera. sekarang juga!
karena itulah keinginan negara.
dan jangan di sini. kau tinggal—kau mati.

Anak-anak tumbuh menghidupi mati.
mereka hafal suara tembakan
lari ke hutan adalah wajib
kampung su jadi neraka.

Dalam negara punya kertas ajaib,
suku dan kampung su hilang
kami ini siapa?
orang asing di tanah air sendiri?

Baiklah, para muda siap
jadi martir kehidupan
memeluk tanah yang beri kami
hidup sepanjang generasi
pilihan akhir untuk nafas di badan,
karena pergi
artinya
mati juga.

Jayapura, 12 Maret 2020

.

Mata Panah

Diterangi nyala api di tungku
seorang tua dalam honai
menghaluskan mata panah bagi busur
dari belahan kayu terkuat

Kepada anak-anaknya
orang tua itu menatap
lalu berkata:

Untuk hidupmu
jangan kau percaya pada
pidato-pidato
khotbah-khotbah
juga janji-janji
yang buat hatimu tenang
tanganmu tidak mau memukul
kakimu berat menerjang!

Percayalah pada mata panah
yang kau buat sendiri
yang harus kau lepaskan sekuat tenaga
merobek jantung musuh
membuatnya takut
memaksanya pergi
untuk pastikan
yang serakah tidak kembali lagi.

Tage, 27 Desember 2021

.

Hidup yang Komauga

I.
Pepohonan, ajarilah diam
dengan daun yang gugur tanpa bicara,
dengan akar yang bertutur pada tanah
tentang bagaimana hidup tidak perlu tergesa.
Di sana komauga jadi guru sunyi yang cerita
antara memberi nafas dan menerima waktu.

II.
Bunyi motor baku rebut pagi-pagi,
kampas rem berderit, juga nafas-nafas berat yang terasa jauh.
Di manakah tempat komauga cerita
di antara debu dan deru yang meminggirkan sunyi?
Ia tetap ada, dalam dada yang bertanya:
bagaimana caranya tetap hidup, meski nyaris tak sempat sadar nafas?

III.
Bolpen dan notebook dan tuts keyboard bersuara lirih
laptop mengetikkan sisa-sisa ingatan.
“Trapapa,” bisik komauga,
karena ia tak takut menjadi digital,
asal kita masih bisa mendengar
gemanya dalam jeda, dalam tanda baca
yang kadangkala meminta ruang… lebih lama dari dugaan

IV.
Komauga ada dan berjalan bersama
tanpa memutus tanpa menghilang—sepertimu
Menyanyi tanpa panggung, membaca dunia
seperti bikin kebun, gali ubi atau keladi, dan buat jerat kuskus
dengan tenang, dengan hormat, dengan penuh tafsir.
Hidup yang komauga bukan milik masa lalu,
ia adalah cara hadir,
di sini, kini.

V.
Mungkin komauga:
ada makna, ada gema,
mengalir dalam darah cerita yang su berlalu, cerita harapan,
dalam langkah yang kadang ragu
dalam suara yang menemani hanya sebagai teman jalan.

VI.
Komauga itu perlahan
dengarkan angin sebelum menjawab
resapi hujan sebelum berlari
Komauga itu kesadaran
bahwa hidup bukan hanya bergerak—
tapi mengakar
mengisi
berbisik
mengerti

VII.
Komauga mengajak hidup agar menepi
di lereng bukit Epokenekaiha sama-sama
mendengar pohon bercerita
tentang angin yang bisu tapi menuntut diartikan
meski deadline, kertas-kertas, berita-berita,
perampasan tanah adat Papua, penggusuran demi tambang,
perang TPNPB vs TNI, juga pasar, juga makian, juga pelukan,
semua mengetuk-ngetuk jiwa;
bikin cemas dan gerah dan gelisah dan marah dan murka!

Komauga adalah cara tak kehilangan gema
di tengah dunia yang memburu bunyi.

Epokenekaiha, 18 November 2020

Catatan:
Komauga: Nyanyian daerah Mapiha dari suku Mee di pegunungan tengah Papua. Komauga dinyanyikan oleh satu orang saja, berbentuk puisi, mengandung ajaran leluhur, pesan moral, nasihat hidup, dan refleksi kehidupan. Saat komauga dinyanyikan, semua orang akan menyimak dalam hening untuk meresapi kedalaman maknanya. Setelah satu komauga diperdengarkan, biasanya ada perdebatan akan isi komauga oleh para pendengar di sekelilingnya. Komauga juga, bila dinyanyikan oleh orang tertentu, penuh daya magis dan mengandung ramalan yang dipercaya akan terjadi di masa depan.

.

Tuhan, Ayo Tunjukkan Dirimu dan Kita Minum Bobo Saja

Awalnya semua tak diduga.
Tak ada kemauan untuk lahir
di tengah suara bebatuan, sungai yang menyanyi,
dan cinta leluhur lewat akar sagu.
Tanah air ini napas hidup kami

Perang kadangkala ada,
jalan kami memeluk tanah air

Kemudian datang salib, doa-doa dan alkitab.
Mereka ajari kami:
kasihilah musuhmu,
berdoalah bagi yang menganiaya kamu.
Jangan membalas. Beri pipi kanan
bagi mereka yang menampar pipi kirimu.
Katanya begitu. Benar itu kata-kataMu?

Di hadapan kerakusan yang menyakitkan ini
Hati kami Kau hancurkan pula

Leluhur memanggil berdiri membela hidup,
agamaMu meminta kami berlutut pasrah.
Leluhur bilang: lawan kalau tanahmu dirampok.
Alkitab bilang: diam, karena Tuhan akan membelamu.
Melawan adalah dosa.

Tapi sampai hari ini buldozer tetap datang,
pohon tetap tumbang, demi emas tanah air kami hancur,
kehidupan kami di ujung maut

Dan kami tetap disuruh berdoa.

Sampai kapan?
Apakah kami salah karena ingin marah?
Apakah kami berdosa kalau bersuara?
Apakah kami kau kutuk kalau ambil busur panah demi kehidupan?

Tuhan, tapi bagaimana caranya mengasihi
orang yang menjual hidup kami untuk tambang?

Tapi bagaimana mungkin pasrah
sementara saudara mati ditembak aparat
dan imam-imamMu
diam?

Tuhan, ayo tunjukkan dirimu dan kita minum bobo saja
untuk cerita. Ini bobo, air kejujuran.
Setelah ini, jujur saja katakan:
Mana yang lebih suci,
tanah air dan kehidupan kami,
atau surga yang Kau janjikan?
apakah surgaMu akan menutup pintu juga
bagi jiwa-jiwa kami yang sudah-akan berserakan di sini?

Datanglah, lihat sendiri.

Nabire, 12 Februari 2024


Ilustrasi: Fisherman with Arrow (Ancient Egypt), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Tia Ragat – Resep Keluarga
Puisi-Puisi Adimas Immanuel – Cupio dissolve
Puisi-Puisi Toni Lesmana – Selarik yang Sering Meminta Lebih


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

7 thoughts on “Puisi-Puisi Topilus B. Tebai – Nyala Api di Tungku”

  1. Nia berkata:

    Kepedihan saudara saudara kita di Papua tak pernah berhenti, itulah yang saya dapatkan dari puisi Bastian dan hati saya ikut terluka karenanya

  2. Dzul karnaen berkata:

    puisi-puisi yang di lampirkan sangat kuat,
    mendalam, dan sarat dengan konteks sosial, politik, budaya dan spiritual yang berasal dari pengalaman orang Papua. setiap puisi bukan hanya sebuah karya estetika, dan jeritan hati dari komunitas yang selama ini termarginalkan

  3. Gumilang berkata:

    Puisinya sangat bagus dan keren sekali

  4. haekal berkata:

    Judul: Sepatu untuk Seno

    Hari itu, hujan turun deras. Seno duduk di teras rumahnya yang reyot, memandangi sepasang sepatunya yang hampir copot solnya. Besok ia harus mengikuti lomba lari antar sekolah, tapi bagaimana mungkin ia bisa berlari dengan sepatu seperti itu?

    “Aku yakin kamu bisa menang, Sen,” kata Dira, sahabatnya, sambil duduk di sampingnya.

    Seno tersenyum hambar. “Bisa menang kalau sepatuku nggak jebol duluan.”

    Esok paginya, saat Seno hendak berangkat ke sekolah, ia menemukan sebuah kotak di depan pintu rumah. Di dalamnya ada sepatu olahraga baru berwarna biru. Ada secarik kertas di atasnya:

    “Untuk kamu yang tak pernah lelah berlari demi mimpi. –Dira”

    Seno terkejut. Ia segera berlari ke rumah Dira, tapi ibu Dira bilang Dira sudah pergi lebih pagi. Seno membawa sepatu itu dengan hati haru.

    Di lintasan lari, Seno berlari sekuat tenaga, lebih cepat dari biasanya. Ia membayangkan Dira berdiri di garis akhir, tersenyum bangga.

    Seno menang hari itu. Ia naik podium dengan sepatu biru yang bersinar terkena cahaya matahari.

    Beberapa hari kemudian, Seno baru tahu dari teman-temannya: Dira menjual sepeda kesayangannya demi membeli sepatu itu.

    Sejak saat itu, Seno berjanji, ia akan terus berlari. Bukan hanya untuk menang, tapi untuk membalas ketulusan sahabat sejatinya

  5. strawberry berkata:

    Puisi-puisi yang di lampirkan sangat kuat, mendalam, dan sarat dengan konteks sosial, politik, budaya, dan spiritual yang berasal dari pengalaman orang Papua. Setiap puisi bukan hanya sebuah karya estetika, tetapi juga bentuk perlawanan, pernyataan identitas, dan jeritan hati dari komunitas yang selama ini termarginalkan

    1. Jasmin berkata:

      Terimakasih sekaliii

  6. Yenni berkata:

    Sangat keren dan menyayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *