Menu
Menu

Lopo Thea mundur. Gelang hitamnya terlepas saat ia berlari. Angin membawanya terbang, dan tanpa seorang pun menyadari, gelang itu menyusup ke tubuh Avelia.


Oleh: Marselus Natar |

Tinggal di Ende, Flores Nusa Tenggara Timur dan mulai menulis cerpen sejak tahun 2019. Penulis buku antologi cerpen dengan judul Usaha Membunuh Tuhan. Beberapa karyanya telah dimuat di media lokal dan blog pribadi.


Avelia, istri muda Tinus, telah memasuki hari keempat dari perkiraan masa bersalinnya. Perutnya keras dan besar, namun tak ada tanda-tanda kelahiran. Wajahnya pucat, matanya cekung, napasnya pendek. Suaminya mondar-mandir, seperti angin terperangkap dalam botol.

Lopo Thea telah dipanggil sejak hari pertama, dan sejak itu ia tak pernah pulang. Ia tidur di bale bambu dekat ranjang Avelia, berjaga jika sewaktu-waktu kontraksi datang. Tapi malam demi malam berlalu tanpa perubahan. Hanya tangis kecil dari tubuh Avelia yang lemah.

Pada malam keempat, ketika angin bertiup dari utara dan api di perapian berkedip ganjil, Lopo Thea merasa sesuatu berbisik di telinganya. Ia bangkit, membelai dahi Avelia, lalu berjalan pulang dengan langkah gontai. Tak seorang pun bertanya ke mana ia pergi.

Rumahnya hanya sepelemparan batu dari rumah Avelia. Tiba di rumahnya, ia membuka peti tua yang sudah rapuh. Ia ambil tiga batang lidi, tiga potongan batok kelapa, dan memandangi gelang akar bahar di pergelangan tangannya. Aneh. Gelang itu terasa lebih hangat dari biasanya.

Ia kembali ke rumah Avelia. Di teras rumah, ia membakar batok kelapa hingga bara merah menyala. Asap naik menembus malam. Ia menari mengelilingi bara itu, menyanyikan syair tua dalam bahasa yang hanya dipahami gunung dan leluhur. Gelang di tangannya melayang, berputar sendiri, lalu turun kembali. Lidi-lidi itu ia tabur di empat penjuru rumah, lalu dipukul-pukulkannya ke dinding sambil meneriakkan nama-nama.

Nama terakhir yang disebutnya mengguncang malam: Ferus.

Warga yang sedari tadi menonton dalam diam serentak menghela napas. Ferus adalah bapak mertua Avelia. Lelaki tua yang disegani. Ucapannya selalu menjadi patokan dalam musyawarah kampung. Siapa berani menuduh dia?

Tinus yang berdiri sejak awal langsung maju. Matanya merah. Ia mencabut klewang dari balik dinding, lalu mengarahkannya ke leher Lopo Thea.

“Kau gila, Lopo!” pekiknya. “Kau ingin rumah tangga kami hancur?”

Lopo Thea tak menjawab. Ia hanya memandangi Tinus dengan mata berkaca-kaca. Seakan luka itu lebih dalam daripada yang bisa diucapkan.

“Keluar sebelum aku tikam kau!”

Ketakutan, Lopo Thea mundur. Gelang hitamnya terlepas saat ia berlari. Angin membawanya terbang, dan tanpa seorang pun menyadari, gelang itu menyusup ke tubuh Avelia, seperti roh yang menemukan jalan pulangnya.

Tak lama kemudian, Avelia menggeliat. Jeritannya melengking, lalu terputus. Darah memancar. Tubuhnya mengejang dan akhirnya diam. Ia meninggal bahkan sebelum sempat mendengar tangis anaknya—anak yang tidak pernah datang.
Kampung Dopel murung selama tiga hari. Hujan turun setiap malam, dan bau tanah basah menyeruak dari setiap sudut jalan. Tak seorang pun menyebut nama Lopo Thea lagi. Mereka sepakat diam. Tapi dalam diam itu, bisikan-bisikan tumbuh seperti jamur di kayu lapuk: bahwa gelang akar bahar telah menelan nyawa.

Pada malam ketiga kematian Avelia, Tinus diam-diam pergi ke kubur istrinya. Ia membawa seikat bunga liar dan setangkai lilin kecil. Tapi di sana, ia tak sendiri. Di bawah cahaya bulan yang pucat, Ferus—ayahnya sendiri—tengah menari mengelilingi makam. Tertawa, menyanyi lirih, dengan mata memerah seperti bara. Tanah di sekelilingnya lembap, namun tak membasahi jejak kakinya.

Tinus tertegun. Dunia runtuh di kepalanya. Semua perkataan Lopo Thea berdering kembali. Ia menggigil bukan karena angin, tapi karena kesadaran yang terlambat datangnya: Feruslah dalangnya.

Ia berlari menuju rumah Lopo Thea. Hatinya digenangi penyesalan dan ketakutan. Rumah itu gelap, namun pintunya terbuka. Di dalam rumah, lampu pelita menyala temaram. Lopo Thea duduk di sana, seperti sudah menanti dari awal zaman.

“Kau datang juga, Tinus,” ucapnya tenang.

Tinus jatuh berlutut, menangis. “Saya salah… Saya tak tahu… Saya bodoh…”

Lopo Thea hanya tersenyum. “Tak ada yang tahu segalanya. Kita hanya menebak dalam gelap.”

Ia bangkit, menyiapkan teh. Disuguhkannya pada Tinus, yang menerimanya tanpa prasangka. Diminumnya perlahan, hangat, lalu getir. Tapi ada sesuatu yang tumbuh dari dalam dirinya. Perutnya terasa panas. Ia muntah darah. Lalu menjerit.

Dari dalam tubuhnya, tumbuh sesuatu—keras, berpilin, dan hitam. Akar. Akar yang memecah perutnya, merambat ke leher, melilit lidah, menembus mata. Ia meninggal dalam posisi terduduk, dengan wajah tertekuk ke tanah.

Lopo Thea berdiri. Ia menatap tubuh itu tanpa emosi. Di pergelangan tangannya, gelang akar bahar telah kembali. Melingkar dengan tenang, seolah tak pernah pergi.

Pagi harinya, warga menemukannya. Tinus duduk kaku di kursi kayu, dengan akar keluar dari dadanya seperti hutan kecil yang baru tumbuh. Di depannya, secangkir teh masih mengepul. Rumah Lopo Thea kosong. Tak ada siapa-siapa. Hanya aroma akar bahar dan daun kering yang tertinggal di udara.

Sejak hari itu, anak-anak dilarang menyebut nama Lopo Thea. Tapi malam-malam di Dopel tak lagi sepi. Kadang, terdengar nyanyian lirih dari ujung kampung. Kadang, api menyala sendiri di tengah ladang. Dan kadang, ibu-ibu hamil berbisik di telinga janinnya: jangan nakal, nanti dipanggil Lopo Thea.

Tapi mereka lupa, bahwa sebelum semua tragedi itu, Lopo Thea hanyalah seorang perempuan tua yang ingin membantu kehidupan lahir ke dunia.
Dan jika cinta yang disalahpahami bisa berubah menjadi dendam, maka barangkali, bukan Lopo Thea yang menjadi suanggi—melainkan kita semua. [*]


Ilustrasi: Witch Scene (Paul Klee), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Beranjak dari Kampung Halaman Sendiri
Berita Bahagia yang Tak Pernah Lengkap


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

2 thoughts on “Lopo Thea”

  1. PERI PEBRIAN berkata:

    Bagussss jugaaa

    1. Cerita bagus pesan mendalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *